
"Teh ada di mana?"
Sebuah chat masuk saat Hasna baru selesai menguleni adonan untuk donut. Hasna memilih menelpon ketimbang membalasnya dengan chat.
"Teh, di mana?" tanyanya bahkan tanpa menjawab salam dari Hasna. Dialah Widia, adik ipar yang begitu dekat seperti adik sendiri.
"Di rumah."
"Aku di rumah teteh, tapi kenapa ada Mba ana di sini? Teteh ke mana? Baju teteh gak ada di lemari. Baju anak-anak juga gak ada."
"Nanti teteh sharelok aja ya."
"Jangan lama-lama."
"Iya."
Hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke perumahan tempat Hasna tinggal. Abel bertanya pada orang yang kebetulan sedang ada di luar.
"Maksudnya Hasna yang jualan kue ya? Rumahnya yang itu, Neng."
"Wid!" Hasna melambaikan tangan dari depan rumah. Widia tersenyum.
"Iya itu kakak saya. Terimakasih ya Bu."
"Sama-sama."
Widia segera menghampiri Hasna.
"Kamu libur kuliah?"
"Lagi masa tenang, Minggu depan ujian."
"Ayo, masuk."
Hasna menggenggam tangan Widia dan mengajaknya masuk ke ke dalam rumah.
"Teteh lagi apa?"
"Ini, mau bikin donut. Nanti sore ada pesanan donut buat pengajian."
"Sekarang usaha kue ya? Alhamdulillah, semoga laris manis ya teh."
"Aamiin. Ibu tau kamu ke sini?"
"Tau, tapi bodo amat lah. Ruginya apa buat dia kalau aku ke sini. Oh, iya. Besok aku sama pacar aku mau pergi nonton, teteh sama anak-anak ikut yuk."
"ih, ogah! Kamu mau jadikan kami nyamuk gitu?"
"Ha ha ha. Enggak lah. Aku pengen ngajak mereka nonton sama makan. Tenang, pacaran aku yang traktir," bisik Abel. Mereka pun tertawa.
"Seminggu ini aku libur, aku tinggal di sini aja boleh? Bantuin teteh bikin kue. Eh, si bungsu mana?"
"Lagi main di tetangga. Nanti ibu marah gak kamu malah di sini dan gak bantuin di tokoknya ibu."
"Bilang aja aku mau balik lagi ke asrama."
"Wid, jangan gitu. Bagaimana pun juga dia ibu kamu. Jangan hanya karena sikapnya terus kamu malah menjauhi ibu kamu."
"Setidaknya biar dia sadar kalau dia salah. Ya udah, ini intinya teteh gak mau aku di sini apa gimana?"
"Ceileeeeh, ngambek." Hasna mencubit pipi Widia.
"Aku mau nyari Nay dulu, ah."
Widia keluar rumah dan mulai memanggil-manggil Nay.
Anak-anak sangat senang saat Widia memutuskan untuk tinggal selama sepekan bersama mereka. Ya, setidaknya ada sodara yang masih peduli dengan mereka.
Keesokan harinya, Widia, Hasna dan anak-anak bersiap karena sebentar lagi akan dijemput oleh kekasih Widia. Mereka akan menonton bioskop.
"Seneng deh, kita udah lama gak ke mall," Shaki antusias.
__ADS_1
"Sha, kemarin kamu dapet mendali apa?"
"Perunggu ha ha ha."
"Wah hebat ya. Gak apa-apa namanya juga pemula ya kan?"
"Onty, nanti aku mau pop corn ya."
"Siap!"
Mereka bercerita banyak hal di dalam mobil. Lama tidak bertemu, sepertinya banyak kisah yang ingin mereka bagi bersama.
Datang terlalu cepat membuat mereka harus menunggu cukup lama, hampir satu jam.
"Makan aja dulu kali ya. Tau jajan gitu." Alex pacar Widia memberi saran.
"Makan aja deh," Widia menimpali.
Mereka pun masuk ke dalam sebuah resto. Melihat buku menu, memilih makanan apa yang akan dipesan.
"Aku seneng akhirnya bisa pergi bareng setelah sekian lama. Terkahir kita makan pas mas Azam masih ada."
Ucapan Widia membuat Hasna kembali mengingat masa lalu. Pun dengan Puput.
"Aku tidak pernah mengira kita akan seperti ini sekarang. Setidaknya meski mas Azam sudah pergi, aku kira kalian masih akan tetap bersama. Nyatanya semua berubah hanya karena keegoisan ibu."
"Jangan dibahas lagi, Wid. Tidak baik membicarakan kesalahan orang lain apalagi itu ibu kamu, ibu teteh juga."
