Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Situasi yang memanas


__ADS_3

Ayo bertemu. Setidaknya satu kali saja. Aku sudah tidak bisa setia karena nyatanya aku mulai menyukai seseorang di dunia nyataku. Jika aku jatuh hati padanya, mungkin aku tidak akan pernah bisa berkomunikasi lagi denganmu.


Akhtia yang sedang tidak enak hati, membaca email dari Dealova yang membuat dia semakin sedih.


Bagaimana tidak, Akhtia yang sudah mulai menyukai Dewa, harus melihat bagaimana perhatiannya Dewa pada Puput.


Dia muak dengan keadaan saat ini. Airlangga yang sudah seperti bukan kakaknya, juga suami yang mulai terlihat menyukai Puput. Semua orang di rumah ini menyukai Puput.


"Kak, aku masuk ya."


Akhtia menghela nafas kesal saat mendengar suara Puput memanggil. Dia tidak menjawab, dan akhirnya Puput pun pergi.


"Perasaan makin hari kakak keliatan seneng. Ada apa?" tanya Akhtia pada Dewa saat mereka di kamar. Akhtia curiga karena Dewa sering senyum-senyum sendiri. Dia bahkan berdendang saat berdandan.


"Iya, aku sedang jatuh cinta mungkin."


"Sama?"


Dewa menoleh.


"Rahasia. Aku belum bisa mengatakan siapa wanita itu karena aku sendiri belum yakin dia kau atau enggak."


"Orang yang tinggal di rumah ini, atau orang luar?" tanya Akhtia hati-hati.


"Orang rumah."


Deg!


Dugaan Akhtia benar. Suaminya jatuh cinta pada Puput. Akhtia pernah melihat Dewa diam-diam memberikan kotak hadiah pada Puput.


Bukan hanya itu, Dewa begitu perhatian pada Puput. Saat makan pun suaminya berani mengelap noda di bibir adik sambungnya itu.


"Oh, semoga lancar ya Kak."


"Kamu benar-benar berharap aku bisa berhasil mendapatkan dia?"


"Tentu saja. Kakak berhak bahagia, kita semua berhak bahagia. Bahagia tanpa menyakiti orang apalagi."


"Aamiin. Semoga dia bisa nerima cinta aku ya. Emmm, kamu gak apa-apa kan?"


"Ya?"


"Kamu gak apa-apa kan aku jatuh cinta sama orang lain?"


"Enggak lah." Akhtia tertawa samar.


"Syukurlah kalau gitu. Selamat istirahat, semoga mimpi indah ya." Dewa mengacak-acak rambut Akhtia.

__ADS_1


Kamu baru aja bilang kalau kamu cinta sama wanita lain, kenapa harus bersikap kayak gini sama aku? Kamu tau gak sih sentuhan kamu itu bikin hati jantungku berdebar. Dasar egois!


Diam-diam Akhtia menangis saat Dewa sudah terlelap. Saat pagi tiba, Akhtia akan segera bangun, mencari timun untuk mengompres matanya yang bengkak.


Di kamar Puput.



Puput sedang sibuk mempersiapkan perlengkapan untuk acara besok di sekolah. Dia menyiapkan pakai tidur, alat mandi, kipas elektrik, charger ponsel, lotion anti nyamuk, alat solat, dan camilan.


Ponselnya berbunyi.


"Pasti lagi siap-siap buat besok kan?" tanya Chooki.


"Hehehe, cenayang ya? Kok tau?"


"Nebak doang sih. Sayang ya besok aku gak bisa datang."


"Gak apa-apa, kan sama aja mewakili sekolah. Bedanya aku acaranya masak-masak, kamu acara cerdas cermat. Semangat ya buat kita."


"Fighting. Tapi kalau boleh milih sih aku maunya ikut di sekolah. Kayaknya seru aja malem-malem bikin acara sama temen dan guru. Utamanya sih karena bisa sama kamu."


"Uhuy, akunya jadi tersanjung. Gombalan anda berhasil, Komandan."


"Ini serius, loh."


"Siapa?"


"Abang."


"Masuk aja, gak dikunci kok."


Puput kembali membalas chat dari Chooki, tanpa mempedulikan Airlangga yang sudah ada di dalam kamarnya. Diam-diam dia kepo dengan isi chat adiknya.


"Cieeeee."


Puput langsung menyembunyikan ponselnya agar Airlangga tidak bisa melihatnya lagi.


"Mana liat, kamu ngobrol yang enggak-enggak gak?"


