Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Brankas


__ADS_3


"Put, om minta maaf karena gak bisa ngasih kamu rumah yang lebih bagus. Om takut bunda akan marah."


"Iya, Om. Terimakasih. Ini juga bagus kok."


"Yeaaay, kita punya rumah bagus." Shaki dan Nay terlihat senang.


Mobil yang membawa barang-barang pun datang tidak lama setelah mereka sampai. Disusul oleh satu mobil yang tidak asing di mata Hasna dan anak-anak.


"Bun, itu mobil kita." Shaki menunjuk mobil yang dulu sering dipakai antar-jemput dia ke sekolah.


Mobil itu berhenti. Asep dan istrinya turun, disusul seorang wanita dengan anak laki-laki yang seumuran dengan Shaki.


Apa dia wanita itu?


Melihat mereka datang, Puput bersembunyi di belakang tubuh Raden.


"Teh."


Hasna mencoba tersenyum ramah pada istri Asep, karena selama mereka masih menjadi sodara, istri Asep memang baik. Dia menggendong anaknya yang bernama Febi.


"Dede Febi, udah gede ya sekarang. Kangen gak sama uwa?" tanya Hasna menyapa keponakannya. Anak itu hanya dia karena apsaat Hasna masih menjadi istri Azam, Febi masih sangat lah kecil.


Hasna menatap wanita itu. Meski hatinya sakit, dia berusaha untuk tetap bersikap tenang.


"Teh, kami ke sini mau ada sedikit keperluan. Sekalian mau minta tolong."


"Minta tolong apa, Sep?"


Asep kembali ke dalam mobil, dia mengambil kotak hitam yang cukup besar.


"Kenapa kamu bawa brankas teteh sama mas Azam ke sini?"


Asep terdiam.


"Oh, kalian ingin aku membukanya? Untuk apa? Mau mengambil isi di dalamnya?"


"Oke, sini."


Dengan tangan yang gemetar karena kesal, Hasna membuka brankas yang kodenya hanya dia yang tahu, bahkan Azam sendiripun tidak mengetahuinya. Itu atas kesepakatan bersama.


"Kamu tahu, Sep? Kode brankas ini hanya aku yang tahu. Azam sendiri pun tidak mengetahuinya. Itu keinginan dia sendiri."


Brankas terbuka, Asep melihat lalu mengambil isi di dalamnya.


Dia mulai memilah milih berkas yang ada di dalam sana.


"Sebenarnya apa yang kalian cari?"


"Surat pajak kebun dan rumah."


"Rumah yang ditempati wanita itu ada di ibu, sisanya kalian cari sendiri."


Hasna menatap intens perempuan yang menjadi selingkuhan Azam dengan penuh kebencian.


"Brankas itu sudah terbuka, kenapa kalian masih ada di sini. Pergilah."


"Dia siapa, Teh? Teteh sekarang tinggal di rumah ini?"

__ADS_1


"Saya calon suami Hasna, mobil itu, rumah ini milik Hasna. Kalian ingin tahu apa lagi?"


Asep dan istrinya terlihat terkejut, terlebih saat mereka melihat mobil yang ditunjuk oleh Raden.


"Aku bersyukur kalau teteh mendapatkan laki-laki yang lebih baik. Semoga teteh bahagia."


"Seharusnya sejak dulu saya tahu jika Azam memiliki istri lain. Mungkin dengan begitu aku akan merasa bahagia sejak lama. Sialnya kenapa baru sekarang ini, saat orangnya sudah menjadi tulang belulang. Hey, kamu. Terimakasih telah menggantikan posisiku di keluarga itu, aku benar-benar sudah muak menjadi bagian dari mereka. Semoga betah, ya?" Hasna tersenyum sinis.


"Ayo kita masuk. Tidak baik berdekatan dengan manusia toxic seperti mereka."


Hasna menarik tangan Raden memasuki rumah. Diikuti anak-anak mereka.


"Bunda ... itu mobil aku. Kenapa dibawa mamang? Mamang, mobil aku jangan dibawa." Shaki berlari keluar saat mobil yang dibawa Asep mulai meninggalkan halaman rumah mereka.


"Shaki, tunggu!" Airlangga mengejarnya.


