
"Mba, buka M-banking."
Sebuah pesan masuk melalui WhatsApp. Dari pacar kontrak Hasna yang tidak lain adalah Dewa.
Tertera saldo sebesar 150 juta rupiah. Hasna membelalak melihat nominal yang masuk ke rekeningnya.
"Dewa, itu kebanyakan."
"Gak apa-apa, lebihnya buat beli pakaian. Jangan lupa mulai saat ini Mba pakai kerudung ya."
"Oke."
"Eh, nanti aku aja deh Mba yang ajak belanja. Takutnya Mba malah beli gamis kayak emak-emak. Langsung ditolak sama ibu aku kalau gitu."
"Ngeselin!"
"Besok aku jemput ya. Jam berapa anak Mba pulang sekolah?"
"Jam dua siang."
"Oke, aku ke rumah jam satu. Sharelok ya."
"Hmmm."
Hasna kembali pada pekerjaannya membuat pastel, sementara lontong sayur sedang dikukus. Bolu kukus dan puding telor ceplok sudah selesai.
Sore ini harus diantar untuk customer yang akan mengadakan pengajian. 70 box Snack dipesannya. Beruntung ada yang membantu Hasna.
Pukul tiga sore, box sudah rapi di dalam mobil. Terpaksa jok mobil belakang haru ditekuk agar memuat semua pesanan.
"Ida, titip anak-anak dulu ya."
"Iya, Mba."
Ida adalah orang yang suka membantu Hasna jika pesanan sedang banyak. Hasna mengantar pesanan ke customer yang cukup jauh kali ini.
Tiga puluh menit kemudian Hasna sampai di alamat yang dikirim pelanggan. Benar saja, rumah itu terlihat banyak orang.
"Pak, maaf. Ini rumahnya Bu Maryam bukan ya?"
"Iya benar."
"Saya mau mengantarkan pesanan. Bisa panggil Bu Maryam nya gak ya?"
"Oh, tunggu sebentar ya Mba."
"Iya."
Sambil menunggu, Hasna melihat sekeliling. rumah yang bagus dan asri. Terasa sangat tenang karena jauh dari keramaian dan jalan utama.
"Mba."
Hasna menoleh.
"Na?"
__ADS_1
"Dokter Sinta?"
"Kalian saling kenal?" Tanya Maryam.
"Dia temen aku, Kak. Namanya Hasna."
"Oh begitu. Ya sudah, masuk dulu aja atuh. Yuk, Mba. Biar nanti orang yang membawa pesanannya."
Hasna ragu-ragu untuk ikut masuk ke dalam karena dia meninggalkan Nay dan Shaki di rumah.
Namun, dia tidak enak jika menolak permintaan Sinta.
"Tapi saya gak bisa lama, Dok. Anak-anak sendiri di rumah."
"Iya, sebentar aja kok. Asal masuk aja dulu, ya."
Dokter Sinta kenapa, sih, maksa banget?
Hasna pun masuk. Rumah itu nampak megah dengan gaya Eropa moderen. Ramai orang sedang melakukan aktivitas nya masing-masing.
"Kita ke taman belakang aja, ya, Na. Kita ngopi di belakang, ganti ngopi waktu itu."
"Iya, Dok."
Ada meja dan kursi di taman belakang, ada kolam ikan dan taman kecil yang membuat suasana terasa asri dan nyaman. Hasna menghirup udara yang sangat segar sambil menutup matanya.
Sadar seseorang datang dan duduk di kursi tepat di depannya, Hasna segera membuka mata.
"Mas?"
"Saya bales kok."
"Hanya sesekali."
"Kan pesannya juga dikirim sesekali. Iya kan? udah, sih, Mas. Kamu itu jangan selalu mengalahkan saya atas semua yang terjadi pada kita. Maksudnya, kenapa saya merasa jahat banget."
"Ini."
Raden menyodorkan sebuah kotak berwarna merah.
"Apaan ini?"
"Buka saja."
Hasna mengambil kotak itu, lalu membukanya. Sebuah gelang.
"Saya akan menunggu jawaban kamu, Na. Jika suatu saat hatimu terbuka untuk saya, datang lah dan pakai gelang itu."
"Mas, kenapa harus seperti ini? Bukankah akan lebih baik jika kamu kembali bersama mantan istri kamu itu. Kenapa harus tetap menunggu saya yang tidak jelas ini."
"Sama hal nya seperti kamu, Na. Tetap setia pada jasad yang telah mengkhianati kamu, saya juga sama. Ya, memang sakit. Menunggu tanpa kejelasan yang pasti. Tapi Hasna, mencintai itu bukan perkara kita tidak menyakiti kekasih kita, tapi tentang menerima saat dia menyakiti kita. Itu yang sedang kamu lakukan bukan?"
"Mas, jangan begini."
"Saya sedang mencoba untuk setia. Setia pada perasaan saya untuk kamu."
__ADS_1
Drrrttttttt.
"Maaf, Mas. Saya harus menerima telpon dulu."
"Silakan."
"Halo, ada apa, Dewa?"
Dewa? Siapa Dewa? Jelas itu bukan nama seorang wanita 'kan?
Hasna pergi meninggalkan Raden yang sibuk dengan pertanyaan di benaknya.
"Dok, saya pamit ya. Kasian anak-anak menunggu."
"Pamit dulu sama Raden, Na."
"Sampaikan saja kalau saya pulang, Dok. Saya buru-buru soalnya. Nanti kalau ketemu dia dulu, yang ada malah ngobrol lagi."
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya."
"Iya, Dok. Saya permisi."
Hasna bergegas pulang karena Shaki dan Nay bertengkar. Dia sengaja menyebut nama Dewa padahal yang nelpon Ida.
Sesampainya di rumah, Nay dan Shaki sudah berbaikan. Mereka terlihat sedang asik bermain.
"Aduh, Ida maaf ya lama. Tadi yang punya acara ternyata temen aku soalnya. Maaf, ya."
"Gak apa-apa, Mba. Mereka berantemnya sebentar doang sih."
"Ida, ini untuk hari ini. Makasih banyak loh ya kalau udah mau bantu-bantu."
"Sama-sama, Mba. Kan Ida juga butuh uangnya. Jadi kita sama-sama untung. Hehe."
"Kamu bener, Da."
"Ida pamit, Mba. Kasih kabar lagi aja kalau ada butuh."
"Oke."
"Bunda, kenapa lama banget sih?" tanya Shaki merengek.
"Iya, soalnya jauh. Jadi agak lama deh nganterinnya. Kenapa, kenapa? Tadi kenapa berantem?"
Pertanyaan yang salah, karena selanjutnya adalah aksi saling mengalahkan antara Nay dan Shaki, mereka sibuk membela diri masing-masing, dan minta pembenaran dari Hasna. Selalu seperti itu.
Pukul delapan malam, Nay dan Shaki sudah tidur. Mereka kelelahan setelah bertengkar dan bermain sambil menunggu Hasna membuat pesanan.
Hasna berjalan menuju mobil. Dia ingat kotak pemberian dari Raden tertinggal di sana.
Sambil rebahan, mengistirahatkan badan yang lelah setelah aktifitas sehari-hari, Hasna mengangkat tinggi gelang itu. Sangat cantik. Berkilau saat terkena sinar lampu.
Hasna mencoba gelang itu dan dia sangat menyukainya. Terlihat begitu cantik. Hasna mengambil foto untuk dijadikan dokumentasi pribadinya.
Matanya sudah tidak bisa dikompromikan lagi. Semakin lama semakin redup, hingga akhirnya Hasna terlelap.
__ADS_1