Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Selamat tinggal


__ADS_3

Tubuh angkuh itu kini terbaring lemah dengan berbagai alat bantu di sekujur tubuhnya. Pun dengan bayinya. Makhluk mungil itu berada di dalam box inkubator dengan peralatan medis yang menempel untuk membantunya hidup.


"Kenapa jadi begini? Apa yang sebenarnya terjadi sama anak kita?"


Tangisan seorang ibu membuat suasana semakin terasa menyedihkan. Dia yang dibenci seluruh keluarga, kini membuat keluarga itu berduka.


Airlangga tidak pernah lepas menatap bayi yang terkadang bergerak kecil.


"Ayah minta maaf, Nak."


Airlangga memejamkan mata. Penyesalan menyelimuti hatinya. Dia merasa menjadi penyebab apa yang sekarang terjadi. Sebelum Angela pendarahan, mereka bertengkar hebat karena Angela mengingatkan suaminya untuk tidak mencintai adik sambungnya, Puput.


"Cukup! Jangan kamu lanjutkan perasaan itu. Kamu akan gagal karena orang tua kamu tidak pernah akan setuju."


"Urus saja urusan kamu sendiri."


"Airlangga ... jangan melakukan hal bodoh. Kenapa ... kenapa kamu tidak mau membuka hati kamu sedikit saja untukku? Aku ... aku mencintai kamu dengan tulus dan begitu dalam, setidaknya kamu biarkan aku masuk ke dalam hati kamu. Setidaknya... berikan hak kamu sebagai suami. Berikan aku nafkah lahir dan batin."


Airlangga tertawa. Dia menghampiri Angela dan menatapnya penuh kebencian.


"Kenapa? Kamu mau kita melakukan hubungan intim? Sorry! Aku gak mau menyentuh tubuh kotor kamu sedikitpun. Dasar wanita ******."


Tidak lama setelah mendengar ucapan Airlangga, Angela merasa kepalanya begitu sakit. Perut bagian bawahnya nyeri hebat, hingga terjadilah pendarahan.


Airlangga meremas kepalanya dengan kasar.


"Bunda." Puput datang.


Airlangga segera menoleh.


"Mana bayinya? Terus gimana sama Kak Angela? Di mana mereka?" tanya Puput khawatir.


"Mereka--"


Hasna tertegun kaget saat tiba-tiba Airlangga datang memeluk anaknya, hingga Hasna tidak meneruskan apa yang dia ucapakan.


"Abang ...."


Airlangga memeluk Puput begitu erat. Dia menumpahkan segala perasaannya. Menangis tanpa suara.


"Sabar, Bang. Semuanya pasti akan baik-baik saja, ya." Puput mencoba menenangkan Airlangga. Mengusap-usap lembut punggung Airlangga.

__ADS_1


Hasna menyentuh tangan Puput, memberi isyarat agar anaknya melepaskan pelukan itu. Perlahan Puput pun melepaskan Airlangga.


"Minum, yuk." Puput menatap lembut Airlangga. Mereka bergandengan menuju kantin.


Hasna yang selalu curiga dengan sikap Airlangga hanya bisa menatap kepergian mereka dengan perasaan was-was.


Satu malam, dua malam, tiga malam berlalu. Ibu dan bayi itu masih dalam keadaan yang sama tanpa memberikan sedikit pun kemajuan yang membahagiakan.


Hingga di hari ke-4 Angela siuman dari komanya. Meski sudah siuman, dia tidak langsung bisa sadar sepenuhnya. Berbicara pun masih menggunakan isyarat mata, dan tangan. Sesekali Angela kembali tertidur, tidak lama kemudian dia bangun lagi.


Melewati satu malam keadaan Angela sudah membaik, dia bisa berbicara meski suaranya begitu lemah dan hampir tidak terdengar.


"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf." Airlangga menangis di hadapan Angela.


"Gak apa-apa. Bukan salah kamu, kok. Ini semua sudah takdir."


"Lupakan perkataanku waktu itu. Aku hanya sedang marah, apa yang aku ucapakan tidak benar-benar dari dalam hati."


"Airlangga, siapapun ayah biologis anakku ... aku titip dia ya. Itupun jika dia ingin tinggal di dunia ini."


