Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Siapa yang salah


__ADS_3

"Mas, tutup sampai jam berapa?" tanya Airlangga kepada salah satu pelayan kafe yang ada di depan sekolah Puput. Kafe itu hanya kafe kecil yang menjual makanan murah meriah, target mereka memang anak-anak sekolah.


"Biasanya tutup pukul sepuluh, Mas. Cuma malam ini kita buka 24 jam."


"Oh, begitu. Apa karena ada anak-anak di sekolah itu?"


"Bukan, tadi ada orang datang ke sini buat minta kami buka 24 jam. Kami disewa semalaman."


"Disewa untuk apa?"


"Untuk tetap buka, Mas."


"Buat bikin acara? Tapi kok gak ramai?"


"Enggak, Mas. Cuma buat buka aja, gak untuk sewa buat acara."


Airlangga mengangkat kedua alisnya karena tidak mengerti apa tujuan penyewa itu.


"Saya boleh di sini gak sampai jam ya ... gak tau deh sampe jam berapa."


"Boleh, Mas. Justru sukur kalau mas mau di sini, biar kami ada temennya juga. Ha ha ha."


"Ha ha ha. Oke, oke. Saya minta exspresso deh ya, sama cake apa saja yang best seller di sini."


"Siap, Mas. Tunggu sebentar ya, kami buatkan dulu."


Mencoba untuk tidak peduli, tapi tetap saja tidak bisa. Airlangga mengkhawatirkan Puput yang menginap di sekolah. Akhirnya dia memutuskan untuk memantau Puput dari luar sekolah. Meski hal itu terlihat konyol karena Puput sama sekali tidak terlihat. Jika dari luar, sekolah itu nampak tutup layaknya sekolah pada umumnya di malam hari.


Minum kopi sambil berbincang banyak hal dengan para pegawai kafe, namun tetap saja tidak bisa membuat Airlangga kuat untuk tidak mengantuk.


Sekitar pukul dua malam, Airlangga memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia berusaha untuk berpikir positif dan memilih memejamkan mata di atas kasur yang empuk.


"Dari mana, Bang? Tumben jam segini baru pulang?"


"Oh, itu. Abang habis ke sekolah Puput."


"Emang orang luar bisa ikut masuk?"


"Enggak. Abang cuma nunggu di kafe depan sekolah dia doang. Boro-boro masuk, ngeliat aja kagak bisa."


"Terus ngapain diem di sana sampe larut kayak gini?"

__ADS_1


"Mastiin aja, Abang agak khawatir dia nginep di sekolah."


"Lucu ya," ucap Akhtia sambil tersenyum sinis.


"Ada apa sih sama kamu, Tia? Kamu kok kayaknya gak suka sama Puput? Bukankah kamu sampe rela nikah sama Dewa demi bisa jadi sodara Puput dan anaknya bunda? Lalu apa ini?"


"Karena aku gak pernah mengira dia akan mengambil semuanya dari aku."


"What?"


"Papa, Abang, dan semuanya lebih sayang sama dia. Yang kalian pikirkan hanya Puput dan Puput. Dia nginep di sekolah, bukan di kuburan! Dia gak sendiri tapi banyakan! Sedangkan aku? Di rumah segede ini sendirian! Pernah gak kalian mikir aku takut apa enggak? Pernah?"


"Kamu itu udah nikah, harusnya suami kamu yang nemenin kamu sekarang, bukan Abang."


"Kalau bukan karena pernikahan aku yang palsu ini, Abang gak akan mungkin bisa deket sama cewek yang Abang cinta, ya kan?"


Airlangga tertegun.


"Aku tau, Abang seperti ini karena cinta sama Puput!"


"Jangan ngarang kamu."


"Abang ingat? Waktu itu Abang pernah beli gelang limited edition yang sangat mahal, Abang bahkan minjem uang sama temen Abang karena gak mau papa tahu, Abang bilang gelang itu buat kekasih Abang. Lalu kenapa .... kenapa gelang itu dipakai Puput? Jelaskan!"


