Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Berita


__ADS_3

Akhtia kini sudah memiliki dua anak, sementara Puput baru mengandung selama 7 bulan setelah tiga tahun menikah dengan Chooki. Lalu Airlangga? Sampai saat ini dia masih sendiri dan baru memiliki seseorang yang masih berstatus teman dekat.


"Menikahlah, Airlangga. Papa sudah tua, waktu papa sudah tidak banyak. Sebelum pergi, papa ingin memastikan kamu sudah berkeluarga."


Segala jenis perkataan tidak pernah membuat goyah hati Airlangga. Dia keukeuh pada pendiriannya untuk tidak menikah. Meskipun dia sempat mengenalkan satu perempuan pada keluarganya, nyatanya sampai detik ini dia belum juga menunjukkan tanda-tanda jika dia akan menikah.


"Gimana keadaan kamu? Biasanya wanita hamil akan sangat manja, tapi kamu jauh dari suami."


"Kan ada Abang. He he he."


Airlangga tersenyum sebelum dia meminum sisa soda kalengnya. Rasa lelah membuatnya haus setelah mengantar Puput berkeliling mencari perlengkapan untuk bayinya.


Airlangga kembali tersenyum saat dia membayangkan kejadian di baby shop tadi.


"Bang, ini lucu gak?"



"Lucu."



"Kalau ini?"



"Ya, itu juga lucu."



"Pink apa putih?"


"Pink."


"Oke."



"Abaaaang ... ini lucu banget."


"Ambil."


Senyum Airlangga mengembang saat melihat rona bahagia menghiasi wajah Puput. Dia yang imut dan manis terlihat menggemaskan dengan perut buncit, dan tubuh yang mulai melebar, termasuk pipi nya yang semakin membundar.



"Ya ampuuun, topinya. Abang, itu lucu banget ya kan?"


Airlangga mengangguk lembut.



"Cokelat apa merah?"


"Merah."


Puput bertingkah seperti anak kecil saat pilihan Airlangga sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


"Bang ... bang ... lihat itu."



"Mba, tolong ambil semua sepatu bayi itu ya. Apapun yang dia sentuh, tolong kemas."


"Wah, suami idaman banget ya bapak ini. Apa aja yang istrinya mau langsung dikasih."


"Kalau gak dikasih, nanti dia ngambeknya bisa sampe pas punya dua anak, Mba."


"Abang, ish!". Puput mencubit lengan Airlangga.


"Bang, Abang."


Lamunan Airlangga buyar.


"Ada apa? Takut tau liatnya, senyum-senyum sendiri gitu. Mikirin apa?" tanya Puput yang asik mengunyah batagor.


"Kamu."


"Kenapa aku? Aku lucu ya karena sekarang gemuk, kayak badut ya? Apa kayak gajah?"


"Kamu cantik."


Seperti tidak percaya pada ucapan Airlangga, Puput manyun sejenak sebelum kembali mengunyah.


"Mau ke mana lagi setelah ini?"


Puput berpikir, memikirkan apa yang sekiranya enak menurut dia saat ini.


"Beli es campur bandung."


Mereka tertawa saat Airlangga memberi sikap hormat pada Puput. Sungguh membahagiakan bisa menemani adiknya membeli perlengkapan bayi meski janin itu bukan anaknya. Merasa bebas ke sana ke sini, menjaga Puput tanpa ada yang marah dan kesal. Itulah alasan Airlangga tidak ingin menikah karena dia tidak ingin memiliki batas dan jarak dengan Puput.


"Suami kamu kapan pulang?"


"Setelah anak kami lahir kayaknya. Katanya dia baru bersandar dan akan segera berlayar lagi."


"Oh, oke."


"Abang, nanti temenin aku di rumah ya kalau menjelang waktu lahiran. Kalau mules malem-malem, gimana?"


"Iya, sayang ...."


Airlangga langsung terdiam saat dia tidak sengaja mengatakan hal itu. Sejak tadi dia menahan rasa bahagia dan gemas melihat adiknya, membuat Airlangga merasa jika dia adalah suami dan anak yang sedang dikandung Puput.


Puput tersenyum canggung.


Setelah menuruti keinginan terkahir Puput untuk makan es campur, mereka pun pulang ke rumah Puput. Dia tinggal sendiri karena suaminya sedang bekerja, dan hanya ditemani seorang pembantu.


"Titip, ya, Mbok. Saya permisi."


"Njeh, Mas."


"Abang pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa langsung telpon Abang."


"Iya, Bang."

__ADS_1


Airlangga segera bertolak ke rumahnya.


Saat malam tiba, Airlangga tidak lupa memeriksa ponselnya, memastikan baterainya full karena takut Puput menghubunginya malam-malam. Baru saja Airlangga ingin mematikan televisinya, dia melihat berita. Melaporkan kejadian yang baru saja terjadi.


Airlangga memperhatikan dengan seksama hingga dia menyadari satu hal. Dengan panik Airlangga berlari keluar kamar, menuruni tangga untuk membangunkan Hasna dan Raden yang mungkin sudah tertidur.


"Bun, bunda ... buka pintunya. Bunda!"


Airlangga menggedor-gedor pintu kamar orang tuanya.


"Apa sih? Bunda kamu sedang solat."


"Ikut aku, Pah." Airlangga menarik tangan Airlangga menuju ruang keluarga lalu menyalakan televisi.


"Kamu kenapa sih?"


Televisi menyala.


"Kapan itu terjadi?"


"Kayaknya sekarang, Pah. Tapi bukan itu masalahnya."


"Masalah?" tanya Raden tidak mengerti.


"Itu kapal Chooki bukan, Pah?"


"Masa? Papa rasa bukan. Kapal Chooki itu ...."


Kriiiiing .... telpon rumah berdering. Airlangga segera berlari untuk mengangkat telpon itu.


"Halo, Pak, Bu."


"Ini saya, Mbok."


"Untunglah mas yang angkat."


"Ada apa, Mbok? Kenapa gugup begitu?"


"Mas, Neng Puput pingsan. Tadi dia dibawa sama warga ke rumah sakit bapak."


Airlangga menaruh gagang telpon itu sembarangan, mengambil kunci motor dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Raden yang berteriak memanggil dirinya.


"Ada apa, Mas?" tanya Hasna masih memakai mukena.


Belum sempat Raden menjawab, gagang telpon yang baru saja dia simpan kembali berbunyi.


"Halo, dengan kediaman Raden di sini."


"Pak, ini dari UGD. Saya mau melaporkan kalau anak bapak ada di sini sekarang. Tadi dia dibawa warga, dan mereka tidak tau nomor telpon bapak."


"Apa? Ke-kenapa anak saya di sana?"


"Mas ... mas ada apa?" Hasna cemas melihat raut wajah Raden. Raden hanya bisa menatap istrinya sambil mendengarkan pihak rumah sakit berbicara.


"Mas ada apa?" tanya Hasna lagi saat melihat Raden menyudahi pembicaraannya.


"Puput di UGD."

__ADS_1


"Apa mas?"


Raden memeluk istrinya, lalu memintanya untuk segera mengganti mukenanya agar mereka bisa segera ke rumah sakit.


__ADS_2