Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Raja tapi Namrud


__ADS_3

Hai, hai.


Ada yang kangen gak sama Hasna dan Raden?


Maaf ya aku baru bisa up sekarang, soalnya aku baru fit setelah kemarin sakit dan dirawat di rumah sakit.


Semoga kalian masih setia pada ceritaku ini 🥺


Terimakasih pada kalian yang selalu memberikan jempol dan dukungannya, terimakasih karena sudah aktif berkomentar. Semoga selalu diberikan kesehatan dan selalu bahagia yaaa kalian semua.


Happy reading guys


...🌺🌺🌺...


"Papa masih tidak bisa menghubungi Hasna, coba kamu minta nomor ponselnya sama Dewa," pinta Raden pada Akhtia.


"Ya udah aku coba tanyain sama dia."


Akhtia mencoba menghubungi Dewa, namun tidak mendapatkan respon apa-apa. Sekali, dua kali, hingga tiga kali, tapi tetap tidak mendapatkan jawaban.


"Nggak diangkat, Pah."


"Mungkin dia belum bangun."


"Ah, masa. Udah siang kayak gini belum bangun."


"Namanya juga tuan muda," ucap Raden sedikit meledek. Akhtia memutar bola matanya.


Tidak lama kemudian ponsel Akhtia berbunyi.


"Ini, dia telpon balik. Halo, Kak."


"Halo. Ngapain kamu tadi telepon? sorry aku lagi mandi."


"Ya maaf kalau ganggu. Aku mau tanya itu dong, nomor telepon tante Hasna soalnya nomor yang dulu nggak aktif."


"Nggak bisa."


"Ih kenapa? dia 'kan udah bukan tunangan kamu lagi."


"Iya tahu ... tapi Mbak Hasna sendiri nggak ngasih izin aku buat ngasih nomor dia ke orang lain, termasuk sama papa kamu."


"Kok gitu?"


"Ya mana aku tahu. Aku cuma menuruti apa yang dia katakan, alasannya sih aku nggak ngerti. Ada apaan emangnya? kalau ada yang mau diomongin entar biar aku yang ngasih tau ke dia deh."


"Oh gitu. Ya udah bilang sama tante Hasna, Papa nyariin."


"Ya ntar aku sampein. Udah ya aku mau pakai baju dulu, bye."

__ADS_1


Pembicaraan pun terputus.


"Tante Hasna nya nggak boleh Papa tahu nomor dia."


Raden hanya bisa menghelan nafas. dia tahu bagaimana kerasnya Hasna juga sudah berprinsip.


"Tante Hasna kenapa sih? kalau ujungnya dia malah menghindari Papa, ngapain coba aku tunangan sama Dewa? sia-sia dong."


"Kamu juga sembarangan ngambil keputusan."


"Yaaa 'kan, aku pikir kalau Tante Hasna nggak jadi tunangan sama Dewa, berarti peluang buat Papa masih ada. Ya 'kan? gitu kan, Bang?"


"Au, ah! gelap."


Akhtia mencebik.


Harapan yang muncul sesaat, kini kembali meredup. Hasna memang sulit ditebak, dia baik dan seolah semuanya baik-baik saja tapi keputusan yang dia ambil kadang tidak bisa diduga.


"Berapa bulan lagi kamu lulus, Akhtia?" tanya Raden.


"Dua bulan lagi, Pah."


"Begitu selesai ujian, keluarga Mahendra akan segera mengadakan lamaran ke rumah ini. Setelah kamu menerima ijazah, baru pernikahan kalian akan digelar. Itu kata mereka."


"Ya udah."


"Ck, lagi pula pernikahan ini cuma main-main. Intinya jangan sampai Dewa menikah dengan tante Hasna. Lagi pula, dewa itu sudah memiliki kekasih, kalau ceweknya udah siap dibawa ke rumah, aku sama dia bakalan cerai."


"Jangan semudah itu mempermainkan ikatan pernikahan, Akhtia. Semuanya tidak sesederhana yang kamu katakan."


"Tapi, Pah. Intinya aku cuma mau papa menikah dengan tante Hasna. Urusan aku sama Dewa biar cowok bawel itu yang ngurus. Udah, ah. Nanti aku telat lagi ke sekolah. Ayo, abiskan sarapannya."


Raden tidak tahu harus berkata apa pada putrinya. Di satu sisi dia senang karena Hasna tidak menikah dengan Dewa, tapi di sisi lain anaknya lah yang harus menjadi korban.


Bagaimanapun juga dia akan menikah, tinggal di rumah keluarga barunya. Entah apa yang akan terjadi padanya nanti.


Semoga keluarga Mahendra memperlakukan anaknya dengan baik. Setidaknya, kini Akhtia mendapatkan pengakuan dari keluarga besarnya. Itu sudah cukup setimpal.


