Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Sup ayam


__ADS_3

"Mau ke mana, Sayang?" tanya Raden dengan suaranya yang serak. Dia terbangun saat Hasna beranjak dari tempat tidur.


"Aku mau ambil minum, Mas. Mas mau?"


"Iya, boleh. Jangan lama-lama, ya."


"Iya, cuma ambil minum doang kok."


Hasna tersenyum melihat suaminya yang terlihat gelisah karena ditinggal oleh dirinya. Semenjak menikah, Raden memang sangat manja pada Hasna. Dia tidak bisa tidur jika Hasna tidak ada di sampingnya.


Jika ada pekerjaan yang mengharuskan Raden lebih lama berada di luar, maka dia memilih untuk membawa Hasna serta.


Setelah melepaskan dahaganya, Hasna membawa satu botol air dingin untuk dia bawa ke kamar. Namun, langkah kakinya terhenti saat samar-samar terdengar suara seseorang sedang terisak.


Hasna menajamkan pendengarannya, memastikan dari mana sumber suara itu. Semakin jelas terdengar, suara itu berasal dari belakang rumah.


Ada seseorang sedang duduk di sana. Memijat kepalanya yang terasa sakit. Sesekali dia meludah karena rasa mual yang mendera tidak kenal waktu.


"Angela, sedang apa kamu di sini? Ini udah malem banget. Kamu bisa sakit nanti, apalagi pakaian kamu terbuka begini."


Angela melirik sekilas.


Hasna duduk meski dia tau keberadaannya tidak diinginkan di sana. Mereka berdua hanya diam. Menatap langit yang hitam kelam, tidak ada bintang apalagi bulan.


"Bisa gak ya anak ini diambil sebelum waktunya? Beban banget," gumam Angela. Hasna menoleh kaget.


"Aku memang salah karena menjadi anak yang suka keluyuran malam, tapi bukan berarti aku menginginkan ini semua. Sial! Gak ada satupun makanan yang bisa aku nikmati. Katanya wanita hamil bakalan dimanja suami dan keluarga, omong kosong! Bahkan orang tuaku sendiri tidak peduli. Apa Tante tau? Mereka itu sangat senang aku tinggal di sini."


Hasna mengerutkan kening.


"Kamu lapar? Nanti akan saya buatkan sup ayam kampung."


"Tidak selera meski ingin."

__ADS_1


"Dicoba saja dulu. Kayaknya enak makan sup malam-malam. Tunggu ya, agak lama sebenarnya."


"Kesabaranku setebal kamus sekarang, Tante santai saja."


Hasna bangkit dari tempat duduknya. Pergi menuju dapur untuk masak sup ayam, sampai dia lupa ingin memberi suaminya minum.


"Sayang ...."


"Mas."


"Kamu ngapain malam-malam begini?" tanyanya sambil mendekati Hasna. Wanita itu sedang asik memotong sayuran.


"Kenapa masak malam-malam?" tanya Raden sambil memeluk Hasna dari belakang.


"Untuk Angela. Sepertinya dia lapar tidak bingung mau makan apa. Mual karena hamil muda membuat dia ketakutan makan sesuatu."


"Baiknya mertua satu ini. Saya akan tunggu di kamar sambil main ponsel saja."


"Tidur, Mas."


Hasna hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah suaminya itu. Setelah matang, Hasna pergi memanggil Angela. Wanita itu masih duduk di tempat yang sama.


Dia terlihat mengusap wajahnya. Angela masih menangis.


"Sup nya udah matang, ayo masuk."


Mendengar suara Hasna, Angela segera menghapus air matanya yang masih terus menetes.


"Gimana?"


"Enak."


Melihat Angela makan seperti orang normal biasanya, Hasna memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena Raden tidak akan mungkin tertidur lagi jika dia tidak ada di sisi nya.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana sekarang?"


Pertanyaan Angela menghentikan langkah kaki Hasna.


"Entah bagaimana pun juga, sampai saat ini saya masih percaya pada Airlangga. Apapun yang dia lakukan sekarang sama kamu, itu akibat dari perbuatan kamu sendiri."


"Tapi aku sangat mencintai dia." Angela kembali menangis.


"Hanya karena memiliki rasa cinta, bukan berarti kita harus memiliki dia. Siapa tau cinta yang kamu paksakan membunuh cinta yang lain."


"Ya, aku tahu. Dengan terjadinya pernikahan ini, cinta Airlangga terpaksa terkubur untuk sementara. Tapi Tante, meski aku tidak bisa menjadi istri Airlangga, dia tetap tidak bisa melanjutkan cintanya."


"Tidak ada yang tahu nasib seseorang karena itu semua takdir dari tuhan."


"Mungkinkah pernikahanku juga takdir?"


"Ya, bahkan dain jatuh pun itu karena sudah takdir dan semuanya atas izin Tuhan."


"Berarti bukan salah aku kan Tante? Ini semua karena memang sudah ditakdirkan oleh tuhan."


Hasna membalikkan badan. Menatap Angela yang berbicara masih dalam keadaan makan.


"Kamu tau kenapa tuhan memberikan kita akal? itu supaya kita bisa membedakan mana yang baik dan benar, Allah sudah memberikan pedoman pada kita untuk kita jalani. Mau pilih kanan atau kiri, semua sudah Allah arahkan."


Angela tersenyum sinis.


"Selesai makan, tidurlah."


"Sakit tidur di sofa, Tante."


Hasna kembali menghentikan langkahnya sejenak, lalu tidak lama setelah itu dia kembali berjalan meninggalkan Angela.


Perasaan dan hati manusia sepenuhnya milik sang kuasa. Kita yang memiliki tempat untuk hati itu tinggal pun tidak bisa mengendalikannya. Kita hanya bisa berusaha untuk menyetabilkan agar hati dan pikiran bisa seiring berjalan.

__ADS_1


Melihat kesedihan Angela, sebagai wanita Hasna merasa kasian. Dia merasakan apa yang dirasakan Hasna saat ini. Hamil dengan emesis itu sangat menganggu. Ingin makan tapi tidak bisa. Tubuh merasa lelah karena tidak ada asupan, satu-satunya yang membuat wanita hamil muda kuat adalah support sistem dari orang-orang terdekat.


Namun, apa yang terjadi pada Airlangga pun membuat Hasna tidak bisa untuk suka pada Angela. Sebagai ibu meski hanya ibu sambung, Hasna marah karena anaknya dipaksa menikah dengan wanita yang tidak dia cintai.


__ADS_2