Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Siuman


__ADS_3

"Teh, teh. Nay sadar." Tanpa malu dan ragu, Inggit berlari menghampiri Hasna yang sedang tahajud di musholla rumah sakit. Dia berteriak hingga beberapa orang yang kebetulan sedang ada di sana memperhatikan mereka berdua.


Hasna tidak bisa berkata-kata, dia hanya menatap Inggit antara terkejut dan bahagia.


Masih dengan mukena lengkap, Hasna berlari bahkan tanpa memakai alas kaki. Wajahnya terlihat bahagia meski air mata ikut menetes. Rasanya sungguh tidak karuan, dan ingin segera melihat putri kecilnya sesegera mungkin.


Dengan nafas ngos-ngosan, Hasna sampai ke ruang ICU. Dia bahkan sampai diperingati penjaga di sana agar memakai APD terlebih dahulu. Hasna pun melakukannya.


Ada petugas medis di sana yang sedang memeriksa Nay. Hasna, meski ingin sekali melihat anaknya yang sudah sadar tidak berani mendekat dan mengganggu para petugas itu. Dia ingin agar mereka leluasa memeriksa anaknya.


Lama menunggu, akhirnya mereka selesai. Barulah Hasna berani masuk dan bertanya pada dokternya.


"Anak ibu sudah sadar, tapi yang namanya orang habis koma tidak bangun seperti orang habis tidur. Mereka butuh waktu beberapa jam bahkan hari untuk bisa benar-benar sadar. Untungnya tanda-tanda vital anak ibu cukup baik, mungkin hanya dalam hitungan jam dia sudah bisa benar-benar membuka matanya."


"Alhamdulillah ya Allah ...." Hasna menutup wajahnya.


"Terimakasih, Dokter. Terimakasih karena telah merawat anak saya dengan baik selama ini," ucap Hasna selanjutnya.


"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi. Mungkin besok pagi kita akan melakukan beberapa pemeriksaan lagi untuk memastikan jika semuanya baik-baik saja."


"Iya, Dok. Lakukan apa saja yang terbaik untuk anak saya."


Dokter itu mengangguk. "Saya permisi dulu."


"Iya, Dokter. Terimakasih sekali lagi."


Hasna segera mendekati Nay setelah dokter itu pergi. Langka kakinya yang semula begitu cepat, kini sangatlah pelan.


Dengan kata yang selalu basah, bibir bergetar, Hasna meraih tangan kecil Nay. Gadis kecil itu merespon dengan bergerak meski matanya tertutup. Mata Hasna berbinar bahagia. Kini, putrinya tidak diam seperti kemarin-kemarin saat disentuh.


Nafas Nay terlihat ditekan, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tapi belum bisa. Tubuhnya masih lemas.


"Sayang, ini bunda, Nak. Nay denger bunda kan?"


Nay menggerakkan tangannya yang lemah tanpa daya. Hasna sangat bahagia. Dia berulang kali mengucapkan syukur, sambil mencium dan memeluk gadis kecilnya itu.


Meski malam hari, Hasna sudah tidak sabar memberikan kabar pada Zahira agar Puput dan Shaki tau jika adik mereka sudah siuman.


Kebahagiaan itu pun Nay sampaikan pada Raden. Tanpa memikirkan hal lain, dia mengirimkan chat.


"Nay sudah sadar, Mas."


Hasna kembali menyimpan ponselnya. Fokusnya hanya tertuju pada Nay. Bibirnya terus berucap Alhamdulillah sambil menatap Nay, seolah tidak ada hal lain selain Nay di sana.

__ADS_1


Satu jam berlalu, Hasna masih terus menatap anaknya. Rasa bahagia seperti sudah kehilangan anak lalu dia kembali, membuat Nay terus menatap seakan tidak ingin Nay kembali pergi. Memastikan jika anaknya baik-baik saja.


"Dia memang anak yang kuat."


Hasna menoleh ke kanan, di mana seseorang telah berdiri. Ruang ICU tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Satu pasien satu penunggu, itupun jika pasien orang dewasa diberi batas waktu untuk berada di dalam. Sementara orang ini?


"Pak?" Hasna langsung berdiri.


"Pak? Kok saya lebih suka dipanggil di chat ya."


Hasna mengerutkan kening. Raden tersenyum dibalik masker medis yang dia pakai.


"Kok bisa masuk? Ini kan ruang ICU."


