Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Pancingan


__ADS_3

Sarapan pertama tanpa ada Azalea karena dia sedang di rumah sakit untuk menjalankan kepura-puraan nya itu.


Pagi ini terasa sepi meski ada tiga orang sedang duduk di meja yang sama. Makan dengan sangat tidak bersemangat. Wajah mereka terlihat sedih dengan pikiran dan masalah yang sama meski tidak saling mengungkapkan.


"Dek, kamu Abang anter sekolah ya." Airlangga memecah keheningan. Raden melirik. Meski sedikit heran, dia lega akhirnya kedua anaknya tidak lagi perang dingin.


Akhtia mengangguk. Airlangga tersenyum canggung. Mereka kembali melanjutkan sarapannya.


"Papa minta maaf sama kalian. Minta maaf pada Akhtia untuk hal lain, dan Airlangga untuk sesuatu yang lainnya. Sebagai orang tua papa tidak bisa menjaga keluarga, kebahagiaan keluarga, dan melindungi kalian."


Akhtia terlihat tidak peduli. Sementara Airlangga berusaha untuk menanggapi meski hanya dengan sekilas tatapan.


"Papa sudah mencari penghulu untuk pernikahan papa dan mama kalian. Semoga ini memang yang terbaik untuk kita semua."


"Tidak ada yang baik untuk kita. Pernikahan itu hanya akan membuat kita semua semakin menjauh. Aku sama sekali tidak ingin wanita itu tinggal di sini."


"Akhtia ...."


"Papa tidak merasakan bagaimana selama ini aku menyimpan rasa sakit. Berkali-kali datang kalau diabaikan dan tidak dianggap, apa itu tidak sakit? Sakit, Pa. Anak harus berbakti? Ya, aku berbakti dengan tidak membalas perbuatannya. Aku mendoakan agar dia sehat. Apa itu tidak cukup? Aku ... kenapa aku harus dipaksa menerima keberadaan dia sementara aku ditolak mentah-mentah karena dia tidak ingin kebahagiaannya bersama laki-laki itu diganggu."


Panjang lebar Akhtia menjelaskan sambil menangis tersedu-sedu.


"Aku datang untuk menemuinya. Dia menolak dan mengatakan jika dia terpaksa menerima kehadiranku di dalam rahimnya. Dia mengatakan itu di hadapan teman-teman yang akhirnya menjauhiku karena aku dianggap anak haram sama kayak Abang. Asal papa tau itu."


Raden dan Airlangga hanya diam mendengar semua keluh kesah Akhtia untuk pertama kalinya.


"Aku mendapatkan kehangatan dari Tante Hasna dan anak-anaknya. Aku bilang sama Puput kalau aku ini anak haram. Dia bilang tidak ada yang haram di dunia ini kecuali membunuh manusia itu sendiri. Dia bilang selama aku tidak membunuh orang aku bukan manusia haram. Tapi apa? Orang dewasa mengambil hubunganku dengan Puput. Teman satu-satunya yang aku miliki, aku tidak berani menampakan diri atau bahkan menghubunginya. Aku malu karena papa menyakiti ibunya!" Akhtia berteriak di akhirat kalimat.


"Dek, udah. Ini salah Abang. Abang yang egois karena mementingkan perasaan Abang sendiri yang ingin merasakan hidup lengkap dengan adanya orang tua."

__ADS_1


Akhtia. Luka lamanya kembali terbuka lebar. Luka yang selama ini dia simpan sendiri.


...***...


Tok tok tok


Setelah mendapat jawaban, Airlangga masuk ke kamar inap Azalea.


"Nak, kamu sudah datang?" tanyanya dengan suara lemah.


Airlangga berusaha menahan rasa. Dia bersikap tenang meski dadanya bergemuruh.


"Ada hp aku gak, Mah?"


