Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Fakta menyakitkan


__ADS_3

Nay dan Shaki terlihat bahagia saat mereka menaiki mobil-mobilan remot di alun-alun. Di sana akan sangat ramai jika malam Sabtu dan malam Minggu.


Hasna tidak ingin ikut ke rumah Raden menyusul Puput. Dia takut Puput akan tidak suka jika dia datang dan menginap di sana. Dengan dibujuk naik mobil-mobilan dan jajan, akhirnya kedua bocah itu mau menuruti Hasna.


"Nanti saya belikan mereka mobil-mobilan seperti itu untuk mereka."


"Jangan, Mas. Jangan memanjakan mereka dengan segala fasilitas yang kamu berikan. saya nanti yang akan kerepotan."


"Kenapa?"


"Suatu saat jika saya tidak bisa memberikan apa yang mereka inginkan, mereka pasti akan marah."


"Kan ada saya yang akan memenuhi semua keinginan mereka."


Hasna tersenyum. Tentu saja itu hanya untuk menutupi jika Hasna menolak kebaikan Raden. Bagaimanapun juga dia tidak menerima lamaran dari Raden.


Melihat anak-anak bermain dengan gembira, ditemani segelas bajigur dan gorengan adalah kenikmatan yang nyata.


Andai saja kamu yang di sini, Mas.


Raden melirik Hasna. Dia melihat mata wanita itu berlinang.


Apa kau sedang memikirkan dia yang sudah jauh di sana? Ah, Hasna, seistimewa apa pria itu hingga kamu begitu dalam mencintainya.


Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing, hingga ....


"Hasna? iya, kamu Hasna."


Hasna tersenyum. Tentu saja harus begitu karena yang menyapa adalah tetangga Hasna saat tinggal di rumah suaminya dulu.


"Iya, Ceu. Lagi jajan juga ya?"


"Iya, itu anak-anak minta naik becak kecil," ucapnya sambil menunjuk anak perempuan di lapangan sana.


"Ceu Ita sama siapa ke sini? Gimana kabar di sana? Lagi musim apa?"


"Ah, biasa aja, Na. Musim mah sama aja, panas. Kamu tinggal di mana sekarang? Itu siapa?"

__ADS_1


"ini temen saya, Ceu."


"Na, kalau boleh tau nih ya, kamu kenapa ninggalin rumah? itu kan rumah kamu sama almarhum. Kita tau bagaimana kamu membangun rumah itu. Lah, kenapa malah dikasih ke selingkuhan suami kamu coba?"


Raden seketika menoleh dengan cepat.


"Maksudnya, Ceu? Setahu saya rumah itu dipakai Mba Ana."


"Eh, iya. Enggak, Na. Bukan apa-apa kok." Ceu Rosita mendadak gagap.


"Ceu, tolong. Kasih tau saya yang sebenarnya. Ada apa?" Hasna menggenggam kedua tangan Rosita.


"Na, kamu beneran gak tau tah?"


"Tau apa?"


"Suami kamu ternyata punya istri lain selain kamu. Dia juga punya anak laki-laki, mungkin seumuran sama Shaki. Mereka sekarang tinggal di rumah kamu."


Bintang bersinar kelap-kelip, rembulan pun begitu indah menerangi malam itu. Tapi bagi Hasna, petir tiba-tiba datang.


Hasna menggelengkan kepala. "Enggak, Ceu. Tenang saja, justru aku terimakasih banget sama Ceu Ita karena sudah ngasih tau."


"Sabar, ya, Na. Sing kuat, kamu pasti bisa. Lagi pula dia sudah meninggal. Sekarang mah kamu tinggal memikirkan anak-anak. Jalani hidup dengan bahagia."


"Makasih, Ceu."


"Saya permisi ya, Na."


Hasna mengangguk lemah.


Air matanya sudah tidak bisa dia bendung lagi, dadanya panas dan bergemuruh seperti larva yang siap meledak.


"Sabar, Na. Siapa tau ini salah, kamu sabar. Gak mungkin suami kamu melakukan hal sekeji itu." Hasna mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Mas Azam orang baik. Dia begitu mencintai dan sangat baik sama kamu. Jangan gampang terpengaruh omongan orang, Na. Jangan suuzon dulu."


Hasna terus berbicara sendiri.

__ADS_1


"Ayo kita pulang saja." Raden mengajak Hasna pulang. Memaksa anak-anak yang masih ingin bermain. Sebagai gantinya, Raden membelikan jajanan semaunya mereka agar mereka tidak menangis.


"Ini tidak mungkin 'kan? Pasti bohong. Mas Azam gak mungkin seperti itu."


"Bunda ... bunda kenapa nangis?" tanya Shaki.


"Na, tahan dulu. Jika kamu percaya pada suami kamu, tidak seharusnya kamu seperti ini. Cari bukti dulu baru kamu boleh menangis."


Tangisan Hasna semakin keras, dan itu membuat Nay dan Shaki ketakutan. Mereka ikut menangis. Raden memutar arah, tidak mungkin dia membawa Hasna ke perumahannya yang kecil itu. Tetangga akan terbangun dan mereka akan menjadi pusat perhatian karena tangisan Hasna.


Raden membawa Hasna ke rumahnya.


Hasna yang larut dalam kesedihan, tidak sadar jika kini dirinya ada di rumah Raden. Tangisan kedua bocah itu membuat orang rumah terbangun dan menghampiri mereka. Tidak dengan Puput dan Akhtia.


"Bi, ambilkan minum dulu."


"Iya, Pak."


"Ada apa, Kak?" tanya Zaelani.


Raden menggelengkan kepala. Dia memberikan isyarat agar adiknya itu kembali ke kamarnya.


"Nay, kenapa? Kok nangis, sih? o, iya, Abang punya kucing lucu banget tau. Mau lihat gak?' Airlangga membujuk Nay dan Shaki. Kedua anak itu tidak mau lepas dari pelukan ibunya. Mereka masih menangis karena melihat Hasna pun masih menangis.


"Na, udah dong. Kasian anak-anak kamu. Mereka sedih kalau kamu sedih. Ini sudah malam, biarkan mereka istirahat."


Hasna mulai mengatur nafasnya. Mencoba berhenti untuk tidak menangis lagi. Setelah agak tenang, barulah Nay dan Shaki mau dibawa pergi oleh Airlangga.


Kini hanya tinggal Hasna dan Raden. Raden tidak bertanya ataupun mencoba menenangkan Hasna. Dia hanya diam menemani Hasna yang masih saja menangis.


"Aku bahkan merasa bersalah saat dekat dengan pria lain. Aku merasa menjadi pengkhianat dalam pernikahan kami meski dia sudah lama meninggal. Tapi ternyata ...."


Hasna kembali menangis.


Tidak tega melihat Hasna begitu kesakitan, Raden memberanikan diri mendekati Hasna. Menarik perlahan tubuhnya, lalu memeluknya dengan erat.


Hasna pun mencurahkan rasa sakitnya di dada Raden.

__ADS_1


__ADS_2