Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Penjara suci


__ADS_3

Menguatkan hati agar tidak terlihat sedih di hadapan anak yang hendak mondok adalah hal yang begitu sulit. Dia yang sejak dikandungan bersama, merawat sejak bayi, hingga mereka tumbuh besar berada dalam pandangan mata. Kini, untuk bertemu saja akan ada batas waktunya. Siapa yang tidak sedih?


Banyaknya santri baru yang berdatangan membuat parkir begitu penuh. Panas, dan berdebu membuat suasana sangat tidak nyaman. Ditambah suasana hati yang tidak karuan.


Begitu masuk gerbang, orang tua dan para santri dipersilahkan memasuki sebuah gedung. Suka pondok pesantren yang begitu besar.


Sambutan dari pimpinan pondok, mengawali hari pertama mereka menginjak pondok itu. Setelah acara sambutan santri baru selesai, orang tua dipersilahkan mengantarkan putra putrinya ke asrama.


"Silakan, Bu. Ini asrama Siti Fatima namanya. Di dalam ada sepuluh santri yang akan tinggal. Mari, saya tunjukkan tempat tidur dan lemari buat Puput." Seorang pengurus pesantren membimbing Hasna dan ketiga putrinya.


Ruangan yang bagus. Ada sepuluh kasur dan sepuluh lemari pakaian. Masing-masing dari mereka diberi meja dan kursi untuk belajar. Ruangan ber-AC akan membuat mereka nyaman di tengah cuaca yang panas.


"Nyaman gak, Kak?" tanya Hasna saat Puput mencoba duduk di kasur. Puput mengangguk.


"Mba, di sini boleh bawa hp?"


"Boleh, tapi disimpan di pengurus. Nanti ponsel dibagikan saat libur yaitu hari Ahad saja."


"Oh, iya.


"Kamar mandinya ada empat ya Bu setiap kamar. Jadi kemungkinan untuk antri itu enggak."


Hasna mengangguk.


Hasna membantu Puput merapikan pakaiannya dan semua barang-barang yang dia bawa.


"Puput."


Hasna menoleh, pun dengan Puput.


"Alya."


Mereka adalah teman satu kelas di SD. Hasna memang sengaja mencari pondok yang sama dengan temannya agar mereka bisa saling menjaga, setidaknya untuk pertama kali hidup di sana.


"Udah, Kak?"


"Udah."


"Kita ke depan dulu, ya. Ada Om Raden mau ketemu."


"Iya."


"Al, aku ke depan dulu ya."


"Ditinggal dulu mah." Hasna berpamitan pada orang tua Alya.


"Iya mah, silakan."

__ADS_1


Hasna menggenggam erat tangan anaknya yang sebentar lagi akan berpisah. Berpisah untuk mencari ilmu agama.


Dari jauh Raden melambaikan tangan. Sementara tangan yang satunya membawa sesuatu dalam kantong keresek besar.


Puput mencium tangan Raden.


"Kakak sama Abang mana, Om?"


"Mereka gak bisa datang soalnya sedang sibuk. Katanya nanti aja ke sini nya kalau jenguk."


"Makasih ya, Mas, udah mau datang."


Raden mengangguk.


"Ini, om bawa makanan buat kamu. Nanti dibagi sama yang lain ya."


"Waaaah, cokelatnya banyak banget, Om." Puput terkagum-kagum melihat isi bawaan Raden.


"Suka?"


"Banget."


Raden mengusap-usap kepala Puput.


Pengumuman melalui pengeras suara mengatakan bahwa santri harus segera masuk dan orang tua dipersilahkan untuk kembali ke rumah masing-masing.


"Tuh, udah dipanggil."


"Iya, Om."


"Bun ...." Puput mulai berkaca-kaca. Menghampiri Hasna lalu memeluknya erat.


Ya Allah, dulu kau berikan dia pada hamba untuk hamba jaga. Kini, hamba kembalikan dia pada lindungan-Mu. Jaga anak hamba, hamba titipkan dia padamu ya Allah. Berilah kemudahan pada anak hamba.


"Semoga kakak jadi anak shalihah, nurut apa kata ustadzah di sini. Jangan ambil hati jika ada perkataan teman yang menyakiti. Inget, kakak di sini sedang mencari ilmu. Fokus saja sama itu."


Puput mengangguk dalam dekapan ibunya.


Hasna mencium pipi, kening dan kepala Puput. Memeluknya sekali lagi sebelum dia benar-benar tidak bisa disentuh untuk waktu yang lama.


"Put, yang rajin ya belajarnya. Jangan kecewakan bunda kamu."


"Iya, Om."


"Kemarilah, Nak."


Raden memeluk Puput seperti dia memeluk Akhtia.

__ADS_1


"Ini ...."


Raden memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.


"Mas ...."


"Jangan protes. Ini saya berikan buat Puput, bukan untuk kamu."


"Makasih, ya, Om."


"Om memasukkan nomor Om sebagai wali, nanti kalau ada apa-apa, pihak pondok akan menghubungi Om."


"Iya, Om. Om tolong jaga bunda dan adik-adik ya."


"Pasti."


Puput kembali menghampiri dan memeluk Hasna.


"Bunda, menikah saja dengan Om Raden jika itu membuat bunda bahagia. Kakak merestuinya," bisik Puput. Hasna tersenyum.


Lambaian tangan Puput melati saat hendak masuk gerbang asrama membuat Hasna lemas. Dia merasa sebagai jiwanya hilang. Tangisan pun tidak bisa dia bendung lagi. Memeluk Nay dan Shaki.


"Sudah, Na. Puput sedang belajar, bukan mau perang. Doakan saja biar dia betah, jadi orang yang pintar dan salih."


"Satu per satu orang yang saya sayangi pergi, Mas."


"Masih ada Nay, ada Shaki dan ada sayang di sini."


Hasna menatap Raden.


"Kamu ikut saya pulang, mobil kamu biar sopir saya yang bawa."


Sadar suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, Hasna pun memutuskan untuk ikut di mobil Raden.


"Kita mau ke mana dulu sekarang? Nay mau makan atau mau jajan?"


"Aku mau makan terus jajan," jawab Shaki.


"Pinter ya. Didikan siapa sih?" tanya Raden menyindir Hasna.


"Apa, sih, Mas. Kamu nyindir aku, iya?"


"Ih, enggak. Jangan suka kepedean kali."


"Nyebelin!" Hasna mencubit pinggang Raden yang sedang menyetir.


"Awww, jangan becanda. Saya gak bisa kalau geli, nanti kalau kenapa-kenapa di jalan gimana?"

__ADS_1


Hasna sengaja ingin mencubit pinggang Raden lagi, belum di apa-apa Raden sudah kegelian.


Mereka tertawa.


__ADS_2