Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Kesempatan


__ADS_3


Raden merebahkan tubuhnya. Melonggarkan dasi, sambil membuka jam tangannya. Dia menatap lurus ke atas langit-langit kamar, memikirkan sesuatu yang membuatnya kesal dan juga bingung.


"Mas, suamiku baru saja meninggal. Satu tahun itu waktu yang singkat, rasanya kuburan suamiku masih basah. Aku merasa bersalah jika harus menikah secepat ini. Lagi pula, kalau aku menikah denganmu, otomatis fokusku akan terbagi sama kamu, anak-anak dan juga anak-anak kamu. Belum lagi keluarga kamu. Maaf, aku belum bisa menerima lamaran kamu, Mas."


Raden meremas kepalanya dengan kuat. Penolakan yang dilakukan Hasna membuat dia kehilangan kontrol pada emosinya. Raden seperti anak muda yang mengalami mood swing.


Dia mengambil ponselnya. Membuka chat nya dengan Hasna, dan mulai mengetik sesuatu.


"Kamu lagi apa?"


Raden menatap ponselnya, menunggu centang dua berwarna hitam itu berbuah menjadi biru.


Satu menit, dua menit, lima menit kemudian centang itu masih sama. Kesal, ponsel itu kembali menjadi sasaran kemarahan Raden. Kembali doa melemparnya ke sembarang arah. Ponsel itu jatuh ke lantai.


Raden bangun, dia berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan diri, lalu berganti pakaian.


Saat tubuhnya masih terlihat handuk putih, ponselnya berdering. Raden segera mengambil ponselnya berharap itu adalah Hasna. Wajahnya terlihat kecewa saat yang diharapkan tidak dia dapatkan.


"Halo, ada apa, Sayang?"


"Papa di mana? Kok rumah sepi?"


"Papa di rumah nenek. maaf lupa bilang."


"Papa mau pulang atau aku yang ke sana? Aku sama Puput sekarang."


"Puput? Kok bisa dia sama kamu?"


"Iya, aku udah izin sama Tante Hasna kok. Puput mau nginep di rumah kita, besok kan weekend. Jadi, gimana? Aku ke sana atau papa pulang?"


"Papa pulang. Kamu tunggu di sana, jangan ke sini dulu."


"Oke, dadah, Papa."


Kembali Raden melempar ponselnya. Dia bergegas berganti pakaian. Pergi begitu buru-buru.


"Loh, gak nginep, Kak?" tanya Zaelani.


"Enggak, aku ada tamu di rumah. Bilang sama ibu aku balik dulu," jawabnya sambil berlari.


"Tamu? Tamu siapa sampai buru-buru gitu? Wah, apa jangan-jangan wanita itu datang ke rumah kakak? Haha aku harus segera ke sana biar bisa ketemu."


Zaelani mencari istrinya, dia mengajak ibu dari satu anak itu untuk pergi ke rumah Raden.


"Kamu kenapa sih, aku mau boboin bintang juga."


"Denger sayang, sepertinya wanita itu datang ke rumah kakak. Tadi kakak terlihat buru-buru banget mau pulang.".

__ADS_1


"Yaa siapa tahu tamu lain."


"Gak mungkin. Kamu tau kan, kalau ada tamu ingin bertemu sama dia, maka tamu itu yang harus menemui dia entah di mana pun dia berada, tapi sekarang?"


"Iya, sih."


"Ya kan? Makanya aku ngajak kamu ke sana biar kita bisa lihat wanita itu seperti apa. Punya kehebatan apa sampai bisa mencairkan hati kakak yang sudah membeku."


Murdini tidak menanggapi ucapan suaminya, dia kembali menyusui anaknya yang masih berumur 10 bulan.


Begitu sampai, Raden langsung menemui putrinya yang sedang berada di kamar. Dia masuk ke dalam kamar setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan oleh Akhtia.


Puput dan Akhtia sedang melakukan kreatifitas yang sering dilakukan Akhtia, yaitu membuat gelang, kalung, membuat tas dan lainnya.


"Sudah pada makan belum?"


"Udah, Om."


"Udah, Pah. Ini, put. Kamu kasih ini gelangnya biar bagus. Jangan lupa seling pake ini biar gak monoton."


"Iya, Kak."


"Akhtia, itu tas Puput ...."


