
"Pah ... papa aku masuk ya." Airlangga mengetuk pintu kamar hotel Raden. Tidak ada jawaban. Airlangga mendengar suara samar-samar. Karena penasaran, dia menempelkan telinganya pada pintu. Yakin suara itu dari dalam kamar Raden, Airlangga berusaha membuka pintu tapi tidak bisa.
"Pah, buka! Papa!"
Airlangga menggedor-gedor pintu kamar Raden.
"Papa ada apa di dalam? Buka, Pah. Papa!"
Suara berisik yang ditimbulkan Airlangga terdengar oleh Dewa yang berada di kamar yang berseberangan dengan Raden.
"Ada apa?" tanya Dewa.
"Gak tau, tapi sepertinya mereka sedang bertengkar."
"Mereka? Maksudnya Om sama Mba Hasna?"
"Ada nyokap gue juga di dalam."
"Hah? Tar, terus gimana ini, gak bisa dibuka dari luar."
Airlangga terus menggedor pintu berharap Raden membukanya. Namun Raden tidak bisa melepaskan mantan istrinya yang berusaha menyerang Hasna.
"Mas ... mas ...." Dewa memanggil salah satu staf hotel yang kebetulan lewat.
"Mas ada yang sedang bertengkar di dalam, tolong minta kunci cadangannya."
"Maaf, Pak. Tapi kami tidak bisa--"
"Yang di dalam orang gue tol*l." Airlangga berteriak kesal. Staf hotel itu langsung memanggil staf yang ada di resepsionis untuk membawakan kunci cadang. Tidak lama kemudian staf yang lain datang.
"Buruan!" Dewa meneriaki staf itu yang berjalan agak pelan.
Kunci didapat, pintu terbuka.
"Bunda!" Airlangga terkejut melihat apa yang sedang terjadi.
"Lepasin woiiii." Dewa menarik mantan istri Raden, sementara Raden berusaha melepaskan jari-jari wanita itu dari Hasna.
Dengan kesal, Dewa membanting wanita itu hingga tersungkur ke lantai. Di saat yang bersamaan Akhtia muncul didampingi oleh Puput.
"Kamu gak apa-apa, Sayang?" Tanya Raden sambil memeriksa keadaan Hasna. Akhtia melirik Hasna yang acak-acakan, lalu melirik ibunya yang duduk di lantai.
"Bisa gak sih di hari bahagia aku gak bikin keributan? Aku gak pernah minta apa-apa selama ini bukan? Tolong ... sekali saja, sekali saja aku minta hari ini jangan membuat aku menangis." Suara Akhtia bergetar menahan tangis dan kemarahannya.
"Sudah, ayo kita kembali ke kamar." Dewa merangkul Akhtia dan membawanya ke kamar.
"Bunda gak apa-apa?" tanya Puput cemas. Hasna menggelengkan kepala perlahan.
"Pasti sakit." Airlangga mengangkat kedua tangan Hasna, melihat beberapa bekas goresan kuku memanjang di tangan Hasna.
"Ikut aku!" Raden menarik tangan mantan istrinya keluar dari kamar.
"Minum dulu, Bun." Puput memberikan gelas air putih pada ibunya.
"Ayo duduk dulu bunda." Airlangga membantu Hasna duduk di atas kasur. Hasna gemetar. Wajahnya berkeringat, dan tangannya terasa dingin.
Airlangga duduk bersimpuh di kaki Hasna, menggenggam erat tangan Hasna sambil menangis sesenggukan.
"Ada apa, Bang? Jangan menangis, ini semua bukan salah Abang."
"Abang minta maaf, Bunda. Maaf atas nama mama."
__ADS_1
Hasna tersenyum.
"Bunda bisa mengerti bagaimana perasaan mama kamu. Dia pasti kesal, marah dan juga sedih. Bagaimana pun juga ini pernikahan putrinya, tapi dia sama sekali tidak tau apa-apa. Jika saja Pak Mahendra dan nenek mengizinkan, bunda dan papa sudah mengundang mama kamu datang."
Airlangga membenamkan wajahnya di pangkuan Hasna. Dengan lembut Hasna mengusap kepala anak bujangnya.
"Udah, bang. Ini pernikahan kak Tia, jangan dihiasi dengan air mata." Puput mengusap punggung Airlangga.
Tidak lama kemudian Raden datang. Nafasnya terlihat ngos-ngosan. Dia langsung mengambil air putih lalu meminumnya, tandas dalam satu kali tegakkan.
"Mas."
Raden duduk di tepi ranjang. Melonggarkan dasinya, kalau melepaskan jas yang dia pakai.
Hasna memberi isyarat agar Airlangga dan Puput keluar dari kamar. Mereka berdua pun keluar.
Pintu tertutup.
Hasna bangun untuk pindah agar duduk lebih dekat dengan Raden. Baru saja Hasna duduk, Raden langsung menarik tubuh Hasna. Dia memeluknya dengan begitu erat.
