
Sudah beberapa hari ini Hasna merasa hampa. Dia kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi sumber penyemangatnya menjalani hari.
Sejak kejadian pagi itu, Hasna tidak pernah mendapatkan kabar lagi dari Raden. Jangankan telpon menanyakan kabar, dan basa-basi hanya demi ingin mendengar suara pujaan hati, memberi pesan atau sekedar menyapa pun tidak.
Kecewa, itu yang dirasakan Hasna. Meski begitu dia sadar jika ada hal yang lebih penting dari sekedar urusan hati, anak-anak.
Siang hari terasa begitu terik, meski di dalam mobil rasa panas itu tetap ada. Dan malamnya akan turun hujan begitu derasnya.
Pergantian musim terkadang diawali dengan tidak menentunya cuaca. Pun dengan kehidupan manusia. Butuh waktu naik turun untuk mendapatkan sesuatu. Kebahagiaan dan kepedihan datang silih berganti hingga akhirnya takdir Allah lah yang akan membawa kita ke titik mana. Bahagiakan? Atau sedihkah?
Membuat kue adalah aktifitas yang bisa membuat Hasna melupakan sejenak kekosongan hatinya.
Berkat bantuan Zahira, dan juga Airlangga yang mempromosikan dagangannya, kini kesibukan Hasna bertambah. Bahkan, terkadang Hasna meminta bantuan tetangga untuk membantunya jika pesanan terlalu banyak.
Hingga malam hari tiba, semua perasaan kembali datang. Hal yang membuat Hasna merasa benar-benar sendiri kini.
Gengsi, mungkin itu yang Hasna rasakan saat ingin mengawali sapaan pada Raden. Berkomunikasi dengan Akhtia pun dia tidak pernah membahas papahnya.
"Bahkan kini Akhtia pun sedikit berbeda" keluh Hasna karena Akhtia terkadang tidak membalas pesan darinya.
"Bun, besok aku ada acar field trip. Kami mau membuat pizza."
"Masa? Asik, nih, Nay mau bikin pizza. Nanti bunda mau ya makan pizza buatan Nay."
"Pizza aku pasti enak, aku mau bikin yang bagus buat bunda."
"Okeee, bunda jadi gak sabar deh."
"Sabar dong, Bun. Kan besok."
"Iya, iya." Hasna memeluk erat tubuh putri bungsunya. Sementara Shaki sudah terlelap sejak tadi. Semenjak masuk SD, Shaki selalu tidur lebih awal, mungkin karena lelah terlalu banyak aktifitas.
Pagi hari kesibukan dimulai, Shaki yang selalu minta berangkat lebih cepat, sementara Nay yang sudah dibangunkan. Hasna selalu merasa migrain saat pagi tiba.
Namun, itulah yang sedang dia menikmati saat ini. Sadar jika dia hanya akan melewati masa-masa ini sebentar saja. Puput contohnya. Jika sudah cukup besar, mereka akan pergi satu persatu. Hasna hanya akan tinggal sendiri di rumahnya.
Memikirkan hal itu, dia kembali teringat pada Raden.
Jika saja aku memiliki pendamping, mungkin aku akan menghabiskan waktu bersamanya saat anak-anak mulai tumbuh besar dan perlahan pergi.
"Ayo, kita sudah siap."
"Aku telat tau. Kamu, sih, susah banget bangunnya." Shaki menggerutu pada Nay.
"Soalnya akunya masih ngantuk."
"Ya jangan sekolah kalian gitu." Shaki nge-gas.
"Sssttt, jangan berantem terus. Nanti kita benar-benar akan terlambat kalau kalian terus saja debat."
Shaki masuk ke mobil dengan wajah kesalnya, sementara Nay bersikap seolah tidak punya salah.
__ADS_1
Hasna tertawa.
"Eh, mamah Nay. Apa kabar? Lama gak ketemu."
"Baik, Mah. Mamah Sabil gimana?"
"Saya juga baik. Oh, iya, mamah Nay mau ikut gak nengokin Zaidan? Katanya masih dirawat di rumah sakit."
"Oh, belum pulang? Saya kira udah. Terus, dia gak sempet ketemu sama ibunya dulu dong ya? Duh, kasian banget. Udah mah habis operasi, pulang ke rumah ibunya udah gak ada."
"Iya, ya, Mah. Namanya umur gak ada yang tau. Mereka kecelakaan sampai kehilangan ibunya. Duh, sedih saya kalau inget mereka."
