Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Rujuk


__ADS_3

Rasa sakit yang diberikan Raden, membuat Hasna mengembalikan semua yang diberikan oleh pria itu. Kendaraan, rumah, gelang dan juga cincin. Dia memasukkan kunci dan sertifikat pada kotak lalu dia kirim ke rumah Raden melalui kurir.


Melihat isi kotak itu, Raden segera pergi menuju rumah Hasna. Sudah kosong. Dia mencoba menelpon, tidak aktif.


Raden berusaha mencari Hasna ke sekolah Nay dan Shaki, namun begitu mengejutkan ternyata mereka mengajukan cuti sekolah selama satu bulan.


Pria itu terlihat putus asa hingga dia teringat pada Puput. Dia menelpon pihak pesantren dan menanyakan keberadaan Puput, dia khawatir anak itupun tidak ada di pondok.


"Ada sedang belajar di kelas, Pak."


Jawaban yang membuat Raden merasa lega, setidaknya jejak Hasna tidak hilang seluruhnya.


Raden kembali mengendarai mobil menuju rumah orang tua Hasna. Orang tua Hasna merasa heran dia datang tanpa anaknya. Melihat keadaan Muhidin dan Nurul, Raden tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya. Dia datang dengan pura-pura habis ada keperluan.


"Gimana bengkelnya? Ramai gak?" tanya Raden pada Inggit.


"Lumayan, Pak. Ya yang datang juga paling cuma memperbaiki hal-hal kecil. Soalnya ini bengkel kecil, belum begitu lengkap."


Raden manggut-manggut.


"Kamu butuh modal berapa? Nanti saya berikan."


"Tidak usah, Pak."


"Jangka sungkan begitu. Anggap saja saya investasi, gimana? Nanti kita bisa bagi hasil di akhir tahun."


Inggit terlihat berpikir.


"Oke, kamu punya nomor rekening? Beritahu saya. Tapi kamu jangan bilang hal ini pada Hasna. Dia pasti akan menolak, menakutkannya jika dia marah pada saya."


"Baik, Pak."


Raden menepuk pundak Inggit sebelum dia kembali ke kotanya.


"Jika Hasna tidak di sana? Lalu di mana dia sekarang? Apa mungkin dia tinggal di rumah Mahendra?"


Meski kecurigaan Raden begitu besar, dia tidak mungkin mendatangi rumah Mahendra. Tidak ada alasan kuat untuk dia bertanya pada keluarga rekan bisnisnya itu, ditambah lagi bagi mereka Hasna adalah calon menantunya.

__ADS_1


Raden terus mencoba menghubungi ponsel Hasna meski dia tau nomor yang dia tuju di luar jangkauan.


"Kamu di mana, Sayang?"


Ponsel Raden berbunyi. Dia segera mengangkatnya berharap itu adalah Hasna.


"Oh, kamu. Ada apa, Airlangga?"


"Mama di rumah sakit. Papa segera ke sini."


"Ya. Papa ke sana."


Raden melempar ponselnya dengan keras hingga layarnya retak. Dia begitu kesal pada Azalea yang menyebabkan Hasna marah karena salah faham. Raden masih menyalahkan orang lain atas kemarahan yang dia lupakan tanpa terkendali.


Sesampainya di rumah sakit, Raden melihat ada kedua anaknya, juga paman dan bibinya.


"Pah ...." suara Azalea parau. Wajahnya begitu pucat, tubuhnya semakin kurus.


Raden mendengkus sebelum dia mendekat dengan sangat terpaksa. Azalea menggenggam tangan Raden begitu erat dengan sisa tenaga yang dia miliki.


"Aku punya satu keinginan."


"Apa?"


"Tidak mungkin. Kamu tau sendiri hatiku sudah menjadi milik orang lain."


"Aku tidak memintamu untuk mencintaiku. Aku tidak memaksa kamu untuk menggantikan dia di hati kamu, Pah. Aku hanya ingin kita menikah meski tanpa landasan cinta."


