Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Kecurigaan


__ADS_3

"Kamu udah sehat, Mir?" tanya Iwan.


Mira tersenyum. "Mas, maaf ya waktu itu aku marah-marah gak jelas sama kamu."


"Gak apa-apa, kamu pasti lagi datang bukan ya waktu itu. Istriku juga suka gitu di rumah, dia marah gak jelas sama perutnya sakit."


Mira tersenyum.


"Hai, Mir. Udah baikan?" tanya Hasna yang kebetulan satu shift dengan Mira, sementara Iwan shif pagi. Dia bersiap-siap untuk pulang setelah mencuci piring terkahir.


"Baik, Mba. Makasih ya waktu itu mau anterin aku ke rumah sakit. Mba, Pak Raden gak dikasih tau kan kenapa aku sakit?"


"Ya enggak lah."


"Makasih loh, Mba."


"Sama-sama."


"Piring datang, ayo ayo berhenti ngerumpinya." Asri datang membawa troli berisi alat makan kotor.


"Siap, laksanakan!" ucap Hasna. Mereka tertawa.


"Mira, kamu ambil tomat di gudang. Tomat untuk jus, bukan untuk orang dapur."


Mira ketakutan saat Ohim meminta dia kembali ke gudang.


"Biar saya saja, Pak." Hasna segera pergi tanpa menunggu persetujuan Ohim.


Gudang ada di tempat paling belakang dari rumah makan ini. Melalui mushola, dan toilet. Lalu ada ruangan untuk karyawan yang kelelahan. Setelah itu masih harus melalui taman kecil dengan air mancur di tengahnya. Baru sampai lah ke gudang. Tempat itu sangat lah sepi.


Hasna membuka pintu gudang yang besar dan berat itu karena terbuat dari besi yang cukup tebal. Ruangan pertama dipenuhi oleh makanan dan bumbu kemasan. Lorong berikutnya adalah tempat sayuran yang disimpan di kulkas khusus sayur. Hasna mengambil tomat besar untuk dibuat jus.


Krakkk.


Hasna dibuat terkejut oleh suara yang ada belakangnya. Dia segera menoleh, dan ternyata ....


"Pak? Ngapain di sini?"


"Tadi aku gak sengaja dengar kamu mau ke sini, ya udah aku sembunyi sebelum kamu datang."


"Jantung aku hampir copot, tau!"


Raden tertawa. Dia menghampiri Hasna, memeluk tubuh Hasna penuh kerinduan.


"Jangan begini, ih. Kalau ada orang liat, gimana? Lagian kenapa main peluk aja sih. Gak sopan tau."


Raden segera melepas pelukan Hasna saat mendengar seseorang membuka pintu gudang. Raden berlari ke lorong sebelah, dan bersembunyi.


"Kamu kenapa lama banget, sih?" tanya Ohim dengan nada yang tinggi.


Kurang ajar, kenapa dia membentak Hasna?

__ADS_1


Raden mengawasi di balik celah barang-barang.


"Maaf, Pak. Saya agak kesulitan membawa keranjang tomat ini, berat."


Ohim menghampiri. Dia menatap Hasna, memperhatikan lekuk wajah Hasan, leher hingga tubuh Hasna.


Apa yang sedang dia lakukan pada kekasihku?


Raden masih diam memperhatikan.


"Bawanya sedikit-sedikit, dong." Suara Ohim berubah lembut. Matanya menatap Hasna dengan tatapan genit.


"Iya, Pak." Hasna segera menumpahkan sebagian tomat kembali ke keranjang besar. Melihat sikap Ohim, Hasna menjadi tidak nyaman. Terlebih dia tau Raden sedang memperhatikan mereka, Hasna tidak ingin Raden cemburu dan tiba-tiba menampakkan diri.


"Saya permisi, Pak."


"Eeeeh, mau ke mana? Sini saya bantu bawa." Ohim menarik tangan Hasna.


Karena terkejut, Hasan menjatuhkan tomat yang sedang dia bawa. Hasna melihat Raden berdiri, Hasna segera memberi isyarat agar Raden tidak menghampirinya.


