
"Mas ...."
"Masuk."
Hasna membuka pintu kamar Raden setelah mendapat izin dari pemiliknya. Raden tengah berdiri di depan jendela, menatap lurus jauh ke depan.
"Mas." Hasna mengusap lengan atas Raden. Pria itu melirik sekilas, lalu kembali menatap langit yang sangat cerah.
"Saya merasa kecewa pada diri sendiri. Apa yang terjadi pada Airlangga murni kesalahan saya yang tidak becus mendidik anak."
Hasna diam menatap kekasih hatinya. Dia tidak membalas ucapan Raden ataupun berusaha menghiburnya. Hasna sadar, ada kalanya orang berbicara hanya ingin didengar, bukan diberi nasihat ataupun solusi.
"Saat saya memutuskan untuk menjaga mereka berdua, meski ditentang keluarga besar, saya memang sudah bertekad menjadikan mereka anak. Memberikan apa yang mereka butuhkan. Memberikan kasih sayang seorang ayah sekaligus seorang ibu. Mungkin di luar sana orang melihat saya dengan segan, hormat, ataupun menilai saya ini berwibawa. Tidak satupun dari mereka tahu kalau saya ini pandai mengganti popok bayi. Memandikan anak, menjadi badut untuk mereka, bahkan aku merangkak seperti seekor kambing dengan mereka duduk di atas punggung saya." Raden tersenyum bangga sekaligus bahagia mengingat masa-masa di mana Airlangga dan Akhtia kecil. Dia menundukkan kepalanya serasa tersenyum.
"Saya lupa jika mereka membutuhkan seorang ibu meski kasih sayang dari saya sudah saya curahkan seluruhnya," ucapnya sambil menatap nanar pada Hasna.
Wanita itu memeluk erat tubuh Raden yang gemetar. Pria itu mulai menangisi pilu. Dia merasa sangat sedih karena kegagalannya mendidik Airlangga. Sementara Akhtia hanya bisa menangis dalam diam, mendengar pembicaraan orang tuanya lewat celah pintu yang lupa Hasna tutup rapat.
Hasna membiarkan Raden mencurahkan seluruh perasaannya yang entah sejak kapan dia pendam sendiri. Hingga isak tangis Raden mereda.
"Sorry," bisiknya lirih sambil melepaskan tubuhnya dari dekapan Hasna. Dia mengusap wajahnya yang basah oleh air mata. Raden kembali menatap keluar.
"Mas, kesalahan anak-anak tidak seutuhnya kesalahan kita. Mungkin waktu dan kondisinya saja yang tidak tepat. Atau circle Airlangga yang tidak mendukung. Jangan terlalu menyalahkan diri, Mas. Sekarang bukan waktunya mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, kita pikirkan solusi untuk masalah yang sedang anak kita hadapi."
"Hmmm." Raden hanya bergumam.
"Aku bangga sama kamu, Mas." Hasna menyandarkan kepalanya pada tangan Raden. "Aku kadang berpikir kenapa kita tidak bertemu sejak awal?"
"Manusia memang harus diberi pelajaran dulu agar bisa menyadari sesuatu. Mungkin kamu melihat betapa hebatnya saya karena kamu pernah dikecewakan oleh laki-laki lain. Andai mendiang suami kamu baik, kamu akan melihat saya biasa saja."
"Apapun itu, yang jelas aku berharap kita akan bahagia selalu ke depannya. Aku akan setia mendampingi kamu dalam keadaan apapun, kecuali kamu yang melepaskan aku untuk pergi."
"Saya tidak akan membiarkan kamu pergi meski kamu ingin."
Hasna tersenyum. Dia menggenggam erat tangan Raden. Berdua menatap indahnya langit ciptaan sang ilahi.
...***...
"Ada apa lagi?" tanya Hasna keesokan harinya saat dia kembali masuk kerja. Teman-temannya berdiri sambil terdiam menatap Hasna.
"Kalian ingin menjauhiku lagi? Tak apa, kita kerjakan pekerjaan masing-masing meski tanpa saling menyapa sedikitpun."
"Mba, kami mau minta maaf." Riya memberanikan diri memulai percakapan.
"Kalian meminta maaf karena tau aku calon istri pemilik restoran ini?"
"Calon?" tanya Wartono.
__ADS_1
"Iya, kenapa? Kalian menyesal telah meminta maaf karena ternyata aku belum menjadi istri Pak Raden?"
"Bu-bukan, Mba. Bukan begitu maksudnya."
"Dengar, saya ini baru akan menikah sepuluh hari lagi dengan Pak Raden. Saya belum resmi menjadi istrinya. Jika kalian merasa segan, maka simpan saja rasa itu sampai sepuluh hari ke depan. Sekarang bersikaplah seperti biasa saja."