"Iya, Mah. Oh, iya, Mama Sabil ikut bis anak-anak apa bawa mobil sendiri?"
"Eh, kan gak boleh naik bis. Katanya biar anak-anaknya mandiri. Saya bawa mobil sendiri. Sama rombongan ibu-ibu yang lain juga. Mamah Nay?"
"Saya ikut di belakang bis, Mas. Nyetir sendiri."
"Oh, oke deh. Berarti mamah Nay ikut ya?"
"Ikut mah, nanti saya beli buah dulu deh sekalian."
"Gak usah mah, kita udah beli kok. Sayang kalau banyak-banyak takut gak kemakan."
"Iya atuh kalau gitu. Itu bis nya mau berangkat, hayu ah."
Bis berangkat disusul beberapa mobil orang tua yang ikut mendampingi putra putri mereka.
Ponsel Hasna berbunyi, sebuah notifikasi dari grup sekolah Nay. Ada sebuah pengumuman jika orang tua tidak boleh ikut ke tempat acara anak. Jadi, mereka memutuskan untuk menjenguk Zidan.
Hasna sampai di parkiran. Dia keluar dari mobil untuk mencari yang lainnya.
"mam, kami mengalami ban bocor. Udah nyampe rumah sakit belum?"
Mamah Sabil mengirim chat.
"Sudah, mam."
"Duluan aja mam. Zaidan ada di bangsal anak-anak. Kamarnya no 4a."
"Oke, mam. Apa saya gak nunggu aja ya biar kita barengan aja."
"Pegel gak mam nungguinnya?"
"Nggak, mam. Saya tunggu aja di kantin."
"Oke."
Hasna menghela nafas. Lalu dia berjalan menuju kantin. Setelah cukup lama menunggu, Hasna mendapatkan chat jika ibu-ibu yang lain sudah tiba. Hasna segera bergabung.
Saat sedang dalam perjalanan langkah Hasna sedikit pelan saat melihat seseorang. Ya, Raden sedang berjalan bersama Azalea.
__ADS_1
"Mam, ada apa?"
"Ah, bukan apa-apa, Mam."
Hasna mencoba berpikir positif. Lagi pula mereka hanya sekedar berjalan. Siapa tau hanya teman kerja atau teman biasa, pikirnya.
Namun, Hasna teringat sesuatu. Dia merasa pernah melihat wanita itu tapi entah di mana.
Saat masuk ke kamar tempat Zaidan di rawat, Hasna bertemu dengan dokter Sinta yang kebetulan sedang memeriksa Zaidan.
"Na ...."
"Dokter, hai apa kabar?"
"Saya baik, kamu gimana?"
"Baik."
Dokter Sinta menatap Hasna dengan tatapan sendu.
"Ada apa?"
"Saya tuh salut sama kamu, Na. Kamu tuh sabar banget, kuat, tangguh lagi."
"Aaah, dokter bisa aja."
"Na, kita ngobrol yuk."
"Boleh, tapi sebentar ya saya masuk dulu buat nyapa."
"iya, tentu. Silakan."
Setelah selesai menyapa, Hasna segera keluar untuk menemui Sinta. Namun, alangkah terkejutnya Hasna saat di luar sana sudah ada Raden dan wanita yang dia lihat tadi.
Sinta menggaruk keningnya.
"Eemmm, aku sama Hasna mau ngopi di kantin atas. Kamu kalau ada perlu, bisa nanti lagi ya."
"Loh, kok gitu. Saya kan mau ada perlu, iya kan, Pah?"
Pah? Hasna terkejut.
Raden tidak pernah lepas menatap Hasna sejak mereka bertemu. Mengabaikan Azalea yang memanggil dirinya.
Apa dia ... ya benar, dia mantan istrinya Mas Raden. Airlangga pernah menunjukkan fotonya waktu itu . Apa mereka rujuk lagi? Pantas saja aku tidak pernah mendapatkan kabar darinya.
"Dok, silakan saja kalau memang ada perlu. Saya juga harus menyusul Nay yang sedang field trip. Lain kali saja kita ngopinya."
"Na, Hasna."
Hasna mengabaikan panggilan Sinta. Dia terus berjalan secepat mungkin demi menghindari Raden. Nyatanya, langkah wanita lebih kecil dan kalau cepat dari langkah laki-laki.
__ADS_1
"Ikut saya."
Raden menarik tangan Hasna. Berbelok menuju ruangannya.