Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Menginap


__ADS_3

Malam sudah terlalu larut untuk Hasna pulang ke rumah kontrakannya. Dia memutuskan untuk menginap di rumah Raden sekaligus melihat kamar yang Raden buat untuk Nay dan Shaki.



"Suka enggak?" tanya Raden pada Nay dan Shaki. Kedua anak yang matanya sudah sangat kecil karena mengantuk itu pun seketika cerah kembali.


"Waah... bagus banget, Pah." Nay langsung berlari masuk.


"Iya, beda ya sama kamar kita di kontrakan. Sempit, temboknya mengelupas, panas lagi." Shaki berseloroh.


Hasna tersenyum antara terharu dan malu mendengar ucapan Shaki.


"Papa sengaja bikin kasurnya satu, kalian masih kecil. Papa pikir kalau bobonya bareng kan jadi gak takut. Kalau udah gede nanti kasurnya pisah."


"Aku juga takut kalau bobo sendiri," ucap Nay.


"Oke, kalian cuci tangan dan kaki dulu, ya. itu pintu kamar mandinya. Setelah itu langsung bobo, besok kita lihat sekolah baru kalian."


"Iya, Pah." Shaki langsung ke kamar mandi.


"Asiiik, besok ke sekolah baru. Ada mainannya gak, Pah?"


"Ada dong. Banyak lagi."


"Yeeeee ...."


"Oke, anak Papa yang cantik sekarang bersihkan diri dulu terus bobo."


"Siap, Papa." Nay menyusul Shaki.


Raden dan Hasna pergi keluar kamar, lalu mereka berjalan menuju kamar depan.


"Ini kamar kita nanti."



"Loh, bukannya --" Hasna menunjuk ke atas.


"Kamar saya akan dijadikan kamar Airlangga, kamu tau sendiri bukan kamar dia sangat kecil, sementara dia mau punya istri. Jadi, kamar Airlangga nanti saya rombak untuk Puput."


"Oh, begitu rupanya."


"Maaf, jadinya kamar kita kecil."


"Gak apa-apa, Mas. Aku suka kok, lebih hangat dan lebih mudah bersihinnya."


"Ngapain kamu bersih-bersih, kan ada pembantu."


"Kalau aku sudah menjadi istri kamu nanti, tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh barang-barang kamu, termasuk kamar kita. Keperluan kamu, pakaian kamu, yang mencuci dan mengurusnya hanya boleh aku saja."


Raden mengangkat kedua alisnya.


"Kata ibu, air perasaan dari pakaian suami yang istri cuci, itu dihitung pahala. Aku tidak ingin kehilangan pahala itu, Mas." Hasna tersenyum. Raden pun ikut tersenyum.


"Terserah nyonya rumah ini saja lah mau bagaimana. Yang penting saya pesan sama kamu, jangan terlalu cape."

__ADS_1


"Enggak, kok. Aku kan cuma mengurus keperluan kamu, Mas. Keperluan anak-anak biar diurus sama pembantu."


Raden mengangguk-angguk.


"Oke, kalau begitu selamat beristirahat. Malam ini kita tidur terpisah dulu, ya."


"Iyaaa, Mas."


Raden tersenyum sebelum menutup pintu kamar. Hasna berbaring setelah mengunci pintu.


"Lah, iya. Besok aku ganti pakaian gimana?" Hasna kembali bangun.


"Masa pake baju ini lagi, sih?" dia mencium bajunya sendiri yang sudah bau apek.


Drrrttttt. Ponsel Hasna bergetar. Raden menelpon.


"Iya, Mas."


"Lemari kamu sudah ada isinya. Emmm untuk underwear pun sudah ada. Jangan salah faham, itu Akhtia yang beli dan milih, bukan saya," ucap Raden dengan malu-malu.


"Ha ha ha. Iya, Mas. Makasih ya."


"Hmmm. Good night."


"Mimpi indah, Sayang."


Lagi-lagi Raden dibuat tersipu saat Hasna memanggilnya dengan kata sayang. Dia seperti seorang abege yang baru saja diterima cintanya oleh pujaan.


Begitu membuka lemari, mata Hasna terbelalak melihat isinya. Lengkap dan bagus-bagus. Hasna melongo dan juga bahagia menerima kebaikan yang diberikan Raden dan anaknya, Akhtia.


