
Meski sudah meminta maaf, dan Puput sudah memaafkan Akhtia, bukan berarti rasa kecewa dalam hati Puput hilang begitu saja. Difitnah, dijauhi, dan mendapatkan ketidakpercayaan dari orang yang disayangi memang sangat menyakitkan.
Puput kembali menarik diri. Dia tidak lagi ceria seperti sebelumnya. Dia beranggapan bahwa dia memang hanya orang lain di rumah itu. Wajar jika Akhtia tidak percaya padanya karena mereka tidak terikat kuat oleh darah. Puput merasa minder hingga dia berpikir jika dirinya harus bisa lebih tau diri.
"Abang antar ya."
Puput hanya menggelengkan kepala saat menolak tawaran Airlangga. Anak itu kembali naik angkutan umum. Setelah sarapan dia mencium tangan semua orang kecuali Dewa.
Dewa yang diperlakukan seperti itu merasa dirinya diabaikan dan merasa tidak nyaman. Itulah kenapa dia memutuskan untuk membawa Akhtia pindah ke rumah orang tuanya untuk selamanya. Mungkin sampai mereka memiliki rumah sendiri.
"Ayo pulang sama Abang."
Puput melambaikan tangan pada Chooki dan mengabaikan Airlangga. Gadis itu lebih memilih diantara pulang oleh Chooki dengan motornya, ketimbang bersama Airlangga.
Sikap Puput yang terus-menerus seperti itu membuat Airlangga merasa jika Puput memang sudah tidak ingin bersamanya. Mungkin melihat pun tidak ingin.
"Pa, Bun."
"Ada apa, Bang?"
"Aku ditawari kerja di kantor cabang sebagai pengacara utama."
"Pengacara utama? Alhamdulillah ... selamat ya, Bang." Hasna begitu bahagia.
"Kantor cabang yang mana?" tanya Raden sambil memotong steak.
"Pulau Sumatera."
Seketika pisau yang sedang dipakai memotong steak pun terhenti.
"Kok jauh banget, Bang." Hasna mulai merasa sedih.
"Rumah ini sepi setelah Akhtia pindah ke rumah mertuanya, masa Abang mau pergi juga?"
"Ada apa dengan kalian? Kenapa satu persatu anak papa pergi meninggalkan rumah ini?"
Pertanyaan Airlangga rupanya menyinggung perasaan Puput.
"Benar, seharusnya yang pergi itu aku kan ya? Bukan Abang atau kakak."
Raden memejamkan matanya dalam-dalam.
"Puput."
Puput membalas panggilan Hasna dengan tatapan sinis.
"Bukan begitu maksud papa, Nak."
"Aku sudah kenyang."
__ADS_1
Puput meninggalkan restoran tanpa menyelesaikan makannya.
"Kenapa sih kak Puput sama kak Tia berantem terus? Sekarang sama Abang juga?" tanya Nay.
"Mereka gak berantem, Nak. Cuma kakak lagi ada masalah aja." Hasna berusaha menenangkan hati Nay yang sedih melihat sodaranya pergi satu persatu.
"Ikut sini!" Airlangga menarik paksa Puput untuk ikut masuk ke dalam mobilnya saat Puput hendak menyebrang jalan. Anak itu meronta, ingin melepaskan diri tapi tenaganya terlalu kecil untuk melawan Airlangga.
Kini mereka duduk di tepi pantai yang ada di pinggiran kota. menatap hamparan lautan yang berwarna hijau kecokelatan. Angin menerpa wajah mereka, membawa bau laut yang khas. Panas terik tak terasa karena adanya angin sepoi-sepoi yang menyejukkannya.
Tidak saling bicara dan hanya diam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Banyak kata yang terpendam, tak mampu untuk diucapkan. Entah apa yang menahannya.
"Jangan merasa kamu itu orang luar di rumah. Papa, mencintai kamu seperti mencintai Akhtia."
"Aku tau."
Lalu kemudian, sunyi itu kembali datang. Hingga senja menyapa, mereka tetap saling diam.
Semua sudah berubah. Keadaan menjadi lebih baik meski tidak seperti dulu lagi. Kini, mereka semua sudah dewasa. Memiliki kehidupan masing-masing yang dijalani.
Akhtia dan Dewa sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya. Bahkan kini Akhtia sedang mengandung anak Dewa. Dia kembali tinggal di rumah Raden karena merasa nyaman jika ada di dekat Hasna.
Nay dan Shaki pun sudah besar. Shaki kini sibuk sekolah dan taekwondonya. Sementara Nay kini sibuk dengan bakatnya yaitu melukis.
