Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Awal yang baru


__ADS_3

Hasna memeluk ketiga anaknya sambil menangis. Pun dengan anak-anaknya yang sejak tadi bersedih.


Begitupun dengan Zahira. Dia memandangi sahabat dan anaknya yang terzalimi karena diusir oleh mertua nya sendiri.


"Ya Allah, kenapa sih ada mertua sejahat itu." Zahira terdengar sangat kesal.


"Kamu pokoknya tinggal saja di rumah aku. Kalian akan tinggal dengan nyaman di sini."


Hasna menggelengkan kepala samar.


"Na ... ayo dong. Kamu kenapa gak mau tinggal sama aku?"


"Aku tidak ingin menjadi beban, Ra. Biarkan aku menanggung semuanya sendiri. Aku harus bisa lebih mandiri lagi agar tidak akan pernah direndahkan orang, Ra. Aku akan berusaha berdiri di kaki sendiri agar tidak ada yang bisa mengusik hidupku dengan anak-anak."


"Aku tidak akan merendahkan apalagi mengusik kamu, Hasna Astriani Hamzah!"


"Aku akan tinggal dua hari saja, Ra. Aku akan mencari kontrakan yang sesuai dengan keuangan aku sekarang."


"Hasna, kamu ke sini pake motor? Mobil kamu mana?"


"Dipakai Asep, Ra."


"Astagaaaa!" Zahira menjambak rambutnya sendiri karena kesal. Sementara suami Zahira hanya diam memperhatikan.


"Hasna, kamu mau ngontrak?" tanya suami Zahira.


Hasna mengangguk.


"Kami ada rumah di perumahan asem manis. Dekat juga dengan sekolah anak-anak. Kamu pakai saja rumah itu, kami baru selesai merenovasinya, jadi rumah itu kayak kalian pakai. Jangan merasa tidak enak, kamu bayar tiap bulannya sebesar 300 ribu. Bagaimana?"


Hasna menatap Zahira. Sahabatnya mengangguk.


"Terimakasih, Ra."


Zahira mendekat lalu memeluk Hasna dan ke empat anaknya.


"Kenapa nenek tega banget sih ngusir kita. Aku kan mau tinggal di rumah, Bun. Nanti kalau ayah datang, kita gak ada, gimana?"


Shakira rupanya lupa jika ayahnya sudah meninggal.


"Ayah kan udah dikubur, Kak. Ayah udah di surga. Iya, kan, Bun?"


"Ayah di surga, tapi kita malah gak punya rumah."


Mendengar Shakira dan Nay berbicara, hati Hasna begitu perih. Sepeninggalnya Azam, hidup mereka berubah sangat drastis. Baru saja keluar dari rumah sakit, bukannya istirahat tapi dia malah diusir.

__ADS_1


"Kita ke rumah eyang aja di Majalengka, Bun."


Hasna terdiam. Bagaimana mungkin dia pulang ke Majalengka sementara ibunya punya riwayat struk. Bagaimana jika kabar dia yang telah diusir malah membuat ibunya drop.


"Jangan, Nak. Bunda takut eyang sakit kayak dulu. Kalau sampai eyang kenapa-kenapa, bunda tidak tahu harus gimana lagi nantinya. Bunda udah gak punya sandaran hidup lagi jika eyang kalian ikutan pergi."


"Ya sudah, sekarang kalian istirahat aja dulu. Mandi dulu, setelah itu kita makan."


Hasna mengangguk.


Malam hari di mana semua makhluk bernama manusia terlelap dalam tidurnya. Mengistirahatkan tubuh setelah seharian beraktivitas, Hasna dan Puput masih terjaga.


Terlihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah Puput. Air matanya sesekali menetes, lalu segera dia usap.


"Sayang, ini udah malem. Kamu tidur, ya. Besok kan harus sekolah."


Puput terdiam.


"Nak, ayo bobo."


"Bun, kakak berhenti sekolah aja ya. Biar bunda gak pusing mikirin biayanya. Kakak tahu, kita bertahan hidup dari uang tabungan kakak dan adik-adik. Tapi uang itu pasti akan habis."


"Sayang, jangan ngomong gitu. Kamu dan adik-adik harus tetap bersekolah. Jangan pikiran masalah biaya, bunda yang akan cari."


