Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
First Day


__ADS_3

Ini adalah hari pertama Hasna dan anak-anaknya tinggal dalam satu rumah sebagai keluarga yang sah. Setelah kemarin hingga malam hari mereka menggelar acara pesta meski hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan sahabat.


Hasna terlihat sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga barunya. Sarapan telah siap, Hasna mengecek Nay dan Shaki yang sedang diurus oleh pengasuh baru yang sengaja Raden hadirkan untuk menjaga mereka. Tujuannya agar Hasna tidak terlalu sibuk dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk dirinya.


"Mba, mereka masih cuti selama dua hari ini. Pakai baju ini untuk Shaki, dan yang ini untuk Nay."


"Iya, Bu."


Mba Risa dan Mba Murni adalah pengasuh untuk kedua anak tersebut.


"Tia, udah siap belum, Nak?" Hasna mengetuk kamar Akhtia.


"Bentar lagi, Bun." Akhtia sedikit berteriak agar Hasna yang berdiri di luar bisa mendengar.


Kini, Hasna beralih ke depan pintu kamar Puput. Kamar yang dulunya adalah kamar Airlangga.


"Put, Sayang. Udah bangun belum, Nak?"


Tidak ada jawaban.


"Put."


Masih tidak ada jawaban meski Hasna mengetuk dan memanggilnya berkali-kali. Karena penasaran, Hasna pun masuk. Kebetulan pintu kamarnya tidak dikunci.


"Pup--" Hasna mengecilkan suaranya saat melihat Puput sedang salat duha.


"Maaf," bisiknya pelan. Hasna lalu kembali keluar dan menutup pintunya pelan-pelan.


"Abang." Hasna kini mengetuk pintu kamar Airlangga.


Ceklek! Pintu terbuka.


"Abang udah bangun, Bun."


Hasna tersenyum. "Sarapan, yuk."


"Puput udah bangun, Bun?"


"Puput? Itu, dia lagi duha dulu. Tau deh, padahal ini masih pagi. Kenapa duha nya gak nanti aja agak siangan dikit."


"Oh, begitu rupanya."


"Kenapa, Bang?"


"Ya?" Airlangga terlihat bingung. "Gak apa-apa, kok. Abang cuma ... ah, iya. Akhtia udah bangun? Katanya dia mau minta dianterin ke toko buku mau cari referensi buat tugas akhir."


"Udah, dia lagi dandan kayaknya."


"Oh, iya. Ya udah, ayo kita makan." Airlangga menggandeng tangan Hasna, mengajak bundanya berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Sekilas Airlangga melirik pintu kamar lamanya sebelum dia turun.


"Kenapa dia juga harus kamu panggil? Dia sudah besar bahkan udah mau jadi seorang bapak." Raden nampak kesal melihat istrinya bersama Airlangga.


"Cieee, ada yang cemburu." Airlangga meledek.


"Kalau udah nikah, biar istri kamu yang mengurus semua keperluan kamu. Jangan ganggu istri papa."


"Maaas, apa sih. Pagi-pagi udah dicemburui aja anaknya. Aku kan ngurus mereka juga setelah ngurus kamu dulu, gimana sih?"

__ADS_1


"Sini, kamu duduk aja udah." Raden menarik Hasna ke dalam pangkuannya.


"Ya ampun, Mas. Malu, ih." Hasna segera bangkit dari pangkuan Raden sebelum anak-anak gadisnya turun.


"Selamat pagi, Bun, Pa." Akhtia datang dengan ceria dan sudah berpakaian rapi.


"Cantik banget anak bunda, mau ke mana sayang?"


"Mau pergi sama keluarga Kak Dewa. Katanya mau fitting baju nikah, sama mau liat pilih cincin."


"Loh, kata Abang kalian mau nyari buku."


"Buku apa? Aku tinggal nunggu ujian doang. Buat apaan buku?"


Airlangga pura-pura tidak mendengar pembicaraan antara Akhtia dan Hasna.


"Bunda ...."


Kehadiran si kecil mengalihkan segalanya. Akhtia pun yang hendak menyantap makanan langsung beralih menyambut Nay dan Shaki.


"Uuuuh, lucunya. Mau ke mana ci adik kakak ini?" ucap Akhtia manja khas anak-anak sambil mencium gemas pipi Nay.


"Ayo sarapan dulu."


Nay dan Shaki sarapan ditemani oleh pengasuhnya. Mereka berdua bertugas juga untuk menyiapkan makanan Nay dan Shaki. Hasna hanya mengawasi.


"Puput mana?" tanya Raden. Mereka semua saling memandang.