Dan Puput, kini dia sedang kuliah mengambil jurusan psikolog. Dia ingin lebih mengetahui bagaimana manusia itu bersikap, dan kenapa manusia bersikap, dan apa solusi untuk mengatasi sikap tersebut.
Setahun sekali mereka bertemu saat idul Fitri tiba.
"Seriusan?" tanya Akhtia. "Yeaaay, anakku bisa sering ketemu sama Om nya."
"Alhamdulillah ya, Bang. Jadi kita bisa sering kumpul seperti sekarang. Bunda seneng kalau kita bisa kumpul seperti ini. Yaaa kalian tau bunda dan papa sudah tidak lagi muda."
Percakapan yang awalnya membahagiakan,berubah menjadi kesedihan saat salah satu diantara kita membicarakan soal umur.
"Makanya ... mumpung bunda dan papa masih sehat, aku akan mengenalkan seseorang pada kalian," ucap Puput.
"Eh, siapa? Kamu mau bawa pacar kamu ke sini?" tanya Akhtia.
"Emmm bukan pacar, sih. Tapi calon suami. Ha ha ha."
"Ih, siapa sih, siapa? Selama ini kamu gak pernah cerita tentang seseorang sejak aku pindah ke rumah mami."
"Gimana mau cerita, kakak nya di sana. Gak enak tau cerita di telpon tuh."
"Iya, sih."
"Siapapun pria itu, papa akan setuju jika kamu bahagia. Asalkan dia baik dan bertanggung jawab."
"Siapapun, Pah?" tanya Airlangga.
__ADS_1
"Tentu saja. Siapapun asal bukan kamu. Ha ha ha." Raden tertawa. Dia membuat lelucon yang secara tidak sadar menyakiti hati Airlangga. Akhtia yang tau bagaimana perasaan abangnya hanya bisa tertawa canggung melihat sikap Raden.
Sementara Puput sibuk mengunyah kacang almond, tanpa memberikan reaksi apapun.
Dua hari kemudian seusai dengan janjinya, laki-laki itu pun datang menghadap orang tua Puput untuk berkenalan sekaligus melamar kekasihnya.
"Perasaan ... kok gak asing ya sama wajahnya." Akhtia berkomentar.
Puput tersenyum. "Dia Chooki, kakak."
"Ah, iya. Wah, jadi kalian masih berhubungan sejak sekolah waktu itu?" tanya Akhtia tidak percaya. Dia mengira Puput sudah putus karena tidak pernah lagi bercerita tentang hubungannya dengan Chooki.
"Kami sempat putus, lalu kembali menjalin komunikasi." Chooki menjawab.
"Oh, gitu ternyata."
"Jadi siapa nama kamu, Nak?" tanya Hasna.
"Saya Chooki, Tante. Dulu saya dan Puput teman satu sekolah."
"Kamu gak ngajak orang tua kamu ke sini?" tanya Raden.
"Saya ragu akan diterima, makanya saya datang sendiri dulu ke sini untuk memastikan saya mendapat restu atau tidak, biar orang tua saya tidak kecewa jika pada akhirnya saya ditolak da Om dan Tante."
Raden mengangguk-angguk.
"Ajak orang tua kamu ke sini nanti, biar saya enak membicarakan tentang pernikahan kalian nanti nya."
"Papa setuju?" tanya Akhtia.
"Tentu saja, kenapa tidak? Yang penting Puput bahagia, apapun akan papa berikan. Kamu sendiri bahagia, Put?"
Puput tersenyum penuh arti. Dia kembali mengambil kacang almond. Hasna yang tau bagaimana anaknya, hanya bisa menatap Puput dengan perasaan yang sedih.
"Kenapa kamu selalu makan kacang itu?" tanya Hasna saat mereka sedang berdua di kamar Puput. Ada satu toples kacang almond di pangkuan Puput.
Puput tidak menjawab, Hasna pun tidak bertanya lagi dan membiarkan anaknya memendam kesedihannya sendiri. Menahan diri dengan mengunyah kacang agar kesedihan itu tidak nampak dengan jelas.
"Haruskah bunda mengatakannya sama papa, Nak?"
"Jangan!''
"Memangnya apa yang akan bunda katakan sama papa?" tanya Hasna berusaha memancing agar Puput bicara meski sebenernya Hasna tau apa yang sedang dirasakan putrinya.
"Jangan dipaksa menikah jika kamu tidak mencintai laki-laki itu."
"Lalu bisakah aku menikahi pria yang seharusnya aku nikahi? Mungkin hatiku akan bahagia, tapi itu juga berarti aku akan menyakiti banyak hati bukan?"
__ADS_1
Hasna tersenyum sedih melihat anaknya dengan ketidakberdayaan yang dia miliki saat ini.