"Tapi aku--"


"Bibi dan paman akan mengakui Airlangga dan Akhtia jika kalian rujuk?"


"Apa?" Raden terkejut dengan pernyataan bibinya.


"Ya. Banyak kesalahan yang bibi lakukan pada Azalea. Jika kebencian dia dibawa sampai mati, bibi tidak akan tenang. Jadi, bibi akan menebusnya dengan membantu dia menikah kembali sama kamu."


"Pah, aku mohon. Aku sudah bisa dianggap anak haram oleh keluarga. Aku ingin paman dan bibi, juga yang lainnya mengakui bahwa aku memang anak papa dan mama."

__ADS_1


Hati orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya memohon atas pengakuan statusnya di dalam keluarga. Selama ini Airlangga hidup dalam pandangan sebelah mata dari keluarganya sendiri karena dianggap bukan keturunan darah mereka. Dicap sebagai anak hasil dari perselingkuhan sungguh sangat menyakitkan.


Raden menatap Akhtia, anak itu terlihat berbeda dengan Airlangga. Masih ada kebencian dan amarah dalam wajahnya. Sepertinya dia lebih memilih tidak diakui daripada harus melihat Raden dan Azalea menikah kembali.


Di satu sisi, Raden tidak ingin kembali pada Azalea karena dia mencintai wanita lain, juga karena putrinya pun sampai detik ini tidak ingin Azalea kembali. Namun, melihat Airlangga berlutut dengan deraian air mata, hatinya pun merasa sakit.


"Baiklah. Kita rujuk."


Azalea, bibi dan paman tersenyum. Sementara Akhtia langsung pergi keluar ruangan.


Airlangga menangis. Menangis karena dia bahagia, tapi juga karena luka yang harus dia torehkan di hati adiknya. Bukankah harus ada yang dikorbankan untuk mendapatkan sesuatu? Adakalanya kita harus memilih satu diantara dua keinginan. Tidak semua yang diharapkan seusai dengan kenyataan. Di sinilah kita harus belajar ikhlas dan tidak serakah.


"Kalian pulang saja, mama ingin menyendiri. Lagi pula ada suster yang menjaga mama setiap saat."


"Bibi juga ada sedikit pekerjaan tambahan di rumah sakit. Bisa sekalian menjaga Azalea. Kalian pergilah, urus segala persiapan pernikahannya, ya."


Raden langsung pergi tanpa mengatakan apapun juga. Berusaha mencari ke mana perginya putri bungsunya.


Akhtia sedang berdiri di samping mobil Raden. Dia menunggu untuk bisa pulang bersama.


"Sayang ...."


"Pah, aku lapar. Bisakah kita makan sesuatu?"


Kebiasaan anaknya adalah makan saat dia bersedih. Dia akan memakan apa saja yang ada di hadapannya.


Mereka pergi ke sebuah tempat pusat jajanan serba ada. Berbagai macam jajanan ada di sana.


Di meja sudah tersedia telur gulung, cireng kuah, tomyam, martabak telor dan beberapa jenis minuman.


"Sayang, makan perlahan."


Akhtia mengabaikan ucapan Raden. Dia makan dengan pikiran yang kalut. Kesedihan, amarah, luka, dan juga penyesalan membuatnya merasa sangat pusing. Ingin berteriak di tempat yang sepi hingga suaranya habis.


Akhtia. Dia merindukan Puput untuk dia ajak berbicara. Namun, dia tidak punya keberanian untuk menghubungi anak itu setelah apa yang dialami oleh Hasna atas perbuatan Raden.


Ditambah sekarang mama dan papanya akan rujuk. Harapan untuk bisa menjadikan Hasna dan anaknya keluarga, sangat kecil dan bahkan mustahil.

__ADS_1


Mengingat keinginannya tidak bisa tercapai, Akhtia menangis dalam diam dengan mulut penuh makanan.


Tidak ada yang bisa Airlangga lakukan selain menatap putrinya penuh penyesalan.


__ADS_2