Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Terzalimi


__ADS_3

Setelah menyelesaikan administrasi, selang infus pun sudah dilepas, Hasna pun bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Dia begitu bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan ketiga putrinya.


"Yakin gak mau saya anter?"


"Enggak, Pak. Bapak itu udah lebih dari cukup baik pada saya."


"Baik apanya? Justru karena saya ibu masuk rumah sakit dan berpisah dari anak-anak."


"Sudah takdir, Pak."


Raden mengangguk samar. "Benar, kalau tidak kecelakaan, mana mungkin kita bisa saling mengenal."


"Iya." Hasna tersenyum.


Taksi online yang Raden pesan pun datang. Dia membantu Hasna membawa tas dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Semoga suatu saat kita bertemu lagi, Bu."


"Aamiin."


"Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa langsung kasih kabar."


Hasna mengerutkan kening.


"Ah, iya. Kita bahkan belum saling bertukar nomor ponsel. Emmm, bisakah saya ... itu, maksudnya biar nanti kontrol bisa saya temani." Raden terlihat kebingungan berbicara.


"Ada kartu nama?"


"Kartu nama?"


Hasna mengangguk.


"Oh, ada."


Raden segera mengambil dompetnya. Dia memberikan kartu nama miliknya pada Hasna.


"Nanti saya hubungi, Pak. Saya pamit dulu, dan terimakasih untuk semuanya. Salam untuk Bi Juriah."


"Akan saya sampaikan."


Hasna melambaikan tangan pada Raden sebelum mobil itu pergi. Sementara Raden tetap berdiri di tempat yang sama meski taksi itu sudah menghilang dari pandangan matanya.


"Takdir. Ya, semoga takdir akan mempertemukan kita lagi, Hasna. Aku ingin beban berat yang kamu pikul, kita bagi bersama."


Raden tersenyum miris pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Hasna sudah membayangkan bagaimana dia akan bertemu dengan anak-anaknya. Dia sudah sangat rindu pada mereka.


"Halo, aku bentar lagi nyampe. Kamu bawa anak-anak ke rumah ya."


"Wokeh. Kamu dianterin sama yang nabrak itu?"


"Enggak, aku naik taksi online. Kasian lah kalau sampai dia harus anterin aku juga."


"Ih, ya biarin aja lah. Dia yang salah udah nabrak kamu."


"Iya, iya. Udah dulu ya, jangan lupa bawa anak-anak ke rumah. Bye."


Selalu ada kata syukur di segala kondisi. Meski dia serasa hidup sebatang kara karena jauh dari keluarga, tapi dia punya teman yang melebihi sodara. Rasanya akan sangat keterlaluan jika Hasna tidak bersyukur atas itu.


Mereka sampai di depan rumah Hasna. Setelah membayar, Hasna melihat toko mertuanya sedang ada pembeli. Di sana juga ada adik ipar dan juga kakak iparnya, Ana. Mereka melihat kedatangan Hasna tapi seakan tidak melihat apa-apa.


"Ya Allah, Na. Katanya kamu kecelakaan, kamu udah sehat? Ini baru datang dari rumah sakit ya?" tanya Asroh tetangga Hasna.


"Iya, Ceu. Saya gak apa-apa hanya luka ringan aja kok."


"Syukurlah kalau gitu. Saya tuh cuma denger kabarnya aja. Mau nengok tapi gak ada kendaraan."


"Iya, Ceu. Terimakasih. Saya udah sehat kok sekarang."


"Syukurlah kalau gitu. Ya udah, kamu masuk terus istirahat ya."


Hasna membuka pintu gerbang. Dia melihat ada sapu tergeletak di teras rumah, tepat di depan pintu. Posisinya masih sama saat Hasna meninggalkan rumah sebelum kecelakaan.


Begitu masuk rumah, kondisinya pun masih sama seperti semula. Baju daster yang masih tergeletak di atas kursi. Ada gelas teh yang masih sama posisinya.


Nasi di dalam magic com sudah menguning dan keras karena terlalu lama dicolok dan tidak dimatikan.