"Kamu ibunya, seharusnya kamu yang menjaga dia bukan aku. Tidak, seharusnya yang menjaga dia itu kita, kita berdua yang akan membesarkannya."


"Aku mau tidur. Entah kenapa aku sering banget ngantuk," ucap Angela dengan suara yang begitu lemah.


Airlangga merapikan selimut yang menutupi tubuh Angela.


Kebahagiaan keluarga karena Angela siuman, juga karena kondisi Angela yang mulai membaik, tidak berlangsung lama. Mereka harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa bayi Angela tidak bisa bertahan. Paru-paru nya belum siap untuk menghirup udara yang kotor di dunia ini. Organ vitalnya belum sempurna, dia menyerah.


Setelah menyelesaikan proses administrasi dan surat-suratnya, jenazah bayi itu dibawa ke rumah untuk diurus pemakamannya.


"Semua sudah selesai, tinggal kita salatkan. Lalu kita segera makamkan saja jenazahnya."


"Baik pak ustadz."


"Siapa nanti yang akan menggendong jenazah ke makan?" tanya ustad pada Raden.


"Saya saja," jawab Airlangga mantap.


"Baiklah. Sekarang kita siap-siap untuk menyalatkan jenazah."


Keluarga dari Angela dan Airlangga bersiap untuk menyalatkan bayi Angela.

__ADS_1


"Airlangga ...."


Seseorang datang dengan terburu-buru.


"Ada apa? Kamu gak liat kita mau apa?" tanya Raden.


"Maaf, Pak. Ada telpon dari Neng Puput."


Airlangga segera mengambil ponsel itu.


"Kenapa, Put?"


"Abang .... Bang ...." Puput terdengar menangis dari sana.


"Ada apa? Kamu kenapa nangis? Katakan, kamu di mana sekarang nanti Abang ke sana. Put, kamu kenapa?" tanya Airlangga khawatir. Airlangga berpikir jika sesuatu terjadi pada gadis itu.


"Puput!" Airlangga berteriak karena semakin cemas pada Puput yang hanya menangis tanpa menjawab.


"Abang!" Akhtia berlari menghampiri Airlangga.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Raden.


"Pah ...." Akhtia menghampiri Raden, Akhtia memeluknya dengan erat sambil berkata, "Kak Angela udah pergi, Pah. Dia ikut sama adik bayi ke surga."


"Innalilahi ...." Ucap hampir semua orang yang hadir. Beberapa keluarga Angela yang kebetulan ada di sana menangis histeris.


Airlangga melempar pecinya, lalu segera pergi ke rumah sakit.


Kini ... bayi itu tidak sendiri lagi terbujur kaku dengan balutan kain kafan. Angela menemani bayi mungil itu hingga akhir. Ternyata bukan Angela yang pergi meninggalkan anaknya, tapi dia pergi karena tidak ingin anaknya sendirian.


Airlangga berusaha tegar membawa jenazah bayi itu di tangannya. Hatinya terluka, tapi dia tidak bisa menunjukkan kesedihan itu. Airlangga sudah bertekad akan mengantarkan bayi itu ke liang lahat.


"Maaf ya, Nak. Ayah malah menidurkan kamu di atas kasur dingin ini. Maaf, ayah malah menutupi kamarmu dengan papan, bukan dengan tirai cantik. Maaf, ayah malah memberi kamu baju putih polos ini, buka baju warna-warni yang cantik dan lucu. Nak, jaga ibumu di sana ya. Temani dia, jangan biarkan dia diam-diam menangis ditengah seperti yang sudah-sudah."


Raden mengusap punggung anak laki-lakinya. Berusaha memberikan kekuatan agar dia bisa tabah.


"Nak, ayah tidak peduli siapapun ayah kamu yang sebenernya. Kamu itu anak ayah, putri cantik ayah. Ayah akan berikan nama ayah di baru nisan kamu."


Airlangga terus menangis di atas gundukan tanah yang merah itu.


Angela, maaf. Maaf karena selama ini aku menjadi manusia yang sangat jahat. Jika ada kehidupan selanjutnya setelah ini, aku akan meminta agar kita bisa hidup bersama sebagai keluarga, membesar anak kita bersama. Aku akan menebus semua kesalahan dan perbuatan aku sama kamu. Selamat jalan, Angela. Semoga kamu bahagia bersama anak kita.

__ADS_1


__ADS_2