
"Mau ke mana, Pah?" tanya Akhtia saat melihat Raden berpakaian rapi dengan tuxedo nya.
"Ada undangan dari partner papa. Acara tunangan anaknya. Kamu mau ikut?"
"Emang boleh?"
"Boleh. Undangan ini untuk dua orang, berhubungan papa gak punya istri ya sudah kamu aja yang ikut. Sana, siap-siap. Pakai dress pink ya."
"Harus?"
"Iya."
Akhtia terlihat lucu memakai gaun pink yang Raden belikan dua tahun lalu. Dress yang sama sekali belum dia gunakan.
Sesampainya di ballroom sebuah hotel, tempat acara itu digelar, Raden menyambangi si mpunya hajat, Pak Alex.
"Selamat malam, Mas Raden. Terimakasih sudah berkenan hadir."
"Sama-sama, Pak. Selamat atas pertunangan anaknya. Semoga lancar sampai hari H nanti."
"Itu anak bungsunya, ya, Mas? Cantik ya. Andai saja saya punya anak laki-laki, mau saya minta buat jadiin mantu," ucap Adelia, istri Alex.
"Tante bisa aja." Akhtia tersipu.
"Silakan, Mas. Di icip makanannya di sebelah sana. Silakan dinikmati, kalau ada yang kurang boleh langsung komplain saja ya."
"Iya, Pak. Tentu saya akan menikmati hidangannya."
"Permisi, Om, Tante."
"Iya, Nak. Silakan dinikmati ya."
Akhtia mengangguk sopan.
"Pah, kalau saja kita punya anak cowok, mama mau deh dia jadi menantu kita. Cantik loh, terus kayaknya anaknya baik." Adelia berbisik pada suaminya.
"Anak-anak Raden tumbuh dengan baik meski tanpa ibu. Banyak yang mengincar Airlangga juga, cuma ya ... kita tau kalau dia bukan anak kandung Raden."
"Ah, yang penting mah anaknya baik kan? Ngapain ngurusin hal kayak gituan. Bagi mama sih asal anaknya tanggung jawab, baik, sayang sama anak kita, ya abaikan saja sisanya."
Alex hanya tersenyum mendengar celotehan istrinya. Dia kembali menyambut tamu lain dan melupakan obrolan tentang Akhtia.
"Kita jodohkan saja Pah sama ponakan papah itu. Biar rumor dia guy itu terbantahkan. Gimana?"
"Ssssttt." Alex meminta istrinya untuk diam. Namun, sepertinya Adelia terlanjur suka pada sosok Akhtia. Berkali-kali dia melirik Akhtia yang sedang makan dengan Raden.
"Kenapa sih itu Tante Adelia ngeliatin aku terus? Aku kan gak nyaman jadinya. Berasa ada yang salah sama aku, Pah."
"Bukan. Lihat saja matanya yang berseri-seri. Itu artinya dia melihat kamu dengan rasa suka dan kagum."
__ADS_1
"Masa?"
Raden mengangguk yakin.
Tiba-tiba suasana menjadi riuh. Orang-orang berbisik-bisik sambil melihat ke arah tamu yang baru saja datang. Seorang pengusaha sukses di kota itu.
Beberapa di antara mereka menghampiri untuk bersalaman dan bertanya kabar. Namun, yang membuat sebagian orang berbisik adalah wanita yang digandeng anak sulung sang pengusaha.
"Pah ... Tante Hasna." Akhtia menganga. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Hasna menggandeng laki-laki muda.
Raden menyimpan piring makanannya yang belum selesai dia habiskan. Meneguk air minum karena tenggorokannya terasa seret.
Hasna menyadari keberadaan Akhtia. Dia tersenyum sekilas pada gadis itu. Ingin sekali Hasna berlari menghampirinya, namun dia sadar kini sedang ada di mana dan dengan siapa.
Hasna mencoba mengabaikan meski matanya tidak kuat untuk tidak melirik pada Akhtia dan juga Raden.
"Pak Mahendra ... selamat datang di pesta saya. Senang bapak bisa hadir. Suatu kehormatan untuk keluarga saya, Pak."
"Ha ha ha. Jangan berlebihan, Pak. Yang namanya diundang ya harus datang toh."
Mereka tertawa sambil saling berjabat tangan.
"Kenalkan, ini Dewandaru anak pertama saya dan calon istrinya, Hasna. Itu Dewindara anak kedua saya."
