Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Lamaran


__ADS_3

Rengginang dan teteh hangat menjadi suguh untuk kedatangan Raden, Hasna dan cucunya Bu Nurul--ibunya Hasna.


"Silakan, diminum. Maklum, di sini kah kampung. Gak ada apa-apa," ucap Bapak Hasna yaitu Pak Muhidin.


"Iya, Pak. Terimakasih." Raden meminum teh itu hingga setengah gelas. Dia tidak merasa risih dengan keadaan rumah keluarga Hasna yang sangat sederhana. Kursi yang kulitnya sudah sobek di mana-mana, hingga busanya terlihat. Langit-langit yang sudah banyak bercak cokelat karena genteng yang bocor, juga lantai yang masih memakai keramik tegel.


"Ibu sama bapak gimana kabarnya? Udah lama sejak lebaran waktu itu teteh gak pulang. Mau pulang tapi ya kok hidup teteh banyak banget cobaannya. Teteh takut gak bisa nyimpen rahasia yang nantinya malah bikin ibu sakit," ucap Hasna sambil berderai air mata.


"Katanya jika akan sedang tersesat, mereka tidak akan lupa jalan pulang. Katanya rumah adalah tempat yang paling nyaman. Teteh lupa jalan pulang memangnya? Apa rumah ibu sudah tidak nyaman lagi buat teteh?"


Hasna menggelengkan kepalanya cepat. Menepis semua yang dikatakan oleh Bu Nurul.


"Kenapa gak pulang? Meski teteh gak cerita, ibu ngerti, ibu tau kalau teteh sedang tidak baik-baik saja. Bukan dari mulut teteh pun, ada mulut orang lain. Bahkan ibu tau kalau azam punya anak dari wanita lain bukan?"


Deg!


Rahasia besar yang disimpan Hasna, bagaimana ibunya bisa tau. Raden pun sama terkejutnya dengan Hasna.


"Wanita itu datang ke sini."


A-apa?


"Dia bicara terus terang sama Ibu. Dia memohon agar teteh tidak mengusirnya dari rumah. Dia sudah diusir keluarganya, dan mengatakan kalau anaknya lebih berhak karena anak dia laki-laki."


Rahang Hasna mengeras. Tangannya bergetar menahan emosi.


"Makanya ibu sakit, Teh." Inggit menambahkan.


Kurang ajar. Tidak cukup dia mengambil rumahku, kenapa dia berani menyakiti ibu? Tidak, aku tidak akan membiarkan dia begitu saja. Kalian harus menerima kesabaran yang selama ini aku tahan.

__ADS_1


"Tapi sudah, Teh. Biarkan saja Allah yang balas semua perbuatan mereka. Ibu bangga karena kamu menjadi wanita yang kuat. Terimakasih karena sudah bertahan bahkan tanpa ada ibu yang menemani. Teteh hebat."


"Ibu ...." Tangisan Hasna pecah dalam dekapan Nurul. Semua kesedihan, penderitaan dan rasa sakit yang dia tahan dan dia rahasiakan dari ibunya, tumpah ruah.


Pak Muhidin pun ikut menitikkan air mata. Selama ini dia begitu menderita karena tidak bisa melindungi putri satu-satunya.


"Dulu saat dia lahir, saya menjaga dia seperti telur. Selalu menjaganya agar tidak pecah, agar tidak jatuh, agar tidak retak. Tidak menggenggamnya terlalu erat karena takut menyakiti hatinya. Hati ayah mana yang tidak sakit mendengar putri mereka disakiti laki-laki lain. Jika tau dia akan diperlakukan seperti itu, demi Allah saya tidak akan melepaskan anak saya untuk menikah dengannya," ucap Pak Muhidin dengan bibir bergetar.


"Setiap malam, saya menangis di dapur. Bagaimanapun juga kepala rumah tangga jangan terlihat lembek di hadapan istri dan anaknya. Tapi jujur saja, saya tidak kuat menahan kesedihan saya. Ingin membalas pun gimana, orangnya sudah mati." Ada rasa puas dalam nada bicara Pak Muhidin saat mengatakan kata 'mati'.


