Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Pindah


__ADS_3

"Bu hasna, saya pesan risol mayo seratus pcs, sama putu ayu seratus pcs, ya."


"Untuk kapan, Bu?"


"Minggu sekitar pukul satu siang, bisa?"


"Insya allah saya usahakan."


"Saya transfer uang mukanya dulu ya, sisanya nanti pas barang diantar."


"Oke, Bu. Kirim alamatnya aja ya."


"Nanti saya wa. Makasih ya, Bu Hasna."


"Sama-sama, Bu."


Hasna berucap syukur karena mendapatkan pesanan untuk hari minggu nanti. Dia segera memasukkannya ke daftar list. Sudah ada dua orang yang memesan kue untuj hari minggu yang sama, itu artinya dia tidak akan menerima pesanan lain.


"Bun, uang spp kakak belum dibayar ya. Senin besok kan mau pts."


"Aduh, bunda lupa. Besok deh sekalian jemput shaki bunda ke bendahara buat bayaran."


"Ya udah iya. Bunda mau ngapain sekarang?"


"Mau masak opor ayam buat makan malam kita nanti. Mau bantu?"


"Boleh. Kakak ngapain, Bun?"


"Uleg bumbu aja, Nak. Itu yang ada di mangkuk kecil, barusan bunda cuci."


"Oke."


Sementara puput menguleg bumbu, Hasna membersihkan ayam yang hendak mereka masak.


Drrttttttt.


Hasna mencuci tangannya, lalu mengambil ponselnya yang bergetar.


"Halo, Ra. Ada apa?"


"Kamu di mana, Na?"


"Ada di rumah. Mau mampir?"


"Iya. Aku kebetulan lewat, mau mampir sekalian ada yang mau aku bicarakan."


"Oh, ya udah. Kamu sini aja. Aku juga gak ngapa-ngapain, kok."


"Otewe."


"Hati-hati."


Hasna kembali menyimpan ponselnya.


"Siapa, Bun?"


"Tante zahira, katanya dia mau mampir sekalian lewat."


"Oh."


"Udah selesai belum, Sayang?"


"Belum halus banget, Bun."


"Ya sudah, bunda mau marut kelapanya dulu. Nanti kalau udah, tolong cuci daun salam sama serehnya ya."


"Siappp."


Memasak bersama puput adalah hal yang menyenangkan bagi Hasna. Selain dia memang senang memasak, hasna dan puput bisa mengobrol dan bercerita.


"Nah, udah. Tinggal tunggu mateng aja."


"Bumbunya udah pas, Bun?"


"Udah."


"Bun, kenapa kebanyakan ibu-ibu kalau lagi masak, terus mereka cicipi itu tangannya suka sambil bekacak pinggang? Emang harus begitu ya?"

__ADS_1


"Hmmm?"


Hasna memperhatikan gestur tubuhnya saat ini. Tangan kanan memegang sendok berisi kuah opor, tangan kirinya memegang pinggang.


Merrka berdua tertawa.


"Kayaknya tante zahira datang deh, itu suara mobilnya bukan sih?"


Hasna mencondogkan telinganya ke arah luar.


"Iya. Kayaknya berhenti di depan rumah kita deh. Bunda ke sana dulu ya. Kamu jagain opornya."


Hasna melepaskan apronnya, mencuci tangan sebelum menghampiri zahira.


"Wangi banget, lagi masak ya?" Tanya zahira.


"Iya. Kamu dari mana? Belanja?"


"Habis setor uang toko. Adeuuuh, cape banget. Mana di toko habis bongkaran barang, harus setor juga ke agen."


"Gak apa-apa atuh, duitnya juga kan banyak. Mau minum apa?"


"Air es aja lah."


"Tunggu bentar ya."


Tidak lama kemudian hasna datang membawa gelas dan botol kaca berisi air es.


"Na, aku mau ngomong sesuatu. Tapi sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu."


"Minta maaf buat apa? Ih kok aku jadi takut sih."


"Begini ... duh, gimana ya? Aku beneran, sumpah bingung banget ngomongnya."


"Raaa, bilang aja gak apa-apa. Ada apa, huh?"


"Kamu tau selly? Adik ipar aku?"


"Iya, kenapa memangnya?"


"Dia bergaul gak jelas. Punya teman iblis semua. Akhirnya dia yang celaka sekarang."


Zahira menggerakan jari telunjuk dan tengahnya seperti telinga kelinci.


Hasna menutup mulutnya yang terbuka lebar karena kaget.


"Ibu mengusirnya dari rumah. Jadi ...."


Zahira menutup wajahnya karena tidak sanggup harus meneruskan ucapannya.


"Aku ngerti, Ra."


"Hasna ...." dengan wajah sedih dan penuh penyesalan, zahira meremas kedua tangan sahabatnya itu.


"Kapan aku harus pindah dari sini, Ra."


"Nanti kita cari kontrakan buat kamu. Aku akan temenin, ya. Jangan keluar sebelum mendapatkan tempat baru."


"Itu mah gampang. Banyak kok perumah yang disewakan. Besok nyari juga pasti dapet."


"Maaf, Na." Mata zahira mulai berkaca-kaca.


