Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Salah faham


__ADS_3

Menjadi tetap baik pada orang yang tidak kita sukai bukanlah perkara yang mudah. Itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mempunyai hati yang benar-benar tulus dan ikhlas.


Seperti hal nya Hasna yang mencoba bersikap baik pada Angela, meski sikapnya dipertanyakan dan tidak disukai oleh Akhtia dan yang lainnya.


Aku hanya merasakan apa yang dulu aku pun rasakan.


Itu salah satu alasan kebaikan Hasna pada Angela. Dia memahami apa yang dirasakan seksama wanita dengan kondisi hamil muda.


"Makan ini dulu saja." Hasna memberikan makanan manis pada Angela saat sarapan. Sementara yang lain mendapatkan makanan yang memiliki rasa asin dan gurih.


"Jangan lupa makan buahnya juga." Hasna menyodorkan sepiring buah potong padanya.


Rasa cemburu itu hadir hinggap di dalam hati Akhtia. Dia tidak suka Hasna begitu memperhatikan orang yang paling dia benci di rumah.


"Tia, katanya mau nyari kebaya buat acara perpisahan, kapan?" tanya Hasna suatu saat.


"Udah," jawab Akhtia singkat sembari pergi meninggalkan Hasna.


"Mau sarapan apa?" tanya Hasna di lain hari.


"Apa aja asal bukan batu dan kayu," jawab Akhtia masih dengan nada yang datar.


"Ada apa?" tanya Raden yang sudah tidak tahan melihat Akhtia begitu dingin pada Hasna.


"Jika ada masalah ... bicara. Jangan hanya diam sambil menunjukkan rasa tidak suka kamu sama bunda."


"Siapa yang gak suka?" tanya Akhtia menjawab pertanyaan Raden.


"Kamu bukan anak kecil lagi, papa rasa kamu mengerti apa maksud papa."


Hasna menyentuh tangan Raden, meminta suaminya untuk tidak meneruskan perdebatan itu.


"Angela, kapan jadwal kamu kontrol? Nanti saya yang antar." Hasna mengalihkan topik pembicaraan.


"Nanti sore sebenarnya, cuma ...."


"Cuma apa?"

__ADS_1


"Tadinya mau aku jadwal ulang karena agak ada yang anter."


"Saya yang antar, jadi jangan ubah jadwalnya."


Akhtia menarik nafas panjang, berusaha menahan rasa amarahnya karena menganggap Hasna sudah tidak peduli lagi padanya.


"Aku kenyang." Akhtia menyimpan sendok dengan kasar di atas piring, menimbulkan suara yang cukup untuk orang lain tau jika dia memang sedang marah.


"Akhtia!"


"Mas ...." Hasna menggelengkan kepala.


Meski bukan ibu yang melahirkan Akhtia, Hasna tau dengan pasti jika anaknya sedang marah padanya. Hasna juga mengerti jika Akhtia tidak suka Hasna semakin dekat dan memperhatikan Angela belakang ini.


Bukan tidak ingin meluruskan kesalahpahaman, tapi Hasna mencari waktu yang pas untuk menjelaskan semuanya pada Akhtia.


"Janinnya sehat, denyut jantung nya bagus. Berat badannya juga seusai dengan usia kandungannya. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Kondisi ibu dan bayinya dalam keadaan sehat, untuk pertama kalinya Hasna mendengar detak jantung janin Angela, ada sesuatu yang menyelinap ke dalam hatinya. Hasna lupa akan kebencian dia pada menantunya itu. Hasna merasa jika janin itu memang cucunya. Ada rasa bangga dan haru di dalam dada Hasna.


Kehamilan sudah lebih dari lima bulan, untuk itu Hasna mengajak Angela membeli beberapa peralatan untuk bayi. Mereka berdua begitu antusias memilih ini dan itu, hingga lupa waktu.


"Tidak apa-apa," ucap Hasna pada Angela yang merasa bersalah dan juga takut sepertinya.