"Iya, Mba. Kami minta maaf karen kemarin kami juga takut pada chef Andri."
"Andri itu sahabat Pak Raden, wajar jika dia ingin melindungi saya. Kalian berpikirlah positif."
"Iya, Mba."
"Sekarang ayo kita bekerja seperti biasanya."
Mereka pun membubarkan diri. Hasna mengambil peralatan kebersihan, diikuti Riya.
"Kamu ngapain ke sini?"
"Mba, Mba tau gak kalau Mira mengundurkan diri."
"Hah? Sejak kapan?"
"Besoknya pas setelah Chef Andri dan chef Ragil berantem itu."
"Kenapa dia mengundurkan diri? Kamu udah coba telpon?"
"Nomornya gak aktif."
"Enggak. Tapi kalau alamat rumah kayaknya ada di ruang kerja Pak Raden, kan semua data karyawan ada di sana. Coba aja Mba cek, orang lain mana bisa, ya kan?"
"Ya sudah, nanti setelah selesai bersih-bersih aku coba cari tahu. Nanti kamu temenin saya ke rumahnya ya."
"Oke, Mba."
Meski Hasna berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan, pikirannya tetap saja tertuju pada Mira. Hasna belum mendapatkan jawaban tentang siapa yang melecehkan dirinya di tempat kerja.
Jika Mira pergi, kemungkinan besar korban akan bertambah satu lagi. Ya Allah, Mira. Kamu kenapa gak mau jujur, sih. Kalau sampai orang itu melecehkan yang lain gimana?
"Mba, ngapain bengong?" tanya Udin.
"Enggak, Din. Kamu mau ke mana?"
"Ke toilet bentar."
"Oh, oke."
"Jangan dilanjut ngelamunnya, tar kerasukan jin iprit."
__ADS_1
"Ngaco aja kamu."
Udin tertawa sambil berlalu. Hasna melihat pengunjung tidak terlalu ramai, dia memutuskan untuk masuk ke ruang kerja Raden untuk mencari data karyawan di restoran.
"Aku mulai cari di mana, ya?" tanyanya saat bingung melihat ruangan Raden. Ada kemari besar, ada juga laci-laci yang cukup banyak.
"Aku mulai dari sini saja kali, ya." Hasna mulai membuka lemari besar. Di sana ada beberapa tumpukan map-map besar.
"Butuh waktu lama buat nyari satu-satu, itu juga belum tentu data karyawan. Ah, benar. Aku telpon aja orangnya terus tanya data karyawan ada di mana."
Hasna mengambil ponsel, lalu menelpon Raden.
"Halo, Mas."
"Sayang, kebetulan sekali kamu nelpon. Saya baru aja mau nelpon kamu."
"Ada apa, Mas? Kenapa khawatir gitu sih nada bicaranya?"
"Sebentar lagi saya jemput kamu, kamu ganti pakaian ya."
"Iya, tapi kenapa?"
"Wanita yang mengaku hamil oleh Airlangga datang ke rumah ibu. Kamu tebaklah sendiri apa yang terjadi."
"Ya Allah!"
"Makanya kita harus ke sana, Airlangga sudah di sana kata Akhtia, saya takut dia kenapa-kenapa."
"I-iya, Mas. Aku ganti baju sekarang juga."
Hasna menutup pembicaraan mereka. Dia bergegas pergi keluar ruangan Raden, berganti pakaian lalu segera berlari ke depan.
"Mba Hasna kenapa buru-buru gitu?" tanya Riya.
"Entahlah, mungkin sesuatu terjadi." Iwan menjawab.
"Namanya juga nyonya, bebaslah dia mau ngapain juga," ucap Ohim sinis.
"Eh, Pak. Bukan masalah dia nyonya atau bukan, tapi dia itu pergi buru-buru, gak mungkin kalau gak ada apa-apa, kan?"
"Riya, kalaupun dia kenapa-kenapa tenang aja kan dia istri bos, tetep aja hidup kamu itu lebih nelangsa meski kamu gak kenapa-kenapa."
"Ih, orang mah gak ada simpatinya sama sekali ya."
"Kenapa, Riya? Kamu mau menjilat Hasna karena dia calon pemilik rumah makan ini?"
"Eh, Pak. Jangan sekata-kata ya kalau ngomong. Mau saya blender itu mulut!"
__ADS_1
"Ha ha ha. Sekarang udah berani ya sama saya mentang-mentang Deket sama ibu bos."
Riya berontak saat Iwan dan Udin mencekal tubuhnya. Dia berteriak sambil memaki Ohim. Ingin rasanya Riya menghajar pria ceking yang sedikit gemulai itu.