Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Jebakan


__ADS_3

Raden masih diam seribu bahasa. Dia mengabaikan Hasna dan masih duduk meminum teh.


"Mas, aku--"


"Kenapa malam-malam datang ke sini dengan memakai seragam restoran? Kamu gak kerja?"


"Mas, aku datang ke sini mau minta maaf."


Raden masih duduk, dia menggoyangkan cangkir tanpa menoleh sedikitpun pada Hasna.


"Kamu merasa memiliki salah harus minta maaf?"


"Mas ...." Hasna mendekat. Dia tau Raden begitu marah padanya sampai tidak mau melihat dirinya sedikitpun.


Hasna bingung harus mengatakan apa melihat Raden yang sama sekali tidak peduli padanya. Dia hanya diam berdiri, menundukkan kepala sambil menangis.


Raden bangun.


"Pulang lah, ini sudah malam. Saya tidak bisa mengantar kamu."


"Mas." Hasna menarik tangan Raden saat pria itu berjalan melewatinya. Raden pun berhenti.


"Aku benar-benar minta maaf sama kamu, Mas. Aku tahu aku salah, aku tahu kamu marah dan kecewa. Aku benar-benar minta maaf, Mas."


Raden menarik nafas dalam.


"Saya sudah mulai sadar dan ikhlas untuk melepaskan kamu. Rasanya lelah selalu mengejar yang terus saja berlari menghindar."


"Mas ...."


"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu merasa bersalah lagi. Mulai saat ini saya tidak akan mengganggu kamu lagi. Kamu bebas mau melakukan apa saja."


"Jangan seperti ini, Mas?"


"Kenapa?" Raden bertanya dengan nada yang sedikit meninggi. Dia membalikkan badan hingga bisa menatap Hasna dengan jelas.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Hasna apa kamu sadar, kamu itu terlalu sering melakukan permainan layang-layang pada saya, menarik ulur hingga saya merasa lelah. Kamu aku dekati malah pergi, dan sekarang .... sekarang saat saya sudah menyerah kamu malah datang. Apa mau kamu sebenarnya?"


"Mas, aku ...."


"Saya memang mencintai kamu, Hasna. Tapi jika kamu terus mempermainkan saya, hari saya pun tidak bisa menerima. Kamu selalu menolak, tapi selalu memberi harapan di saat yang bersamaan. Kalau kamu memang tidak mencintai saya, oke. Saya tidak akan memaksa kamu lagi."


Raden melepaskan tangan Hasna yang menggenggam tangannya. Dia pergi meninggalkan Hasna begitu saja.


Tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam menangis. Apa yang dikatakan Raden semuanya adalah kebenaran yang membuat Hasna semakin sedih karena penyesalan.

__ADS_1


Tidak, Hasna kamu jangan menyerah. Katakan kalau kamu juga mencintai dia. Ayolah Hasna!


Dengan mengumpulkan semua kekuatan yang ada, Hasna berlari mengejar Raden. Dia memeluk tubuh Raden dari belakang. Pria itu menghentikan langkahnya, dia juga nerasa kaget dengan apa yang dilakukan Hasna.


"Jangan pergi, Mas. Aku mohon. Jangan tinggalkan aku."


Raden melirik dengan posisi tubuh masih dalam pelukan Hasan.


Dengan keberanian yang dia miliki, akhirnya Hasna pun mengatakan semuanya.


"Aku mencintai kamu, Mas. Aku juga mencintai kamu selama ini. Jangan pergi, Mas. Aku mohon. Aku mau, aku mau jadi istri kamu, Mas. Aku mau. Ayo kita menikah."


Mata Raden sedikit membulat mendengar pengakuan dari Hasna.


"Yeaaaayyyy!" Akhtia yang ternyata sejak tadi memperhatikan, berteriak kegirangan. Pun dengan Airlangga yang hanya bisa tersenyum bahagia dan haru. Mereka berdua menghampiri Hasna dan Raden. Memeluknya begitu erat.


Raden membalikkan badannya. Menatap Hasna yang masih menangis. Raden mengusap air mata Hasna yang membasahi wajahnya.


"Kenapa kamu begitu lama membuat saya menunggu hari ini?" tanya Raden sambil memegang kedua pipi wanita itu. Hasna tidak bisa mengatakan apapun selain kembali menangis. Dia menangis seperti anak kecil, menjatuhkan tubuhnya pada dada Raden yang bidang.


"Maaf karena membuat kamu bersedih," ucap Raden. Tangisan Hasna semakin menjadi. Akhtia dan Airlangga pun menangis haru. Mereka ber empat pun saling memeluk dalam kebahagiaan.


