Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Terbongkarnya identitas Puput


__ADS_3

Dewa menoleh cepat, menatap Akhtia yang dia pikir tiba-tiba ada di dekatnya.


"Ma-maaf, Kak. Tadi aku mau pinjem charger, tapi kayaknya kakak fokus banget ngetiknya, jadi aku--"


Dewa mengulurkan charger-an pada Akhtia tanpa mengatakan apa-apa.


"Makasih," ucap Akhtia pelan. Dia segera berbalik menjauhi Dewa. Akhtia memejamkan matanya dalam-dalam. Dia merasa syok karena ternyata selama ini Dealova adalah Dewa.


Bingung harus bagaimana, Akhtia akhirnya memilih untuk diam dan tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya pada Dealova.


Akhtia sedikit gugup saat Dewa mendekati dirinya. Ada perasaan takut yang dia alami saat dekat dengan Dewa.


"Maaf."


"Untuk?"


"Kamu tadi baca sekilas kan?"


Bukan sekilas, tapi semuanya. Ya, karena aku adalah dandelion kamu, Kak.


"Emmm, gak terlalu jelas juga sih."


"Aku tidak selingkuh, kok. Aku dan dia hanya berteman di internet, jauh sebelum aku bertemu kamu dan bunda. Kami berteman dan ya, aku mungkin bisa lebih dari itu padanya."


Ngerti kali, kak. orang aku juga gitu.


"Kenapa kakak bisa suka sama dia padahal belum pernah ketemu? gimana kalau dia buruk rupa misalnya. Apa kakak masih suka sama dia?"


"Kedengarannya memang aneh, entahlah aku sendiri pun tidak tahu. Mungkin karena aku nyaman kali ya ngobrol sama dia. Beliin pernah ada yang membuat aku merasa jadi diri sendiri dan asik ngobrol sama seseorang kecuali dia dan ... kamu."


Akhtia menoleh cepat pada Dewa.


Dewa tersenyum.


"Istirahat, ya." Dewa mengelus pipi Akhtia sebelum dia pergi keluar dari kamar. Wajah Akhtia bersemu merah, dadanya berdebar hebat saat tersentuh tangan Dewa yang lembut dan dingin.


"Bagaimana ini? Dealova ternyata Dewa. Aduuuh ..." Akhtia mengacak-acak rambutnya.


"Kalau dia tau dandelion itu aku, apa perasaannya akan tetap sama? Atau dia akan kecewa? Apa nantinya gak akan malah jadi canggung? Aduh, kenapa harus dia, sih? ck!"


Akhtia merebahkan diri. Menatap langit-langit kamar Dewa.


"Tapi, aku bisa manfaatin dandelion kalau begini. Aku bisa tanya siapa wanita yang dia sukai itu. Dia bilang hatinya sudah mulai goyah karena ada seseorang di dunia nyata yang dia suka."


Akhtia berguling ke sana ke mari di atas kasur.


...🌻🌻🌻...


Pagi sekali Airlangga sudah berdandan rapi, dia bahkan sengaja minta izin ke kantornya hanya untuk menemui Puput di sekolah.


Tujuannya hanya satu, harus membuat Puput mau kembali ke rumah sebelum Hasna datang. Juga karena ... dia merindukan gadis itu.


Airlangga bahkan berdandan rapi karena ingin membuat Puput terkesan padanya. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk gadis pujaan hatinya. Bahkan Airlangga sudah menyiapkan cokelat favorit Puput.


"Mau nunggu Neng Puput, Mas?" tanya Bi Juriah.


"Iya, Bi." Airlangga begitu semangat.


"Ganteng bener, Mas. Sampe bibi pangling. Udah kayak mau ketemu pacar aja."

__ADS_1


Airlangga terdiam sejenak mendengar ucapan Bi Juriah.


Apa terlihat jelas?


"Masa sih, Bi? Wah, orang bisa salah faham dong kalau gitu. Orang saya cuma mau jemput adik."


Bi Juriah tertawa kecil. Dia yang sudah tidak lagi muda, hanya bisa berpura-pura tidak tahu dengan semua yang terjadi di rumah ini.


Airlangga memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah Akhtia.



Murid yang datang belum terlalu banyak, sedikit demi sedikit hingga jam terus berjalan murid sekolah itu pun semakin banyak yang datang.


Orang yang dia tunggu tidak juga muncul, berkali-kali Airlangga melihat arlojinya. Puput tak kunjung datang.



Kehadiran Airlangga menarik perhatian beberapa siswa terutama perempuan. Mereka saling berbisik dengan temannya sambil tersenyum malu-malu.


Puput pun datang.


