
Saat anak-anak diajak main oleh adik perempuan Dewa satu-satunya, yaitu Dewi, Dewa mengajak Hasna ke kamarnya. Hanya itu tempat paling aman di rumah ini.
"Apa, sih? Kenapa kamu maksa bawa aku ke sini?" tanya Hasna.
"Aduuuuh, Mba. Mba itu kenapa, sih? Kenapa harus bilang kalau keluarga aku harus mengenal Mba lebih jauh? Itu kan hanya akan memperpanjang kontrak kita."
"Maksudnya?"
"Menurut Mba, mengenal satu sama lain itu gimana caranya coba? Itu artinya Mba harus sering ketemu dengan keluarga ini. Nanti setiap ada acara Mba harus datang. Entah butuh waktu berapa lama untuk kalian saling mengenal. Kalau lebih dari satu tahun, gimana? Mba, aku gak bisa membawa pacar aku lebih cepat nantinya. Kepikiran gak sampai sana?"
"Enggak," jawab Hasna polos.
Dewa menjambak rambutnya sendiri karena kesal. Dia tidak mungkin memarahi Hasna.
"Ya udah, sih, maaf. Aku gak kepikiran nyampe sana. Aku hanya ingin mereka terkesan sama aku, menyetujui hubungan kita, terus udah."
"Ya, Mba juga gak salah, sih."
"Terus, kita harus gimana sekarang?"
"Mau gak mau harus ikut aturan main mereka. Aduuuh, migrain gue!" Dewa kelimpungan sendiri. "Mana aku minta izin sama pacar aku cuma sebentar. Kalau lebih dari satu tahun, dia bisa marah."
"Kenapa harus marah? Salah sendiri dia gak mau dibawa ke sini. Ya, terlepas cewek itu siapa, tapi gak sepenuhnya salah kamu dong. Ini gak akan terjadi kalau dia gak nolak, ya 'kan?"
"Gak sesederhana itu, Mba."
"Terus, seribet apa urusannya. Hadeuuuh, anak muda ya. Masalah simpel aja dibuat rumit," ucap Hasna sambil berlalu meninggalkan kamar Dewa.
"Bukan gue yang rumiiiit, elu yang menyepelekan. Dasar emak-emak!" Dewa ngedumel sendiri.
"Lain kali main lagi ke sini, ya." Ucap ibunya Dewa. Hasna tersenyum.
"Saya pamit dulu, Bu, Pak. Tante Dewi, kita pamit dulu ya ...." Hasna mewakili anak-anaknya.
"Hati-hati di jalan, Sayang."
"Iya, aku pamit ya."
"Hubungi kalau udah nyampe rumah."
Hasna mengangguk pada Dewa. Melambaikan tangan pada Dewi dan orang tuanya.
"Dadah Om, Tante."
"Dadah, Cantik." Dewi melambaikan tangan pada anak-anak Hasna.
"Paket komplit, gak perlu nunggu lama udah langsung punya ponakan. Rumah segede ini pasti akan rame, ya kan, Mih?"
"Iya. Mamih udah gak sabar pengen ada yang lari-lari di sini, mecahin vas bunga, denger mereka berantem, terus ada yang ngejar minta oleh-oleh kalau mamih habis dari luar negeri."
Dewa memutar bola matanya. Sementara Mahendra hanya diam memperhatikan kepergian Hasna. Dia merasa ada yang aneh antara anaknya dan wanita itu.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit dulu ya."
"Kenapa? Bunda sakit?" tanya Shaki.
"Bukan, bunda mau ketemu sama Om Raden."
"Tadi Om Dewa, sekarang Om Raden. Pacar bunda semua kah itu?"
Uhuk!
"Ya bukan atuh, Nak. Itu mah temen bunda. Gak ada pacar-pacaran. Lagian kamu tau darimana pacar-pacaran?"
"Aku juga punya pacar, namanya zio. Tapi kemarin dia mainnya sama Lea. Aku kesel jadinya."
Hasna tertawa mendengar celotehan Shaki.