"Tidak ada ruangan di rumah sakit ini yang tidak bisa saya masuki."


Hasna mengangguk-angguk. Dia sadar tentang siapa Raden di rumah sakit ini.


"Maaf, tadi saya saking bahagianya jadi mengirim chat ke beberapa orang buat kasih kabar."


"Saya senang, karena itu artinya saya termasuk ke dalam daftar orang yang kamu anggap 'haru' tau tentang kebahagiaan kamu."


Hasna tersenyum tipis.


"Lain kali, berbagai kesedihan juga oke?"


"Sepertinya sudah azan subuh, kamu ke mushola saja biar saya jaga di sini. Bukankah kamu harus berterimakasih pada seseorang."


"Siapa?"


Raden menunjuk ke atas.


"Ah, benar juga. Tapi gak apa-apa kalau saya titip Nay dulu ... Mas."


Raden tersenyum kecil mendengar ucapan Hasna. Dia mengangguk mantap sambil menepuk lengan atas Hasna.


"Pergilah."


Hasna pun pergi. Di luar sana dia bertemu dengan Inggit yang sedang berdiri seperti memang sedang menunggu dirinya.


"Gimana, Teh?"


Hasna memeluk adiknya dengan erat.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Git."


Inggit membalas pelukan kakaknya. Mereka larut dalam keharuan karena akhirnya Nay siuman.


"Selamat pagi, Pak."


"Pagi, Pak."


Sapaan dari beberapa pegawai yang kebetulan berpapasan dengan Raden dan Nay, membuat Nay merasa tidak nyaman. Dia merasa malu karena berjalan dengan orang berpengaruh di rumah sakit itu.


Raden mengajak Hasna sarapan sementara Inggit menjaga Nay.


"Mau pesan apa?"


"Saya gak laper, Mas. Minum teh manis hangat aja."


Raden menarik nafas dalam.


"Hasna, kamu itu sudah beberapa hari menjaga Nay. Oke lah kemarin kamu masih memikirkan dia karena masih koma, tapi sekarang dia udah siuman. Apalagi yang menjadi beban pikiran kamu? Lihat, kamu terlihat kurus."


Raden mengusap bagian bawah mata Hasna yang terlihat cekung dan kecokelatan. Sontak Hasna terkejut tapi tubuhnya hanya diam tanpa merespon.


"Maaf jika saya terlalu ikut campur urusan kamu, tapi saya bertanya karena ingin memastikan kalau hal ini bukanlah beban yang sedang kamu pikirkan."


"Apa, Mas? Mau nanya apa?"


"Kamu memikirkan biaya?"


Hasna tertawa kecil.


"Bukan, Mas. Bukan itu. Kalau biaya Alhamdulillah masih ada. Yaaa, meski harus ngambil dari tabungan pendidikan mereka, tapi Alhamdulillah sepertinya saya bisa membayar tagihan rumah sakit nanti."


"Saya sudah memeriksa tagihannya dan ... ya ... Hasna, kamu tahu sendiri jika rumah sakit ini bukan rumah sakit umum, otomatis biayanya pun agak sedikit di atas, jadi ...."


"Saat anak sedang sekarat, mana bisa saya memikirkan biaya, Mas. Jangankan harta, nyawapun akan saya jual demi menyematkan Nay."


"Saya faham, Hasna. Hanya saja ... jika saya bisa bantu, kenapa kamu menolak? Biaya pendidikan anak kamu juga tidak kalah penting bukan?"


Hasna terdiam.


"Begini saja. Biarkan saya yang membayar biaya rumah sakit Nay, anggap saja itu sebagai hutang. Kamu boleh bayar kapan saja, berapa saja semampunya kamu karena kalau berhutang ke rumah sakit gak akan bisa."


"Saya gak akan berhutang ke rumah sakit ini, Mas."

__ADS_1


"Aku tahu. Kamu bilang uang itu ada tapi ngambil dari biaya pendidikan anak-anak bukan? Na, perjalanan mereka masih panjang. Puput saja yang udah gede masih jauh banget , dia baru saja ada di anak tangga pertama pendidikannya. Maksudnya, jika ada solusi untuk masalah ini, kenapa enggak? Belum tentu saya bisa bantu jika ada kesulitan biaya di dalam pendidikan anak-anak."


Hasna mengaduk teh hangatnya, menyeruputnya pelan-pelan sambil melihat pohon yang mulai terkena sinar matahari pagi.


__ADS_2