"Maaf, Sayang."
"Gak apa-apa, Mas. Ini bukan salah kamu. Lagi pula wajar kok dia melakukan hal ini. Aku bisa merasakan bagaimana perasaan dia."
Raden membenamkan wajahnya di pundak Hasna.
Semua bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka tidak ingin membuat Akhtia merasa sangat sedih atas kejadian tadi.
"Berbahagialah, Nak." Hasna mengusap kepala Akhtia.
"Bun ... makasih ya. Juga ... maaf."
Hasna menggelengkan kepala cepat.
"Enggak, kok. Bunda gak apa-apa. Kalian, apapun alasan kalian bisa berada di pelaminan ini, bunda berharap kalian selalu bahagia dalam kondisi apapun. Jika sudah menjadi suami istri, bukan lagi bicara tentang cinta tapi ada hak dan kewajiban di atas segalanya."
"Iya, Bun."
"Bunda pamit ya. Maaf tidak bisa mendampingi sampai acara selesai, sepertinya papa suasana hatinya sedang tidak baik. Dari tadi minta pulang terus."
"Iya, Bun. Lagi pula udah malam. Bunda hati-hati di jalan, ya."
"Iya, sayang."
Setelah berpamitan pada Akhtia dan Dewa, Hasna berpamitan pada orang tua Dewa yang kini menjadi besannya.
"Bang, titip Puput ya. Dia dilarang pulang sama Akhtia. Nanti pulang bareng Abang ya."
"Iya, Bun."
"Istri kamu mana?"
"Pulang dari tadi siang, katanya pusing."
"Oh, ya wajarlah ya namanya juga lagi hamil muda. Ya udah, Bang. Bunda pamit."
Hasna pun meninggalkan gedung hotel. Semakin lama pada tamu mulai berkurang, satu per satu dari mereka meninggalkan acara resepsi itu. Kini, acara benar-benar telah selesai.
"Put, temenin aku ya."
"Ya ngaco! Mana bisa kalian tidur bertiga."
__ADS_1
"Aku gak tidur bareng Kak Dewa kok, Bang. Aku tidur sama Puput aja."
"Dek, keluarga kita tahu kenapa kalian bisa menikah, tapi orang lain enggak. Apa jadinya jika mereka melihat kalian bertiga? Pikirkan juga mama baik Puput."
Ucapan Airlangga tidak dibantah oleh Akhtia, apa yang diucapkan abangnya seratus persen benar.
"Kak, aku pamit ya. Sampai ketemu nanti di rumah."
"Yaaaah, kalian pulang. Aku ikut ya."
"Jangan!" Airlangga memelototi adiknya.
"Ayo kita pulang." Airlangga menarik tangan Puput. Mereka meninggalkan Akhtia dan Dewa yang kini telah menjadi suaminya.
Puput berusaha melepaskan genggaman tangan Airlangga, namun tenaga Airlangga jauh lebih kuat.
"Abang, lepas ih!"
"Enggak!"
Airlangga semakin erat menggenggam jemari tangan Puput. Bahkan saat mereka berada di dalam mobil pun, Airlangga masih menggenggam tangan Puput.
"Abang, lepas! Abang itu udah punya istri tau!"
"Hubungannya apa?"
"Ya masa pegangan sama perempuan lain?"
"Memangnya gak boleh pegangan sama adik sendiri?" tanya Airlangga sambil menatap mata Puput sejenak, lalu dia kembali fokus ke jalan.
Mendengar ucapan Airlangga, dengan sekuat tenaga Puput menarik tangannya hingga berhasil melepaskan diri.
Airlangga tersenyum.
"Kenapa, marah?"
"Ngapain marah? Gak jelas banget."
Airlangga menepikan mobilnya.
"Put ...." Airlangga menarik lembut tangan Puput. Gadis belia itu hanya diam tanpa perlawanan.
"Liat Anang dulu, hei."
Puput masih diam dengan posisi menatap keluar kaca.
"Hey ...." Airlangga dengan lembut memanggil Puput.
"Apa?" tanya Puput ketus sambil menoleh pada Airlangga.
"Jangan marah lagi, ya. Abang pusing liat kamu marah terus. Nanti cantiknya ilang loh," ucap Airlangga sambil mencubit hidung Puput.
"Ya habisnya Abang dosa tau! Zinah itu dosa besar, Bang. Anak Abang juga kasian tau loh."
"Iya, iya. Abang ngerti, maaf ya."
"Minta maafnya jangan sama aku, tapi sama Allah. Aku tuh sayang sama Abang, jadi gak mau Abang ngelakuin hal-hal yang melanggar aturan agama."
"Siap, ustadzah."
"Iiiih, Abang mah." Puput merengek manja pada kakak sambungnya.
__ADS_1
Airlangga menatap gemas pada Puput.
Duh, put. Andai saja ....