
"Om sudah melamar bunda kamu kemarin. Om langsung ke rumah nenek dan kakek."
Puput hanya diam tanpa memberikan reaksi apapun saat Raden mendatanginya ke pondok meski belum waktunya jenguk. Dia meminta izin langsung pada kiai untuk bertemu dengannya.
"Om sekarang mau minta izin sama kamu, kalau om sama bunda menikah, kamu merestui atau tidak? Karena om gak bisa menikah sama bunda jika anaknya tida setuju. Om tidak hanya mencintai bunda tapi juga menyayangi kalian, om ingin kalian juga bahagia. Kalau enggak, om juga gak bisa maksa."
"Aku udah bilang sama bunda waktu pertama ke sini. Jika bunda bahagia menikah sama om, maka aku juga bahagia."
"Jadi kamu merestui?"
Puput mengangguk.
Ran merangkul Puput dengan perasaan yang bahagia dan lega. Restu dari seluruh anggota keluarga Hasna sudah didapat, hanya tinggal memberikan pemberitahuan kepala keluarganya sendiri perihal kabar bahagia ini.
...***...
"Kenapa, sih, Mba? Dari tadi senyam senyum, senyam senyum."
"Aku lagi bahagia. Kamu gak liat cincin ini? Ini tuh tandanya aku sudah berpawang dengan resmi."
"Semi resmi kali. Masih tunangan kan? Bukan menikah?"
"He he he. Iya." Hasna memutar cincin yang ada di jarinya. Dilihat terus-menerus dengan wajah sumringah.
"Jangan keliatan keluarga aku ya, Mba. Bisa berabe."
"Tapi aku gak mau melepas cincin ini. Biarkan saja mereka tahu, bilang kalau ini cincin dari kamu."
"Ya jangan lah, mereka pasti marah kalau mengira aku melamar Mba tanpa ngasih tau keluarga."
"Bilang saja kalau ini hadiah."
"Ck!"
Hasna tidak peduli pada Dewa yang merasa jengkel padanya. Baginya cincin itu adalah nyawanya yang tidak akan dia lepas sampai kapanpun.
"Ya udah, itu mukanya dikendalikan. Jangan senyum mulu, itu mami sama papi datang."
Hasna melihat keluarga Dewa sudah tiba di restoran yang sudah dewa persiapkan untuk makan siang bersama.
"Lama nunggu ya?"
"Enggak kok Mih, kita juga baru nyampe."
"Na, kamu sehat?" tanya Ibunya Dewa sambil mencium pipi kanan dan kiri Hasna.
"Baik, Bu."
"Jangan ibu terus dong. Panggil saja mami."
Hasna tersenyum kaku.
Mereka kembali duduk setelah kepala keluarga duduk. Ngobrol basa-basi dengan penuh kegembiraan sebelum makanan datang.
"Jadi, akan kalian bawa ke mana hubungan kalian selanjutnya?" tanya Mahendra.
"Emmm, mungkin ... mungkin akan serius tapi tidak untuk sekarang ini."
"Kenapa? Bukankah papi sudah jelas memberi kamu pilihan. Menikah dengan wanita yang papi pilih, atau kamu menikah dengan wanita pilihan kamu. Perjanjian kita hanya soal dengan siapa kamu menikah, bukan tentang waktu. Waktunya tetap sama sesuai dengan yang papi tetapkan."
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Hasna tida mengerti, akan tetapi cukup membuat dia merasa cemas.
Dewa hanya menatap Hasna dengan perasaan bersalah. Dia tidak bisa menjelaskan apa-apa pada wanita itu.
"Loh, dewa gak ngasih tau sama kamu?" tanya Mami.
"Soal?"
"Dia--"
"Aku diharuskan menikah bulan depan terlepas dengan siapa pun itu."
"Dewa?" suara Hasna melamah mendengar apa yang baru saja diucapkan. Tubuhnya teras lemas.
Bagaimana aku bisa menikah dengan dewa meski kontrak, aku sudah dilamar oleh Raden.
"Maaf, aku permisi dulu." Hasna berdiri, dia langsung pergi meninggalkan acara makan siang bersama keluarga Dewa.
"Sayang ... tunggu dulu. Sayang, jangan marah." Dewa mengejar Hasna yang berjalan sangat cepat.
"Ada apa? kenapa dia lari, Pih?"
"Dugaan papih benar. Dea membohongi kita. Wanita itu bukan kekasih dewa yang sebenarnya."
"Lalu, dia siapa?" tanya Mami heran sekaligus penasaran.