"Ada. Itu mamah simpan di atas meja. Ada apa? Kenapa kamu tidak mengambil ponsel kamu. Banyak banget yang nelpon sama chat kayaknya."


Airlangga terdiam.


Airlangga menatap Azalea. Wanita itu tersenyum licik.


"Mama tau kamu kemarin balik lagi, kenapa tidak masuk? Kamu mendengar semuanya bukan?"


Airlangga masih diam. Dia berusaha mengendalikan emosinya. Menekan amarah yang sudah seperti larva hendak meledak.


"Ya, mama memang menerima tawaran bibi kamu tapi itu semua demi kamu, Nak. Mama tidak akan mengambil bagian 50% itu untuk mama. Mama melakukan ini hanya agar kamu diakui oleh keluarga papa kamu. Itu saja."


"Hanya ada satu yang ingin aku tanyakan. Sebenarnya aku dan Akhtia anak siapa? Siapa ayah kami?"


Azalea menghela nafas.

__ADS_1


"Alasan kenapa keluarga papa kamu menolak kehadiran kalian adalah pemeriksaan kesehatan Raden yang mengatakan jika dia mandul. Tapi nyatanya mamah hamil meski tanpa melakukan hubungan dengan pria manapun."


"Kenapa tidak dilakukan test DNA agar mereka mau mengakuinya?"


"Mereka bilang test DNA itu bisa dimanipulasi. Mereka bahkan melakukan test DNA duluan dan hasilnya seusai dengan yang mereka inginkan. DNA kalian tidak cocok."


"Mungkin mereka yang memanipulasi test itu."


"Bahkan penyakit dan pemeriksaan kesehatan mama saja bisa dimanipulasi. Apa yang sudah dengan memanipulasi hasil test DNA yang hanya ada di secarik kertas."


"Bibi, apa dia biang keroknya?"


"jika bukan karena dia mungkin mama masih akan bertahan sama papa kamu. Ditambah waktu itu Raden mudah sekali dihasut. Dia terlalu cemburu saat bibi kamu memberikan bukti palsu berupa foto mama dengan pria lain. Dia emosi dan ya akhirnya kami berpisah."


"Bagaimana juga mama telah menorehkan luka untuk kami. Setidaknya mama terima dan akui aku dan Akhtia sebagai anak. Kenapa keberadaan kami selalu ditolak."


"Mama tidak bisa menjelaskan hal itu karena kamu pasti akan bertambah sakit. Sekarang, biarkan mama menebusnya dengan mengambil hak waris kamu."


"Aku tidak butuh warisan dan pengakuan siapapun."


"Airlangga, tunggu! Kamu jangan aneh-aneh ya. Biarkan mama menyelesaikan semua ini hingga mama menikah dengan Raden. Mama ingin kembali. Mama ingin kita hidup bersama. Mama sudah tidak punya tujuan lagi. Suami mama menceriakan mama. Bagaimana mama bisa hidup tanpa ini dan itu."


Airlangga tertawa sinis. Bagaimana ada seorang ibu yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Azalea yang terbiasa hidup mewah dengan membeli ini itu, tidak lagi bisa hidup bersama dengan suaminya yang mulai bangkrut. Airlangga tahu semua itu karena meminta temannya untuk menyelidiki.


"Setidaknya mama pakai sedikit saja perasaan saat mendekati kami. Kenapa hanya uang yang mama pikirkan?"


"Aduuuh, Airlangga. Kamu hidup di dunia hanya memakai perasaan itu akan membuat hidup kamu susah. Pikirkan saja bagaimana uang kamu banyak. Perasaan itu pasti bisa kamu beli."


Mendengar ucapan Azalea, Airlangga tidak tahan lagi. Dia mengambil ponsel itu lalu bergegas pergi. Tidak peduli Azalea memanggilnya bahkan dengan nada yang penuh amarah.

__ADS_1


Raden mengambil ponsel yang dia pinjam dari Akhtia untuk merekam semuanya.


__ADS_2