Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Jatuh cinta


__ADS_3

"Tia, tolong ambil kue ya ke toko kue mama bia. Bunda udah pesan, tapi katanya gak bisa diantar, mobil dia kepake semua."


"Iya, Bun."


Akhtia mengajak Dewa untuk mengambil pesanan kue yang akan dipakai tahlilan hari ke 2 nanti sore ba'da ashar.


"Ada apa sih ini macet banget?" tanya Akhtia yang gak sabar karena sudah cukup lama terjebak di kemacetan. Bunyi klakson terdengar di mana-mana. Termasuk dari mobil yang ada di samping Akhtia.


Pengendara mobil itu terus-menerus menekan klakson, membuka kaca sambil mengumpat. Akhtia merasa terganggu dengan sikap orang tersebut, bukan hanya Akhtia karena yang lain pun merasa tidak nyaman.


Pengendara motor yang ada di depannya pun menutup telinga karena menahan bising. Belum lagi anak bayi yang terus menangis karena terganggu tidurnya.


"Pak, bisa gak itu klaksonnya di ademin dulu? Kasian yang lain keganggu."


"Apa Lo? Terserah gue mau diteken atau enggak juga, urusannya apa?"


"Bapak mau pencet sampai itu klakson jebol pun ... macet tetep macet. Yang ada bapak malah nambah ruwet tau. Gak liat itu anak kecil jadi bangun gara-gara bapak. Bukan cuma bapak aja yang lelah nunggu macet ini terurai, kita juga."


"Eh, ini mobil gue. Mau gue apain juga ya urusan gue. Bukan urusan Lo. Banyak bacot banget Lo jadi cewek."


"Baru punya mobil gitu doang udah sombong!"


Tidak terima dengan ucapan Akhtia, pria itu turun. Dia menarik baju Akhtia karena Akhtia telat menutup kaca.


"Aduuuuh, sakit! Lepasin gak!"


"Eh, Lo ngapain woiiii!"


Dewa tidak terima melihat Akhtia diperlakukan kasar seperti itu. Dia ingin keluar tapi terhalang motor yang nempel banget sama mobilnya. Dew segera pindah ke jok belakang agar bisa keluar dari pintu yang ada di sisi kiri.


Bugh!


Dewa memukul pria itu. Tidak terima dipukul, orang itu membalas. Akhirnya perkelahian pun tidak bisa dihindarkan.


Pengendara yang lain turun untuk melerai perkelahian tersebut.


"Awas Lo ya! gue kejar Lo anj**ng sampe ke lubang tikus pun. Belum tau aja Lo gue siapa, hah!" Dewa masih berontak saat dipegang oleh beberapa orang. Pun dengan pria itu yang sama-sama berontak ingin menghajar Dewa.


"Mas ... mas sabar."


"Gimana gue mau sabar, dia kasar sama istri gue! Minggir, lepasin gue! Awas Lo ya Bangs*t. Gue cari Lo nanti!"


"Kak, udah. Ayo kita pergi, aku takut." Akhtia merengek sambil menangis. Dia memberanikan diri keluar dari mobil setelah memastikan pria itu menjauh dan diawasi orang-orang.


"Ayo pergi ...."

__ADS_1


"Kamu gak apa-apa kan? Mana yang sakit? Ada yang luka gak? Apa ini sakit? Ini sakit gak?"


Akhtia menggelengkan kepala.


Dewa menarik kepala Akhtia, membawanya ke dalam dekapan.


"syukurlah kalau kamu baik-baik saja."


Akhtia menengadahkan wajahnya saat dia berada dalam pelukan dewa. Wajah mereka berdekatan, sangat dekat apalagi saat Dewa menatap Akhtia ke bawah. Sejenak mereka saling menatap.


Wajah Dewa yang lecet di pelipis, juga ujung bibirnya yang berdarah terlihat begitu indah dan keren saat terpapar sinar matahari dari belakang kepalanya. Akhtia yang ada di bawah wajah Dewa, merasa tidak berdaya melihat hal tersebut.


"Mas, udah maju." Seseorang mengingatkan.


Dewa dan Akhtia yang terbawa suasana, segera melepaskan pelukan mereka dan segera naik ke dalam mobil karena jalanan sudah tidak lagi macet.


"Astaghfirullah, kamu kenapa, Dewa?" tanya Hasna yang terkejut melihat keadaan menantunya.


