
"Mana Puput?" Airlangga datang dengan nafas ngos-ngosan.
"Bun, mana Puput? Kenapa kalian menunggu di depan ruang operasi?" tanya Airlangga. Sementara Hasna hanya menjawab pertanyaan itu dengan tangisan.
"Pah?" Kini Airlangga bertanya pada. Raden, berharap papanya akan memberikan jawaban.
"Bang, tunggu dan sabar. Kita tidak tahu hasilnya seperti apa sampai operasinya selesai." Dewa menepuk pundak Airlangga.
Mendengar pernyataan adik iparnya, tubuh Airlangga lunglai. Meski dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Airlangga mengerti jika Puput tidak dalam keadaan baik.
"Aku sudah bilang akan menunggunya, kenapa harus pergi bekerja? Sejak awal aku tidak ingin pergi meninggalkannya sendiri."
Airlangga menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Puput. Dia meremas kepalanya kasar, lalu memeluk lututnya dan menangis.
"Kamu yang sabar, berdoa agar Puput baik-baik saja. Kita semua berharap begitu. Ayo, duduk di kursi jangan di lantai." Raden memapah anaknya perlahan menuju kursi.
"Yang kuat. Kita semua harus kuat." Raden meremas pundak anaknya, berusaha memberikan semangat meski dirinya sendiri pun merasa khawatir dan takut.
"Dokter akan menyelamatkan siapa saja yang memiliki peluang hidup paling tinggi."
Nafas Airlangga seperti terhenti sejenak. Bagai Dejavu. Dia dulu pun dihadapkan pada pilihan yang sama antara istri dan anaknya, lalu sekarang ....
"Jangan lagi ... ya Allah, hamba mohon jangan biarkan kejadian sama menimpa hamba. Please, please, please!" Airlangga frustasi dengan situasi yang terjadi saat ini.
Bayangan bagaimana istrinya pergi menyusul anaknya kembali berputar seperti film di kepalanya.
Tolong ... biarkan mereka selamat ya Allah. Hamba mohon.
Suara tangisan Hasna yang semula terdengar terisak, kini hilang seiring dengan hilangnya kesadaran Hasna.
"Bunda!" Akhtia berteriak histeris saat tubuh Hasna terjatuh ke lantai. Raden segera berlari menghampiri istrinya.
"Sayang." Raden segera menggendong Hasna dan membawanya ke UGD.
"Kamu ikut papa, kakak di sini."
"I-iya." Akhtia segera menyusul Raden sementara Dewa menemani Airlangga.
"Kacau!" Airlangga mondar mandir sambil berkacak pinggang, sesekali dia menjambak rambutnya.
"Tenang, Bang. Kita semua takut dan cemas, tapi tetap harus tenang agar bisa berpikir dengan jernih dan tidak panik."
Airlangga kembali duduk di kursi sambil melihat pintu kamar operasi.
"Bagaimana?" tanya Dewa saat melihat Akhtia kembali.
"Bunda pingsan karena stres, papa nyuruh aku ke sini."
Akhtia duduk di samping Dewa sambil saling berpegangan memberikan kekuatan satu sama lain.
Ting!
Lampu kamar operasi mati. Airlangga segera bangun dan berjalan mendekati pintu kamar operasi.
Suasana terasa hening. Tidak ada sedikitpun angin yang dirasakan menerpa tubuh. Suara-suara itu terasa hilang dan hanya meninggalkan hening dan sunyi.
"Kenapa kamu ke sini? Apa operasinya sudah selesai?" tanya Raden saat melihat Airlangga menghampirinya dan Hasna.
Airlangga mengangguk.
__ADS_1
"Bang, bunda sama papa sudah berbicara. Melihat bagaimana kamu memerlukan Puput, kami yakin jika kamulah yang pas untuk mendampingi dia. Papa merestui kalian jika Puput pun bersedia menikah sama Abang."
Mata Airlangga terbuka lebar mendengar pernyataan Hasna. Dia melirik Raden untuk menambah keyakinannya.
Raden mengangguk mantap.
...****...
"Papi!"
Anak kecil dengan rambut dikepang dua berlari menghampiri Airlangga. Seragam kotak-kotak berwarna merah muda itu membuatnya terlihat sangat lucu.
"Auuhhh, anak papi. Gimana tadi sekolahnya, seru gak?"
"Emmm," gadis kecil itu mengangguk digendongan Airlangga. "Tadi kami bermain ular tangga raksasa, seru deh."
"Masa? Papi juga mau ikutan dong."
"Ayo, tapi kan kita gak punya permainan ular tangga nya." Nayshila nama anak itu, cemberut.
"Kita beli dulu, gimana? Sekalian kita ambil hadiah buat mami."
"Ah, benar. Aku lupa, hari ini mami ulang tahun."
"Wah, wah, kamu pasti kena omel mami nantinya. Masa hari ulang tahunnya lupa, sih?"
"Ssssttt." Nayshila alias chila menyimpan telunjuk tangannya di depan bibir. "Papi jangan bilang-bilang ya kalau chila lupa."
"Oke, tapi ada syaratnya." Airlangga berbisik.
"Apa?" tanya chila berbisik juga.
"Kiss me, please."
"Chila sayang papi."
