Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Ternyata


__ADS_3

Hari ini Hasna bekerja di shif siang. Panas terik tidak dia rasakan demi untuk bekerja mendapatkan uang. Dia sadar, yang di tabungan anaknya tidak cukup untuk hidup mereka ke depan. Dia harus mendapatkan uang tambahan selain dari membuat kue dengan skala kecil-kecilan.


Seperti biasa, mengisi daftar hadir, berganti pakaian, lalu mulai bekerja dengan merapikan meja bekas makan pengunjung.


Di hari-hari week day, biasanya ramai hanya saat jam makan siang, atau juga saat sore hari menjelang makan malam. Selebihnya hanya ada beberapa yang datang, dan itu membuat Hasna dan yang lainnya bisa beristirahat meski hanya sekedar minum teh sambil ngobrol.


Hasna sudah mendapatkan gaji pertamanya, namun dia merasa tidak terlalu senang karena sudah lama tidak bertemu dengan Raden.


Chef Ragil mengatakan, ini pertama kalinya mereka mendapatkan gaji melalui Ohim, tidak langsung diberikan oleh Raden.


Dari situlah Hasna menyimpulkan bahwa Raden memang sengaja tidak datang karena tidak ingin bertemu dengan Hasna. Raden sengaja menjauhi Hasna.


Apa kamu se kecewa itu, Mas? Apa kamu merasa sangat benci padaku?


"Hey, mikirin apa?" Mira menyenggol Hasna yang sedang melamun.


"Mir ...."


"Ada apa, Mba? Kenapa bengong aja? Lagi mikirin sesuatu?"


"Hmmm. Mir, kamu pernah gak sih merasa benci sama seseorang tapi kamu juga merindukan dia?"


Mira nampak berpikir.


"Belum, sih. Memangnya mba sekarang sedan rindu sama siapa? Benci sama siapa?"


Hasna menggelengkan kepala.


"Kalau aku sih lebih memikirkan mana perasaan yang lebih besar. Bencikah, atau rindu? Kalau rindu, maka aku akan melupakan rasa benci itu. Kalau benci, maka aku akan mengingat dia sebagai orang yang menyebalkan."


Hasna menatap Mira yang sedang menatap lurus ke depan.


"Mir, sebenarnya siapa yang waktu itu melecehkan kamu di gudang?" tanya Hasna berbisik.


"Aku--"


"Mir, Mba, rapikan meja nomor 67 ya. Mereka baru aja selesai dan pulang."


"Oh, iya." Hasna segera berdiri, mengambil peralatan lalu segera menghampiri meja untuk dia bersihkan.


"Kamu ingin membocorkan rahasia kita? Kamu tau akibatnya bukan jika sampai masalah ini bocor? Video itu akan aku sebarkan di seluruh media sosial. Ingat itu!" ucap seseorang.


Mira langsung diam membeku. Wajahnya berubah pucat, keringat dingin bermunculan di kening dan punggungnya. Tangannya gemetar karena ketakutan.


Pukul 16.00, rumah makan terlihat sepi. Hanya ada dua meja yang terisi. Itupun bukan keluarga besar, hanya dua orang pasangan kekasih atau suami istri. Entahlah.

__ADS_1


Hasna duduk di depan taman belakang, menatap air mancur yang membuat dia merasa sedikit tenang.


"Boleh duduk di sini?" tanya seseorang. Hasna menoleh.


"Iya, Chef. Silakan."


Andri duduk di bangku yang sama dengan Hasna. Untuk beberapa saat mereka hanya diam menatap air mancur kecil yang ada di hadapan mereka.


"Ada hubungan apa antara kamu dan Raden?"


"Ya?" Hasna terkejut mendengar Andri melontarkan pertanyaan itu. Andri menoleh, menatap Hasna. Tatapan yang membuat Hasna tidak nyaman karena merasa terintimidasi.


"Mungkin yang lain bisa mengabaikan dan tidak mengerti, tapi aku tidak. Jadi, kalian punya hubungan spesial?"


Hasna gugup.


"Jangan tertipu dengan kebaikan yang dia berikan. Ya, namanya juga cowok, duda sudah lama ya kan?"


Hasna merasa sedikit aneh mendengar ucapan Andri tentang Raden. Bukan karena dia memperingatkan Hasna tentang siapa Raden, tapi nada bicara Andri.


"Chef berteman sama Pak Raden? Lagi pula Chef kenapa bisa bertanya tentang hubungan saya dan beliau?"


"Raden tidak pernah menutup kaca kantornya saat ada karyawan di dalam bersamanya, tapi tidak saat sama kamu. Juga saat di gudang, aku tidak sengaja melihat apa yang kalian lakukan."


