Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Satu rasa beda arti


__ADS_3

"Motor baru, Pak?"



"Bukan, Neng. Ini punya Mas Airlangga."


"Ih, saya kan nanya itu motor baru, bukan motor siapa?"


Puput dan pak satpam tertawa.


Sepulang sekolah Puput langsung membersihkan diri dan berganti pakaian. Hansa dan yang lainnya tidak ada di rumah, mereka sibuk dengan urusannya sendiri. Raden ke rumah sakit, Hasan ke restoran, Dewa bekerja, dan Akhtia sibuk dengan kegiatannya kursus menjahit.


"Eh eh eh. Jangan makan dulu." Tiba-tiba Airlangga datang, mengambil piring makan Puput dari tangannya.


"Loh, kenapa? Aku lapar loh, Bang."


"Makan di luar yuk. Katanya mau beli hp. Tadi Abang lupa mau jemput kamu, soalnya ada kerjaan."


"Hp? Yeaaaaay. Ayo, Bang." Puput menarik tangan Airlangga. Pria itu tersenyum senang.


"Mau hp ini?" tanya Airlangga pada Puput sambil menunjuk hp lipat.


"Itu mah mending gak usah ganti, sama aja. Aku mau nyari yang harganya kisaran dua juta ke bawah."


"hah?"


"Ya emang pakenya itu. Ada sih beberapa yang pake hp kayak aku juga, tapi aku gak nyaman beda sendiri dari sahabat aku."


"Makan dulu aja yuk. Hp murah kayak gitu mah banyak, tinggal tunjuk aja langsung jadi."


"Makanan Korea ya."


"Oke." Airlangga merangkul Puput, lalu mereka pergi menuju restoran yang Puput mau.



"Siapa aja sahabat kamu, Put?"


"Imas sama ... siapa ya satu lagi, lupa."


"Eh?"


"Kidding. He he. Satu lagi namanya Saodah."


"Orang tua mereka kerja apa?"


"Emmm kalau Imas udah gak punya ibu, bapaknya kerja kuli bangunan. Katanya sih suka jauh kalau kerja, kadang ke luar pulau. Makanya dia tinggal sama nenek dan kakeknya. Kalau Saodah kebalikannya, dia udah gak punya bapak. Ibunya jadi pembantu."


"Mereka gak ada niatan buat jadi sodara?"


"Maksudnya?"


Airlangga tertawa. Saat itulah Puput ngeh apa maksud abangnya.


"Ih, Abang mah. Ha ha ha."


Puput tertawa sampai terbatuk-batuk. Dengan sigap Airlangga memberikan air.

__ADS_1


"Awas keselek."


"Habisnya Abang ada-ada aja sih," ucap Puput, lalu dia kembali menikmati makanannya.


"Ck, hati-hati makannya sampai belepotan gitu." Airlangga menyeka noda yang ada di sudut bibir adiknya, lalu noda yang ada di jarinya dia ****.


"Hueeeek, jorok!"


"Kata orang tua dulu mah biar apet, atau biar kamu lengket sama Abang."


"Masa seorang pengacara percaya sama kayak gituan, sih."


"Yaaaa siapa tau kenyataan kan?"


"Dihhh."


"Ayo selesaikan makanya, kita mau beli hp kan?"


"Eh, iya. Aku sampai lupa loh. Malah keasikan ngobrol sama Abang."


"Nah, kan. Bener berarti."


"Apanya?"


"Kata orang tua jaman dulu."


Puput memajukan bibir bawahnya, meledek Airlangga. Melihat aksi Puput, Airlangga menarik nafas dalam-dalam dengan berat.


Puput yang sejak dulu menginginkan kakak laki-laki, dia begitu manja pada Airlangga. Selama mengelilingi mall, Puput bergelayut manja pada tangan Airlangga. Kadang dia seperti anak kecil saat melihat sesuatu yang ingin dia beli.


Setelah membeli ponsel, Puput mengajak Airlangga ke toko aksesoris.



"Udah?"


"Udah deh, kayaknya udah kebanyakan."


"Gak apa-apa kalau masih ada yang mau dibeli."


"Nanti lagi deh, Bang. Sekarang segini aja dulu."


Setelah membayar belanjaan, mereka pun pulang karena hari sudah sore.


