Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Interview


__ADS_3

"Pah, kata Dewa Tante Hasna gak ngomong apa-apa pas Dewa bilang papa nyariin," ucap Akhtia saat sarapan. Mengawali hari dengan sebuah kekecewaan bagi Raden.


"Gak apa-apa. Mungkin kesalahan papa sebelumnya membuat dia kecewa. Asal dia baik-baik saja, itu sudah cukup."


"Terus ngapain coba aku memutuskan kontrak Tante Hasna sama Dewa kalau akhirnya bakalan kayak gini. Ck!"


Akhtia mengambil roti isi telur, lalu gegas berangkat ke sekolah.


Raden mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. Dia membuat janji untuk bertemu saat jam makan siang nanti di restoran milik Raden.


Setelah pekerjaannya di rumah sakit selesai, Raden pun pergi ke tempat mereka bertemu. Raden turun dari mobil, dia melihat orang itu sudah menunggu.


"Halo, Om."


"Lama nunggu?"


"Enggak juga, sih. Ini, aku ditemani tempe mendoan sama teh jahe buatan chef di sini, enak banget ya."


"Oh, sukur deh kalau kamu cocok. Ayo, silakan duduk." Raden meminta Dewa duduk kembali, setelah dia berdiri menyambut kedatangannya.


"Suasananya enak ya, Om. Adem aja gitu. Bikin betah ini sih."


"Kamu baru ke sini?"


Pertanyaan Raden membuat Dewa merasa tidak enak hati. Dia tersenyum tipis.


"Jadi, gimana? Apa yang mau Om bicarakan sama aku? Apa ini tentang pernikahan aku dan Akhtia, atau ...."


"Hasna. Bagaimana kabar dia dan anak-anaknya?"


"Emmm, Mba Hasna baik, Nay dan Shaki juga baik."


"Mereka pindah sekolah?"


"Kok tau, Om?"


"Saya mencari mereka, tapi waktu itu katanya cuti. Setelah datang lagi ternyata mereka pindah. Kenapa?"


"Kita tahu sendiri lah Om keadaan Mba Hasna. Mungkin sekolah di sana butuh biaya yang cukup besar, jadi mereka pindah."


"Ke?"


"Aku enggak tau, Om. Bahkan Mba Hasna pindah kontrakan lagi, dan aku gak tau pindah ke mana. Kami hanya berkomunikasi lewat ponsel, itu pun jarang-jarang."


"Ada apa sebenarnya sama Hasan? Kenapa dia melakukan ini semua. Kamu tau, kenapa Akhtia senekad itu datang ke rumah kamu?"


Dewa mengangguk.


"Lalu apa dia tidak berpikir pengorbanan Akhtia akan sia-sia."

__ADS_1


"Aku udah jelasin sebelumnya sama Mba Hasna, tapi sepertinya dia keukeuh Om. Alasannya karena dia tidak mau terus bergantung pada kita. Mungkin dia tidak mau menerima bantuan dari kita lagi."


"Setidaknya dia terima saja lamaranku, apa susahnya. Aku tahu, dia juga memiliki perasaan yang sama."


"Itu dulu sebelum kejadian waktu itu, Om. Mba Hasna bahkan terlihat sangat sedih saat Om marah dan salah faham waktu di hotel. Aku tahu, Mba Hasna memiliki perasaan sama Om. Tapi, Om. Hati Mba hasna itu memiliki satu luka yang begitu besar dan dalam, jika dilukai lagi maka entah seperti apa hatinya."


"Ya, ini semua karena kebodohan saya."


"Tapi bukankah perempuan itu akan kembali percaya jika kita menunjukkan tekad yang bulat? Yaaa Om harus lebih berusaha lagi menunjukkan keseriusan, Om."


"Mungkin bagi anak muda iya. Tapi bagi kami orang dewasa, jika saya terlalu bersikeras maka yang ada Hasna akan merasa tidak nyaman. Dia akan merasa sangat terganggu karena keputusannya tidak dihargai."


Dewa menganggukkan kepalanya.


"Permisi, Pak."


"Ya, Wati. Ada apa?" tanya Raden saat salah satu karyawannya menghampiri.


"Interview terkahir untuk karyawan baru sebentar lagi. Mereka sudah menunggu di ruang rapat."


"Ah, iya. Saya hampir lupa."


"Kenapa, Om?"


"Ada interview untuk karyawan baru. Kamu mau bantu?"


"Ya, kamu tanya saja alasan dia mau kerja, terus kamu juga nilai tentang kepribadian mereka. Rumah makan ini lebih mengutamakan attitude ketimbang keterampilan lainnya."


"Oh, begitu. Oke lah, bisa dicoba."


"Wati, berikan daftarnya nanti akan saya panggil satu-satu ke sini. Interview di sini saja biar gak terlalu tegang."


"Baik, Pak."


Tidak lama Wati kembali datang membawa berkas dan CV para karyawan baru yang hendak diinterview.


Ada sepuluh orang yang berhasil melewati semua tahapan, dan hanya akan diterima empat orang saja. Dewa memiliki lima berkas, pun dengan Dewa.


"Kamu, Iwan?"


"Iya, Pak. Saya."


"Kamu udah pengalaman di mana aja kerja?"


"Di rumah, Pak."


"Rumah?" tanya Raden heran.


"Iya, Pak. Kerja di rumah tapi bosnya istri sendiri. Saya kerjanya cekatan Pak, soalnya kalau saya lelet saya bisa digebuk pakai gagang sapu Pak sama istri. Jadi pengalaman itu bisa saya terapkan di sini tanpa digebu pun saya udah bisa kerja cepat Pak, dijamin!"

__ADS_1


Raden dia menganga mendengar penjelasan dari calon karyawannya yang bernama Iwan. dia menggaruk keningnya yang tidak gatal.


"Iwan kalau kamu kerja di sini yang jadi bawahan istri kamu siapa nanti? Sayang dong itu gagang sapu nganggur." Raden meledek.


"Gagang sapunya udah saya patahin, Pak. justru katanya kalau saya nggak dapat kerjaan, nanti saya dipukulnya pakai ulekan, Pak."


Dewa yang sedang menginterview karyawan lain tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Iwan.


Sementara Raden hanya diam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Oke Iwan, nanti akan saya kasih kabar lagi sama kamu. Untuk sekarang kamu berdoa saja agar ulekan itu tidak pernah mendarat di tubuh kamu, ya."


"Aamiin, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Pakai helm kalau pulang, ya." Dewa memberi peringatan pada Iwan.


"Ada-ada aja ya, Om. Masa iya istri tega banget mukulin suaminya pakai gagang sapu. Eh, Om. Akhtia galak enggak? Nanti saya dibully sama dia."


"Asal kamu gak aneh-aneh aja," jawab Raden sambil kembali melihat CV berikutnya.


Dewa menutup wajahnya saat melihat peserta yang datang. Dia pamit pada Raden untuk pergi ke kamar kecil masih dengan wajah tertutup.


"Kamu kenapa, sih?"


Dewa menggelengkan kepala, lalu dia segera pergi.


"Gimana sih? Diminta interview malah kabur."


"Permisi, Pak."


Raden langsung menoleh saat mendengar suara seseorang yang baru saja datang.


"Hasna?"


"Mas?"


Pantas saja anak itu pergi, ternyata yang datang Hasna.


"Mas ngapain di sini?"


"Ya, kamu sendiri ngapain?"


"Aku interview."


"Saya owner di sini."


"Ya?"


Hasna dan Raden sama-sama heran.

__ADS_1


__ADS_2