"Jauhi dia, maka rahasia kamu aman sama saya." Andri meremas bahu Hasna, lalu dia pergi meninggalkan wanita itu.


Hasna memejamkan mata, mengigit bibir bagian bawahnya.


"Bagaimana ini? Iya kalau aku masih punya hubungan spesial, tersebar pun gak masalah. Lah, orang Raden gak ke sini pun karena menjauh dariku. Ya Allah, bagaimana sekarang?"


"Mba, ayo ke depan. Ada rombongan datang." Riya memanggil Hasna.


"Oh, iya. Aku segera ke sana."


Hasna kembali sibuk dengan pekerjaannya. Suasana yang tenang tiba-tiba berubah riuh saat ada dua bis datang. Sepertinya mereka rombongan perusahaan yang sedang jalan-jalan atau entah apa.


Lesehan dan meja yang lainnya hampir penuh semua. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Namun, semua itu bukanlah masalah karena suka atau tidak suka, pelanggan tidak bisa diusir begitu saja.


Pukul 20.30, Hasna dan yang lain mulai santai karena pelanggan sudah mulai pergi satu per satu. Mereka tinggal merapikan meja. Namun, saat sedang membersihkan meja, Hasna merasa sedang diperhatikan seseorang. Dia mulai mencari ke sana ke mari. Tidak ada siapapun selain mereka yang sedang bekerja.


Mungkin hanya perasaanku saja.


Namun, tiba-tiba Hasna seperti mendapatkan sesuatu. Dia menghentikan pekerjaannya karena terhalang oleh pikirannya sendiri.


Bagaimana Chef Andri melihat apa yang Raden lakukan di gudang jika saat itu hanya ada kami berdua? Tidak mungkin dia mengintip dari luar karena gudang tidak memiliki jendela. Apa jangan-jangan dia memang sudah ada di sana sebelumnya? Itu berarti .... Tidak, mungkinkah yang dimaksud Mira adalah dia?

__ADS_1


Tubuh Hasna lemas. Dia duduk di atas lantai membuat orang-orang yang ada di sekitar merasa khawatir. Mereka menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Hasna.


"Ada apa, Mba?"


"Mba sakit?"


"Mba kalau cape istirahat saja."


Pertanyaan-pertanyaan itu tidak Hasna pedulikan, pikiran dan hatinya dipenuhi rasa bersalah karena telah berpikir buruk pada Raden.


"Tidak, aku harus pergi. Aku harus minta maaf padanya. Ku harus pergi sekarang."


Hasna dengan buru-buru dan gugup, berdiri. Menyimpan lap dan semprotan yang sedang dia pegang. Dia segera pergi tanpa mempedulikan orang-orang yang merasa heran dibuatnya.


Hasna berlari menuju pinggir jalan, mencari angkot tapi tidak ada yang lewat. Dia terpaksa menghentikan taksi yang kebetulan melintas. Taksi pun pergi setelah Hasna menyebutkan tujuannya.


Sesampainya di halaman rumah Raden, Hasna baru sadar jika dia tidak membawa tas dan dompet. Dia tidak memiliki uang untuk membayar ongkos.


"Pak, boleh pinjem yang dulu gak? Saya lupa bawa dompet," ucap Hasna pada satpam.


"Waduh, saya gak pegang, Bu. Coba saya pinjem ke Bi Juriah dulu, ya."


Hasna mengangguk. Dia menunggu dengan harap-harap cemas, melihat rumah Raden berharap dia ada di dalam.


Tidak lama kemudian Bi Juriah datang. Dia menghampiri taksi untuk membayar ongkos.


"Makasih, Bi."


"Ibu kenapa buru-buru ke sini sampai gak bawa uang?"


"Nanti saya jelaskan. Bapak ada di dalam, Bi?"


"Ada, Bu. Bapak ada di taman belakang bersama anak-anak.".


Hasna segera berlari menuju halaman belakang, tempat di mana Raden menghabiskan waktu untuk meminum teh.


Raden, Akhtia, dan Airlangga terkejut melihat kedatangan Hasna yang masih memakai seragam restoran.


"Tante?" Akhtia berdiri dengan senyuman yang merekah. Dia senang melihat kedatangan Hasna.


"Mas ....."


Raden menatap Hasna dengan tatapan datar. Sepertinya dia masih sangat kecewa pada sikap Hasna waktu itu.


"Ayo, Dek." Airlangga menarik tangan Akhtia untuk masuk ke dalam rumah. Kini, hanya tinggal mereka berdua di sana.

__ADS_1


__ADS_2