"Papi juga." Airlangga mendekap erat tubuh mungil anaknya yang tidak lain anak Puput dan Chooki.
"Chila mana?" tanya Hasna.
"Masih dandan, Bun."
"Kita bisa telat nanti. Puput keburu nunggu lama."
"Iya, Bun. Abang panggil dulu anaknya."
"Papi." Chila turun menghampiri keluarganya yang sudah menunggu.
.
"Cantik gak?"
"Ya ampun, apa di sini ada artis cilik?"
"Wah, siapa itu? Apa itu peri?"
Hasna dan Raden bergantian memuji cucunya.
__ADS_1
"Yang lain mana? Kok cuma kita?" tanya chila.
"Yang lain sudah duluan. Ayo, kita terlambat."
Chila mengambil buket bunga, lalu berjalan menuju mobil.
"Selamat ulangtahun, Bunda. Aku bawain mami bunga ini. Cantik kan? Mami, liat aku cantik gak? Papi bilang aku lebih cantik dari mami, apa itu benar? Tapi menurutku mami jauh lebih cantik. Gak ada yang cantik selain mami di dunia ini."
"Masa? Terus neneh gak cantik?" tanya Hasna.
"Tante jelek?" tanya Shaki.
"Kalian semua cantik. Tapi mami paling cantik."
"Benar, mami kamu sangat cantik, Nak. Emmm, boleh gak papi minta waktu berduaan sama mami? Chila ikut nenek dan Tante ke mobil duluan, ya."
"Baik, Pih."
"Jangan lama-lama, Bang." Hasna menepuk pundak Airlangga.
Airlangga mengangguk.
Duduk menatap bunga yang semerbak wangi, bertebaran di atas tanah yang menjadi rumah terakhir untuk Puput.
Ya, Puput pergi bukan untuk menyusul anaknya tetapi menyusul suaminya.
"Sayang ...." Susah payah Airlangga mengucapkan kata itu karena tersendat air mata yang berusaha dia tahan hingga tenggorokannya seperti terganjal.
Sayang ... sudah lama kamu pergi semenjak melahirkan chila. Tapi sampai detik ini kesedihan itu masih sama. Tidak berkurang sedikitpun. Andai bisa memilih, mungkin aku ingin ikut bersamamu.
Kamu pergi meninggalkan kenangan yang begitu indah meski di detik-detik terakhir masa hidupmu. Meski aku marah karena waktu dan takdir tidak berpihak pada kita, di mana orang tua merestui kita tapi Allah memilih memanggilmu daripada menjadikannya istriku.
Meski begitu, setidaknya aku tahu bagaimana perasaanmu padaku. Aku masih bisa bertahan sampai detik ini karena kata terkahir yang kamu ucapkan di hari terakhir kita bisa saling berpegangan.
Kamu mencintaiku dalam diam semenjak kita pertama bertemu. Bersikap manja seperti layaknya adik, meski hatimu memiliki rasa yang menggebu untukku.
Aku berharap, jika ada kehidupan berikutnya aku ingin terlahir bukan sebagai keluarga mu agar kita bisa bersama. Itu yang kamu katakan padaku. Entah bagaimana, tapi aku bahagia dan bisa bertahan sampai detik ini karena hal itu.
Sayang ... anakmu sudah sangat besar. Ada kalanya aku melihat sorot matamu di matanya. Saat itulah aku memiliki semangat hidup yang lebih besar karena merasa kamu sedang mengawasiku dan berkata "Bang, hiduplah dengan baik."
Mustahil aku tidak menderita tanpa adanya dirimu, setiap malam aku selalu menangis merindukan dirimu. Aku selalu membayangkan bagaimana jika dirimu masih hidup, mungkin kita akan bahagia sebagai pasangan suami istri, bukan?
Ah, aku dosa jika meragukan keputusan Allah.
"Papi, ayo."
"Sayang, putri kita sudah memanggil. Abang pergi dulu, nanti lusa Abang ke sini lagi untuk mengganti bunga-bunga ini dengan bunga yang baru. Abang pulang, sayang."
Airlangga mengecup penuh kerinduan di bagu nisan milik Puput.
Dia segera mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh chila. Gadis itu harus tetap bahagia tanpa ada air mata kesedihan dalam hidupnya.
......The end......
Hai, hai. Kisah Hasna dan Raden diakhiri oleh kisah Airlangga dan Puput. Ya, meski endingnya gak bahagia, tapi kan hidup memang begitu bukan? Tidak semuanya harus berakhir dengan bahagia.
Oh, iya. Setelah ini yuk mampir di Summer. Kisah perjodohan yang entah akan bagaimana akhirnya karena cinta pertama yang selalu membayangi.
Aku juga mau kasih tau kalian semua nih. Di summer akan ada hadiah di akhir kisahnya. Yaitu sebuah novel yang akan aku kasih untuk pembaca yang mengikuti dari awal sampe akhir. Bukan cuma itu aja, kalian juga harus selalu like dan aktif komentar ya. Follow juga akun Queen's Suga nya ya.
__ADS_1
di edisi ruqyah sudah ada dua orang yang mendapatkan novel, tapi itu novel antologi aku sama temen-temen penulis lainnya. Kalian mau dapet novel gratis juga?
Yuk, kita kunjungi Summer. 👏👏🥰