
"Tadi siang papa habis interview karyawan baru di resto," ucap Raden saat makan malam bersama anak-anaknya.
"Kenapa memangnya, Pah? Tumben cerita masalah kerjaan ke kita." Akhtia bertanya.
"Salah satu dari mereka adalah Hasna."
Uhuk!
Airlangga tersedak.
"Hati-hati makannya, Bang." Akhtia segera memberikan air minum.
"Beneran Tante Hasna, Pah? Ngapain dia ikut interview? Enggak, maksudnya kok bisa dia melamar di restoran papah?" tanya Airlangga.
"Papa juga gak ngerti. Yang jelas dia tidak tahu kalau Papa owner di sana. Dia juga bilang jangan menerima dia sebagai karyawan hanya karena papa mengenalnya. Kalaupun diterima, dia mewanti-wanti papa agar bersikap biasa saja."
"Waaah, Tante Hasna emang beda ya. Itulah kenapa aku suka banget sama dia." Akhtia tersenyum bangga.
"Papa udah tau nomor hp nya dong?" tanya Airlangga.
"Nah, iya. Gimana, Pah?" tanya Akhtia.
"Udah, kan ada di data pribadinya. Papa udah save." Raden tersipu.
"Nanti aku mau ke sana, ah."
"Tapi jangan bersikap mencolok, ya. Papa gak mau dia keluar dari sana. Papa tidak ingin dia pergi lagi."
"Papa tenang aja, aku ke sana cuma mau liat aja dari jauh. Emangnya papa doang yang kangen, aku juga kali."
"Awas, Dek. Nanti kamu lepas kendali, terus lari dan meluk dia sambil nangis. Kayak di film-film gitu."
Akhtia memukul paha Airlangga. Dia tertawa karena berhasil meledek adiknya.
Senyum Raden selalu menghiasi wajahnya sepanjang makan malam. Dia yang sejak lama mencari kabar Hasna, akhirnya menemukan hasil yang bahagia. Hasna datang sendiri padanya melalu interview.
"Kalau jodoh emang gak akan ke mana," gumamnya sambil menatap langit-langit kamar, berbaring dengan tangannya sebagai bantal.
Pergi ke rumah sakit hanya untuk mengerjakan hal yang penting, sisanya dia berikan pada asisten pribadinya. Raden begitu semangat untuk pergi ke restoran agar bisa melihat Hasna.
Parkiran restoran terlihat cukup penuh, itu artinya banyak pengunjung yang datang. Alhamdulillah.
Raden bergegas masuk.
Benar saja, beberapa pelayan terlihat sibuk. Ada yang sedang mencatat pesanan pelanggan, ada yang sibuk merapikan meja bekas makan, ada juga yang mondar-mandir membawa pesanan. Jam makan siang memang sedang sibuk-sibuknya.
Mata raden masih menyisir penjuru restoran. Orang yang dia cari tidak juga terlihat. Penasaran, Raden ke belakang menuju dapur. Berharap Hasna ada di sana. Namun, tidak ada.
"Karyawan baru mana?"
__ADS_1
"Mereka sedang mencuci piring, Pak."
"Oh, oke."
Raden tidak ingin mengganggu pekerjaan Hasna, terlebih dia tidak ingin mengecewakan Hasna yang tidak ingin Raden bersikap mencolok. Raden pergi menuju ruangannya.
"Minum, Pak?" tanya Ohim yang segera menghampiri Raden di ruangannya.
"Boleh. Seperti biasa ya."
"Baik, Pak."
Ohim segera keluar dengan senyumannya yang aneh. Dia bergegas menuju dapur, mencari karyawan baru yang sedang cuci piring.
"Hey, kamu."
Hasna, Iwan, dan Mira menoleh bersama.
"Itu kamu." Ohim menunjuk Hasna. Hasna segera mencuci tangan, lalu mengeringkannya.
"Iya, Pak."
"Kamu buat minuman untuk Pak Raden. Dia suka jus alpukat yang manis. Kamu segera buat, yang lainnya sibuk."