"Apa jangan-jangan kayak di novel-novel gitu, Mih. Kalau Kak Hasna itu pacar yang dikontrak kak Dewa."
"Kamu benar, Dewi. Dia dibayar untuk membohongi kita. Papi sudah periksa ada dana keluar 150 juta dari rekening Dewa ke rekening Hasna."
"Wah, kalau gitu biarin aja. Biasanya kalau di cerita itu dikontrak tapi lama-lama suka beneran."
Dewi dan Mami saling menatap tidak mengerti.
"Sayang, tunggu sebentar."
Dewa berhasil menarik yang Hasna hingga langkah kakinya terhenti.
"Jangan panggil aku sayang. Keluarga kamu sudah tidak ada di sini."
"Jangan marah. Dengerin aku dulu."
"Aku dikontrak hanya satu tahun dan itu pun sebagai kekasih, bukan sebagai istri. Denger ya dewa, aku gak mau kebohongan kita sebagai pasangan kekasih menjadi pasangan suami istri. Lihat!" Hana menunjukan jadinya.
"Aku tahu, Mba. Mba udah dikamar sama kekasih Mba."
"Baguslah kalia ngerti. Kamu silakan bicara pada orang tua kamu tentang yang sebenarnya. Plissss dewa, aku akan menikah dengan kekasihku. Mana bisa aku juga menikah sama kamu meski hanya pura-pura. Itu konyol!"
"Iya, iya. Aku tahu, aku akan bicarakan sama mereka tapi tolong jangan marah dan pergi begitu saja. Ayo kita kembali dan menyelesaikan makan siang kita."
"Tidak. Aku mau pulang."
"Jangan!" Dewa menghalangi langkah kaki Hasna. Dia membentangkan kedua tangannya di hadapan Hasna.
"Kamu apa-apaan sih? Minggir gak? Aku mau pulang."
"Aku mohon, ya." Dema menyatukan telapak tangannya di depan dada. Memohon agar Hasna tidak pulang.
"Iya, iya. Oke. Aku gak pulang tapi kamu jelaskan semuanya sama keluarga kamu. Kalau perlu aku akan balikin duit kamu, kontrak kita batal."
__ADS_1
"Oke, aku janji akan menjelaskan semuanya sama mereka."
"Ya udah, ayo kita kembali."
"Asiiik, mah gitu dong sayang. Kamu kan jadi cantik banget kalau gak marah."
"Ishhhh, apaan sih?"
"Sayang."
Langkah Hasna terhenti. Jantungnya seperti terhenti seketika saat mengenali siapa pemilik suara itu.
Hasna gelagapan begitu dia beradu pandang dengan Raden. Pria itu menatapnya tajam penuh tanda tanya juga kemarahan. Raden marah melihat Hasna bersama laki-laki lain.
"Kalian di sini?"
Perasaan Hasna semakin campur aduk ketika keluarga Dewa datang.
"Pak Mahendra?"
"Eh, Raden. Kamu di sini juga? Sedang ada pekerjaan?"
"Iya, Pak. Habis makan siang sama klien."
Apa? Mereka saling kenal? Bagaimana ini Ya Allah.
"Bapak sendiri?"
"Ini, saya juga kebetulan sedang makan siang sama istri, anak dan menantu saya."
Raden memicingkan mata.
"Ini ...." Mahendra merangkul Hasna. "Dia calon istri Dewa."
Dewa? Dewa yang .....
"Mereka baru saja bertunangan. Lihat saja."
Mami melirik tangan Hasna di mana di sana tersemat cincin pemberian Raden.
Hasna menyembunyikan tangannya. Dewa memijat kepalanya yang terasa mau pecah.
"Oh begitu rupanya. Selamat kalau begitu. Semoga kalian bahagia," ucap dewa dengan tatapan penuh kesedihan dan kemarahan pada Hasna.
"Terimakasih. Raden, jangan lupa nanti datang ke pernikahan mereka, ya?"
"Baik, Pak. Akan saya usahakan jika saya tidak ada halangan. Kalau begitu saya permisi."
"Iya, silakan. Hati-hati di jalan."
Raden melangkah dengan hati yang terluka. Tangannya di dalam saku mengepal begitu kuat. Rahangnya mengeras dan matanya terlihat merah.
"Saya pulang duluan, Mih. Kasian anak-anak di titip terlalu lama." Hasna beralasan karena dia ingin menyusul Raden.
"Biarkan saja, tadi papi sudah mengirim orang untuk menjaga mereka juga."
"Ya?"
Mahendra menatap Hasna intens. Membuat Hasna merasa sedang terintimidasi.
__ADS_1