"Kamu rapikan peralatan bayi kamu, saya akan menemui Akhtia."


"Iya ... bunda."


Angela terlihat malu-malu mengucapkan kata itu. Hasna tersenyum, lalu pergi menemui anak gadisnya.


Dewa membuka pintu kamar begitu Hasna mengetuknya.


"Boleh bicara sebentar gak sama Tia?"


"Boleh, Mba. Aku sekalian mau keluar dulu bentar. Mau nitip apa? Barang kali ada yang Mba inginkan."


"Kamu ini." Hasna memukul lengan Dewa.

__ADS_1


"Biasakan manggil bunda. Sekarang kita sudah terikat hubungan menantu dan mertua, ingat itu."


"Masih gak nyaman."


"Rasa nyaman itu diciptakan dan dibiasakan. Udah, ah. Bunda masuk dulu. Kalau mau keluar, bawakan martabak telor ya, telor bebek."


"Oke."


Hasna duduk di samping Akhtia yang berbaring menutup tubuhku dengan selimut yang tebal.


"Saat hamil Puput dulu, bunda tidak bisa makan untuk waktu yang lama. Tubuh bunda tidak mengizinkan apapun masuk meski hanya segelas air. Rasanya sangat sakit. Bunda ingin makan ini dan itu tapi tidak bisa."


Akhtia mendengar dengan seksama meski dia masih kesal pada Hasna.


"Hidup dalam keluarga yang salah adalah musibah bagi bunda. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada keluarga yang peduli. Mertua, ipar, dan yang lainnya seolah menganggap bunda tidak ada mungkin. Mereka semua abai. Kamu tahu saat itu bunda berpikir apa?"


Akhtia masih diam.


"Bunda berpikir mungkin lebih baik menghilang dari muka bumi. Ditambah keadaan tubuh yang benar-benar melelahkan, situasi dan lingkungan pun tidak mendukung. Sementara suami? Dia terpaksa harus meninggalkan bunda karena urusan pekerjaan. Diabaikan saat kita butuh itu sangatlah menyakitkan, Tia."


"Tapi kan bunda hamilnya bener, udah bersuami." Akhtia memberikan tanggapan.


"Terlepas dari bagaimana dan dalam kondisi apa wanita bisa hamil, kebutuhan mereka tetap sama. Kita sebagai manusia harus dan wajib menolong mereka yang membutuhkan. Kenaikan kita dan dosa mereka adalah dua hal yang berbeda. Keduanya sama-sama Allah lah yang memiliki kuasa penuh untuk menilai. Jika mereka diabaikan karena dianggap sebagai pendosa, lalu kita disebut apa?"


Selimut tersingkap dengan kasar. Akhtia duduk menghadap Hasna dengan wajah cemberut.


"Sayang ... bunda bukan abai sama kamu, apalagi tidak sayang sama kamu. Hanya saja Angela lebih butuh dukungan dan perhatian bunda, juga perhatian kita semua. Mustahil jika bunda melupakan kamu hanya karena dia." Hasna berbicara dengan lembut sambil mengelus pipi anaknya.


"Aku gak suka ngeliat bunda sayang sama dia."


"Sayang dan baik itu beda, Tia. Hati bunda hanya benar-benar karena kasian sebagai sesama wanita yang pernah mengalami hamil muda, tidak lebih. Bunda juga sama kesal sama dia karena tiba-tiba datang dalam kondisi seperti itu. Bahkan kita sendiri belum tau pasti itu anak siapa kan?"


Akhtia mengangguk.


"Jangan marah lagi, ya. Bunda sedih."


"Aaaah, bunda. Maaf." Akhtia merajuk sambil memeluk Hasna.

__ADS_1


Kesepakatan damai itu pun didapat. Komunikasi yang baik adalah kunci dari segala solusi permasalahan. Berbicara dari hati ke hati, menjelaskan secara rinci agar semuanya bisa mengerti.


__ADS_2