
"Lama bener dah, ya!"
"Ya maaf, rumah Mba di pelosok soalnya. Susah menelusurinya."
"Sembarangan!"
"Ya udah, sih. Ayo naik terus jemput siapa tuh namanya."
"Shaki."
"Iya, Shaki. Nanti keburu telat, ngambek loh itu anak. Kayak emaknya gampang ngambek."
"Aduh, ampun ya kamu tuh cowok tapi berbisik. Tak apa, sabar Hasna demi uang 150 juta. Bertahan, Hasna! Semangat!!!"
Dewa terheran-heran melihat sikap dan ucapan Hasna yang begitu terang-terangan di depannya. Tapi justru dia merasa senang karena Hasna tidak munafik. Lebih baik seperti itu bukan.
"Ini sekolahnya? Kok, ya, jelek amat."
"Sssttt!" Hasna menampar lengan Dewa.
"Punya rumah tuh di kota dikit napa, biar gak ketinggalan banget. Sekolah mahal tapi kok bangunannya modelan gini. Sekolah aku dong, bagus. Gak ada ya istilahnya cat ngelupas kayak onoh."
"Shaki itu sekolah mau belajar, bukan ngurusin cat tembok. Lagian, sekolah di manapun yang menentukan itu otak, bukan bangunan."
"Tapi ibu Hasna yang terhormat, fasilitas juga mempengaruhi. Coba kalau sedang ada pelajaran komputer misalnya, kalau sekolah yang punya komputer terbatas gimana? Masa satu komputer dipake tiga atau empat anak, emangnya roti bisa dibagi. Sekolah elit itu satu anak satu komputer, satu meja juga."
"Baik, yang mulia."
"Ehhh, dibilangin malah ngeyel."
"Bukan masalah ngeyelnya, Dewa. Orang tua mana yang tidak ingin menyekolahkan anaknya di sekolah mahal dengan fasilitas yang mumpuni. Tapi tidak semua orang mampu membiayainya. Tidak semua anak seberuntung kamu yang lahir dengan sendok emas."
"Emmm .... bukan itu maksud aku, Mba."
"Gak usah merasa bersalah, Dewa. Aku tau maksud kamu baik. Aku mengerti."
"Maaf, ya, Mba."
"Gak apa-apa, tapi lain kali jangan menyamaratakan kehidupan orang lain sesuai standar kamu, oke?"
"Iya, Mba. Aku ngerti."
Dewa seperti seorang adik yang sedang dimarahi oleh kakaknya. Memasang wajah memelas karena merasa bersalah.
"Sepertinya sudah pada bubar. Aku turun dulu, ya. Titip Nay dulu."
"Siap, Bos."
Hasna melihat ke belakang, di mana Nay sedang tidur dengan lelap. Lalu dia turun menuju gerbang sekolah. Dari jauh Hasna melihat Shaki sedang berjalan, dia melambaikan tangan lalu anak itu berlari berhambur ke pelukan ibunya.
"Loh, mobil kita mana?"
"Hari ini kita pulang naik mobil temen bunda, om Dewa namanya."
__ADS_1
"Oh, oke bunda."
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Sebelum berangkat, Dewa memperkenalkan dirinya pada shaki, mencoba bersikap akrab agar dia bisa dekat dengan anak-anak Hasna.
Mereka sampai di mall terbesar di kota itu. Nay yang masih mengantuk digendong oleh Dewa, sementara Shaki digandeng oleh Hasna. Anak itu sangat senang masuk ke mall karena sudah lama dia tidak ke sana.
"Bunda, boleh mainan gak?"
"Boleh, dong. Tapi kita beli baju dulu buat bunda kamu, ya?"
"Iya, Om."
"Anak pinter. Kalau nurut, nanti om beliin kamu mainan, mau?"
"Mauuuu ...."
"Oke, jadi ... Shaki yang baik, ya."
"Siap, Om."
Satu persatu mereka memasuki toko pakaian, tas, dan sepatu. Tidak lupa mereka pun mampir ke toko kerudung seorang designer kenamaan.
"Ini gak kebanyakan, Dewa?"
"Jadi pacar aku meski cuma kontrak, harus modis. Harus stylish. Jangan pake baju yang itu-itu aja."
"Ya maksudnya kan belinya sedikit dulu, nanti kan bisa beli lagi."
"Ooohh, Mba mau kita sering jalan seperti ini, yaaa ...." Dewa menggoda.
"Eh, gelangnya bagus loh. Itu kan merek mahal. Pasti dari pawangnya ya. Dia juga orang kaya kah? kaya siapa aku atau dia?"
"Ya mana aku tau, Otooong. Lagi pula gak penting kaya siapa, duit kalian bukan duit aku."
"Kan udah aku kasih, Mba."
"Iya, terimakasih."
