Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Kunjungan


__ADS_3

"Bun, berarti kakak gak jadi masuk ke pesantren itu Bina Insani ya?" tanya Puput.


"Jadi, dong. Uang pendidikan kamu masih cukup untuk kamu sekolah dan mondok di sana. Eh, kalau kamu mondok, bunda harus mulai pakai jilbab dong ya. Malu, lah. Masa anaknya santri ibunya gak pakai kerudung."


"Iya atuh. Lagi pula bunda cantik pakai kerudung ketimbang gak. Rambutnya juga jangan diwarnai lagi ya."


"Iya, iya."


Puput tersenyum senang karena keinginannya untuk tetap mondok bersama sahabatnya, terlaksana. Pondok pesantren yang cukup elit, dengan fasilitas yang lengkap dan baik.


Uang pendidikan Puput tidak cukup banyak, hanya bisa untuk sampai dia keluar SMP nanti, sementara untuk biaya pendidikan selanjutnya sampai kuliah nanti, Hasna harus bekerja lebih keras lagi.


Usaha kuenya hanya cukup untuk biaya sehari-hari. Jika mengambil biaya pendidikan adik-adiknya, lalu bagaimana dengan mereka nanti?


Hasna tidak ingin melihat kebahagiaan di wajah Puput hilang karena dia tidak bisa bersekolah di boarding school sekaligus mondok.


...Bismillah aja. Allah pasti ngasih jalan untuk hambanya bukan?...


Pastel, putu ayu, kue talam dan brownis sekat sudah siap. Hasna memasukkannya ke dalam mobil pemberian Raden untuk dia kirim ke customer.


"Put, jaga adik-adik kamu dulu ya, bunda mau ngirim kue dulu. Hati-hati di rumah."


"Iya, Bun."


Hasna mulai menyalakan mesin, melakukan mobil perlahan untuk mengantarkan pesanan. Setelah selesai dia kembali ke rumah. Namun, dia sedikit heran melihat ada dua mobil berhenti di depan rumahnya. Jika dilihat dari jenis mobilnya yang mahal, itu pasti bukan keluarga Azam.


"Assalamualaikum ...."


Orang-orang di dalam menjawab salam Hasna.


"Eh, ada tamu rupanya. Put, udah dikasi minum belum?"


"Udah, kok. Anaknya pinter ya, ada tamu langsung dipersilahkan masuk. Disuguhi air dan juga makanan. Pasti dididik dengan baik sama ibunya," ucap salah seorang tamu wanita.


Wanita itu terlihat sudah berumur, rambutnya yang disanggul kecil nampak berubah. Meski begitu, kulit wajahnya terlihat sehat menandakan sering melakukan perawatan. Pakaian pun terlihat berkelas.


"Baru datang?" tanya laki-laki paruh baya yang memakai kemeja kotak-kotak, dengan celana jeans.


"Iya, Pak. Saya baru mengantarkan pesanan kue. Sebelumnya maaf, tapi saya sepertinya tidak mengenal ibu dan bapak."


"Oh, iya. Saya lupa memperkenalkan diri. Saya Handi. Ini istri saya Lukmini, dan ini kakak saya Asroh."


Mendengar nama Handi, Hasna langsung tau siapa mereka sebenarnya. Hasna mengangguk ramah dengan senyuman yang juga ramah.


"Kami ke sini karena ingin berkenalan secara langsung dengan ...."


"Hasna, nama saya Hasna."


"Iya, Hasna."


"Sudah berapa lama kamu kenal dengan anak saya?" tanya wanita sepuh yang memiliki suara lembut.

__ADS_1


"Belum lama, Bu. Kami berkenalan karena sebuah insiden kecelakaan."


"Kecelakaan?"


"Iya, saya tidak sengaja tertabrak oleh Mas Raden waktu itu, dan ya ... berlanjut hingga saat ini."


"Kayak sinetron, ya. Ha ha ha," ucap Lukmini dengan tawa yang elegan.


"Saya sudah lama menunggu Raden membawa kamu ke rumah, tapi entah kenapa dia belum melakukan hal itu. Makanya saya datang ke sini karena ingin melihat langsung wanita yang disukai anak saya."


"Kamu sendiri, kenapa tidak menanyakan kenapa Raden tidak segera mengenalkan kamu pada keluarganya? Apa kamu tidak curiga kalau dia hanya mempermainkan kamu?" tanya Handi.


