
"Besok aku nginep di sekolah."
Airlangga, Dewa dan Akhtia sama-sama terkejut mendengar ucapan dari Puput saat mereka sarapan.
"Mau ngapain nginep di sekolah?"
"Ada acara amal. Kita mau bagi-bagikan makanan. Terus, yang jadi panitia nginep di sekolah."
"Enggak, Abang gak izinkan."
"Bunda sama papa udah ngizinin kok."
"Sekali enggak, tetep enggak."
"Abaaaang, please yaaa ... ini pengalaman pertama aku loh."
"Tetep tidak."
"Kakak ...." Puput minta bantuan pada Akhtia.
"Ekhmm, yaaa menurut aku sih ya gak masalah. Di sana juga kan banyak guru yang ikut, kemungkinan untuk Puput kenapa-kenapa juga kecil. Jadi, gak apa-apa sih kalau mau nginep. Kakak izinin."
"Tapi kan nginep di sana gak nyaman, gak mungkin ada kasur. Panas juga, kamu gak akan bisa tidur nyenyak, Put. Banyak nyamuk, nanti kamu merah-merah digigit."
"Kan aku dan yang lainnya bukan mau tidur, mau masak, mau kumpul-kumpul. Gimana sih?"
"Gak apa-apa, kamu berangkat aja put. Kakak yang akan bilang sama dua serigala ini."
"Ummm, Kakak emang yang terbaik deh." Puput memeluk Akhtia dengan sangat manja.
"Ya udah, ayo berangkat. Udah siang." Airlangga bangun dari kursinya.
"Aku berangkat dulu ya, Kak." Puput mencium pipi Akhtia, lalu bersalaman dengan Dewa. Akhtia melirik tidak suka saat Puput mencium punggung tangan suaminya. Dia kembali menarik nafas untuk mengendalikan emosinya.
"Nanti pulang sekolah Abang jemput ya. Jangan ke mana-mana, tunggu sampai Abang datang."
"Oke. Ini." Puput memberikan helmnya.
"Gak salim?"
"Mana ada penumpang salim sama tukang ojek? Weeeee!"
Airlangga tertawa kecil. Dia terus menatap Puput hingga tubuhnya tidak bisa dijangkau lagi oleh mata. Dada Airlangga berdebar, senyum bahagia selalu terpancar dari bibirnya.
"Eh eh, put. Hayoooo, kamu gak jujur ya sama kita-kita?" seloroh Saodah saat jam pelajaran berakhir. Disusul imas yang ikut menarik kursi dan merapat ke meja Puput.
"Tentang?"
"Cieeee, Puput. Dianter sama pacarnya ya tadi pagi," ucap Nuri teman satu kelas Puput.
Puput menatap sahabatnya bergantian.
"Oh, ini maksud kalian aku gak jujur?"
Imas dan Saodah mengangguk mantap dengan wajahnya yang sangat serius.
"Ck! itu mah bukan pacar aku kali. Dia cuma tukang ojek, kebetulan emang kenal deket. Jadi ya udah akrab."
"Gak memungkiri, sih. Udah mah tetangga ya kan," ucap Imas tetap tidak percaya.
"Eh, aku gak mungkin suka sama dia. Dia itu ... emmm dia itu."
Imas dan Saodah terlihat lebih serius.
"Dia itu duda."
"Salahnya apa?" Imas bersikukuh.
"Ah, elah. Kalau gak percaya ya gak apa-apa. Intinya sampai kapanpun aku gak akan jadi pacar dia. Titik!"
Ya gimana gue bisa jadian, orang dia kakak gue. Ha ha ha
__ADS_1
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu sih? Curiga ah jadinya." Imas masih tetap pada pendiriannya, mencurigai Puput.
"Put ..."
Imas, Saidah dan Puput langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Cieeee, kalau begitu kami permisi dulu ya. Assalamualaikum." Imas dan Saodah menjauh saat Chooki datang menghampiri mereka.
"Eh, kamu? Tumben datang ke kelas aku. Ada apa?" tanya Puput pada Chooki. Dia adalah crush Puput yang selalu perhatian selama ini.
Chooki adalah juara umum di sekolah, duduk di kelas 2. Wajahnya juga mungkin paling tampan di sekolah karena keturunan Sunda-Korea. Orang tuanya salah satu donatur di seolah itu karena Chooki memang berasal dari keluarga yang berada.
"Nanti siang ke toko buku, yuk."
"Pulang sekolah? Emmm, boleh bawa Imas dan Saodah juga?"
"Bawa aja."