"Halo, Om. Senang bisa bertemu dengan Om. Papih sering membicarakan Om. Katanya saya harus bisa seperti Om."
"Ha ha ha. Kamu bisa saja."
"Iya, jeng. Saya kebanyakan ikut arisan jadi bingung. Saya lepas beberapa sih."
Ibu-ibu, jika sudah berkumpul pembicaraannya tidak pernah jauh dari arisan, pakaian, perhiasan dan membanggakan anak-anaknya.
"Sayang, kita ambil minuman dulu. Kamu haus?"
Hasna mengangguk.
"Om, Tante. Saya permisi dulu, kekasih saya haus sepertinya. Pih, aku pamit dulu." Dewa berpamitan pada semua orang. Dia membawa Hasna ke tempat makanan yang berbeda dengan Raden dan Akhtia.
"Mau minum apa?"
"Jus jeruk aja kalau ada."
Hasna berdiri menunggu Dea kembali.
"Sayang ...."
Deg!
Suara itu membuat jantung Hasna berdetak tidak karuan. Hasna kesulitan untuk menoleh, hingga akhirnya Raden lah yang berjalan dan berdiri tepat di hadapannya.
__ADS_1
"Apa kabar? Kenapa menghilang tanpa kabar? Kamu ke mana saja selama ini? Apa bersembunyi di rumah keluarga Mahendra agar saya tidak bisa menemukan kamu?"
"Mas ... aku di sini sebagai keluarga Mahendra. Aku harap kamu bisa jaga sikap dan ucapan kamu agar orang lain tidak membicarakan hal buruk tentang kita."
"Saya --"
"Permisi." Hasna berpamitan pada Raden yang belum selesai mengucapkan kata-katanya.
Raden mengepalkan tangan karena kesal pada dirinya sendiri. Dia marah karena kebodohannya dia kehilangan hal yang paling berharga di dunia ini.
"Akhtia, papa ke toilet sebentar."
"Iya, Pah."
Akhtia berdiri di sendirian di tengah pesta yang banyak didatangi para pengusaha. Hanya ada beberapa orang yang seusia dirinya tapi berjarak sangat jauh. Akhtia terlihat seperti anak itik kehilangan induknya.
Akhtia mengambil ponsel dari tasnya, melihat jam yang ada di ponsel miliknya. Sudah hampir setengah jam Raden pergi dan belum kembali.
Karena khawatir, akhtia pun keluar dari ballroom dan mencari Raden.
"Mas, maaf. Toilet pria sebelah mana ya? Saya mau mencari papah saya."
"Non lurus aja belok kanan, setelah ada taman belok ke kiri di situ ada toilet. Soalnya toilet yang di sini sedang diperbaiki pintunya rusak."
"Oh iya. terimakasih kasih ya Mas, permisi."
Akhtia pun melangkahkan kakinya, berjalan sesuai petunjuk yang diberikan oleh pelayan hotel. Karena terburu-buru dia tidak melihat sekeliling. Saat berbelok dia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga membuatnya jatuh terpental ke belakang.
Brukkk!
"Ouch!"
"Eh, sorry. Kamu nggak apa-apa? maaf tadi aku nggak lihat-lihat ada kamu di sini."
"Apanya yang nggak apa-apa sakit tahu. makanya itu mata dipakai, jangan cuma dijadiin pajangan doang."
"Iya iya maaf. 'Kan nggak sengaja, namanya juga nggak sengaja."
Erlangga membantu Akhtia bangun. gadis itu mengusap gaunnya bagian belakang, serta mengusap sikutnya yang terasa sakit karena menahan tubuhnya saat jatuh.
"Sakit sumpah."
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku beneran nggak sengaja, lagian kamu ngapain ada di sini ini kan toilet laki-laki."
"Kepo aja urusan orang."
Akhtia berjalan melewati orang itu begitu saja. orang yang bertabrakan dengan dia yang tidak lain adalah Dewandaru.
"eh eh stop mau ke mana? itu toilet cowok mau ngapain woi."
Dewandaru menarik tangan Atia yang hampir saja masuk ke dalam toilet laki-laki. Saking kencangnya Dewandaru menarik tangan Akhtia, lagi-lagi dia hampir terjatuh. Beruntung kali ini tubuhnya tidak sampai jatuh ke atas lantai karena Dewandaru segera menangkap tubuh Akhtia.
__ADS_1
Untuk sesaat mereka hanya diam dan saling memandang satu sama lain.