"Aku gak habis pikir aja sama ibu, kenapa dia tega meminta kalian pindah rumah. Itu kan rumah mas Azam untuk kalian. Apa dia gak berpikir kalau Nay, Puput dan Shaki adalah darah daging mereka. Kadang aku merasa malu sama sikap ibu."
"Rumah, harta, suami, anak, dan nyawa kita hanya titipan. Suatu saat akan diambil lagi oleh pemiliknya. Kenapa harus pusing, Wid?"
"Teteh gak sedih?"
"Teteh cuma manusia biasa, sedih udah pasti. Hanya saja keadaan memang harus memberikan kita tetap maju ke depan meski sangat sulit. Ada anak-anak yang masih harus kita perjuangkan."
Di meja sebelah, ada orang yang sedang mendengarkan percakapan mereka. Mereka berbisik menilai obrolan Hasna dan Widia.
"Dia memang sangat kuat."
"Why? kenapa papa seperti kenal orang itu?"
Mendengar pertanyaan anak sulungnya, Raden berdiri. Anaknya hanya bisa melihat dengan heran melihat sikap Raden yang berjalan menghampiri meja Hasna.
"Hai." Dia menyapa sambil berdiri di belakang Hasna. Widia dan yang lain menoleh. Pun dengan Hasna. Dia menoleh ke belakang lalu menengadah ke atas melihat siapa yang menyapa.
"Kita ketemu lagi, Hasna."
Untuk beberapa saat mereka saling menatap.
"Bun, siapa?" tanya Puput menyadarkan Hasna. dia langsung berpaling dan menoleh pada Puput.
"Dia teman Bunda."
"Ini anak-anak kamu?"
"Iya, Pak."
Raden menyodorkan tangan pada Nay, anak itu salim dan mencium tangan Raden.
"Ini siapa namanya?"
"Nay."
"Oh, Nay."
"Kalau ini," Raden mengajak Shaki bersalaman. Anak itu menyambut lalu mencium punggung tangan Raden.
"Shaki."
"Oh, oke. Shaki. Kalau ini?" Raden mendekati Puput.
__ADS_1
"Puput," ucapnya tanpa menyambut tangan Raden.
"Put ...."
Raden menggelengkan kepala samar memberikan isyarat agar Hasna tidak menegur Puput.
"Senang akhirnya bisa berkenalan dengan putri-putri yang cantik. Oke, kalau gitu kalian have fun, ya."
Raden melambaikan tangan lalu kembali ke mejanya.
"Pah?"
"Dia teman papah. Why?"
Anak Raden hanya tersenyum melihat sikap Raden. Tidak biasanya Raden seaktif itu mendekati seseorang.
"Siapa?" tanya Widia sedikit berbisik.
"Temen."
"Wah, ganteng ya, Teh."
"Hussssh!"
"Ganteng ayah," ucap Puput ketus dan sedikit keras. Dia sengaja agar suaranya didengar oleh Raden. Raden sedikit melirik, pun dengan anak sulung Raden.
"Fighting, Dad."
Raden melotot.
Setelah selesai makan, mereka pun akhirnya masuk ke bioskop. Tidak lupa pop corn ukuran besar dan minumannya.
Saat di tengah pemutaran film, Nay minta keluar karena dia ingin pipis. Hasna izin pada Puput dan Widia untuk pergi sebentar.
"Nay pake sendiri celananya, bisa kan?"
"Bisa, Bun."
Setelah cuci tangan, Hasna kembali keluar menuju teater.
"Maaf, permisi."
Hasna menghentikan langkah saat seseorang menyentuh tangannya.
"Ya. Saya?"
"Iya, Tante. Kenalkan, nama saya Airlangga."
"Oh, iya. Kenapa ya?"
"Maaf, Tante sebelumnya kalau saya gak sopan, tapi boleh gak saya minta nomor ponselnya?"
Hasna mengerut dahi.
"Ah, jangan curiga dulu Tante. Saya lupa belum memperkenalkan diri lebih detail. Saya Airlangga, anaknya Papa Raden."
"Angga, Airlangga."
Terdengar suara seseorang memanggil Airlangga. Semakin dekat dan akhirnya mereka bertemu.
"Ga, ngapain kamu di sini sama ...."
Airlangga diam.
"Mana ponselnya?" tanya Hasna. Airlangga segera merogoh sakunya lalu memberikan ponsel itu pada Hasna.
"Ini. Itu nomor saya, kamu save aja sendiri."
Hasna membalikkan badan lalu kembali masuk ke dalam bioskop.
"Kalau papa mau nomornya, tukeran dulu sama iPhone terbaru, oke?"
__ADS_1
"Eh?"