"Gak apa-apa, Ra. Ini bukan salah kamu. Aku pun gak keberatan apalagi marah. Aku ngerti kondisinya saat ini. Kamu benar, selly harus kamu jaga. Zinah aja udah dosa, jangan sampai dia membuat dosa lain karena mengguburkan anaknya."


"Aku benar-benar minta maaf, Na." Zahira memeluk sahabatnya.


Sementara di dapur sana, seorang anak kecil yang beranjak remaja tengah menangis dalam diam.


Setelah membicarakannya dengan anak-anak, keesokan harinya Hasna mulai merapikan beberapa barang. Memasukkannya ke dalam kardus besar yang dia beli dari agen kelontongan. Merapikan pakaian ke dalam tas dan koper.


Hasna mendapatkan rumah kontrakan dari salah satu wali murid temannya Puput yang kebetulan juragan kontrakan. Lokasinya sangat dekat dengan sekolah anak-anak, mereka hanya perlu berjalan kaki dalam hitungan menit. Selain itu, Hasna juga mendapatkan harga sewa yang berbeda dari yang lainnya.


Puput terlihat begitu sedih. Bagaimana tidak, kehidupan mereka berubah drastis semenjak Azam meninggal.


"Bunda minta maaf, ya. Kalian harus sering pindah-pindah rumah. Pasti kalian lelah hidup seperti ini."


Shaki dan Nay masih terlalu kecil untuk mengerti ucapan ibunya. Mereka hanya berkata bahwa mereka senang karena punya rumah banyak.

__ADS_1


Sementara Puput hanya diam. Dia fokus merapikan barang-barang.


Drrrttttttt.


"Kak, hp nya bunyi."


Puput bangun, dia kembali ke kamarnya yang sudah mulai kosong, mengambil ponsel yang berdering.


Akhtia melakukan video call.


"Halo, Put. Lagi apa, Dek?"


"Rapi-rapi, Kak."


"Oh, mau merubah suasana rumah, ya? eh, tunggu dulu. Coba kamu geser sedikit."


"Ini?"


"Bukan, kanan."


"Di sini?"


"Nah, iya. Itu kenapa banyak kardus, kamar kamu kosong gitu. Put, kamu beres-beres mau ke mana?"


"Pindah, Kak."


"Pindah?" Akhtia sedikit berteriak.


"Pindah ke mana? Jauh? Kenapa pindah?"


"Gak kok. Pindah ke deket sekolah. Rumah ini mau dipake sama yang punya, jadinya aku sama bunda mau nyari kontrakan lagi."


"Ngontrak?"


"Iya, Kak. Kak, udah dulu ya aku mau bantuin bunda beres-beres."


"Oh, oke."


Puput kembali menyimpan ponselnya di atas lemari yang sudah kosong. Dia kembali membantu Hasna merapikan sisa barang.


Setelah tadi malam merapikan semuanya, kini kardus sudah siap diangkut, koper dan tas pun sudah rapi berjejer di depan rumah, mereka hanya tinggal menunggu mobil yang mereka sewa untuk pindahan.


"Nah, itu mungkin mobil ... nya. Bun, bunda ... bunda ...." Puput berteriak memanggil Hasna, dia berlari ke dalam.


"Ada apa? Kenapa kamu teriak?"


"Bun, ada Om Raden."


"Om Raden? Ngapain dia ke sini?"


Baru saja Hasna ingin melangkah keluar, Raden masuk bahkan tanpa melepaskan sepatunya. Dia berjalan terburu-buru dengan wajah yang terlihat kesal. Diikuti Akhtia dan Airlangga dari belakang.


"A-apa? Ada apa ini? Kenapa kalian semua datang ke sini?" Hasna kebingungan.


"Kamu yang ada apa? Kamu ini kenapa, sih, Na? Kamu diusir dari rumah ini tapi tidak memberitahu saya sama sekali?"


"Mas, maaf, tapi ...."


"Saya sudah bilang, saya benci kata maaf. Pokoknya, kamu ikut saya sekarang."


"Ke mana, Mas? Saya sedang menunggu mobil jemputan, sebentar lagi saya pindah."


"Ya, kita akan pindah tapi buka ke kontrakan sempit itu!"


"Mas ...."


"Hasna, oke. Oke, saya ngerti kamu tidak mau berhutang budi sama saya. Saya juga tahu kamu tidak mencintai saya, oke, saya terima itu semua. Tapi kamu juga jangan egois, lihat anak-anak, pikirkan mereka juga. Jika ada tempat tinggal yang lebih bagus, kenapa harus yang kumuh?"


"Mas, dengarkan dulu."


"Tidak. Kali ini saya akan memaksa kamu untuk menuruti apa yang saya perintahkan."


Raden tidak berteriak, tapi dia berbicara dengan nada yang ditekan karena menahan amarah.


"Ayo, Sayang. Kita akan pindah ke rumah baru."


Dia menggendong Nay dan Shaki. Sementara Akhtia merangkul Puput.

__ADS_1


"Ayo, Tante."


Airlangga meraih tangan Hasna, mengajaknya keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.


__ADS_2