Memangnya apa yang aku harapkan? Ada yang membersihkan rumah, gitu?


Hasna yang masih merasa pusing, terpaksa harus membersihkan rumah. Saat sedang beres-beres, Ibu mertua dan Ana datang.


"Gimana, Na? udah sehat? Maaf ya mba gak sempet nengok."


"Iya, Mba. Gak apa-apa, aku udah sehat kok."


"Sini, Na. Ibu sama Mba mu mau ngobrol. Bawa air sekalian, ibu haus."


"Iya, Bu."


Hasna menghampiri ibu dan kakak iparnya sambil membawa nampan berisi air.

__ADS_1


"Ini loh, ibu mau bicara. Langsung aja ya biar gak bertele-tele."


Hasna diam menunggu ibu mertuanya berbicara.


"Ana mau pindah ke sini, soalnya di Bandung usahanya udah gak jalan. Selain itu biaya hidupnya juga mahal. Makanya ibu suruh dia pulang dan usaha di kampung saja. Kan lumayan, di sini belum ada yang buka usaha servis hp dan segala ***** bengeknya."


"Oh, Alhamdulillah dong kalau begitu. Biar kita bisa kumpul bareng."


"Nah, masalahnya adalah tempat tinggal, Na. Ana kan belum punya rumah di sini."


"Aku denger rumah uwa yang di bawah mau dikontrakin, coba aja ngontrak di sana, Bu."


"Loh, kok ngontrak. Lah ini rumah Azam kan besar."


"Maksud ibu?"


"Ana tinggal saja di rumah ini. Ya kamu tahu sendiri kan kalau di sini itu yang wajib punya rumah ya anak perempuan. Ana kan anak perempuan, sementara Azam anak laki-laki. Itupun Azam nya udah gak ada. Rumah ini pun dibangun di atas tanah ibu."


Mendengar ucapan mertuanya, Hasna sudah tau ke mana arah pembicaraan mereka.


"Ibu ingat waktu aku mau bangun rumah? Aku kan minta di Majalengka aja. Ada tanah yang sudah orang tua aku kasih. Tapi waktu itu ibu menangis memohon sama mas azam agar kami tinggal di sini, membangun rumah di atas tanah ini."


"Itu kan dulu, kita bicara masa depan yang akan datang aja, Na."


"Bu, saya tau ibu gak suka sama saya. Tapi setidaknya ibu pikiran anak-anak mas Azam. Mereka juga cucu ibu, darah daging ibu."


"Mereka udah kenyang dibahagiakan sama Azam. Apa-apa dikasih bahkan ibu mah pengen ini itu juga ngalah aja demi anak-anaknya Azam."


Hasna mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Terus ibu mau apa sekarang?"


"Ya ibu mau kamu terima ana di rumah ini. Itu di depan rumah kan ada toko yang belum kamu tempati, ya udah dipake ana aja buat usaha daripada mumbazir."


"Toko itu mau saya isi tapi kan uangnya diminta ibu buat sekolah Widia."


"Kamu ngungkit? Na, Azam bisa kerja enak itu karena ibu sekolahkan yang tinggi. Kamu itu datang pas udah terima jadi aja, udah enaknya, gak ikut biayain kan?"


"Memangnya ada, istri yang ikut membiayai sekolah suaminya sejak kecil?"


"Kamu udah kurang ajar ya berani bicara mentang-mentang Azam udah gak ada."


Hasna merasa kepalanya semakin sakit. Dia memejamkan mata sambil terus beristigfar. Dia tidak ingin berdebat panjang lebar dan membuat kegaduhan.


"Kalau ibu ingin saya keluar dari rumah ini, oke. Saya akan pergi membawa anak-anak. Mba ana sabar ya, saya kemas barang dulu. Bisa nungguin kan? Cuma sejam doang kok. Gak banyak juga yang bisa kami bawa."

__ADS_1


Ana menundukkan kepala karena merasa bersalah dan tidak enak pada Hasna.


__ADS_2