"Baiklah, ini sudah malam. Ayo saya antar kamu pulang," ucap Raden saat mereka sudah merasa tenang dan duduk di atas sofa. Hasna begitu manja duduk sambil menyandarkan kepalanya pada tangan Raden.


"Mulai sekarang, aku boleh kan manggil Tante bunda?" tanya Akhtia. Hasna mengangguk dengan senyuman yang lebar.


"Selamat, ya, Pah. Aku seneng liat papa bahagia," ucap Airlangga.


"Terimakasih, Nak."


"Ya udah, papa anterin bunda pulang. Kasian adik-adik nunggu. iya kan, Bunda?" tanya Akhtia yang begitu senang saat memanggil Hasna bunda.


"Iya. Bunda harus pulang karena mereka pasti nunggu."


"Besok, kalau masih mau kerja di sana, kamu bawa anak-anak ke sini. Biar mereka nunggu di rumah ini aja."


"Shaki kan sekolah, Mas. Gak mungkin kalau aku shif pagi bawa dia ke sini."


"Ngapain sih kerja di sana lagi, Bun? Kan sebentar lagi bunda yang jadi bos di sana."


"Sepertinya bunda mulai nyaman kerja di sana."


"Kenapa? Karena koki di sana semuanya menyukai kamu?" tanya Raden tidak suka.


"Ih, kata siapa?" tanya Hasna cemberut.

__ADS_1


"Papa punya mata-mata mungkin, Bun." ucap Akhtia.


"Masa?" tanya Hasna sambil menatap Raden.


"Bukan, saya cuma denger dari Andri. Katanya Ragil pernah nganter kamu pulang, terus asisten Chef Ragil pun diam-diam suka merhatiin kamu?"


"Asisten Chef? Ah, masa? Perasaan dia kayaknya cuek-cuek aja."


"Ya sudah, lebih baik kita pulang. Kasian anakku yang kecil nunggu ibunya datang." Raden menarik tangan Hasna untuk berdiri. Mereka pun pergi begitu saja sambil berpegangan tangan. Hasna hanya bisa melambaikan tangan pada Akhtia dan Airlangga.


"Kita ke restoran dulu, Mas. Tas aku sama pakaian aku di sana," ucap Hasna saat mereka di dalam mobil.


"Siap, nyonya. Laksanakan!"


Hasna tertawa melihat sikap Raden. Sepanjang perjalanan, Hasna tidak pernah melepaskan tangannya dari tangan Raden. Dia menggenggam tangan pria itu seolah tidak ingin berpisah.


"Aku masuk dulu, ya, Mas."


"Jangan lama-lama."


Hasna masuk ke dalam restoran karena melihat pintu utama masih terbuka, itu artinya masih ada orang di dalam.


Lampu masih menyala sebagian, sisanya sudah dimatikan. Melihat suasana restoran yang sepi dan gelap, Hasna merasa sedikit takut.


"Masih ada orang di sini, tapi di mana mereka? Halo, apa ada orang di sini?" dia berteriak. Tidak ada jawaban.


Hasna segera pergi untuk mengganti pakaian, mengambil tas lalu kembali keluar. Namun, Hasna tidak tahu jika Mira sedang menangis ketakutan dan juga bersedih karena dirinya dijadikan objek pelampiasan nafsu bejad seseorang. Mira ingin berteriak memanggil Hasna, tapi dia tidak bisa melawan saat pria itu membekap mulutnya dengan underwear miliknya.


"Masih ada orang di dalam?" tanya Raden.


"Sepertinya ada tapi aku gak tau siapa, mereka gak keliatan."


"Ya sudah, ayo kita pulang. Kasian anak-anak kalau kita kelamaan."


"Iya, Mas."


Mereka pun pergi.


"Ini." Beberapa lembar uang kertas berwarna merah berhamburan di atas tubuh Mira yang lemah di lantai kamar istirahat karyawan. Wanita menangis, tubuhnya menggigil.


"Ingat, video ini akan aku sebar jika kamu berani berbicara pada orang lain."


"Iya, chef."


Dengan tangan yang gemetar, Mira mengambil uang itu. Dia membutuhkan uang itu untuk pengobatan ibunya yang sedang sakit di rumah sakit. Ibunya diabetes dan banyak luka yang mulai membusuk di tubuhnya.

__ADS_1


Mira tidak menyangka, rayuan chef ternyata menjadi jebakan yang mengikat dirinya. Dia tidak mengira, ajakan bermesraan yang dilakukan ternyata bukan karena dia di cintai, tapi karena untuk memenuhi nafsu pria itu yang gemar mengambil video saat mereka sedang melakukan hubungan.


Mira menangis dalam keheningan malam.


__ADS_2