
"Kamu apa-apaan sih, Mas. Mau ke mana?"
Raden mengabaikan ucapan Hasna. Dia tidak peduli seberapa kuat Hasna berontak, berusaha melepaskan diri dari cengkeman Raden. Pria itu terus berjalan membawa Hasna ke tempat yang lebih jauh dari dari tempat pesta berlangsung.
"Lepaskan Mas tanganku sakit. Kita mau ke mana sebenarnya? kalau dilihat orang bagaimana Mas?"
Raden tidak peduli dengan apa yang diucapkan Hasna dia tidak peduli Meskipun orang lain melihat mereka berdua.
"Mas!"
Hasanah menarik kuat tangannya dari cengkraman Raden hingga terlepas. saat itulah langkah kaki Raden terhenti.
"Kamu itu kenapa sih Mas kamu sadar nggak apa yang kamu lakukan ini berbahaya buat aku, kamu dan juga Dewandaru."
"Saya tidak peduli Hasna. Biarkan semua orang tahu siapa kamu sebenarnya, siapa saya dan hubungan di antara kita berdua."
"Kamu egois Mas. Mungkin kamu tidak peduli, tapi setidaknya kamu pikirkan harga diri aku. Pak Mahendra sudah memperkenalkan aku sebagai calon menantunya. Lalu apa yang akan orang katakan jika aku sekarang berdua bersama kamu! Pernahkah kamu berpikir sampai ke sana?"
"Hasna saya--"
"Cukup Mas! Hentikan semuanya sampai di sini. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, semuanya sudah berakhir. Bukankah kamu juga akan rujuk kembali bersama mantan istri kamu? Lalu apa yang kamu harapkan lagi dariku."
Tangan Hasna bergetar, dia menahan amarah yang begitu kuat. Kemarahannya bukan ditujukan pada Raden yang membawanya ke tempat lain. Hasna marah pada dirinya sendiri. Ternyata kekecewaan di dalam hatinya tidak lebih besar dari rasa rindu dan cinta yang Hasna miliki untuk Raden.
Ingin rasanya Hasna berhambur dan memeluk Raden dengan erat, melepaskan semua rindu yang dia tahan selama ini. Namum, dia sadar bahwa itu hanya akan menambah luka di dalam hatinya.
Sebisa mungkin Hasna menahan air matanya, dia tidak ingin terlihat lemah di depan Raden.
Terkadang rindu yang menyakitkan itu bukan merindukan orang yang tidak bisa kita temui, ada kalanya rindu itu begitu sakit saat hati kita merindukan orang yang ada di depan kita tapi tidak bisa kita sentuh.
Mata Raden memerah, air matanya berlinang. Dia hanya bisa diam saat melihat tatapan Hasna begitu penuh dengan kebencian untuk dirinya. Raden sadar apa yang dia lakukan sebelumnya membuat Hasna terluka begitu dalam.
__ADS_1
"Aku berharap setelah ini kamu bisa mendapatkan kebahagiaan dan begitupun dengan diriku. Aku ingin mendapatkan ketenangan meski hanya sejenak, Mas. jadi tolong sesuai dengan apa yang kamu katakan waktu itu, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal."
Air mata Raden yang dia tahan sekuat mungkin akhirnya tidak bisa terbendung. Raden menantikan air matanya. Pria itu menunjukkan kelemahannya di depan Hasna. Raden berlutut tapi bukan untuk memohon pengampunan dari Hasna. dia berlutut karena dia sadar atas kebodohan yang dia lakukan pada wanita yang dia cintai.
Benar apa yang orang katakan. mengambil keputusan saat kita berada dalam tingkat emosi yang tinggi adalah kebodohan yang tidak bisa diobati. Itulah kenapa penyesalan selalu ada di akhir agar kita bisa berhati-hati dalam bersikap dan berbicara.
Karena sejatinya penyesalan adalah hukuman yang paling menyakitkan.
"Aku permisi mas. Semoga kita bisa bertemu di waktu dan hari yang lebih baik lagi dari ini. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu, Mas. Sampaikan salam peluk untuk Akhtia dan Airlangga. Maaf dariku untuk mereka karena aku tidak bisa memenuhi keinginan mereka untuk hidup bersama menjadi satu keluarga. Meski begitu aku akan tetap menyayangi mereka dari jauh. selamat tinggal, Mas."
