Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Meminta restu


__ADS_3

"Yakin gak mau dianter pulang? Biar nanti sopir aja yang bawa mobil kamu."


"Gak usah, Mas. Aku bisa pulang sendiri."


"Bunda ... laaaperrr." Shaki merengek.


"Mau makan apa, Nak? Ayo, kita makan. Om juga belum makan."


Shaki tersenyum sumringah. Dia bahkan segera turun dari mobil, lalu menggandeng tangan Raden tanpa ragu.


Raden mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum pada Hasna.



Senyuman Raden tidak pernah hilang sedikitpun dari wajahnya. Dia begitu menikmati momen bersama Nay dan Shaki. Melihat kedua anak itu makan dengan lahap.


"Suka sama anaknya apa sama ibunya? Kok aku jadi diabaikan gini, sih?" bisik Hasna pada Raden.


Raden menoleh, dia tertawa kecil.


"Enggak dong, Sayang." Raden mengusap kepala Hasna penuh cinta.


"Cieee cieee ... pacaran yaaa ...." Shaki meledek.


Raden tersenyum manis, lalu mencubit pipi Shaki.


"Shaki, Nay, Om boleh nanya sesuatu gak?"


"Boleh. Asal jangan nanya matematika, aku pusing."


Raden dan Hasna tertawa.


Raden merasa gugup meski lawan bicaranya seorang bocah berusia tujuh tahun. Raden menghela nafas panjang sambil menatap kedua anak itu yang duduk di hadapannya.


"Kalau Om jadi ayah Nay sama Shaki, mau gak?"


Senyum Hasna memudar. Dia khawatir anaknya akan menolak.


"Memangnya Om sama Bunda mau nikah?" Tanya Shaki. Sementara Nay hanya asik makan kentang.


"Kalau Shaki mengizinkan, Om dan Bunda kamu akan menikah. Gimana, boleh gak Om nikah sama bunda?"


"Nanti aku tinggal di rumah Om sama Kakak Tia sama Abang juga?"


"Iya, tentu saja. Nanti Om buatkan kamar yang bagus untuk kalian."


"Aku mau kamarnya warna ungu."


"Aku mau yang pink."


Mereka berdua terlihat begitu antusias.


"Jadiiii ... boleh gak Om jadi ayah kalian?"


"Boleeeeh ...." Nay dan Shaki menjawab kompak.


Senyum bahagia langsung terpancar dari wajah Raden dan Hasna. Mereka berpegangan tangan di bawah meja di atas paha Raden.


"Ya udah, mulai sekarang panggil Om Papa, ya. Jangan Om lagi."


"Oke, Om. Eh, Pah." Shaki menutup mulutnya sambil tersenyum.


Raden menoleh, menatap Hasna penuh cinta.

__ADS_1


Selesai makan, mereka tidak lantas pulang. Raden yang sudah merasa menjadi ayah dari Nay dan Shaki, mengajak mereka membeli mainan.


Shaki dan Nay yang sangat jarang membeli mainan mahal di tempat yang bagus, langsung berlarian. Mereka begitu antusias memilih mainan yang ada di sepanjang lorong-lorong toko.



Hasna menggandeng tangan Raden, bergelayut manja pada lengan kokoh kekasihnya. Memperhatikan anak-anak dari jauh sambil mengikuti mereka perlahan.


"Kamu mau beli sesuatu?"


Hasna menggelengkan kepala. "Aku sudah memiliki segalanya. Tidak membutuhkan yang lain. Lagi pula apa yang aku miliki sekarang itu semua dari kamu, Mas."


"Saya ingin membelikan sesuatu. Mau?"


"Apa?" Hasna menoleh pada Raden.


"Cincin pernikahan," bisiknya di telinga Hasna.


Merah merona pipi Hasna karena merasa panas dan malu. Meski begitu dia langsung menganggukkan kepalanya.


Setelah membayar mainan yang dibeli, mereka berjalan menuju toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan.


Setelah mengukur jari, memilih model yang mereka inginkan, Raden pun mengantar mereka pulang.


Hasna sudah tidak takut lagi diperingati oleh RT setempat, toh dia akan segera menikah dengan Raden, pikirnya.


"Nay masuk dulu ya, Om."


"Aku juga. Gak sabar mau buka mainan baru."


Anak-anak berlari riang ke dalam rumah. Membawa mainan yang baru saja mereka dapatkan.


Raden mengambil kedua tangan Hasna. Menatap penuh kasih.


"Sama-sama, Mas. Justru aku yang makasih sama kamu karena sudah membahagiakan anak-anak."