"Oh, iya, baik."
Ada Riya di sana. Dia dan Udin adalah karyawan yang memang khusus membuat minuman di restoran itu.
"Mau bikin apa?" tanya Udin.
"Jus alpukat buat Pak Raden."
"Oh, begitu. Jangan pake gula, ya. Dia gak suka manis soalnya."
"Hmm? Tadi ...." Hasna menghentikan ucapannya. Dia menyadari satu hal.
"Pak Raden gak suka manis, kalau mau dibanyakin susu aja."
"Oh, iya. Terimakasih, ya, Mas."
Hasna memikirkan kenapa Ohim meminta dia membuat jus alpukat yang manis sementara Raden tidak menyukai itu. Apa dia sengaja ingin aku dimarahi? Pikir Hasna.
Hasna membawa nampan berisi gelas jus alpukat. Dengan hati-hati, Hasna mengetuk pintu ruangan Raden yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca.
"Masuk."
Hasna membuka pintu, lalu masuk setelah dipersilahkan.
"Jus nya, Pak." Hasna meletakkan gelas itu di meja Raden.
__ADS_1
"Di sini gak ada siapa-siapa, Na. Jangan terlalu formal."
"Meski begitu, ini masih jam kerja, Pak."
"Saya merindukan kamu, Hasna."
Hasna hanya diam menatap Raden.
"Apa kamu tidak merasakan hal yang sama?" tanyanya. Hasna masih tetap diam.
Raden mengambil remote kecil yang ada di samping laptop, menekan tombol itu lalu dalam sekejap dinding kaca ruangan Raden berubah menjadi putih pekat, hingga orang luar tidak bisa melihat ke dalam.
Hasna berusaha tetap tenang meski dia sebenarnya gugup. Terlebih saat Raden bangun dari kursi dan berjalan menghampirinya.
"Saya minta maaf jika sikap saya waktu itu membuat kamu sakit hati dan kecewa sama saya, Na." Raden memegang kedua lengan atas Hasna. Menatap Hasna penuh penyesalan dan harapan. Harapan agar dia memaafkan kesalahannya.
"Pak, tolong. Ini tempat kerja, saya tidak ingin orang lain salah faham."
Raden menarik tubuh Hasna. Memeluknya dengan erat seakan tidak ingin dilepaskan. Hasna hanya diam. Dia ingin menolak, tapi tidak bisa dipungkiri jika hatinya pun merindukan sosok pria yang kini dalam pelukannya.
"Saya berharap semuanya kembali seperti dulu. Tidak bisakah kita memulai semuanya dari awal?"
"Kita bicarakan nanti saja, Pak. Saya mohon jangan begini di tempat kerja. Saya tidak ingin yang lainnya berpikir buruk tentang saya."
Raden melepaskan pelukannya, dia masih memegang tangan Hasna bagian atas. Menatapnya masih dengan harapan yang sama.
Cup!
Sebuah kecupan di kening Hasna mendarat dengan lembut.
"Baiklah. Sekarang kamu boleh kembali bekerja."
"Permisi."
Hasna membungkuk hormat sebelum dia keluar dari ruangan Raden. Sikap Hasna membuat pria itu merasa sedih.
"Heh!"
"Astaghfirullah!" Hasna mengusap dadanya karena terkejut.
"Ngapain kamu di dalam sana? Kenapa Pak Raden menutup kacanya? Apa yang kalian lakukan di sana? Apa kamu sedang berusaha merayunya?" tanya Ohim.
Mendengar ucapan Ohim, dada Hasna bergemuruh hebat karena kesal.
"Maaf, Pak. Tapi saya tidak serendah itu harus merayu atasan. Lagian untuk apa? Gak ada gunanya juga."
"Munafik," ucap Ohim sinis sebelum dia pergi meninggalkan Hasna.
"Astagaaaa ... itu orang ada masalah apa sih?" gumam hasna sambil mengepalkan tangannya kuat.
__ADS_1