Suasana menjadi penuh tangis kesedihan. Raden yang berniat melamar Hasna, menunda niatnya sampai keluarga itu tenang.


"Jadi, Nak Raden itu temennya Hasna? Atau memang ada tujuan lain?" Tanya Nurul.


Seperti mendapatkan lampu kuning, Raden mulai berbicara mengenai niat awal dia ke sana.


"Jika ibu dan bapak mengizinkan, saya ingin meminta restu untuk menjadi suami Hasna. Saya ingin menjaga Hasna dan anak-anaknya. Saya akan memberikan yang terbaik untuk anak ibu dan bapak. Saya akan mengobati luka Hasna selama ini. Jadi, saya mohon Ibu dan bapak memberikan izin untuk kelancaran hubungan kami."


"Sebagai orang tua, kami hanya mendukung apa yang anak lakukan, selama itu tidak menyimpang. Jika mereka bahagia, mana mungkin orang tua akan melarang. Intinya, sih, bapak mah terserah Hasna. Kalau dia mau, ya bapak setuju."


"Kamu sendiri gimana, Teh? Bapak bilang semua tergantung sama kamu," tanya Nurul.


Raden pindah posisi duduk lebih dekat lagi sama Hasna.


"Di hadapan orang tua kamu, dengan restu yang mereka berikan, hari ini saya ingin melamar kamu secara resmi untuk menjadi istriku. Hasan, bersediakah kamu menikah dengan saya? Menghabiskan waktu masa tua bersama saya, membesarkan anak-anak kita bersama."


Hasna tersenyum sambil mengangguk malu-malu.


Dengan sebuah cincin, Raden melamar Hasna di hadapan orang tuanya. Setelah lamaran itu, Raden dan Muhibuddin berkeliling sawah milik mereka, melihat bengkel yang Inggit kelola. Berkenalan dengan asik Hasna yang lain.

__ADS_1


"Ini empang bapak? Gede ya cuma kurang bagus aja, Pak."


"Iya, ini hanya alakadarnya saja. Soalnya kan kalau dibangun sesuai standar, terhalang modal." Muhidin tertawa.


Raden manggut-manggut.


Selepas magrib, Hasna dan Raden kembali ke kota mereka. Hasna pergi meninggalkan orang tuanya dengan perasaan lega dan bahagia. Hasna sesekali tersenyum melihat cincin yang dia pakai.


"Kenapa?" tanya Raden melirik Hasna.


"Gak apa-apa," jawab Hasna masih dengan senyuman sumringahnya.


"Terimakasih, ya." Raden mengusap kepala Hasna. "Saya hari ini bahagia karena kita sebentar lagi akan resmi menjadi suami istri."


"Aku lebih bahagia lagi, Mas. Tapi, Mas. Mantan istri kamu masih tinggal di rumah? Aku kok ya agak gimana gitu. Hak kamu, sih, kalau mau merawat dia, cuma jujur ya mas, aku cemburu."


Raden tersenyum. Diambil tangan Hasana lalu dia kecup.


"Kalau dia ingin tinggal di sana, maka kita yang akan mencari tempat tinggal baru. Keberadaan dia karena keinginan Airlangga. Saya tidak bisa menolaknya apalagi Azalea dalam keadaan sakit. Airlangga ingin merawat dan lebih dekat dengan ibunya mumpung masih ada waktu."


"Masih ada waktu? Maksudnya, Mas?"


"Ibunya anak-anak sakit kanker."


"Astagfirullah. Aku pikir dia tinggal di sana karena kalian mau rujuk." Hasna merengek.


"Ya enggak lah. Mana mungkin saya sengaja menampung dia dan menyakiti perasaan kamu. Yang benar saja."


Hasna tersenyum lega.

__ADS_1


"Makasih, ya, Mas."


Hasna bersandar di lengan Raden. perjalanan malam yang terasa indah. Jarak yang cukup jauh tidak dirasakan lelah oleh mereka berdua.


__ADS_2