"Aku panggil dia dulu. Tadi sih lagi salat, Mas. Eh, itu dia datang." Hasna yang sudah bangun dari kursi, kembali duduk saat melihat Puput datang.


"Hai." Akhtia menyiapkan kursi untuk adiknya itu. "Kamu mau ikut aku gak hari ini? Aku mau pergi sama Kak Dewa."


"Ya mana bisa gitu, Dek. Itu kan acara kamu sama keluarga Dewa. Nanti Abang mau ajak Puput pergi jalan-jalan aja."


"Emang boleh, Kak?" tanya Puput mengabaikan ucapan Airlangga.


"Boleh sih kayaknya. Aku telpon Kak Dewa nya dulu aja. Ah, tapi kayaknya boleh deh, kamu kan cuma nganter aku doang."


"Kalau boleh aku mau ikut."


"Siiip!"


"Jam berapa kamu pergi?" tanya Raden pada Akhtia.


"Gak lama lagi. Aku nunggu jemputan doang kok ini."


"Put, kamu siap-siap kalau mau ikut. Nanti keburu dijemput. Gak mungkin kan kamu pakai baju itu?" tanya Raden pada Puput yang saat itu masih memakai kaos dan celana polos untuk santai.


"Ha ha ha. Iya, Pa. Ya udah, kak. Aku ganti baju dulu, gak lama kok. Udah mandi juga."


"Ya udah, iya. Pake baju warna biru juga ya biar kita samaan."


"Iya," teriak Puput yang sudah menaiki anak tangga.


"Kamu mau ke mana?" tanya Raden saat melihat Airlangga ikut berdiri.


"Ambil ponsel dulu, Pah. Kalau Puput jalan sama Akhtia, aku mau anter Angela periksa kehamilannya."

__ADS_1


Raden mengerutkan keningnya. Dia merasa heran pada sikap Airlangga yang berbeda jauh. Bukankah dia sangat tidak suka pada Angela dan kehamilannya, kenapa sekarang ....


Hasna melihat kepergian Airlangga dengan tatapan yang berbeda.


Sarapan berjalan seperti kebanyakan orang. Hasna melayani Raden, sambil sesekali memperhatikan kebutuhan Nay dan Shaki, sementara Akhtia fokus sarapan sambil sesekali becanda dengan dua bocah lucu itu.


Tidak lama kemudian Dewa datang untuk menjemput Akhtia.


"Sarapan dulu, Dewa."


"Makasih, Mba. Aku udah sarapan tadi di rumah."


"Kak, ih. Jangan manggil mba dong. Nanti dikira pengasuh adek-adek aku lagi. Manggilnya bunda dong atau Tante kek."


"Iya, maaf. Mau gimana lagi, udah kebiasaan nya gitu. Lagian aneh kalau aku manggil yang lain, udah nyaman manggil Mba."


Raden berdehem.


"Iya, Om. Makasih, Tante."


Hasna dan Akhtia tertawa melihat sikap Dewa yang ketakutan oleh Raden.


"Ini Puput mana sih? Kok lama banget."


"Masih dandan kali, mau bunda panggil?"


"Gak usah, Bun. Aku aja."


Akhtia berteriak dari kursinya memanggil Puput.


"Ya ampun, kamu kenapa gak pergi ke sana aja coba. Ngapain teriak dari sini? Telingaku pengang tau." Dewa menggerutu.


"He he. Maaf, Kak."


Tidak lama kemudian Puput turun. Memakai baju biru agar serasi dengan apa yang dipakai Akhtia. Namun sayangnya, warna baju Puput lebih pas dengan warna biru yang dipakai oleh Dewa.


"Ya udah, Bun, Pah. Kami pamit dulu."


Mereka bertiga berpamitan. Berganti mencium punggung tangan Raden dan Hasna.


"Gak usah cium-cium," ucap Raden seraya menarik tangan Hasna saat hendak dicium oleh Dewa.


"Mas, ih." Hasna memukul pelan tangan Raden.


"Posesif banget, Om. Istrinya gak akan aku embar kok. Orang lebih cantik anaknya."


"Kamu ini."


Sambil terkekeh, Dewa segera pergi saat melihat tangan Raden yang siap memukul.


"Kamu itu ya, Mas."


"Lagian, dia berani sama kamu."


"Dia cuma mau salim aja, kok. Nanti kalau udah jadi menantu kita gimana? Masa mau salim aja gak boleh? Orang lain noh, sama menantu itu cipika cipiki loh."


"Enak aja. Gak boleh ada yang cium pipi kamu kecuali saya. Awas aja," ucap Raden sambil ndusel-ndusel pipi Hasna.

__ADS_1


__ADS_2