Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Siapa orang itu?


__ADS_3

Halo semuanya, selamat hari saya idul Fitri ya buat yang merayakan. Minal aidzin walfaizin, mohon maaf lahir dan bati.


Oke, guys. Ini postingan terkahir aku sebelum idul Fitri ya. Mungkin aku akan up kembali nanti hari Senin. Mau menghabiskan waktu dulu sama keluarga di kampung. he he he.


Btw, kalian mudik juga enggak? Ke mana aja nih mudiknya? Semoga tahun ini kita semua bahagia ya. Sehat selalu untuk kalian dan keluarga. Peluk jauh dariku.


Happy reading guys.


...🌺🌺🌺...


Ada yang berbeda dengan pagi ini. Hasna terlihat begitu cerah seperti mentari pagi, bersinar dan hangat. Dia bangun sejak pagi, menyiapkan anak-anaknya yang akan dia bawa serta karena hari ini weekend.


"Memangnya boleh bawa anak ke tempat kerja, Bun?" tanya Shaki saat mereka berjalan di lorong gang sempit menuju jalan utama.


"Bunda kerja tapi kalian gak ikut ke tempat kerja."


"Terus kita mau ke mana?" tanya Nay.


"Kalian akan tau sendiri nanti. Ada yang sedang menunggu kita di depan."


Nay dan Shaki terus bertanya karena penasaran, sementara Hasna hanya menjawab dengan senyuman. Sesampainya di pinggir jalan, mereka melihat sebuah mobil. Mobil yang sedang menunggu kedatangan mereka bertiga.


"Nay ... Shaki ...."


"Kakak Tia?"


Akhtia segera turun dan berlari menghampiri mereka. Dia berlutut lalu memeluk keduanya.


"Kalian kangen gak sama kakak? Kakak kangen banget tau."


"Kangen." Jawab Shaki dan Nay kompak.


"Ayo kita pergi. Nanti kakak ajak kalian jalan-jalan ya selama bunda kerja, mau? Ada Abang juga loh."


"Asiiik, kita mau mainan ya, Kak?" tanya Shaki antusias.


"Beli mainan juga?" tanya Nay.


"Pokoknya kita pergi main sepuasnya, beli mainan juga, beli es krim juga, jajan juga, pokoknya hari ini kalian akan kakak kasih apa aja, deh."


Kedua anak kecil itu melompat-lompat bahagia.


"Halo adek-adek Abang yang lucu, kangen gak sama Abang?" tanya Airlangga setelah mereka naik mobil. Akhtia dan anak-anak duduk di belakang, sementara Hasna duduk di depan menemani Airlangga.


"Kangen dooong," jawab Shaki, sementara Nay hanya tersenyum malu-malu.


Hasna tersenyum bahagia melihat anak-anaknya begitu senang. Sepanjang perjalanan mereka terus bercanda bersama Akhtia dan Airlangga. Nay dan Shaki tak hentinya tertawa.


"Nah, bunda kerja dulu ya. Kalian main sama kakak dan Abang."


"Iya, Bunda."


"Nanti aku jemput kalau selesai kerja," ucap Airlangga sambil mencium tangan Hasna.


"Ngapain Abang yang jemput? papa aja kali." Akhtia pun setengah berdiri dan mencium tangan Hasna. Pun dengan kedua anak kecil itu.


"Selamat bersenang-senang ya," ucap Hasna sambil melambaikan tangan pada mereka.


Tidak lama setelah mereka pergi, mobil Raden datang saat Hasna hampir masuk. Langkah Hasna terhenti saat Raden membunyikan klakson. Hasna menoleh lalu tersenyum.

__ADS_1


Raden turun dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Dia melangkah buru-buru menghampiri kekasihnya.


"Rapi banget, Mas." Hasna mengusap dada Raden yang memakai jas lengkap dengan dasinya.


"Saya mau ada rapat penting. Tapi mampir dulu karena rindu sama kamu."


Hasna tertawa.


"Setelah selesai, saya akan segera ke sini buat jemput kamu pulang kerja."


Hasna mengangguk.


"Tadi Airlangga jemput kan? Dia bawa anak-anak pergi?"


"Iya, Mas."


"Syukurlah. Besok kita nengok Puput, sudah jadwalnya bukan?"


"Kok Mas tau?"


"Kenapa? Aneh? Yang aneh itu kalau saya gak tau kapan jadwal jenguk anaknya."


Hasna tersenyum.


"Ya sudah, saya pergi dulu. Kamu hati-hati ya di sini. Bersikaplah santai karena kamu akan menjadi pemilik rumah makan ini."


"Sekarang aku masih karyawan biasa, Mas."


"Pokoknya jangan terlalu capek, oke." Raden melihat jam tangannya. "Takut telat, saya pergi dulu," ucapnya sambil mencium kening Hasna.


"Hati-hati, Mas."


Raden mengangguk. Saat dia berjalan, mobil Chef Andri datang. Raden berhenti sejenak, menunggu Andri turun. Mereka saling menyapa. Andri dan Raden terlihat begitu akrab. Hasna melihat mereka dengan heran.


