Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Bertukar posisi


__ADS_3

Sejatinya pernikahan adalah yang membahagiakan tapi tidak dengan pernikahan Raden hari itu. Mempelai wanita diusir dengan tidak terhormat. Seluruh keluarga dan kerabat hanya duduk berdiam diri dengan pikiran dan perasaannya masing-masing.


Bu asroh beberapa kali menghelan nafas panjang. Dia berusaha mengendalikan emosinya. Mencoba untuk tetap bersikap tenang.


"Pembagian saham sudah jelas diatur sejak awal rumah sakit ini berdiri, lalu apa yang membuat kamu begitu tamak ingin menguasai semuanya. Aku tahu kamu berperan cukup banyak saat kita merangkak memajukan rumah sakit, tapi bukan berarti kamu bisa mengambil hak suamiku dan anak-anakku. Bagaimanapun juga suamiku adalah peran utama dalam terbentuknya rumah sakit ini." Bu Asroh berkata dengan nafas yang berat karena menahan amarah.


"Tapi suami kakak meninggal saat rumah sakit ini belum stabil. Lalu kakak pikir siapa yang membuat rumah sakit sukses sampai saat ini? aku yang bekerja keras menghabiskan waktu dan tenaga agar rumah sakit kita tidak tumbang."


"Tapi bukan berarti paman mengambil hak ayah kami dan melupakan jasanya begitu saja," ucap Maska.


"Lucu sekali Paman ini. anak ayah kami hampir seluruhnya laki-laki jika pun ada yang berhak menerima warisan ayah itu adalah kami putra-putranya, bukan paman yang hanya adik kandung ibu. Bagaimanapun Paman itu hanya bekerja alias karyawan. wajar saja jika seorang karyawan berdedikasi memajukan perusahaannya karena dia digaji untuk itu."


Mendengar ucapan Tarno, Bibi marah. dia tidak terima suaminya hanya dianggap sebagai karyawan.


"Kalian sungguh keterlaluan suamiku yang berjuang dari awal hanya dianggap karyawan biasa. Kalian memang anak-anaknya tapi kalian tidak tahu sama sekali bagaimana rumah sakit ini terbentuk. Kalian hanya menerima hasilnya saja tanpa harus bersusah payah merangkak dari awal. Seharusnya kalian malu memakan hasil jerih payah orang lain." Bibi setengah berteriak.


"Orang lain? pemilik utama rumah sakit ini bukan orang lain tapi ayahku, Ayah kami." suara Zaelani tidak kalah keras dari suara bibi.


Melihat perdebatan yang semakin sengit, Murdini segera pergi membawa anaknya dan keponakan yang lain ke kamar termasuk Akhtia.


"Kita tidak perlu bersusah payah saling berteriak di rumahku. Akan aku urus semuanya lewat jalur hukum, tentu saja Bibi juga jangan lupa karena telah memalsukan rekam medis milik Azalea. Aku akan usut siapa saja dokter dan petugas medis lainnya yang ikut terlibat. Berdoa saja agar hatiku dilembutkan, cukup memecat kalian dari rumah sakit tanpa harus memindahkan kalian ke jeruji besi."


Bibi mulai ketakutan mendengar ucapan Raden. Dia tahu jika dia telah melakukan kesalahan yang fatal. Mungkin saja dia akan menjadi penghuni lapas andai Raden melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib.


"Kamu pikirkan baik-baik, pilih istrimu dimasukkan ke dalam penjara atau keluar dari rumah sakit dan bawa serta saham-saham mu. Kita memang adik kakak tapi kamu jangan lupa kita berasal dari ibu yang berbeda. Jadi jangan salah paham atas kebaikan yang selama ini aku beri."


Perjanjian untuk tidak mengungkapkan dan membahas ikatan persaudaraan mereka dilanggar oleh bu asroh. Dulu mereka berjanji pada ayahnya agar tidak membahas hubungan mereka, membuka rahasia jika asroh dan adiknya hanya hubungan tiri. Kini di hadapan anak-anaknya dan kerabat lainnya Bu asroh membeberkan semua fakta.


Sontak saja semua orang yang ada di sana terkejut.


"Paman kami masih akan menghargai paman meski ternyata Paman hanyalah adik tiri dari ibu kami. Jadi jangan serakah lagi. Ambil saja hak paman tanpa harus mengambil hak saudara kami karena kalau sampai Raden membawa masalah ini ke jalur hukum maka paman sama sekali tidak akan mendapatkan apa-apa," ucap Tarno.


Raden merasa kepalanya begitu berat bahwa rumah tangganya hancur sejak awal karena ulah keluarganya sendiri. Ditambah sekarang dia harus kehilangan Hasna, wanita yang membuat dia kembali percaya pada cinta setelah hatinya mati dikhianati oleh Azalea.