"Iya, aku mau kalau bawa mereka juga."
"Kita ketemu di depan gerbang ya."
"Sippp."
"Ini." Chooki memberikan Puput cokelat Toblerone berwarna putih.
"Makasih, ya."
Chooki tersenyum sebelum dia kembali ke kelasnya. Imas dan Saodah datang seperti banteng yang hendak menyeruduk. Mereka langsung kepo dengan apa yang diberikan Chooki padanya.
"Ini. Mau?"
"Maulah."
Puput membuka cokelat itu dan memakannya bersama dengan dua sahabat baiknya.
Bel tanda pelajaran hari ini berbunyi. Guru mengakhiri ajarannya, dan anak-anak mulai bersiap untuk pulang.
"Selesai. Ucap salam."
"Assalamualaikum, Pak Guru."
"Waalaikum salam. Kalian langsung pulang, jangan keluyuran di luar. Jangan lupa kerjakan tugas hari ini."
"Baik, Pak." mereka menjawab kompak.
Puput dan temannya segera pergi menuju gerbang. Chooki sudah menunggu di sana.
"Kita naik angkot ya, nanti ongkosnya aku yang bayar."
Mereka bertiga mengangguk. Saat Puput hendak masuk ke dalam angkot, tiba-tiba suara klakson berbunyi dengan begitu bising. Puput menoleh.
Astaga! Gue lupa kalau dia mau jemput. Mampus!
Puput berdiri di depan pintu angkot. Menunggu Airlangga yang sedang berjalan menghampirinya.
"Mau ke mana?" tanyanya sambil melepaskan sarung tangan.
"Mau pergi nyari buku sama temen."
"Put, jadi pergi?" tanya Chooki.
Airlangga membuka kaca helmnya. "Dia temen yang mau pergi sama kamu?"
"Mereka juga." Puput menunjuk Imas dan Saodah.
"Gak boleh. Ayo pulang sama ab--"
Puput menutup kaca helm Airlangga.
"Daah." Puput melambaikan tangan, lalu dia masuk ke dalam angkot. "Ayo, mang."
__ADS_1
Angkot pun pergi.
Tidak rela melihat Puput pergi bersama teman laki-lakinya, Airlangga mengikuti angkot itu dari belakang.
"Eh, Put."
"Hmmm."
"Tukang ojeknya perhatian banget ya. Dia sampai ngikutin kamu loh di belakang."
Puput menoleh ke arah belakang angkot dan dia terkejut melihat Airlangga ada di sana mengikutinya.
Ngapain sih dia ngikutin segala.
"Aku kok nggak yakin ya kalau dia itu cuma tukang ojek. " Imas masih tetap bersih kukuh dengan kecurigaannya.
"Yaaa dia emang tukang ojek tapi mungkin dia suka sama pelanggannya," ejek Saodah.
"Ada apaan sih?" tanya chooki.
"gak ada apa-apa," ucap Imas.
"Iya bukan apa-apa, kita cuma sedang iseng aja sama Puput." Imas mencoba menutupi apa yang sedang terjadi.
"Put, tadi siapa? Pacar kamu ya? Kok udah keliatan tua?" tanya Chooki. Imas dan Saodah mendadak tersedak meski tidak sedang makan sesuatu.
"Oh, itu. Dia tetangga aku, sekaligus tukang ojek."
"Syukurlah. Aku pikir dia cowok kamu."
"Kok syukur? Emang kalau dia cowoknya Puput, kenapa? Kamu cemburu?" tanya Imas memprovokasi.
"Iya," jawaban Chooki lugas.
Mata Puput membelalak.
"Sebenarnya udah dari lama aku suka sama Puput." Chooki menjelaskan.
"Put, diterima gak?" tanya Imas.
"Apanya?"
"Cinta Chooki lah, masa cintanya mang supir."
"Dia kan cuma ngasih tau, bukan berarti nembak dan minta jawaban."
"Put, aku suka sama kamu. Mau gak kamu jadi pacar aku?" tanya Chooki tiba-tiba.
"Ya ampun, nembaknya kok di angkot sih. Sumpah, ini gak romantis." Saodah menepak jidatnya.
"Iya, mau. Puput pasti mau, soalnya sejak kita ospek dia udah suka sama kak Chooki."
"Imas." Puput menendang kaki sahabatnya.
Chooki dan Puput saling melirik sambil saling melempar senyum.
🌺CHOOKI🌺
🌺PUPUT🌺
🌺SAODAH🌺
🌺IMAS🌺
__ADS_1
Foto by Pinterest.