Dengan secepat mungkin Airlangga menghampiri Puput bersama sahabatnya. Dari jauh, Puput terlihat terkejut melihat kedatangan Airlangga.


"Perasaan pernah liat deh orang itu, tapi siapa ya?" tanya Imas.


"Iya, aku juga ngerasa pernah liat tapi di mana ya?" timpal Saodah sambil berpikir.


"Dia tukang ojek itu."


Imas dan Saodah mengangguk dengan mata dan mulut menganga.


"Enggak." Puput menepiskan tangan Airlangga yang memegang tangannya. Puput merasa malu karena murid-murid yang lain memperhatikan mereka.


"Put, Abang mau bicara sama kamu."


"Nanti aja pulang sekolah."


"Oke, Abang tunggu di sini sampai kamu pulang."


"Abang takut banget ya kehilangan pelanggan, sampai setia banget nunggu Puput kelar sekolah," ujar Saodah.


"Kenalkan, saya Airlangga. Kakak nya Puput."


Saodah dan Imas melotot mendengar apa yang barusan Airlangga katakan. Uluran tangan Airlangga pun diabaikannya.


"Abang, ih!" Puput terlihat kesal. Dia berjalan meninggalkan Airlangga dan dua sahabatnya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.


"Puput, tunggu!" Imas dan Saodah mengejar sahabatnya.


"Dia kakak kamu? Cakep banget anjirrr, kenalin dong."


"Ogah!"


"Eh, Imas Imas, liat ke belakang." Saodah menarik tangan sahabatnya. Mereka berdua bertambah syok saat melihat Airlangga masuk ke dalam mobil.


"Itu mobil kakak kamu, Put?"


"Bukan, itu mobil papa."

__ADS_1


"Stop!" Imas menghalangi Puput tepat di depannya. Merentangkan tangan agar Puput tidak bisa ke mana-mana.


"Kamu harus jelaskan semuanya sama kita berdua. itu Kakak kamu? Terus ... dia bawa mobil papa kamu? Put ... kamu anak orang kaya ya?" Imas menginterogasi Puput.


"Kalian pasti akan terkejut lebih dari ini jika melihat mobil Abang aku. Udah, ah. Ayo masuk, kalau penasaran nanti pulang sekolah ikut aja ke rumah aku."


"Yeeeey." Imas dan Saodah bersorak riang.


"Dengan satu syarat, kalian berdua diam dan jangan bocor. Apa yang kalian liat nanti, lupakan aja jika udah keluar dari rumah aku, oke."


"Beres!"


Mereka bertiga pun langsung berlarian masuk ke dalam kelas sambil becanda dan tertawa. Pemandangan khas anak sekolah yang tidak memiliki beban pikiran kehidupan.


Puput melihat Saodah yang ada di sisi kanannya, lalu menoleh pada Imas yang ada di sisi kirinya. Mereka terdiam mematung saat sudah berada di halaman rumah Puput.


"Kenapa kalian diam saja? Ayo masuk," ajak Airlangga. Namun, mereka berdua makasih terdiam.


"Ck, ayo!" Puput menarik tangan kedua sahabatnya itu. Menyeret keduanya seperti menyeret patung manekin, kaku.



"Waaaah, kamar kamu bagus ya. Beda banget sama kamar aku, ya kan? Kamu tapi kok bisa ya tidur sambil ngorok di rumah aku yang jelek. Padahal berbanding jauh banget sama kamar kamu yang nyaman."


Puput hanya menggelengkan kepala sambil mengambil pakaian ganti untuk temannya.


"Ganti baju nih."




"Pakai juga sendal rumahnya."




"Berarti emang bener ya, orang kaya itu pake sendal di rumahnya. Gak kayak kita, di rumah pake sendal ya ditumpuk sama orang tua. Ha ha ha." Imas berseloroh.


"Ya kalau di sini kan rumahnya emang bersih, sendalnya juga bersih. Lah, kamu sendal dari kebon dipake di rumah, untung gak dilempar ulekan juga."


Mereka tertawa.


"Neng, bibi masuk ya." Bi Juriah menunggu di depan kamar.


"Iya, Bi. Masuk aja."


Bi Juriah masuk membawa nampan makanan dan minuman.


"Nah, sambil menunggu makan siang siap, kalian ngemil dulu ya."


Bi Juriah menaruh nampan itu.




Imas dan Saodah terlihat malu-malu. Mereka juga antusias mendapatkan perlakuan yang begitu baik, juga makanan dan minuman yang disajikan membuat mereka merasakan apa yang selama ini hanya mereka lihat di televisi.

__ADS_1


__ADS_2