"Gak mau. Jangan ih." Puput berusaha melindungi ponselnya yang hendak diambil oleh Airlangga.


"Liat doang kok." Airlangga berhasil mengambil ponsel Puput, dia pun mulai membuka chat Chooki dan adiknya.


"Abang!" Puput menyeruduk Airlangga dan berusaha mengambil ponselnya. Mereka berdua jatuh dengan posisi Puput di atas tubuh Airlangga.


"Abang, ih. Gak boleh gitu tau. Gak sopan!" Puput langsung mengambil ponselnya saat Airlangga terkesima.

__ADS_1


Puput bangun dan kembali merapikan apa yang akan dia bawa besok. Anak itu terlihat biasa saja, seperti tidak ada yang terjadi barusan.


Namun, Airlangga tidak. Kejadian tadi membuat dia merasa membeku. Wajah Puput begitu dekat, tepat di depan matanya. Dia bahkan bisa merasakan nafas Puput saat gadis itu marah.


Airlangga merasa nafasnya berhenti untuk sesaat.


"Aku ke kamar dulu ya."


"Ih, cepet banget? tadi ke sini mau ngapain? gak mungkin cuma ngajak berantem doang kan?"


Airlangga tidak mempedulikan ucapan Puput. Dia segera keluar agar Puput tidak curiga pada sikapnya.


Sesampainya di kamar Airlangga masih tetap sama. dia membisu. Kejadian di kamar Puput tadi masih dia rasakan dengan begitu jelas. Airlangga masih terkejut lama-kelamaan dia merasa bahagia. Airlangga tertawa kecil atas apa yang terjadi malam ini.


Airlangga membaringkan tubuhnya di atas kasur, dengan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. matanya lurus menatap langit-langit, membayangkan apa yang barusan dia rasakan. sepertinya malam ini adalah malam yang paling membahagiakan bagi Airlangga.


Di matanya kini dia sedang berada di taman bunga berhamparkan rumput hijau dengan cantiknya kupu-kupu yang menari satu sama lain. Cantiknya warna pelangi membuat semuanya menjadi lebih indah.


pagi hari yang terasa kontras. yang satu terlihat murung dan bersedih, sementara Airlangga nampak sangat bahagia. Puput pun sama senyumannya tidak pernah hilang yang sibuk dengan ponselnya.


"Dewa mana Tia?" tanya Airlangga yang sadar jika mereka hanya bertiga.


"nggak tahu." jawab ah dia singkat.


"Kak Dewa tadi pulang ke rumah orang tuanya katanya maminya sakit."


Ucapan Puput membuat Akhtia terkejut juga merasa sangat kesal.


"Kok bisa ya, kamu yang cuma adik iparnya tahu ke mana Dewa pergi. Lucunya aku yang jadi istrinya aja nggak tahu dia ke mana."


"Tadi Kak Dewa katanya buru-buru. Ya mana aku tahu, 'kan kalian satu kamar, mungkin aja kakak tadi lagi nggak ada di kamar. Emang tadi kakak pagi-pagi ke mana?"


Akhtia terdiam. Dia sadar pagi-pagi sekali dia harus ke dapur mengiris timun untuk mengompres matanya yang bengkak. Meski begitu Akhtia tetap merasa marah kenapa Dewa malah berpamitan kepada Puput dan bukan mencari dirinya.


"Aku udah selesai." Akhtia menyimpan sendok dan garpunya ke atas piring dengan kasar hingga menimbulkan suara.


Puput yang asik sedang chat dengan kekasihnya tidak 'ngeh jika kakaknya sedang kesal pada dirinya.


"Kamu lagi ngapain sih, Put?" tanya Airlangga sedikit ketus.


"Chat sama orang lah, kenapa? ih kepo," hujan Puput tanpa menoleh sedikitpun ke arah Airlangga.


"Harusnya kamu lihat situasi dan kondisi dulu dong, jangan asik ngobrol di dunia maya tanpa melihat keadaan sekeliling."


"Abang kenapa sih, kok marah? orang aku nggak ngapa-ngapain juga. Emang sekeliling kita kenapa biasa aja kan? kayak kemarin-kemarin."


Mendengar ucapan Puput, Airlangga marah. Dia pun meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan sarapannya. Airlangga bahkan tidak peduli dengan siapa Puput akan berangkat ke sekolah. Airlangga marah tapi bukan karena anak itu mengabaikan Akhtia melainkan karena Puput yang sibuk chat dengan kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2