Mereka terus saja berdebat sambil memilih pakaian dan kebutuhan lainnya. Setelah selesai, Dewa menepati janjinya pada Shaki untuk membelikan dia mainan.
"Bundaaa ...."
"Lah, ini bocah tau aja ya kita ada di tempat kesukaannya. Bangun dia, dari tadi napa, Dek. Kan om pegel banget gendong kamu ke sana ke sini. Haduuuuh."
"Ngeluuuuh aja kerjaan kamu."
"Ih, Mba kenapa gak percaya. Tangan aku kebas tau dari tadi. Beneran deh, aku gak bohong."
Hasna tersenyum simpul.
Nay dan Shaki memilih mainan yang dia suka, masing-masing mengambil tiga macam mainan sesuai perintah Dewa.
"Padahal Shaki cuma ngambil satu, kenapa disuruh ngambil tiga coba. Boros tau, Dewa."
__ADS_1
"Ya biarin aja, uang juga uang aku. Pelit banget jadi emak-emak. Padahal duit dia nya mah utuh. Dari tadi pake duit aku perasaan."
Hasna tertawa.
Selesai membeli mainan, mereka mampir ke restoran untuk mengisi perut. Tidak terasa hari sudah sangat gelap. Hasna menyudahi acara shoping hari ini, dia minta pulang.
"Makasih, ya, Mba."
"Kebalik kali, Dewa. Yang harusnya bilang terimakasih itu aku. Lihat, kamu beliin kita segala macem. Thanks ya. Semoga Allah menggantinya dengan yang lebih lagi."
"Aaamin. Ya udah, Mba. Aku pamit balik dulu ya. Nanti hari Sabtu jangan lupa kita mau ke rumahku. Dandan yang cantik."
"Siaaap. Hati-hati di jalan."
"Oke. Dadah Nay, Shaki. Om pulang dulu ya, kapan-kapan kita main ke Playground, tadi udah keburu malem soalnya."
"Janji, ya, Om."
"Janji."
Dewa melambaikan tangan pada kedua anak itu. Kemudian dia pergi.
"Ayo, kita masuk."
Hasna membuka kunci pintu, memasukkan barang-barang dan anak-anak ke dalam.
"Bu Hasna."
Seseorang memanggilnya sebelum pintu kembali ditutup.
"Eh, iya. Pak RT."
"Maaf, boleh minta waktunya sebentar?"
"Iya, boleh. Silakan masuk, Pak."
"Gak usah, Bu. Di luar saja takut jadi bahan omongan orang."
Ucapan Pak RT serasa sebuah sindiran untuk Hasna.
"Maaf sebelumnya, Bu. Saya datang ke sini ingin menyampaikan keluhan warga di sini, terutama di blok sini. Mereka sepertinya merasa kurang nyaman dengan kebiasaan ibu yang sering pulang malam. Mengingat status ibu kan ibu tunggal ya, jadi alangkah lebih baik lagi jika kebiasaan itu tidak ibu lakukan demi kenyamanan bersama, Bu."
"Iya, Pak. Gak apa-apa, saya menerima kritik kok asal disampaikan dengan cara yang baik. Seperti yang bapak bilang kalau saya ini ibu tunggal. Selain sebagai ibu yang harus mengurus anak, saya juga harus mencari nafkah, Pak. Bapak lihat saja sendiri, setiap saya keluar malam, saya selalu membawa anak saya, itu artinya saya tidak melakukan hal buruk di luar."
"Saya mengerti, sangat faham sekali, Bu. Masalahnya tidak semua orang bisa mengerti, kadang mereka khawatir juga lingkungan ini terkena dampaknya. Saya sebagai RT hanya menyampaikan aspirasi warga saya sekaligus memberitahu ibu. Maaf loh kalau Bu Hasna tersinggung."
"Enggak sama sekali, Pak. Jadi, menurut bapak nih ya. Lebih baiknya saya harus bagaimana? Saya banyak sekali urusan di luar, kadang saya harus pulang malam juga meski tidak dianter oleh laki-laki. Apa jika saya harus pulang malam, lebih baik saya tidak pulang ke sini dan menginap di luar saja?"
"Kalau itu bagaimana ibu saja. Jika dirasa itu baik, silakan. Karena warga merasa tidak nyaman ibu pulang malam dengan pria. Ini, sih, sekedar masukan saja, ya, Bu. Kalau memang ada pria yang deket sama ibu, kenapa gak nikah aja, Bu. Demi kebaikan ibu juga. Kalau sudah memiliki suami, kan pulang malam juga gak masalah karena sama suami Ibu."
"Iya, Pak. Akan saya pikirkan nanti. Menikah juga bukan soal memberi kenyamanan untuk tetangga, ya kan?"
"Iya, Bu. Ibu benar. Kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih atas waktunya."
__ADS_1
"Sama-sama, Pak."
Hasna menghembus nafas berat.