"Gue udah resmi sekarang sama dia. Bentar lagi gue nikah."


"Gak tunangan dulu?"


"Langsung intinya aja lah. Ngapain tunangan segala, udah bukan pasangan anak muda juga."


"Bilang aja Lo gak sabar, ya kan?"


"Itu Lo tau."


Mereka tertawa.


Apa mereka teman dekat? kenapa terlihat begitu akrab. tanya Hasna dalam hati.


Hasna segera masuk karena jam kerja sudah segera dimulai, dia harus segera mengisi kehadiran.


Setelah berganti pakaian, Hasna segera mengambil peralatan untuk membersihkan meja. Dia melihat ada Mira yang sudah mulai bekerja.


"Mira." Hasna menyapa, namun Mira hanya membalasnya dengan senyuman datar. Melihat hal itu, Hasna segera menghampiri temannya.


"Ada apa, Mira? Kamu sedang ada masalah?"


Mira menggelengkan kepala tanpa menoleh sedikitpun.


"Hey." Hasna menarik pundak Mira agar menoleh padanya. Betapa terkejutnya Hasna saat melihat ujung bibir Hasna lebam.

__ADS_1


"Ada apa, Mira? Kenapa wajah kamu? Terus itu ...." Hasna melihat leher Mira yang merah-merah.


"Kamu belum menikah, kenapa ...."


Mira menepiskan tangan Hasna.


"Mira!" Hasna kembali menarik Mira agar menatap dirinya.


"Aku tidak tahu apa yang tejadi sama kamu, tapi aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Katakan, Mira. Apa yang terjadi sama kamu? Siapa tau aku bisa bantu."


"Bantu? Mba saja sudah repot dengan hidup mba yang harus membesarkan anak-anak, bagaimana bisa bantu aku?"


"Aku akan berusaha, Mira."


"Benarkah? Memangnya Mba kaya? Mba cukup duit untuk menyelesaikan masalah aku?" tanya Mira dengan nada yang tinggi. Orang-orang mengira mereka sedang bertengkar, beberapa orang menghampiri.


"Hey, masih pagi. Kenapa kalian bertengkar?" tanya Iwan. Riya, Anwar dan yang lainnya pun ikut mendekat.


"Katakan saja apa masalah kamu, Mira."


"Jangan menjadi pahlawan kesiangan, Mba. Aku tahu Mba tidak akan sanggup membantuku."


"Hubungannya apa antara luka kamu sama uang? Sebenarnya apa masalah yang sedang kamu hadapi, Mira? Katakan agar aku bisa tahu masalahnya apa."


"Hanya ingin tau karena penasaran?"


"Demi Allah bukan, Mira. Aku benar-benar ingin membantu kamu."


"Ada apa ini ribut-ribut? Bukannya kerja malah berkerumun di sini?" tanya Ohim membentak.


Mereka semua diam.


"Ada apa?" tanya Ohim melihat satu per satu dari mereka. "Kalian mau saya adukan ke Pak Raden? Hasna, kamu jangan membawa efek buruk di sini, saya pecat nanti! bubar sekarang juga. Kerja ke tempat masing-masing."


Mereka pun membubarkan diri. Mira kembali bekerja, sementara Hasna masih berdiri di samping Mira.


"Heh, kamu benar-benar ingin saya pecat?"


"Mira, ayo bicara. Ada apa sebenarnya?" Hasna tetap bersikukuh ingin tau masalah yang menimpa Mira. Dia tau ada yang melecehkan Mira di sini, Hasna ingin tau siapa orang itu.


"Hasna!" Ohim menarik tangan Hasna hingga wanita itu terjatuh ke lantai.


"Mba ...." Mira terkejut, dia segera menghampiri Hasna, membantunya kembali berdiri.


"Kamu benar-benar akan saya pecat dari sini."


"Hei, hei, hei!" Andri berteriak. Dia berjalan dengan tegap menghampiri mereka.


"Ada apa dari tadi ribut terus?"


"Ini chef, Pak Ohim mendorong mba Hasna sampai jatuh."


Andri melihat Hasna yang sedang mengusap sikutnya yang sakit karena menahan tubuhnya tadi.


"Karena dia mempengaruhi karyawan di sini untuk bermalas-malasan. Saya akan pecat dia dari sini."


"Kamu berani pecat dia, maka urusannya sama saya. Awas kalau berani menyentuhnya sekali lagi, mati kamu!" Andri mencengkeram kemeja Ohim, lalu mendorong tubuhnya dengan kasar. Ohim hampir terjatuh.


Semua orang terkejut melihat sikap Andri. Chef yang terkenal dingin dan cuek, bersikap begitu frontal membela Hasna.

__ADS_1


"Mba, apa Chef Andri suka sama Mba?" bisik Mira.


Bukan dia yang suka sama aku, Mir. Tapi temennya si pemilik tempat kita bekerja. Bisik Hasna dalam hati sambil tersenyum.


__ADS_2