Hasna ambruk di atas lantai. Tubuhnya lemas, lalu dia mulai menangis. Tanpa malu, tanpa mempedulikan banyaknya orang di sana.


"Bunda, jangan nangis lagi." Puput mendekati dan memeluk bundanya. Pun dengan Akhtia.


"Tante jangan sedih lagi. Tadi itu Tante hebat tauuu ... kurang sedikit lagi sebenarnya. harusnya Tante Jambak aja itu wanita. Atau Tante tendang aja itu cowoknya pake brankas yang dia bawa."


"Itu berat tau, Kak."


"Ya gak apa-apa, biar kalau sekali kena langsung keok."


"Yang ada malah jatuh di kaki bunda kali, Kak."


"Iya juga, sih."


Akhtia dan Puput berbincang-bincang di tengah tangisan Hasna sambil memeluk wanita itu. Tak pelak Hasna pun merasa geli. Dia tertawa lalu kembali menangis. Puput dan Akhtia pun melakukan hal yang sama.


"Sayang, sini." Raden mendudukkan Shaki di pangkuannya.


"Jangan sedih lagi karena mobil kamu dibawa orang itu. Shaki mau mobil baru gak?"


Shaki mengangguk.


"Besok kita beli mobil buat Shaki dan kakak sekolah ya. Gak usah yang bagus karena bunda pasti marah. Kita beli mobil kecil aja, oke."


Shaki melakukan hi five bersama Raden.


"Kecil pintunya dua ya, Om?"


Puput dan Akhtia tertawa.


"Mau?"


"Jangan!"


"Tuh kan, liat bunda kalian, belum juga beli udah berubah menjadi singa."


Mereka semua tertawa.


Setelah makan malam, Raden dan anak-anaknya pamit pulang. Sementara Nay dan Shaki sudah tidur, pun dengan Puput yang rebahan di dalam kamar.


"Saya pulang dulu, ya. Jangan lupa, kalau ada apa-apa kasih tau."


"Iya, Mas. Makasih, ya. Mas hati-hati di jalan, kasih kabar kalau sudah sampai rumah."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Apanya?"


"Saya harus ngasih kabar jika sudah sampai rumah."


"Kenapa? Gak mau? Oke, gak apa-apa, gak maksa kok."


"Ha ha ha. Pasti, saya akan segera memberi kabar jika sudah sampai rumah. Kamu jaga diri baik-baik di sini. Kalau ada waktu kita beli perlengkapan rumah."


"Iya, Mas."


"Saya pamit."


"Hmmm."


"Bye. Good night," ucap Raden sambil membelai kepala Hasna. Hasna melambaikan tangan.


Mereka pun pergi.


Setelah membersihkan badan, Hasna masuk ke kamar. Merebahkan tubuh di samping Nay karena Shaki tidur satu kamar dengan Puput. Dia mengambil ponsel untuk mengecek pesan.


Tidak ada yang mengirim apapun.


"Kenapa belum ada kabar, sih? Memangnya belum sampai? Ini kan udah lebih dari satu jam. Masa iya macet, memangnya ini Jakarta."


"Mas, udah nyampe?"


Tidak lama kemudian, ponsel Hasna berdering. Raden menelpon.


"Halo, Mas. Mas masih di jalan?"


"Enggak, saya di rumah."


"Kok gak kasih kabar, bikin cemas aja."


"Sengaja."


"Ih, kenapa?"


"Mau lihat bagaimana reaksi kamu. Mau membuktikan apakah saya harus benar-benar memberi kabar atau tidak sesampainya di rumah."


"Ya ampun, kamu tuh ya. Bisa-bisanya menyebalkan seperti ini. ck ck ck."


Raden tertawa.


"Ya sudah, ini sudah malam. Mas istirahat gih, besok kerja kan?"


"Hmmm."


Hasna diam. Pun dengan Raden. Mereka sama-sama membisu untuk waktu yang cukup lama.


"Selamat mala, Na. I love You."


"Malam, Mas. Assalamualaikum."


Raden menjawab salam Hasna.


Maaf, Mas. Aku belum bisa menjawab perasaan kamu. Aku masih tidak tahu isi hatiku yang sebenarnya. Aku tidak ingin menjadikan kamu hanya sebagai pelampiasan saja. Maaf, Mas.

__ADS_1


__ADS_2