Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Berita mengejutkan


__ADS_3

"Bagaimana kerjaan di restoran?" tanya Raden saat Hasna libur. Raden menjemput Hasna dan anak-anaknya untuk bermain di rumahnya.


"Ya begitulah, Mas. Memangnya tidak ada yang bercerita sama kamu?"


"Saya cuma ingin tau aja dari kamu."


"Sebenarnya ada yang tidak beres di sana, ini sih baru kecurigaan aku aja, Mas. Kuncinya belum mau bicara."


"Ada apa memangnya?" tanya Raden penataan. Hasna menoleh pada kekasihnya.


"Ada yang melecehkan salah satu karyawati di sana, Mas. Aku tidak tahu siapa karena korban belum mau bicara. Cuma sepertinya dia pun terpaksa diam karena diancam atau entah karena dibayar. Dia Mira, meski tidak langsung bilang tapi dia pernah mengatakan jika ibunya sakit. Mungkin saja dia butuh biaya."


"Benarkah? Tapi masa tidak ada yang tahu? Dia dilecehkan di mana? Di resto?"


"Bisa jadi. Tapi ya aku belum tahu pasti, aku mau memaksa Mira buat cerita nanti."


"Saya cuma tahu kalau sekarang para pekerja sudah tau siapa kamu, iya kan?"


Hasna mengangguk dengan malu-malu.


"Berarti kalau saya berkunjung ke sana pun kita gak perlu menyembunyikan hubungan kita bukan?"


"Iya, Mas. Tapi tetep aja jangan terlalu mencolok, ya kita tetep harus jaga batasan, harus profesional."


"Kalau di sini, harus jaga batasan juga gak?"


cup! Raden mencium pipi Hasna.


"Ihhh, Mas. Tetep aja harus jaga batasan, kita belum menikah."


"Ya sudah, ayo kita menikah."


"Dikira ngajak jajan seblak main ayo ayo aja."


Raden tertawa.


"Ya, ya, ya, saya harus menunggu dua pekan lagi untuk meresmikan hubungan kita. Keluarga sudah setuju, anak-anak sudah setuju, tinggal menunggu saja. Sayang sekali pernikahan ini tidak meriah." Raden menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Kita itu bukan pasangan muda lagi, Mas. Lagian sebentar lagi Akhtia dan dewa akan menikah, lebih baik mereka saja yang kita buatkan acara yang megah."


"Pernikahan mereka sudah diatur oleh keluarga Dewa, kita terima beres saja."


"Wah, beruntung banget dong kita."


"Kenapa bisa gitu? Saya malah sedikit kecewa karena tidak terlibat di dalamnya."


"Positif aja, Mas. Itu artinya keluarga Dewa sangat bahagia, mereka menyambut istimewa kedatangan Akhtia di keluarga mereka. Itu artinya Akhtia sangat spesial."


"Begitukah?"


"Iya, dong. Coba kalau calon istri Dewa tidak disukai, mungkin jika dipaksa menikah pun tidak akan seistimewa mereka mengadakan pesta untuk Akhtia."

__ADS_1


"Bunda ...." Nay berlari menghampiri.


"Apa, Sayang?"


"Laperrrr ...."


"Kamu sih keasikan main dari tadi sampai lupa makan. Ayo, bunda temenin."


"Ayo, aku laper banget."


"Mas, aku temenin Nay makan dulu ya."


Raden mengangguk.


"Makan, Bun." Airlangga menyapa saat dia sedang makan di meja.


"Nay juga laper, Bang." Nay naik ke kursi yang ada di sebelah Airlangga.


"Mau makan sama apa, Nay?" Sayur bayam sama ayam goreng Upin Ipin."


"Ayam goreng Upin Ipin? Apaan itu?" tanya Airlangga.


"Maksud Nay itu ayam goreng bagian paha. Upin Ipin kan kalau makan ayam selalu bagian paha nya."


"Oooh, begitu?" Airlangga yang tidak memiliki adik, tidak mengerti apapun yang berkaitan dengan dunia kartun dan film anak-anak.


"Nay makan sama Abang, ya. Bunda ke depan sebentar."


"Iya, Bun."


"Iya, Bun." Airlangga menjawab.


Hasna pergi ke depan saat melihat Bi Juriah sedang berbincang dengan seseorang. Perbincangan mereka terlihat tidak biasa, itulah kenapa Hasna menghampiri mereka.