"Saya tahu kalau mas Raden orang baik. Rasanya tidak mungkin dia melakukan hal itu. Perihal saya tidak dibawa ke rumah keluarganya itu murni kesalahan saya."


"Maksudnya?"


Hasna merasa ragu untuk menjelaskan bagaimana hubungannya dengan Raden selama ini.


"Karena saya sendiri yang belum siap menerima Mas Raden."


"Ha ha ha. Lucu sekali. Padahal wanita lain antri loh, kenapa kamu malah tidak siap." Lukmini bertanya.


"Saya ditinggal suami, hidup saya juga penuh dengan kesulitan dan kesedihan. Cobaan datang silih berganti, bahkan kadang saya merasa putus asa dan tidak punya harapan jika tidak memikirkan anak-anak. Saat itulah mas Raden datang. Dia memberikan kebaikan yang tulus, dia juga memberikan saya cinta yang begitu besar. Memberi kenyamanan dan pelindung untuk saya dan anak saya ...."


"Lalu kenapa kamu tidak mau bersama Raden?" tanya Bu Asroh.


"Saya ingin memantapkan hati dulu, Bu. Saya ingin memastikan bahwa saya menerima Mas Raden karena memang saya mencintai dia, bukan memanfaatkan kebaikan dia saat saya susah."


Sementara Lukmini terlihat tidak suka dan menganggap jika Hasna hanya berusaha menarik simpati kakak iparnya.


"Tapi sepertinya Raden putus asa karena kamu memintanya menunggu terlalu lama."


"Jika pun dia menemukan wanita yang lebih baik dari saya, bukankah itu merupakan kebahagiaan yang besar, Pak. Jika ada yang lebih baik, kenapa dia harus mempertahankan saya?"


Tididdd.


Suara klakson mobil menarik perhatian semua orang yang ada di sana. Tidak lama kemudian Raden muncul.


"Den?"


"Paman, Ibu, kenapa kalian ada di sini? Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa gak ada yang bilang dulu sama aku?"


"Mas ...."


Hasna berdiri, menarik tangan Raden untuk duduk terlebih dahulu.


"Ibu ke sini karena kamu tidak membacanya ke sana, ke rumah kita."


"Nanti, Bu. Nanti juga ada waktunya. Kenapa harus ibu yang ke sini. Apa? Apa yang kalian lakukan, apa yang kalian katakan pada Hasna?"


"Mas, ih." Hasna memukul tangan Raden dengan lembut.

__ADS_1


"Kami hanya ngobrol biasa, kamu kenapa sih?"


"Apa yang mereka katakan sama kamu?" tanya Raden serius.


Hasna menggelengkan kepala.


"Jujur saja, Na. Katakan pada saya apa yang mereka katakan sama kamu."


"Ya ampun, Mas. Ibu, dan paman tidak mengatakan apa-apa. Mereka ke sini hanya ingin bertemu. Kamu kenapa, sih?"


"Kamu gak bohong kan?"


"Enggak, Mas. Saya jujur. Tanyakan saja pada Puput kalau gak percaya."


"Syukurlah."


"Kamu itu kenapa sih curiga terus, Den? Kami ke sini karena penasaran. Seperti apa sih wanita yang membuat kamu tergila-gila," ucap Lukmini.


"Udah tau sekarang?"


"Mas ... yang sopan, ah."


"Raden, ibu pulang duluan. Kamu jangan lama-lama di sini, jaga nama baik Hasna. Bagaimana juga dia tidak bersuami. Apa kata orang kalau ada pria yang main ke rumahnya dengan waktu yang lama."


"Iya, Bu."


"Hasna, saya pamit dulu."


"Kami pulang dulu ya, Hasna."


"Iya, Bu, Pak."


Lukmini dan Handi pergi terlebih dahulu.


"Jika nanti ibu mengundang kamu makan malam, mau ya?"


"Insya Allah, Bu."


"Ibu pergi dulu, ya. Titip Raden, suruh dia pulang biar kalian gak digerebek."


Hasna tersenyum.


"Hati-hati di jalan, Bu."


"Iya, Nak. Ibu pamit."


Bu Asroh memeluk Hasna. mencium pipi kanan dan kirinya.


"Mereka baik ya, Mas," ucap Hasna saat mereka semua sudah pergi.


"Lalu apa lagi yang membuat kamu tidak menerimaku?"

__ADS_1


Hasna menoleh, dia menatap Raden dengan mata yang teduh.


__ADS_2