Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Tawaran aneh


__ADS_3

"Lepas!" Hasna menarik tangannya dari cekalan Raden.


"Ikut!"


"Enggak!" Hasna kembali menghindar.


"Kamu kenapa, sih, Na?"


"Mas yang kenapa. Saya mau pergi kenapa malah ditarik?"


"Kamu harus mendengar penjelasan dari saya. Semua yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan, oke."


"Memangnya apa yang saya pikirkan?"


"Hasna."


"Mas, kamu salah faham. Saya tidak memikirkan apapun tentang siapapun. Mas jangan berpikir saya marah karena mas bersama wanita itu, sama sekali enggak, Mas. Mas mau jalan dengan siapa pun itu hak mas, kita gak ada ikatan apa-apa yang membuat kita harus memberikan batasan satu sama lain."


"Begitu?"


"Iya."


Hasna berusaha kuat menekan perasaan yang sebenarnya hampir meledak.


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih untuk semuanya."


Raden meninggalkan Hasna begitu saja. Dia kembali pada Azalea. Dengan sangat sengaja Raden merangkul Azalea saat berjalan melewati Hasna.


Di dalam mobil, Hasna mencoba berkonsentrasi meski pikirannya tidak bisa fokus.


Dukkkk!


"Astaghfirullah, ya Allah."


Mobil yang Hasna tabrak di depan, menepi. Hasna mengikuti.


"Aduh, maaf, Pak. Saya gak sengaja."


Hasna meminta maaf sambil melihat kerusakan yang disebabkan oleh dirinya.


"Jalanan ini tuh gak macet loh, ya. Bisa-bisanya Mba nyetir asal seruduk aja, itu rem fungsinya apa coba? Pajangan?"


"Maaf, Pak. Tadi saya gak konsentrasi. Saya akan menanggung biaya perbaikannya, Pak."


"Yakin? Mba gak tau ini mobil mahal? Kerusakan yang kamu sebabkan harganya sebanding dengan harga mobil Mba, tau!"


"Iya, Pak. Maaf."


"Pak, Pak, Mba pikir saya udah tua apa. Jangan panggil saya, Pak."


"i-iya, Mas. Saya minta maaf."


"Mas, mas, kamu pikir saya tukang emas."


"Em, iya, Bang. Saya minta maaf."


"Bang? Dengan pakaian dan penampilan saya seperti ini, kamu pikir saya tukang parkir dipanggil Abang."


Astaghfirullah, kenapa ada laki-laki cerewet seperti ini ya Allah.


"Terus kamu maunya apa? Saya panggil, Nak? Otong? Sayang? Kacung? Aa? Akang, atau apa, Huh! Lagi pula ribet banget jadi cowok. Kalau mau minta ganti rugi, bilang aja berapa, gak usah ngomong ngalor ngidul gak jelas! Lagian mobil semahal ini masa gak punya asuransi? Mobil elit asuransi sulit!"


"Eh, kok malah galakan Mba nya ya."


"Iya, saya galak. kenapa memangnya? Minta ganti rugi aja ribet banget!" Hasna yang memang sedang kesal, meluapkan emosinya pada orang itu. Dia tidak malu berteriak meski dilihat banyak orang.

__ADS_1


"Ayo, jadi berapa ganti ruginya? Katakan! Oh, benar. Kamu bilang biaya perbaikannya seharga mobil saya kan?"


Orang itu hanya diam dalam ketakutan melihat Hasna marah. Hasna kembali ke mobilnya, mematikan mesin dan mengambil tas nya.


"ini. Kamu bawa saja sekalian mobilnya. Kamu jual dan pakai uangnya untuk ganti rugi." Hasna memberikan kunci mobilnya pada pria itu. Lalu pergi begitu saja.


"Mba, woiii! Mba tunggu." Pria itu mengejar.


"Apa lagi? Kurang? mau ngambil apa lagi dari saya? Ponsel?" Hasna merogoh tas nya.


"Bukan, bukan. Ini saya balikin kunci mobilnya, lagi pula gimana saya bawa dua mobil, Mba ..."


"Gendong sana!"


"Haaah?"


Hasna mengambil kembali kunci mobilnya. Dia kembali mengendarai mobilnya menuju tempat di mana Nay sedang melakukan field trip, pria itu mengikuti dari belakang.


Hasna menjemput putrinya, dan masih diikuti pria tadi.


Begitu sampai di parkiran, Nay terkejut melihat mobilnya yang penyok.


"Ini kenapa, Bun? Bunda nabrak?"


Hasna melirik pria yang selalu setia mengikutinyas sejak tadi.


"Hmmm, bunda nabrak mobil Om ini."


"Nanti bunda gantiin dong?"


Hasna mengangguk.


"Om ..." Nay mendekati pria itu.


"Eh, Nay. Kamu ngapain? Jangan gitu ah, malu. Bunda yang salah soalnya nabrak mobil Om ini sampai rusak. Meski kita tidak memiliki uang yang banyak, tapi bukan berarti kita mengemis maaf untuk lepas dari tanggung jawab. Gak boleh, ya, Nak. Kalau kamu salah, kamu harus memperbaikinya."


Nay terlihat sedih.