"Ada apa, Bi?"


Bi juriah dan seorang wanita muda yang terlihat kesal pun menoleh bersamaan.


"Ini, Bu--"


"Ini siapa?" tanya wanita itu.


"Ini nyonya rumah di sini." BI Juriah menjelaskan.


"Nyonya? Bukankah Airlangga tidak punya ibu? Maksudnya ini ibu tiri?"


BI Juriah terlihat kesal pada wanita sekaligus merasa tidak enak pada Hasna.


"Maaf, kamu siapa?" tanya Hasna.


"Saya temen Airlangga. Ini perempuan tua tidak mengizinkan saya masuk ke rumah ini," ucapnya sambil menunjuk Bi Juriah tepat di depan wajahnya.

__ADS_1


"Sebagai tamu, tidakkah kamu merasa sangat tidak sopan? Tidak seharusnya kamu menunjuk orang tepat di depan wajahnya terlebih dia itu sudah berumur."


"Oke, baiklah Ibu tiri."


Hasna merasa kesal, tapi dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sadar diri jika ucapan wanita itu benar, terlebih Hasna belum menikah dengan Raden. Tidak bisa dia berbuat selayaknya nyonya di rumah ini.


"Kamu tunggu di sini jika ingin bertemu dengan Airlangga. Akan saya panggil dia keluar."


"Ya ampun, ibu tiri nemu dari mana sih Airlangga. Masa tamu dibiarkan menunggu di luar, kenapa tidak dipersilahkan saja masuk."


Hasna menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan wanita itu. Dia kembali membalikkan badan, menatap tajam wanita yang berpakaian serba mini itu.


"Saya memang hanya ibu tiri bagi Airlangga, tapi setidaknya kedudukan saya lebih tinggi daripada seorang tamu tidak diundang seperti kamu. Jika ingin dihargai, maka hargai dirimu sendiri. Lihatlah dirimu, apakah kamu kayak untuk dihormati orang lain?"


"Maksudnya apa? Kamu pikir saya apa?" wanita itu berteriak, hingga terdengar oleh Airlangga dan Raden.


"Ada apa di depan ribut-ribut?" tanya Raden menghampiri Airlangga. Anak itu hanya mengangkat kedua bahunya, lalu mereka berdua sama-sama ke depan.


"Ada apa ribut-ribut?" tanya Raden sambil membukakan pintu lebar-lebar. Raden semakin heran melihat Hasna terlihat marah dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu siapa?" tanya Raden dengan nada kesal.


"Om pasti ayahnya Airlangga kan? Sudah saya duga karena Om sama gantengnya dengan Airlangga."


Hasna semakin kesal mendengar ucapan wanita itu. Dadanya turun naik karena menahan amarah.


"Kamu mau apa ke sini?" tanya Airlangga.


"Sayang, kamu kenapa nanya gitu? Aku ke sini ingin memperkenalkan diri dong sama orang tua kamu. Eh, ralat. Sama ayah kamu." Wanita itu melirik sinis pada Hasna.


"Airlangga, apa dia teman kamu? Silakan urus." Raden pun ikut kesal atas sikap wanita itu.


"Ayo, sayang." Raden merangkul bahu Hasna dan mengajaknya masuk ke dalam. Baru beberapa langkah mereka masuk, wanita itu berteriak.


"Om, saya ke sini ingin bertemu dengan Om."


Raden kembali membalikkan badannya, pun dengan Hasna.


"Saya ke sini mau memperkenalkan diri. Saya ini Angela, calon ibu dari cucu om."


"Hentikan, Angela." Airlangga berusaha menutup mulut wanita itu.


"Om, saya hamil anak Airlangga. Saya ke sini mau minta pertanggung jawaban." Wanita itu meronta saat Airlangga berusaha membekap mulutnya.


Hasna menoleh pada Raden yang menatap tanpa berkedip pada wanita itu dan Airlangga.


"Apa maksudnya? Abang ... apa maksud ucapan wanita ini?" tanya Akhtia yang baru saja datang bersama Dewa.


Airlangga memijat kepalanya.


"Abang!" Akhtia berteriak histeris. Tangisannya mulai pecah.

__ADS_1


"Sssst, kamu tenang dulu, Akhtia." Dewa berusaha menenangkan calon istrinya.


__ADS_2