"Oh, bapak mau bantu bawa? Ya udah, terimakasih banyak ya. Saya permisi duluan." Hasna meninggalkan Ohim di gudang dengan tomat yang berhamburan di lantai.


"Heh, Hasna."


Hasna tidak peduli. Dia terus berjalan menjauhi gudang.


"Sialan!" Ohim menggerutu.


Raden masih berusaha tetap diam dengan segala kemarahannya.


"Kenapa, Mba?" tanya Mira yang melihat Hasna ketakutan dan juga marah.


"Bukan apa-apa, Mir."


"Ada siapa di gudang?" tanya Mira. Pertanyaan Mira membuat Hasna heran dan curiga.


"Mira, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi waktu itu? Aku berjanji tidak akan membicarakannya pada siapapun. Ayo, katakan."


"Siapa yang Mba temui di gudang?"


"Mira."


"Jangan pernah ke sana sendirian, Mba. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita di tempat yang sepi itu."


"Mira? Mira, aku tahu ada sesuatu yang terjadi dan aku tahu apa yang menimpa kamu. Itu hanya berdasarkan kecurigaan aku saja, tapi siapa? Siapa yang kamu temui di gudang waktu itu?"


"Mba bertemu siapa tadi?"


"Pak Ohim."


"Oh, syukurlah."

__ADS_1


Hasna semakin heran mendengar ucapan Mirra.


"Kok syukur? Mir, tadi dia liatin aku genit gitu, dia juga megang tangan aku."


"Mba tenang saja, dia gak akan ngapa-ngapain kok. Dia cuma iseng aja nakutin Mba."


"Iseng? Aku takut banget loh, Mir."


"Tapi dia tidak akan melecehkan Mba kok."


"Oh, jadi kecurigaan aku benar. Kamu dilecehkan kan waktu itu? Jika kamu begitu yakin Pak Ohim tidak akan melakukan hal serupa itu, lalu siapa?"


"Mba tadi bertemu siapa di gudang?"


"Aku? Aku tadi ...."


"Siapa?" tanya Mira penasaran karena Hasna menghentikan ucapannya.


Tidak mungkin kalau itu Raden bukan? Aku tadi bertemu Raden sebelum Pak Ohim datang. Bahkan Raden sudah menunggu di sana sebelum aku datang. Tidak, ini pasti salah.


"Mba?"


"Eh, iya."


"Itu yang di belakang, bisa bantu ke depan beresin meja?" tanya Ohim. "Malah ngerumpi!"


Hasna dan Mira segera pergi ke depan untuk merapikan meja bekas makan pelanggan. Pikiran Hasna tidak fokus. Dia terus berdiskusi sendiri tentang apa yang membuat dia curiga pada Raden.


Tidak mungkin itu Raden. Mana mungkin, kan? Apa yang membuat dia harus melakukan itu pada karyawannya? Apa dia kesepian karena lama menduda? Tapi, kenapa?


Hasna mencoba kembali konsentrasi, mengelap meja dan merapikan alat makan di troli.


Mas, itu tidak mungkin kamu kan? Kamu tidak sebejad itu kan, Mas? Tidak, aku tidak percaya kalau itu kamu. Buat apa kamu berbuat mesum pada wanita?


Tangan Hasna bergetar. Matanya memanas hingga menimbulkan air mata yang tergenang. Sekuat mungkin air mata itu tidak jatuh, Namum apalah daya. Akhirnya tangisan Hasna tidak bisa dibendung lagi.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" seseorang datang menghampiri.


"Chef Ragil?"


Kepala chef di tempat Hasna bekerja, menghampiri.


"Gak apa-apa, chef. Saya cuma sedikit sedih memikirkan sesuatu."


Ragil memberikan sapu tangan miliknya pada Hasna untuk digunakan sebagai lap air mata.


"Sedihnya sebentar saja. Kita harus profesional di tempat kerja. Menangis secukupnya setelah itu kembali bekerja, oke."


"Iya, Chef. Terimakasih."


Ragil menepuk pundak Hasna sebelum dia pergi.

__ADS_1


__ADS_2