Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Sidang


__ADS_3

"Ada apa? Kenapa dengan kalian semua? Apa sekarang aku sedang disidang?"


Handi beserta istrinya, Lukmini, ada juga ibu dari Raden yaitu Bu Asroh menatap penuh tanda tanya ke arah Raden. Ada juga kakak pertama Raden yaitu Tarno dan istrinya Tasri. Tidak lama kemudian adik pertama Raden datang, Zaelani dan istrinya Murdini ikut duduk di sana.


"Sebenarnya apa yang ingin kalian tanyakan? Apa tentang tagihan pasien yang aku masukkan atas nama paman?"


"Benar," jawab Handi.


"Aku sudah menggantinya. Apa lagi masalahnya?"


"Bukan karena uangnya, Den. Kami semua penasaran tentang siapa pasien itu sampai kamu berani menagih uang rumah sakit atas nama paman kamu."


"Bi, sebenarnya ada kesalahan fahaman di sini. Ini semua ulah Santi. Dia mengerjai aku, sumpah."


"Masa sih, Kak? Katanya ada salah satu satpam rumah sakit yang diminta menjaga seseorang di ICU juga. Apakah masih pasien yang sama?" tanya Zaelani.


"Kenapa memangnya? Ya ... itu karena, emmm itu karena."


"Karena kakak suka sama pasiennya. Kan?"


"Bener, Din. Kamu ternyata lebih pintar dari suamimu," ledek Raden sambil melirik Zaelani.


"Pasien itu sangat lucu. Usianya baru 4 tahun, aku rasa tidak ada yang tidak suka sama dia."


"Lalu bagaimana dengan ibunya? Apa kamu juga menyukainya seperti menyukai anaknya? Apa semua orang akan menyukainya termasuk kami keluargamu?" tanya Bu Asroh.


Mendapatkan pertanyaan dari sang ibu, Raden tidak bisa mengelak. Ya, lebih tepatnya tidak bisa berbohong.


"Bu ...."

__ADS_1


"Den, rumah sakit itu dikelola oleh paman kamu. Ada Murdini dan bibi kamu juga di sana. Mana mungkin mereka tidak mengetahui apapun yang terjadi di sana. Aneh bukan jika mereka tidak tahu apa-apa tentang perusahaan yang mereka pegang?"


"Kalau kalian sudah tahu, kenapa harus memanggilku ke sini dan menginterogasi ku seperti sekarang?"


"Raden, kami di sini senang karena akhirnya kamu menemukan seseorang. Ya, kita semua sudah pasti tahu jika wanita itu spesial bagimu. Bagaimana tidak, seorang Raden yang perhitungan dan tidak peduli pada orang lain, bisa se-care itu pada orang asing jika tidak ada sesuatu."


"Paman kamu benar. Bibi dan yang lainnya hanya ingin tahu dari mulut kamu langsung. itu saja. Bibi, ibu dan adik-adik kamu sejak lama ingin kamu memiliki pendamping, tapi apa? Kamu bahkan sering menolak jika bibi mengenalkan seseorang sama kamu. Tapi sekarang ...."


Raden menundukkan kepalanya. Dia menarik nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu.


"Ya, benar. Aku menyukai wanita itu. Dia adalah ibu dari tiga orang anak yang ditinggal suaminya satu setengah tahun yang lalu. Entah kenapa tapi aku benar-benar merasa terganggu olehnya. Dia memang spesial di mataku. Wanita sederhana yang penuh dengan kesedihan di hidupnya. Ibu ... andai dia mau menjadi istriku, apa ibu akan merestuinya?"


"Perkenalkan saja dulu orangnya."


"Tidak, Bu. Aku ingin memastikannya sebelum dia aku bawa ke hadapan kalian semua. Aku ingin dia disambut hangat dan diterima di keluarga ini. Lukanya terlalu banyak, jika harus terluka lagi di sini, aku takut dia akan trauma dan tidak mau bertemu denganku lagi."


Semua orang terdiam.


Raden menatap bibinya.


"Namanya Nay, dia anak bungsunya yang kemarin dirawat. Dia mengalami kecelakaan saat dibawa bermotor oleh Widia, dia adik ipar wanita yang aku sukai."


"Maksudnya dia marah dan datang ke rumah sakit karena anak mertuanya itu kecelakaan gitu?" tanya Murdini.


"Ya, padahal dia hanya mengalami luka lecet. Wanita tua itu bahkan tidak peduli pada cucunya yang koma."


Mereka kembali terdiam. Kali ini cukup lama.


"Anak-anakku sudah kenal dan kini mereka sudah akrab dengan anak-anaknya. Ibu, silakan cari tau sendiri informasi tentang dia, jika tidak suka katakan padaku, jangan sampai ibu dan yang lainnya menunjukkan rasa tidak suka saat aku membawanya ke sini."

__ADS_1


"Bagaimana kalau ibu tidak suka?"


"Maka aku tidak akan pernah menikah lagi."


Ibu Asroh tersenyum tipis. Dia sudah menduga anaknya akan mengatakan hal tersebut.


"Aku permisi dulu." Raden pun pergi meninggalkan keluarganya yang masih duduk dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kak, kakak akan merestui hubungan mereka?" tanya Handi pada Asroh.


"Kalian semua tahu bagaimana Raden ditinggal pergi istrinya saat Akhtia berusia tiga bulan, sampai detik kemarin sebelum bertemu wanita itu Raden begitu kaku. Aku melihat ada kebahagiaan dalam dirinya. Rumah yang dingin karena ditinggal penghuninya, kini tampak hangat. Aku tidak akan membiarkan rumah itu kembali sepi."


"Aku setuju, selama wanita itu wanita baik, maka seharusnya kita merestui hubungan mereka," ucap Tarno menimpali.


"Kata Risa, Akhtia belakang ini terlihat sibuk dan berbeda. Dia sering tersenyum dan ceria, mungkin karena wanita itu juga." Tasri menambahkan.


"Ya udah lah ya, biarkan kakak bahagia. Kita jangan terlalu ikut campur dalam urusan kehidupan asmaranya. Jika itu membuat dia bahagia, kenapa kita harus merusaknya?" Murdini ikut memberikan pendapat.


Bu Asroh terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dia akan melakukan sesuatu untuk mengetahui lebih dalam tentang wanita yang anaknya sukai yaitu Hasna. Bagaimana juga, Bu Asroh harus memastikan agar anaknya tidak salah memilih wanita.


Semuanya kembali pada aktifitas masing-masing, meninggalkan Handi dan istrinya.


"Pih, kamu setuju begitu saja? Kamu akan membiarkan Raden menikah dengan wanita yang masih muda? Kemungkinan dia hamil besar gak? Bagiamana kalau dia hamil dan memiliki anak laki-laki?"


"Maka nasibnya akan sama seperti Airlangga."


Mereka saling menatap sambil melempar senyum satu sama lain.


"Kamu tenang saja, ya. Lebih baik kita ke kamar, membersihkan diri lalu istirahat."

__ADS_1


"Yuk."


__ADS_2