"Oh, aku kasih ke dia soalnya udah gak pantes dipake aku, Pah. Itu cocok buat anak SD seperti Puput. Kamu suka kan, Put?"


"Hmm, aku suka, Kak."


"Sayang, kalau ngasih itu barang baru, jangan barang bekas. Put, nanti om belikan yang baru, ya."


"Jangan, Om. Sayang uangnya. Selama bisa dipake kenapa harus beli yang baru. Temen-temen di sekolah juga pada suka, mereka gak tau kalau ini bekas kak Akhtia."


"Soalnya aku juga baru pake lima kali aja mungkin. Terus disimpan sama, makanya masih keliatan bagus. Ya kali aku ngasih barang jelek sama kamu, Put. Gak lah!"


Mereka berdua saling melempar senyum. Melihat keakraban mereka, Raden merasa bahagia. Sejak dulu Akhtia hidup sendiri, tanpa teman yang bermain ke rumah. Alasannya karena dia tidak tahu harus ngapain di rumah bersama teman. Aneh sebenarnya, hanya saja mungkin itu alasan Akhtia karena dia susah bergaul. Namun, sekarang dia seperti melihat dirinya sendiri di dalam diri Puput. Dalam waktu singkat mereka sudah begitu dekat dan berbagai semua hal.


"Om telpon bunda kamu dulu, memastikan kalau kalian izin dulu."


"Modus," ucap Akhtia saat Raden hendak menutup pintu kamar anaknya. Raden memicingkan mata sebelah.


"Halo, Mas."


"Na, kamu tau Puput di rumah saya kan?"


"Iya, Mas. Tadi Tia ke rumah saya minta izin bawa Puput ke sana."


"Itu siapa yang nangis?" tanya Raden saat mendengar suara anak kecil menangis cukup keras.


"Apa saya menganggu?"

__ADS_1


"Enggak, Mas. Ini ... Shaki tadi minta ikut sama Tia, sampai sekarang belum berhenti nangis. Eh, Nay ikut-ikutan tantrum juga."


"Oke, tunggu sebentar ya."


"Eh, kenapa? Mas ... mas ... lah, kok mati."


Seperti gayung bersambut, ada celah sedikit langsung diambil oleh Raden. Dia bergegas ke depan menuju mobilnya.


"Eh, kak. Mau ke mana?" tanya Zaelani yang berpapasan di depan pintu utama.


"Kalian ngapain ke sini? Ya udah lah masuk sana. Aku buru-buru, dah."


"Lah, kita ke sini dia malah pergi."


"Aku masuk duluan ah, bintang tidur."


"Ya udah, ayo."


Dengan perasaan tidak karuan, juga kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan, sepanjang jalan Raden senyum-senyum sendiri. Dia merasa keberuntungan sedang berpihak padanya. Rindu pada wanita pujaan, diberi jalan melalui anak-anaknya agar bisa bertemu.


"Mas?"


"Mana anak-anak?"


"Ada di dalam."


Raden masuk ke rumah Hasna, melewati Hasna begitu saja. Di sana ada Nay yang masih terisak-isak, sementara Shaki sudah anteng main boneka.


"Hai ...."


Suara Raden membuat mereka berdua menoleh. Shaki terlihat bahagia, namun Nay menangis semakin keras.


"Uluh ... uluh ... kenapa ci ini anak om yang cantik," ucap Raden manja sambil memeluk Nay. Anak itu semakin histeris. Merasa sedang dimanja jadi semakin manja.


"Itu tuh, Bunda. Kita mau ikut kakak tapi gak boleh," ucap Shaki dengan bibir bawa maju melebihi hidungnya yang kecil. Matanya mulai berair.


"Jadi, kalian mau ikut kakak?"


Kedua anak yang berada di dalam pelukan Raden, mengangguk.


"Oke, ayo kita ke sana." Raden menggendong keduanya, dan membawanya ke dalam mobil.


"Mas. Eh, Mas. Mas, mau dibawa ke mana mereka?"


Raden tidak perduli pada Hasna, dia tetap membawa anak-anak dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Mas ... tunggu dulu."


"Saya tunggu di mobil, kamu siapkan keperluan mereka."

__ADS_1


"Tapi, Mas."


Raden menutup kaca mobil, dia juga mengunci pintu mobilnya agar Hasna tidak bisa membuka dan membawa anak-anak keluar.


__ADS_2