"Memangnya kamu sendiri tidak bahagia?"


"Kalau aku bahagianya pake banget."


Mereka tertawa.


"Sudah malam, saya pamit pulang."


Hasna mengangguk kecil.


"Night," ucap Raden seraya mengecup kening Hasna. Hasna yang merasa masih merindukan Raden, menarik tubuh pria itu saat Raden hendak pergi. Memeluknya begitu erat.


Raden tertawa kecil.


"Kenapa? Apa saya sebaiknya jangan pulang?" tanyanya menggoda.


"Gak lucu kalau kita digerebek, Mas."


"Kalau begitu, ayo lepaskan pelukannya. Kalau ada yang lihat, nanti bisa jadi masalah lagi."


"Sebentar saja, Mas. Aku masih ingin memeluk tubuh kamu. Mengalirkan rasa cinta yang begitu besar agar kamu merasakannya. Aku juga ingin menghapus semua kesalahan dan mungkin luka yang pernah aku berikan sama kamu."


"Saya sudah pernah bilang, mencintai itu bukan hanya menjaga agar pasangan kita tidak terluka, tapi sabar saat hati kita dilukai."


"Terimakasih, Mas."


Raden mengecup kepala Hasna sebelum mereka melepaskan pelukan dan pulang.

__ADS_1


Malam itu adalah malam yang paling indah dalam hidup Hasna. Kebahagiaan menyelimuti hatinya. Dia seperti seorang ABG yang sedang jatuh cinta, terus tersenyum saat berbincang lewat Chat, tanpa mengenal waktu. Rasa kantuk itu seolah tidak mau mendekat.


Hasilnya adalah kepala yang pusing saat bangun dari tidur yang singkat. Matanya terasa pedih, dan kehilangan semangat.


Hasna menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, tanpa mandi terlebih dahulu. Dia hanya menggosok gigi sebelum melaksanakan salat.


Tididddd.


Dengan mata yang setengah terpejam, Hasna ke depan melihat siapa yang datang.


"Astaghfirullah, Mas?"


Raden memperhatikan calon istrinya yang hanya memakai daster, wajah bantal dan rambut berantakan.


Kenapa dia terlihat sangat cantik dalam keadaan seperti itu?


Dia tersenyum lalu turun menghampiri kekasihnya.


"Selamat pagi, Sayang." Sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya.


"Kenapa gak bilang kalau mau ke sini? Mana pagi banget. Aku belum mandi tau, Mas."


"Saya ingin mengajak kamu pergi ke suatu tempat. Sekarang kamu mandi, mandiin anak-anak juga, ya."


"Mau ke mana?"


"Pokoknya kamu mandi dan dandan yang cantik. Emmm, gak perlu cantik juga sih, dandan ataupun tidak di mataku kamu tetap cantik."


Hasna mencubit pinggang Raden. "Pagi-pagi udah gombal."


Raden tertawa.


"Mau sarapan gak, Mas?" tanya Hasna sambil berjalan menuju dapur diikuti Raden. Ada Nay dan Shaki sedang makan di ruang makan.


"Halo, Om."


"Om?" tanya radeny.


"Kakak, kan sekarang Om Raden dipanggilnya papa. Kakak lupa?"


"Iya, Nay. Kakak Shaki lupa."


"Kalian makan apa? Papa boleh minta gak?"


"Papa mau?" tanya Nay.


"Mau dong, kayaknya enak deh."


"Nih." Nay menyuapi Raden nasi goreng. Tanpa ragu Raden membuka mulut, lalu mengunyah makanan itu. Dia tidak merasa risi makan dari piring dan sendok yang sama dengan Nay.


"Nay habiskan nasinya, ini punya papa." Hasna memberikan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur, irisan timun dan kerupuk.


"Minumnya apa, Mas?"


"Teh anget aja."


"Oke."


Ruang makan yang kecil itu terasa hangat. Kursi yang terbiasa kosong kini telah ada pemiliknya. Sarapan sambil bercanda tawa dengan keluarga adalah hal yang baik untuk mengawali pagi.


Hasna dan anak-anak sudah rapi, saatnya mereka pergi yang Hasna tidak tahu mereka akan pergi ke mana.


"Kita mau ke mana, Pah?" tanya Shaki.

__ADS_1


"Kita akan ke rumah nenek. Papa ingin meminta bunda sama mereka," jawab Raden sambil melirik Hasna. Wanita itu terkejut, namun juga merasa bahagia.


__ADS_2