Mencoba Untuk Setia

Mencoba Untuk Setia
Kecelakaan


__ADS_3

"Iya, bisa saya bantu?"


"Bu, besok saya mau ngadain acara sukuran untuk ulang tahun anak saya. Saya mau pesan bolu kukus, sama brownis sekat. Bisa?"


"Untuk jam berapa ya, Bu?"


"Jam satu siang dipakenya."


"Oh, bisa kalau siang."


"Ini uang DP nya, nanti sisanya pas kuenya dianter ke rumah."


"Oh, iya siap."


"Makasih, ya, Bu."


"Sama-sama."


Bu Ijah salah satu tetangga Hasna mendekat, lalu berbisik, "Jangan lupa persenannya, ya, Na."


"Siap, Bu. Makasih, ya."


Mereka saling melempar senyum.


"Orderan lagi, teh?"


"Iya, Wid. Untung tetangga di sini pada baik. Mereka promosiin tanpa aku minta."


"Jelas atuh kan ada persentase nya juga. Mereka juga pasti mikirnya lumayan buat tambah-tambah."


"Iya, sih."


"Eh, teh. Aku mau tanya."


"Apa?"


"Cowok yang kemarin di bioskop itu, beneran cuma temen?"


Hasna melirik.


"Kayaknya dia suka deh sama teteh."


"Ngaco! Dia itu baik karena punya salah sama teteh."


"Salah apa?"


"Dia yang nabrak teteh waktu itu."


"Waddduh, alurnya udah kek sinteron aja. Tapi tolong, plissss jangan kayak sinteron ikan terbang."


"Apa sih?"


Widia tersenyum.

__ADS_1


"Teteh masih cinta sama mas Azam. Untuk waktu dekat ini rasanya belum bisa membuka hati untuk siapapun. Teteh masih ingin menjadi istri mas Azam."


"Hidup harus realistis, Teh. Anak-anak butuh biaya yang semakin besar seiring bertambahnya usia mereka. Kebutuhan mereka bertambah. Kalau teteh punya suami lagi kan ada yang jamin."


"Jamin? Meski ada, tapi kemungkinannya kecil ada cowok yang mau nanggung biaya hidup anak tiri mereka. Daripada menyakiti anak-anak di kemudian hari, teteh gak akan menikah untuk waktu dekat ini."


"Ya gak usah dekat-dekat ini, nanti aja. Pendekatan aja dulu."


"Ishhhhh kamu tuh ya!"


Widia tertawa.


"Jemput Shaki ke sekolah, 15 menit lagi dia bubar."


"Oke. Nay, mau ikut jemput gak? Nanti kita jajan."


Nay yang sedang asik menonton televisi, langsung berlari keluar sambil berseru, "Mauuuu."


Mereka berdua pun langsung pergi setelah mengenakan jaket dan helem.


Ponsel Hasna berbunyi, sebuah chat masuk dari nomor yang tidak dikenal.


"Bagaimana kabar hari ini?"


Hasna mengerutkan kening membaca chat yang baru saja masuk.


"Maaf, ini siapa?"


Tidak lama kemudian, balasan pun masuk dengan cepat.


"Airlangga? Maksudnya ini papahnya Airlangga? Pak Raden? Lagi sama pak ogah gak ya?" Hasna tertawa sendiri.


"Saya baik. Alhamdulillah sangat baik. Saya berharap bapak pun begitu."


"Me too."


"Alhamdulillah."


Ingat sebentar lagi anaknya pulang, Hasna menyimpan ponselnya. Dia pergi ke dapur untuk masak makan siang.


Ada tumis kangkung, ikan goreng, dan bakwan jagung.


Baru saja dia menyelesaikan menggoreng bakwan jagung, seseorang mengetuk pintu dengan sangat keras. Hasna langsung mematikan kompor dan pergi ke depan.


"Rumah Mba Hasna?" tanyanya.


"Iya kenapa?"


"Itu Bu, anaknya kecelakaan. Sekarang mereka ada di rumah sakit."


Dunia Hasna tiba-tiba berputar. Lututnya seperti terlepas dari kaki hingga dia kesulitan untuk berdiri.


"Bu, Bu. Bu yang kuat, ayo kita ke rumah sakit menemui anak ibu."

__ADS_1


Dengan tangisan yang keras dan pilu, Hasna mencoba berdiri tapi tetap tidak bisa. Tetangga yang mendengar tangisan Hasna langsung keluar.


Setelah mendapat penjelasan dari orang yang membawa kabar, para tetangga kemudian sibuk..Mereka berbagai tugas, ada yang menjaga Hasna, dan ada juga yang mencari mobil untuk membawa Hasna yang kehilangan tenaganya.


Begitu sampai UGD, Hasna segera mencari anak-anaknya dan Widia.


"Wid, Widia. Kamu gak apa-apa?" tanya Hasna cemas. Widialah yang pertama kali dia lihat di rumah sakit.


"Gak apa-apa, Teh. Aku cuma lecet kaki sama tangan aja."


"Nay sama Shaki mana?"


Widia hanya menatap sambil berderai air mata.


"Wid, Widia! Mana anak-anak?"


"Nay dirujuk ke rumah sakit di kota atas persetujuan aku dan didampingi sama polisi, Teh. Dia harus mendapatkan penanganan lebih lanjut."


"Maksudnya apa? Terus, Shaki mana?"


"Dia lagi di-rontgen, kakinya gak bisa gerak katanya."


Mendengar penjelasan Widia, Hasna ambruk. Beruntung Bu Ijah selalu menemani, pun dengan dua orang tetangga lainnya.


"Eling, Na. Sabar. Kamu harus kuat."


Hasna segera menemui Shaki. Dia menunggu di luar ruangan pemeriksaan karena tidak boleh ada satu pun orang yang masuk.


Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka dan Shaki pun keluar didorong di atas ranjang.


"Shaki, Nak. Sayang, ini bunda. Apa yang kamu rasakan, Nak? Hmmm."


Shaki menangis dalam pelukan Hasna.


"Cup, cup. Bunda ada di sini, sayang. Kamu apa yang dirasa? Mana yang sakit?"


"Kaki aku sakit, Bun. Bun, Ade mana? Nay mana?"


Hasna memeluk erat tubuh kecil Shaki.


"Sayang ...." Hasna memandangi wajah putri kecilnya.


"Boleh gak bunda tinggal sebentar. Kamu di sini sama Tante Zahira. Sebentar lagi dia datang. Bunda mau menyusul ade kamu ke kota. Ade dibawa ke rumah sakit lain." Hasna bercucuran air mata.


Jika bisa, dia ingin membelah diri agar bisa menemani ke dua anaknya di dua tempat yang berbeda.


"Iya, Bun. Aku gak apa-apa kok."


Hasna kembali memeluk dan mencium tubuh kecil anaknya. Selain kaki, sikut Shaki pun lecet. Hidungnya lecet, juga pelipisnya sobek sedikit.


Shaki terlihat berusaha kuat meski sebenarnya dia begitu ingin Hasna ada bersamanya. Namun, dia melihat bagaimana kondisi Nay saat mereka kecelakaan.


Hasna diantar tetangganya yang membawa mobil ke rumah sakit besar yang ada di kota. Sepanjang perjalanan dia tidak berhenti menangis. Hatinya memikirkan bagaimana Shaki yang terpaksa harus dia tinggal, akan tetapi dia juga merasa cemas karena belum tau kondisi anak bungsunya.

__ADS_1


"Berdoa, Na. Doakan supaya Nay baik-baik saja."


Hasna mengangguk samar.


__ADS_2