Langkah Hasna yang semakin jauh membuat Raden akhirnya tumbang dia ambruk dan bersujud di atas tanah sambil sesenggukan.
"Mbak dari mana aja aku nyariin tahu. Untung aku nggak minta bantuan satpam buat nyariin kamu."
"Ngapain minta bantuan satpam? Dikira aku bocah apa. Ini buktinya bisa pulang sendiri nyamperin kamu lagi kan?"
"Dari mana?" tanya Dewa penasaran.
"Ketemu teman lama nggak sengaja."
Hasna meratap Dewa dengan tatapan penuh tanda tanya.
Dewa tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
"Aku melihat semuanya, Mbak. Mbak nggak usah bohong sama aku."
"Jangan dibahas. Aku tidak ingin membicarakan hal-hal yang membuat hatiku tidak senang. Lebih baik kita masuk ke dalam agar orang tua kamu tidak curiga."
"Apa yang bisa aku lakukan buat kamu Mbak agar luka kamu sembuh, dan kamu merasakan kebahagiaan lagi. Jika hubungan kita yang palsu ini membuatmu tertekan maka aku akan membatalkan semuanya."
"Sudah terlambat Dewa. Tidak ada yang bisa kita perbaiki. Kita hanya bisa menjalani apa yang ada di depan. Semua ini hanya sekenario yang dibuat oleh Allah. Kita hanya wayang yang sedang mem memainkan peran. Lihat saja akhirnya akan seperti apa."
__ADS_1
Perasaan bersalah itu kini menyelimuti hati Dewa. Dia merasa bersalah karena mengorbankan perasaan Hasna hanya demi kepentingan pribadinya.
Tidak hanya itu Dewa pun merasa bersalah karena telah menghancurkan hati Raden. Bukan hanya sekali Dewa melihat bagaimana frustasinya Raden setelah Hasna pergi. Selama ini diam-diam Dewa menyuruh seseorang untuk memata-matai Raden. Dia ingin melihat seberapa besar penyesalan Raden karena telah melukai hati Hasna.
Tidak hanya satu tapi dua hati sekaligus telah dihancurkan. Dan mungkin kedepannya akan ada hati lain yang terluka atas kebohongan yang dia perbuat.
"Dari mana saja sayang? Mami mencari kamu dari tadi?" tanya ibunya Dewa pada Hasna.
"Maaf, Tante. Aku tidak terbiasa dengan pesta seperti ini. Tadi aku keluar untuk mencari udara segar."
"Kamu ingin pulang sekarang? mintalah Dewa untuk mengantarkan kamu pulang."
"Iya tante. sepertinya aku tidak nyaman berlama-lama di sini lebih baik aku pulang. mana om Mahendra?"
"Papi sedang berbicara dengan rekan bisnisnya. Jika kamu mau pulang, pulang lah dulu. Nanti Tante sampaikan sama papi."
Dewa menghampiri Hasna dan ibunya yang sedang berbincang.
"Dewa antarkan hasilnya pulang sepertinya dia tidak nyaman ada di sini," titah ibunya Dewa.
"Iya Mih. Aku antar hasilnya pulang dulu, ya."
"iya kalian hati-hati di jalan."
"Aku pamit ya, Tante."
"Iya sayang. Kamu hati-hati ya, langsung istirahat begitu sampai rumah."
Dewa merangkul pundak Hasanah dan berjalan meninggalkan ruangan pesta.
Raden yang melihat kekasih hatinya disentuh pria lain terlihat begitu kesal. dia mengambil gelas yang ada di atas meja tepat di sampingnya. gelas itu pecah menjadi beberapa serpihan di telapak tangan Raden. hingga tangan radang terluka dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Papa." Akhtia berteriak histeris melihat darah menetes dari tangan Raden. Dia segera menghampiri papahnya dan membawanya ke pusat medis yang ada di hotel untuk melakukan perawatan pertama pada luka yang ada di tangan Raden.
Rupanya banyak pecahan kaca yang kecil masuk ke dalam tangan Raden, hingga pria itu memerlukan perawatan yang lebih lanjut. Akhtia segera membawa Raden menuju rumah sakit milik keluarga mereka.