"Bagaimana Akhtia bisa pas begini mengukur pakaianku? Ah, anak itu memang benar-benar ya."


Rasa takjub Hasna tidak berhenti sampai di situ, dia tidak habis pikir begitu melihat underwear yang juga pas saat Hasna mencocokkan nya.


Rasa haru, bahagia bercampur menjadi satu. Hasna merendam tubuhnya dengan iar hangat di bathtub, merilekskan tubuhnya yang sejak pagi terus bergerak ke sana ke mari. Setelah puas, dia berpakaian, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Perlahan matanya pun terpejam.


Alarm di ponsel Hasna berbunyi. Pukul 04.30 menit. Dia segera bangun untuk mengambil air wudhu.


"Loh, gak ada mukena?" Hasna mencari ke sana sini, membuka semua pintu lemari dan laci.


"Aku pinjam ke BI Juriah aja kali ya." Hasna berjalan mendekati pintu lalu membukanya.


"Eh, Mas?" Hasna terkejut saat melihat Raden sudah berdiri di samping pintu. Raden membawa mukena dan sajadah di tangannya.


"Mau salat kan? Ini, saya bawakan mukenanya. Mungkin Akhtia lupa menaruh mukena ini di kamar kita, padahal saya sudah membelikannya."


Hasna tersenyum bahagia sambil mengambil mukena itu dari tangan Raden.


"Mas udah salat?"


"Ya, tadi di mushola belakang rumah sama yang lainnya."


"Oh, berarti aku dong yang paling telat bangun?"


Raden mengangguk.

__ADS_1


"Sudah, kamu salat sana nanti telat."


Hasna segera kembali masuk ke kamarnya untuk salat. Setelah salat dan berdoa, Hasna bergegas mengganti pakaian setelah dia mandi.


"Mas mau dibikinin minum apa?" tanya Hasna pada Raden yang sedang asik membaca koran. Di era yang sudah maju seperti saat ini, Raden memang masih berlangganan koran harian. Tujuannya hanya satu, ingin tetap memberikan pekerjaan pada mereka yang berusaha berjuang di tengah majunya teknologi.


"Teh aja, tapi pakai madu ya. Jangan pakai gula."


"Iya, Mas."


Hasna pergi ke dapur untuk membuat minuman. Setelah memberikan teh tersebut, Hasna pergi melihat anak-anaknya ke kamar. Rupanya Nay dan Shaki sedang main air di kamar mandi.


Hasna yang belum sempat melihat kamar mandi anaknya, terperangah.



"Kamar mandi kalian lucu banget ya Allah."


"Bagus kan, Bun? Makanya kita seneng main di sini. Seru tau, tapi dingin." Shaki begitu antusias.


"Pakai air hangat dong," ucap Raden yang tiba-tiba ada di belakang Hasna. Hasna terkejut saat suara Raden terdengar tepat di sisi telinganya.


"Ishhh, kaget tau." Hasna menyikut perut Raden. Pria itu tertawa kecil.


"Sini, papa kasih tau bagaimana menyalakan air hangatnya. Jadi, mandi pagi nya gak kedinginan lagi."


Raden menyalakan keran air hangat untuk diperlihatkan pada Nay dan Shaki.


"Tapi jangan terlalu dalam ya nyalain kerannya, nanti terlalu panas."


"Adeeeee ...." Suara seseorang terdengar berteriak. Semakin lama semakin jelas. Hasna tersenyum mendengar suara itu.


"Kalian kenapa gak bilang ada di sini?" tanya Akhtia yang sudah siap dengan seragam sekolahnya sambil ngos-ngosan.


"Bunda ...." dia merengek sambil memeluk Hasna.


"Udah siap aja ini anak bunda," ucap Hasna sambil membelai pipi Akhtia. Anak itu memeluk sambil menengadah menatap Hasna.


"Kangennn." Akhtia masih merengek manja.


"Mau sarapan apa? Nanti bunda buatkan."


"Apa aja deh."


"Aku juga mau, Bun. Aku mau roti."


"Nay juga mau."


"Oke, bunda bikin sarapan dulu ya. Kamu mau ikut apa mau di sini sama ade?"


"Di sini aja, aku mau dandanin mereka aja lah," ucap Akhtia.


"Ya udah, bunda ke dapur dulu ya. Mas, aku pergi dulu ya."


Raden yang sedang mencuci rambut Shaki, mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2