"Hentikan, Bang! Ini gak bener. Kalau sampai papa dan bunda tau, Abang akan menghancurkan perasaan mereka. Abang mau lihat keluarga kita hancur? Jangan sampai pengorbanan aku menikahi Dewa sia-sia."


"Mereka tidak akan tahu kalau kamu tutup mulut."


"Abang!" Akhtia berteriak sambil menangis sesenggukan.


"Ada apa ini?" tanya Dewa yang baru saja datang. Airlangga membalikkan badan, lalu menatap Dewa dengan penuh kemarahan.


"Dari mana aja Lo, hah? Lo jam segini baru pulang sementara istri Lo nunggu di rumah sendirian. Lo itu suaminya, Lo harusnya tanggung jawab buat jagain Akhtia!" Airlangga membentak Dewa.


"Eit, tunggu dulu, Broo. Ada apa ini? Gue baru datang kenapa kena semprot gini? Kalau ada masalah berdua, gue gak usah diajak, ya gak sih?"


"Udaaaah!" Akhtia berteriak sambil menutup telinganya.


"Aku tau, Abang dan Kak Dewa sama-sama habis ngurusin Puput kan? Iya kan? Kenapa kalian berdua gak tidur ada di trotoar jagain dia? Kenapa harus balik ke rumah segala? Menyebalkan!" Akhtia segera pergi sambil menangis menuju kamarnya.


"Akhtia, tunggu sebentar. Akhtia ...." Dewa mengejar istrinya.

__ADS_1


Airlangga meremas kepalanya yang terasa sakit meski sebelumnya baik-baik saja. Dia mengurungkan niatnya untuk tidur di kamar, dan pergi menuju mini bar.


Menyeduh kopi lagi.


"Kenapa? Lo dikunci di luar?" tanya Airlangga saat Dewa datang.


"Ck, ada apa sebenarnya sama Akhtia? Belakangan ini dia sensitif banget. Biasanya kami ngobrol dengan happy, menceritakan banyak hal. Meski bukan suami istri dalam artian yang sebenarnya, kami cukup dekat dan enjoy menjalani semuanya. Tapi entah belakangan ini. Dia lebih sering diam, main hp dan gue lebih sering diabaikan."


"Setidaknya kalian bisa akrab meski sebagai teman. Lah gue?"


"Tapi tetep aja kan, saat dia pergi Lo begitu terluka, Lo sedih berhari-hari."


"Sebagai manusia, gue merasa sangat jahat memperlakukan dia begitu. Apalagi dalam kondisi hamil. Seharusnya gue bisa memperlakukan dia seperti teman biasa aja, bukan musuh."


"Kenapa Lo gak test DNA dulu waktu itu, biar jelas Lo ayahnya atau bukan."


"Test DNA pada bayi sekarat? Lo gila!"


Dewa mengangkat kedua bahunya.


"Mmm, sorry nih. Tapi sebenarnya ada masalah apa antar Lo dan istri gue?"


"Dia gak suka gue deket sama Puput."


"Bukan karena Lo cinta sama dia kan? Makanya istri gue marah."


Airlangga menoleh, menatap tajam dewa.


Dewa tertawa.


"Gue tau kok kalau Lo suka sama dia bukan sebagai sodara, tapi sebagai cowok. Sejujurnya gue juga gak setuju sama hal itu. Yang gue pikirin adalah perasaan bunda. Gue gak bisa bayangin gimana kecewanya dia."


"Bukan hati Lo yang kecewa kan?"


"Gak ngerti gue."


"Jika Lo melihat kebaikan gue pada Puput sebagai lawan jenis, maka pandangan gue ke Lo pun sama. Harusnya Lo cari tau, Akhtia marah karena gue atau karena Lo?"


"Ha ha ha. Ngadi-ngadi Lo, Bro."


"Lo jangan salah. Kebaikan dan keakraban Lo sama Akhtia, bisa saja diartikan lain sama adek gue. Wanita kalau udah nyaman, Lo pikir apa coba?"

__ADS_1


Airlangga meneguk kopi terakhirnya, lalu pergi meninggalkan Dewa dengan pikirannya yang sibuk tentang ucapan Airlangga.


__ADS_2