Pria itu menatap Hasna dengan perasaan takjub dan bangga.


Sesampainya di bengkel resmi, Hasna menanyakan estimasi biaya pada mekanik yang sedang memperbaikinya.


"Mahal, Bu. Tapi mobil ini diasuransikan, jadi gak perlu bayar."


"Tapi bagaimana pun juga saya sudah merusak mobil orang ini, jadi saya harus tanggung jawab."


"Tanggung jawab tapi gak perlu berbentuk uang. Mba bisa melakukan hal lain sebagai permintaan maaf."



"Kenapa kita ke sini?" tanya Hasna.


"Mba, saya ada penawaran baik untuk solusi masalah kita. Saya ingin mengajak Mba kerjasama biar saya enak, Mba juga enak jadi kita sama-sama enak."


"Maksudnya?" tanya Hasna meloto.


"Eh, jangan salah faham dulu, Mba. Emang Mba pikir yang enak itu cuma itu doang."


"Itu yang mana? Apa yang enak itu tuh?"


"Ya, enggak. Maksudnya gini loh ... duh, dengerin dulu napa. Tunggu dulu saya menjelaskan baru nanti Mba bisa bertanya atau protes. Belum juga apa-apa udah over thinking aja."


"Ya udah cepet jelasin."


"Dari tadi juga mau jelasin, mba nya aja berisik."

__ADS_1


"Ya udah buruan."


"Ya tunggu dulu sebentar."


"Oke, sok cerita, kita mau kerjasama apaan?"


"Begini ... saya ini punya masalah besar, Mba."


"Duh, ya. Kamu itu punya mobil bagus, jika dilihat dari penampilannya pun kamu itu pasti bukan orang miskin seperti saya. Masalah kamu pasti lebih kecil dari masalah saya. Jadi ...."


"Stop! Denger dulu, baru komentar. Oke?" Dia menahan kekesalannya.


"Ya udah."


"Jadi, saya ini punya masalah besar. Eh, enggak. Saya punya sesuatu yang membuat saya bingung haru bagaimana. Entah kenapa tapi ide ini muncul pas saya melihat anak Mba tadi. Jadi, saya akan menawarkan kerjasama sama mba. Mba gak usah ganti rugi sama saya, malah kalau perlu saya akan bayar Mba sebagai rasa terimakasih saya kalau mba mau bantu."


"Bantu apa?"


"Jadi pacar kontrak saya."


Uhuk! Uhuk!


"Mba, minum Mba." dia memberikan cake pada Hasna.


"Ini kue, Otong."


"Eh, iya. Yang ini maksudnya." Dia memberikan es kopi. Hasna menyeruputnya.


"pacar kontrak? Kamu pikir kita sedang ada di dunia novel gitu? Nikah kontrak, pacar kontrak,terus akhirnya jatuh cinta beneran. Aduh, gak mau."


"Ih, saya juga gak mau endingnya beneran pacaran sama Mba."


"Kenapa harus pacaran sama saya? Itu ... maksudnya kenapa harus saya yang kamu kontrak? Kenapa gak nyari temen kamu yang sepadan. Loh, aku ini lebih tua dari kamu. Anakku aja tiga."


"Orang tua saya keukeuh mau menjodohkan saya dengan anak temennya. Saya gak suka mba. Tapi orang tua saya bilang, perjodohan itu gak akan dipaksa jika saya bawa pacar saya ke rumah, tidak peduli gadis atau janda. Punya anak atau enggak."


"Memangnya kamu gak punya pacar? kenapa gak kenalin pacar kamu aja?"


"Pacar saya gak mau, Mba. Katanya dia takut. Takut gak direstui. Intinya dia belum siap. Nanti kalau dia udah siap, saya akan pura-pura putus dan ngajak di ke rumah. Gimana?"


"Kok aku ngerasa aneh, ya. Ya gimana ya."


"Saya bayar Mba. Setiap bulannya saya bayar 10 juta, mau?"


"Maksudnya setiap bulan? Memangnya kita butuh waktu berapa bulan untuk kontrak ini?"


"Satu tahun. Kalau perlu saya akan kasih uang dimuka, gimana? Kan lumayan buat modal usaha atau buat apa gitu."


Hasna berpikir sejenak. Dia ragu harus menerima atau tidak tawaran gila pria yang ada di hadapannya. Pria yang bahkan dia tidak tahu siapa namanya.


Terlintas nominal tabungan di rekening pendidikan Puput yang sudah hampir habis, membuat Hasna membulatkan tekad dan ....


"Oke. saya terima. Saya mau jika dibayar di muka."


"Yes! eh, iya. Nama Mba siapa? Masa kita pacaran tapi gak tau nama pacar kita sendiri, kan lucu."


"Saya Hasna. Ini anak saya Nay, anak Nomo dua saya Shaki, dan si sulung namanya Puput."


"Saya Dewandaru. Panggil saja saya Dewa."


"Oke, dewa. Berarti mulai saat ini kita jadian, ya."


Mereka tertawa.


"Senang bekerjasama dengan Mba Hasna," ucap Dewa sambil berjabat tangan sebelum mereka berpisah.

__ADS_1


__ADS_2