""Oke, kita sampai di rumah sakit. Kalian tunggu di mobil ya. Ada Om Andi yang jagain, tadi bunda udah nelpon. Kalau mau jajan, nanti bunda kasih uangnya."
"Bunda, aku mau ikut."
"Jangan, rumah sakit itu banyak kuman. Bunda cuma sebentar aja kok."
"Tapi jajan ya ke Indomaret."
"Iya, nanti bunda kasih uangnya," ucap Hasna sambil mencari tempat parkir. Setelah mobilnya terparkir dengan baik, dia menunggu Andi untuk menjaga anaknya.
"Nah, itu Om Andi." Hasna melambaikan tangan.
"Maaf, Bu. Tadi saya habis dorong bed pasien dulu."
"Iya, Bu. Ayo anak-anak kita main perosotan."
"Emang ada, Om?"
"Ada dong. Di samping ada taman bermain anak-anak. Kita ke sana ya."
Hasna pergi setelah melihat anak-anaknya dan Andi pergi.
Hasna tersenyum sumringah sepanjang jalan, dia memakai gelang pemberian dari Raden. Dia akan meminta maaf dan mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan.
Tok tok tok
"Masuk."
Mendengar si mpunya ruangan mempersilahkan dia masuk, Hasna membuka pintu.
"Mas ...."
Raden mendongakkan kepala begitu mendengar suara Hasna. Menatapnya lama tanpa berkata-kata.
__ADS_1
Kesedihan menyelimuti hati Hasna saat melihat luka yang terpancar di wajah Raden. Hasna mendekat.
"Mas, saya ingin menjelaskan semuanya sama kamu."
Raden masih diam.
"Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Dia hanya teman biasa, Mas."
"Saya tidak meminta penjelasan, bukan?"
"Tapi aku ingin."
"Untuk apa?"
Hasna terdiam seribu bahasa. Semua kata yang semula memenuhi isi kepalanya mendadak hilang entah ke mana.
"Sebaiknya kamu tidak pernah datang lagi ke sini. Bukankah sudah saya katakan jika kita tidak saling mengenal."
"Mas ...."
"Maaf, tapi saya sibuk. Ada urusan yang harus saya selesaikan. Oh, iya. Apa dia juga yang membuat kamu merubah penampilan. Hebat."
Hasna membeku. Ingin sekali dia mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, hanya saja bibirnya kelu. Dia ingin menunjuk gelang yang dia pakai, tapi entah kenapa tangan itu asik bersembunyi di belakang tubuh Hasna.
Raden beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju pintu. Sekuat tenaga Hasna memberanikan diri untuk menunjukkan tangan yang telah memakai gelang dari Raden.
Langkah Raden terhenti saat tangan Hasna menghalanginya. Tangan dengan gelang cantik sebagai tanda penerimaan cinta.
"Aku memakai gelang ini, Mas."
"Lalu?" tanya Raden datar. Dia bahkan tidak menoleh pada Hasna.
Hasna kembali diam. Bibirnya tertutup rapat. Raden menggelengkan kepala, lalu kembali melangkahkan kaki.
Tidak ingin kehilangan Raden, Hasna spontan memeluk tubuh kekar itu dari belakang.
"Jangan pergi, Mas."
Raden terdiam. Dia merasa syok karena tidak menyangka Hasna akan memeluknya seperti ini.
"Aku menerima lamaran kamu waktu itu. Aku mau menerima cinta kamu, Mas. Tolong jangan pergi."
Raden memutar tubuhnya. Menatap Hasna meminta kepastian.
Dengan malu-malu, Hasna memberanikan diri menatap Raden sambil berkata, "Aku cinta sama kamu, Mas."
Raden tersenyum tipis. Menarik tangan Hasana lalu mendekap tubuh wanita yang dia cintai.
"Saya juga mencintai kamu, Hasna. Mari kita habiskan waktu bersama, saling mencintai sampai kita tua nanti."
"Iya, Mas."
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, Airlangga mendengar dari balik pintu. Berdiri di sampingnya Azalea. Mereka saling menatap.
Air mata Azalea luruh.