__ADS_1


Prankkkk


Raden memukul meja kaca hingga pecah berkeping-keping tangannya yang masih terluka akibat meremas gelas kini harus mendapatkan luka baru.


Semua orang terkejut dan menoleh padanya.


"Pergi kalian semua dari rumahku!"


Tidak ada satupun orang yang menggubris ucapan Raden, mereka masih tetap diam di tempatnya masing-masing karena tidak ingin meninggalkan Raden dalam keadaan seperti saat ini.


Melihat tidak ada yang bergerak sama sekali, Raden segera mengambil kunci mobil dan dialah yang pergi meninggalkan rumahnya.


"Ikuti dia jangan sampai dia mengalami hal buruk," titah Asroh pada anaknya Jaelani dan Maska.


Sejak kejadian hari itu Raden kembali mengurung dirinya di dalam kamar, dia tidak pergi keluar sama sekali. Bahkan makan pun harus membantunya yang mengantar ke kamar. Raden seperti kehilangan keinginannya untuk menjalani hidup.


Tentu saja ahtia dan Airlangga khawatir pada keadaan ayahnya yang tidak keluar sama sekali dari kamar, bahkan dia tidak mau berbicara pada anak-anaknya.


"Pak tahu rumah keluarga Mahendra?" tanya Akhtia pada sopir.


"Tahu Non, kenapa memangnya?"


"Antar aku ke sana ya, Pak."


Sesampainya di rumah Mahendra, gadis itu dipersilahkan masuk oleh pelayan yang berjaga di depan. Kebetulan Mahendra dan istrinya sedang duduk di sofa sambil menikmati teh.


"Ada tamu rupanya. Silakan masuk, Nak."


Akhtia berjalan mendekat.


"Silakan duduk."


Akhtia bukannya duduk sesuai perintah tuan rumah, Akhtia malah berlutut di hadapan Mahendra dan istrinya. Akhtia mulai menangis. tentu saja hal itu membuat Mahendra dan istrinya terkejut mereka saling menatap keheranan.

__ADS_1


"Maaf om, tante , sebelumnya. Aku datang ke sini ingin meminta sesuatu."


Di saat yang bersamaan Dewandaru datang. dia sudah berpakaian rapi karena akan menjemput Hasna.


"Hei, kamu ngapain berlutut di lantai berdiri dan duduklah di sofa." Dewandaru meminta Akhtia duduk di sofa namun gadis itu tidak bergerak sama sekali.


Dewa yang kebingungan menatap ibunya saya bertanya ada apa. Namun ibunya yang sama-sama bingung hanya mengangkat kedua bahunya.


"Bukankah kamu anaknya Raden?" tanya Mahendra. Dewa semakin terkejut saat mengetahui gadis itu adalah anak kekasih dari Hasna. Gadis yang berseteru dengannya di hotel waktu itu.


"Om ... sejak kecil aku tidak diterima kehadirannya oleh ibuku. Aku ditinggalkan bahkan tidak diinginkan. Dia merasa jika aku ini adalah beban untuk hidupnya. Pun dengan keluarga besar papa. Mereka menganggap aku ini adalah anak yang seharusnya tidak lahir ke dunia karena membawa aib untuk keluarga. Hanya Abang dan Papa yang menerima kehadiranku, mencintaiku setulus hatinya. Hingga aku bertemu dengan seseorang yang tidak ada kaitannya dengan kehidupanku tapi dia menerima dengan penuh cinta. Dia ibarat malaikat yang datang menolong saat aku hampir terjatuh ke jurang. aku mohon Om ... kembalikan dia padaku."


Akhtia bertutur dengan terbata-bata. Tangisannya mulai pecah bergema di ruang keluarga Mahendra yang megah.


"Apa maksudmu, Nak? apa yang harus kami kembalikan padamu agar kamu kembali bahagia?" tanya ibunya Dewa.


"Hasna, Mih."


"Apa maksudmu, Dewa?"


"Hasna adalah kekasih Pak Raden, Mami."


"Apa?"


Akhirnya Dewa menjelaskan kepada kedua orang tuanya tentang kontrak yang dia buat bersama Hasna. Mendengar ucapan anaknya nyonya rumah itu terlihat begitu syok. Lain halnya dengan Mahendra yang masih tetap terlihat tenang.


"Tante Om, kembalikan tante Hasna pada papaku. Sebagai gantinya aku akan mengambil alih posisi tante Hasna."


"Apa maksudmu?" tanya Mahendra. Mahendra bukan tidak tahu tentang maksud yang diucapkan oleh Akhtia. dia hanya ingin mendengar lebih jelas.


"Jika Om menerima, jadikan aku sebagai menantu Om."


Mahendra tersenyum tipis. Lain halnya dengan Dewa yang begitu terkejut mendengar pernyataan dari Akhtia.

__ADS_1


__ADS_2