Akhtia membawa Dewa duduk di meja makan, mengambil air minum untuk Dewa.


"Bunda minta kalian ambil kue, kenapa malah babak belur kaya gini sih?" tanya Hasna cemas sambil menumpahkan revanol ke atas kapas.


"Aku aja, Bunda." Akhtia segera merampas kapas itu dari tangan Hasna. "Bunda urus kuenya aja, aku yang urus luka kak Dewa."


"Ah, iya. Bener juga. Bunda mau nyiapin kue dan yang lainnya," ucap Hasna. Wanita itu membalikkan badan sambil tersenyum. Dia melihat ada kecemburuan di wajah anak sambungnya.


Dewa mengangguk.


Dengan sangat hati-hati, Akhtia menempelkan kapas itu di ujung bibir Dewa. Karena tidak ingin menyakiti luka Dewa, Akhtia mendekatkan wajahnya agar bisa melihat dengan jelas bagian luka Dewa.


Hal itu membuat Dewa terkejut, hingga dia menahan nafasnya untuk sesaat karena tidak ingin hembusan nafasnya mengenai wajah Akhtia.


Dewa menatap wajah Akhtia yang sebentar-sebentar berubah. Kadang dia mengerutkan kening karena fokus dan serius, kadang Akhtia sumringah karena melihat luka Dewa sudah bersih sebagian.


Tanpa disadari, Dewa tersenyum manis melihat kecantikan Akhtia.


"Udah semua, Kak."


"Hmm?"


"Udah bersih semua, udah aku kasih obat juga. Paling dua hari sembuh. Cuma nanti pasti wajah kakak ada biru-birunya gitu."


"Oh, oke."


"Ayo kita ke kamar, Kak."

__ADS_1


"Ke-kemana? Ka-kamar? Mau ngapain?" tanya Dewa gugup. Akhtia merasa heran melihat sikap Dewa. Dia mengerutkan kedua alisnya.


"Ya liat aja baju Kaka. Tadi berantem sampe jatuh ke aspal. Koto bajunya, ganti baju dulu atau sekali aja mandi."


"Oh, kirain."


"Kirain? Kirain apa memangnya?"


Dewa menggelengkan kepala cepat. Untuk mengalihkan topik, Dewa memilih untuk pergi ke kamarnya dan meninggalkan Akhtia yang masih keheranan.


"Dia mikir apa sih sebenernya?" gumam Akhtia.


Azan ashar berkumandang. Semua makanan, snack, rice box, dan amplop sudah siap di dalam wadah dan tempatnya masing-masing.


Airlangga turun dengan wajah yang sendu. Matanya terlihat sembab, karena apa lagi kalau bukan karena menangis sendirian di dalam kamarnya.


Setelah kehilangan istri dan anaknya, Airlangga terlihat berubah. Dia yang tidak mencintai Angela tapi sangat terpukul saat ditinggal pergi olehnya. Bahkan makan pun tidak berselera.


"Bang, makan dulu ya. Bunda liat Abang makan cuma sekali aja loh selama dua hari ini."


"Maaf, Bunda. Abang gak laper. Abang ke atas dulu, ya."


Hansa hanya bisa membuang nafas berat melihat keadaan anaknya.


"Padahal Abang kan gak cinta sama kak Angela, tapi pas ditinggal udah kayak orang sekarat aja," gumam Akhtia.


"Sepertinya Dewa bukan sedih karena ditinggal kekasih hati, dia sedih karena penyesalan. Mungkin dia inget bagaimana buruknya dia bersikap pada istrinya."


"Kak, ih!" Akhtia menginjak kaki Dewa.


"Awwww, sakit tau bocil."


"Bodo, weeeee!" Akhtia berlari menghampiri Puput yang sedang makan buah.


"Put."


"Hmmm. Apa, Kak? Mau?" tanyanya sambil menyodorkan semangka potong.


Akhtia menggelengkan kepala, "Kamu kan paling deket dan paling disukai sama Abang di rumah ini, coba kamu anterin Abang makanan ke kamarnya."


"Paling aku disuruh turun lagi."


"Coba aja dulu. Emang kamu mau Abang jadi jatuh sakit, Put?"


"Ya enggaklah."

__ADS_1


"Ya udah ayooo, jangan makan mulu ah!"


Akhtia mengajak Puput ke dapur untuk menyiapkan makanan.


__ADS_2