"Put, mau cokelat gak?" tanya Airlangga di dalam perjalanan.


"Emang Abang beliin aku cokelat tadi?"


"Enggak, Abang tau tempat cokelat yang enak. Mereka bikin sendiri tapi rasanya benar-benar enak. Kalau cokelat kemasan yang di toko-toko."


"Masa? Mau dong. Aku boleh beliin buat Imas dan Saodah juga kan?"


"Selama temen kamu cewek, boleh. Sisanya enggak!"


"Siaaap."


"Memangnya crush kamu siapa di sekolah?"

__ADS_1


"Hmm?"


"Katanya kamu punya cowok, siapa dia? Keren gak? Kerena mana sama Abang?"


"Ihhh, Abang kenapa sih? Enggak kok, dia cuma deket aja. Tapi yaaa sikapnya jauh lebih baik sama aku daripada ke yang lain. Perhatian juga."


"Perhatian?"


"He-em. Dia suka ngasih minuman kalau istirahat. Kadang cemilan juga, terus dia suka ngeliat diam-diam. Ya pokoknya gitu deh."


"Tuh, Abang beliin yang lebih mahal dan banyak buat kamu. Abang gak liat diam-diam, Abang pelototin langsung malah."


"Hahaha. Abang cemburu?"


"Iya! kenapa?"


Puput manggut-manggut sambil tersenyum.


"Kenapa?"


"Ternyata begini rasanya jika punya kakak laki-laki. Persisi kayak yang aku liat di film-film. Mereka protek banget sama adik ceweknya. Kadang posesif juga. Menyenangkan ternyata."


What? Dia mikirnya gitu? Seriusan? Sialan!


Ponsel Puput berbunyi.


"Halo, Bun."


"Kamu di mana? Belum pulang sekolah?"


"Udah, aku lagi sama Abang beli hp. Ini lagi di jalan mau pulang. Eh, enggak. Kita mau beli cokelat dulu, bunda mau nitip?"


"Oh, bunda kira kamu belum pulang sekolah. Jangan-jangan malem-malem. Pulang sebelum magrib."


"Oke, Bun."


"Bunda nyuruh kita pulang?"


"Iya, sebelum magrib harus di rumah katanya."


"Ini udah mau azan. Apa kita pulang aja? Takutnya bunda khawatir. Beli cokelatnya besok aja pulang sekolah Abang jemput pake motor."


"Nah, iya. Kayaknya lebih asik naik motor daripada naik mobil. Janji ya besok jemput, awas aja kalau enggak."


"Iya, janji. Abang usahakan pulang siang."


"Uuuuh, baiknya Abang. Sayang deh." Puput bergelayut manja pada tangan Airlangga yang sedang menyetir.


Bagi Puput, Airlangga adalah sosok yang selama ini dia inginkan, dia impikan dan dia dambakan. Seorang kakak laki-laki yang bisa dia jadikan untuk bermanja-manja, dan meminta apa saja yang dia inginkan.


Namun, tidak bagi Airlangga. Sikap Puput yang manja itu membuat dia semakin tidak bisa mengubur apa yang selama ini dia rasakan. Perasaan yang entah kenapa hadir saat mereka bertemu untuk pertama kalinya. Sikap dingin Puput membuat hari Airlangga menghangat saat itu.


Sadar perasaannya akan merusak hubungan yang sudah terjalin, Airlangga berusaha menutupi, mengubur rasanya dalam-dalam.


Akan tetapi ... jika sikap Puput seperti itu bagaimana Airlangga bisa melupakan perasaannya. Justru benih-benih itu mulai tumbuh dengan subur.


Oke, mungkin ini memang sudah jalannya. Gue gak bisa memperlakukan dia sebagai kekasih. Tapi jika kesempatan itu ada, kenapa tidak? Orang pun akan menganggap wajar bukan, seorang kakak yang begitu baik pada adiknya. Gue hanya harus menahan diri dan tau batasan saat di hadapan keluarga.

__ADS_1


"Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan bilang sama Abang, ya. Abang udah kerja, apapun yang kamu mau akan Abang berikan. Apapun."


Hati dan jiwa gue pun akan gue berikan buat Lo, Put.


__ADS_2