"Selama ini ayah kan gak ngizinin bunda kerja apa-apa. Ayah hanya menyuruh bunda buat jagain aku dan ade, bunda bisa kerja apa? Pekerjaan rumah aja dikerjakan pembantu."


Puput menundukkan kepala. Tangisnya semakin menjadi. Dia begitu sedih melihat kondisi ibunya yang terbiasa dimanja oleh ayahnya, kini harus mulai berjuang untuk bertahan hidup. Bahkan mereka tidak tahu harus berjuang mulai dari mana dan dari apa.


Melihat anaknya menangis, Hasna pun tidak kuasa menahan air matanya. Dia menangis sambil mengusap anaknya yang bungsu.


Tidur di kamar masing-masing, dengan pending ruangan dan kasur yang empuk serta hangat, kini mereka tidur berhimpitan dalam satu kasur. Di rumah orang lain.


Dunia berputar memang benar adanya. Entah itu kenyataan atau hanya kiasan. Takdir berjalan sesuai kehendak pencipta sekenario nya. Dulu di atas, kini ada di bawah. Entah akan kembali naik ke atas, atau akan stay tetap di bawah. Siapa yang tahu?


Meratapi nasib dengan kondisi hati yang tercabik, tapi menuntutmu untuk tetap tegar itu sangat lah tidak mudah. Namun, apa yang bisa dilakukan jika segala sesuatunya sudah menyangkut seorang anak. Ibu akan rela melakukan apa saja demi buah hatinya.


Tinggal di rumah milik sahabatnya, meski bayar setiap bulan, nyatanya itu hanya sebuah formalitas belaka. Apa yang diberikan Zahira padanya lebih dari nominal bayaran kontrakan itu sendiri.


Gemar membuat makanan saat Azam masih ada, dicoba Hasna untuk dijadikan pintu mencari rezeki.


Hasna mulai membuat jajanan sehat anak-anak. Dia titip di kantin sekolah. Dia juga aktif membagikan dan beriklan di grup orang tua murid. Sejauh ini semua lancar.


Zahira pun tidak lupa ikut mempromosikan dagangan sahabatnya, dan mulai menunjukkan hasil.


Niat ingin iseng membuat kue untuk dititip di kantin, kini Hasna mulai kewalahan menerima orderan. Untuk itu dia membatasi sesuai kemampuannya karena tidak ingin mengabaikan anak-anaknya.

__ADS_1


Meski tidak banyak, setidaknya untuk biaya hidup sehari-hari, mereka tidak harus mengambil uang tabungan.


"Bun, ada telpon."


"Dari siapa?"


"Gak tau, soalnya yang bunyi hp ayah."


Hasna segera beranjak, lalu pergi ke kamarnya untuk melihat ponsel suaminya.


"Hendri?"


Hasna mengangkat telpon itu.


"Halo, Mba Hasna."


"Iya saya sendiri. Ini dengan siapa ya?"


"Saya temannya Azam. Tadi saya ke rumah tapi katanya Mba udah pindah. Saya harus ke mana ya buat ketemu."


"Oh, begitu. Saya sharelok aja ya, Pak."


"Oke, saya Tunggu ya."


"Iya, Pak."


Hasna mematikan ponselnya, lalu membuka aplikasi WhatsApp untuk berbagai lokasi.


"Siapa, Bun?" tanya Puput.


"Mungkin temen ayah. Bunda gak terlalu hapal."


"Oh, mau ngapain?"


"Gak ngerti, tadi dia ke rumah kita yang di sana katanya. Jadi bunda sharelok aja tadi ke dia. Bingung kalau cuma dikasih alamat doang."


"Iya, sih. O, iya. Bunda lagi apa tadi di dapur?"


"Itu, ada yang pesan kue putu ayu buat nanti sore. Mau bantuin, gak?"


"Boleh, tapi kakak ngerjain tugas sekolah dulu sebentar. Gak apa-apa, kan?"


"Ya gak apa-apa dong, Sayang." Hasna mengusap kepala anaknya yang kini sudah sama tinggi dengannya padahal masih SD.


Tidak lama kemudian, Hasna mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Dia dan Puput saling menatap.

__ADS_1


"Bun, bunda. Ada orang di depan." Shakira berlari kecil menghampiri Hasna.


"Oh, ya udah. Ayo kita ke depan."


__ADS_2