Aktifitas pagi hari berjalan seperti biasanya. Akhtia sibuk dengan persiapan ujiannya, Airlangga dengan tugas-tugasnya, dan Raden dengan pekerjaannya.


Selain di rumah sakit, Raden pun memiliki usaha lain yaitu sebuah rumah makan khas Sunda yang sangat terkenal. Selain enak, harga yang ditawarkan oleh Raden cukup terjangkau. Selain itu nuansa rumah makannya pun didesain benar-benar khas Sunda. Duduk lesehan, gazebo yang beratapkan jerami, dan pemandangan hamparan sawah sepanjang mata memandang.


Sepulang dari rumah sakit, Raden mampir untuk mengecek keadaan rumah makan. Melihat laporan keuangan, dan juga melihat bagaimana kinerja karyawannya.


"Kamu ngerti gak sih?"


Tiba-tiba suara teriakan seseorang mengagetkan semua orang yang ada di restoran. Termasuk Raden yang sedang memeriksa keuangan.


"Ada apa itu ribut-ribut?" tanya Raden pada Ohim yang dipercaya untuk mengelola usahanya.

__ADS_1


"Paling ada customer yang komplain, Pak. Biasa, ada yang suka merasa dirinya menjadi raja, tapi namrud."


"Ha ha ha. Ada-ada aja kamu."


"Mana manajer kamu? Suruh dia menghadap saya sekarang juga!"


Raden dan Ohim saling melirik mendengar teriakan itu kembali. Akhirnya Raden dan Ohim pun keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Saya manajer di sini, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ohim sambil mendekat. Raden terkejut dibuatnya begitu melihat karyawan perempuannya sudah basah kuyup di bagian kepala. Sepertinya habis disiram.


"Anda didik karyawan anda ini baik-baik. Saya pesan ikan gurame bakar kenapa dia ngasih ikan kerasa seperti ini," ucapnya sambil menginjak ikan yang sudah ada di bawah lantai.


Raden mengangkat kedua alisnya.


"Maaf, Pak. Tapi ibu ini memang pesan ikan bakar sambal ijo. itu kan memang digoreng dulu makanya agak keras, gak langsung dibakar." karyawan itu menjelaskan dengan nada suara yang antara takut dan sedih.


"Kenapa gak jelaskan dulu kalau ikan bakar itu digoreng dulu? Gimana sih jadi pelayan kok bodoh banget! Harusnya kamu bisa menjelaskan satu per satu menu yang ada di sini, bagaimana cara dia dimasak. Jadi saya gak kecewa!"


"Maaf sebelumnya, Bu. Tapi dalam menu kami sudah ditulis keterangannya. Di sini ada, nih, Bu. Silakan ibu bisa baca sendiri." Ohim memperlihatkan buku menunya.


Entah karena malu atau memang karena dia merasa sudah kesal, buku menu itu diambilnya lalu dia lempar ke arah pelayanan tadi. Beruntung dengan sigap Raden menangkis menu itu hingga tidak mengenai wajah karyawannya.


"Anda, dan kalian ...." Raden menunjuk keluarga yang ikut berserta ibu itu.


"Silakan keluar dari sini. Jika tidak berkenan dengan makanan dan pelayanan di sini, silakan cari tempat makan lain."


"Eh, kamu siapa berani mengusir saya dari sini?" tanyanya dengan nada tinggi.


"Saya pemilik restoran ini, kenapa?"


"Waduh, bukannya minta maaf malah ngusir. Gimana pelayanannya mau baik pemiliknya aja kayak gini. Arogan!"


"Ya, restoran ini memang buruk. Makanya silakan cari tempat lain dan jangan pernah datang kemari lagi. Anda sudah saya blacklist. Tidak perlu bayar dengan apa yang sudah kalian telan, cukup tinggalkan saja rumah makan ini biar yang lain bisa menikmati makanan mereka."


Dengan wajah yang kesal, ibu itu mengajak keluarganya yang sedang menikmati makanannya untuk pergi.


Raden hanya menggelengkan kepala melihat meja yang makanannya sudah habis sebagian.


"Apa mereka cuma cari alasan buat gak bayar ya?" tanya Ohim.


"Mungkin," jawab Raden.


"Pak, saya minta maaf." Pelayan itu meminta maaf pada Raden.


"Lain kali, kamu jangan diem aja kalau ada customer kayak gitu. Kalian itu bekerja melayani mereka yang mau makan, bukan menjual harga diri kalian pada mereka. Jangan biarkan siapapun melukai harga diri kalian, oke. Sekarang kamu bersihkan meja itu dan keringkan rambut kamu."


"Iya, Pak. Terimakasih dan maaf sekali lagi."


Raden dan Ohim kembali ke ruangan.

__ADS_1


__ADS_2