
Setelah sampai di rumah suasana tegang pun tidak bisa dihindarkan. Mereka semua menahan emosi masing-masing, bingung mau memulai pembicaraan dari mana.
"Ada yang mau menjelaskan sesuatu?" tanya Raden, kepala keluarga yang akhirnya angkat bicara.
"Ngapain kakak ada di rumah pelacuran itu? Katakan!" Akhtia yang sudah tidak bisa menahan rasa penasaran dan amarahnya pun bicara.
"Kamu salah faham, Akhtia."
"Makanya jelaskan!" Suara Akhtia melengking. Raden hanya bisa memijat pangkal hidungnya, sementara Hasna menangis.
"Dek, bicara baik-baik. Gak usah teriak, kita semua di sini--"
"Kenapa harus pria?" tanya Akhtia pada Dewa, mengabaikan ucapan Airlangga.
"Aku menutupi mata dan telinga tentang rumor kakak yang mencintai seksama, aku juga menutup mata dengan foto yang orang kirimkan padaku, tapi ternyata kakak sendiri yang memperjelas semuanya."
"Ada apa sebenarnya? Tia, katakan."
"Pah, ada seseorang yang mengirim foto kak Dewa sedang kissing dengan pria lain. Dia juga bilang kalau kak Dewa pacaran sama pria itu. Pantas saja selama ini kak Dewa memperlakukan aku begitu cuek, ternyata dia memang tidak tertarik. Oke, menikah tanpa cinta tapi gak masuk akal aja selama menikah, tidur bersama, di bawah selimut yang sama, kak Dewa sama sekali tidak pernah menyentuhku. Bukankah di drama-drama meski tanpa cinta mereka bisa melakukan hubungan suami istri? Orang lain bahkan memiliki seorang anak. Ternyata dia memang tidak tertarik pada perempuan."
"Aku tidak seperti itu!" Dewa berteriak.
"Terus kenapa kakak ada di sana dengan pria yang tidak pake busana? Terus kenapa kakak bisa kissing dengan pria itu!"
"Tia, Nak. Tenang dulu, jangan emosi. Kamu duduk dulu, ayo kita bicarakan baik-baik."
Hasna merangkul putrinya agar dia mau duduk dan bisa sedikit lebih tenang.
"Sabar, Nak. Dengarkan dulu penjelasan dari dewa, ya." Hasna mengusap-usap punggung Akhtia, dan menyeka air matanya.
"Dia itu Arnold. Dia teman yang bisa dikatakan udah kayak sodara, papi dan mami juga tau. Kami dekat, sangat dekat. Mungkin itulah kenapa orang bisa mencurigai kamu sebagai pasangan yang tidak normal."
Dewa menjelaskan dengan lugas. Sementara yang lain mendengar dengan seksama, kecuali Akhtia yang seperti menolak dengan semua penjelasan suaminya.
"Rumor orang membuat papi dan mami marah, mereka tidak lagi mengizinkan kami berteman dekat. Lama aku dan dia tidak lagi bertemu, hingga aku mengetahui jika dia menjadi gigolo di rumah tadi."
Dewa menghembuskan nafas berat, tentu saja karena dia kecewa pada sahabatnya yang menempuh jalur kotor, padahal dia bukan berasal dari keluarga orang kurang mampu.
"Mengenai foto kissing itu, itu kami sedang melakukan challenge, bukan cuma aku dan dia yang ada di sana sebenarnya. Kami ada tujuh orang. Saat itu aku sedang memainkan pindah tisu dengan menggunakan mulut, kalian tau lah ya bagaimana permainan itu booming pada masanya. Mungkin aku memang lagi apes, pas mau ngambil tisu dari mulut Arnold, tisunya jatuh dan ya .... hasilnya seperti yang ada di foto."
"Permainan macam apa sih itu, kok ya menjijikkan banget," ucap Hasna.
"Itu challenge, Bun. Kami melakukannya untuk memenuhi tantangan juga sih waktu itu.Taruhan lah, gitu."
Semua orang terdiam. Penjelasan Dewa memang sangat masuk akal, meski kesal tapi tidak bisa menyalahkan juga.
"Oke, kita anggap semuanya clear. Jangan dipermasalahkan lagi. Papa harap apa yang kamu katakan bukan cuma alasan, Dewa."
"Iya, Pa. Aku berani bersumpah kalau itu memang kenyataannya. Lagi pula ... aku ini normal kok. Aku mencintai seorang wanita."
Semua orang saling melirik, terutama Akhtia. Mereka melirik Akhtia sekilas.
__ADS_1
"Iya, aku juga tau! Kakak mencintai salah satu akan gadis di rumah ini kan?" tanya Akhtia ketus.
"Hmmm."
"Wahhhh, sepertinya ada yang hampir ketahuan nih."
Kini mata orang-orang di sana menatap Puput. Dari kata-katanya, sepertinya Puput tau siapa wanita yang dicintai Dewa.
"Kalian kenapa? Kok liat aku kayak gitu banget?" tanya Puput melihat anggota keluarganya secara bergantian.
"Kamu kan wanita yang dimaksud Kak Dewa. Kamu perempuan itu."
"Hah, aaaku?" tanya Puput sambil menunjuk wajahnya sendiri."
"Iya, aku tau kak Dewa perhatian banget sama kamu. Aku juga tau kak Dewa menyewa kafe di depan sekolah kamu agar buka 24 jam waktu kamu nginep di sekolah, supaya apa? Supaya dia bisa nungguin kamu di sana dan--"
"Oh, jadi kamu yang bayar kafe itu biar tetep buka?" tanya Airlangga.
"Kok Abang tau?" tanya Puput.
"Ya karena yang nunggu kamu di sana itu Bang Airlangga, bukan aku." Dewa menjelaskan.
"Kok kakak tau?" tanya Akhtia.
"Airlangga itu khawatir banget sama Puput, dia ke sana buat mastiin doang, ya udah aku sewa kafe aja biar dia gak nunggu di mobil."
"Ck ck ck. Hebat juga ide Lo, Broo." Airlangga memuji dengan nada mengejek pada Dewa.
"Aku bukan perhatian sama Puput, aku perhatiannya sama Abang ipar," ledek Dewa sambil menatap Airlangga.
Namun, tetap saja. Akhtia merasa sedih karena dia merasa kedua pria itu begitu care sama Puput, bukan padanya. Padahal Dewa adalah suaminya dan Airlangga kakak kandungnya.
sebenarnya siapa sih di sini yang anak tiri?
Bisik Akhtia dalam hati. Dia kembali menangis.
"Lalu bagaimana dengan teman online kakak?" tanya Akhtia. Dewa yang sedang. tertawa tengil pada Airlangga, langsung terdiam.
"Bukankah kakak juga mencintai dia? Lalu bagaimana bisa kakak mencintai wanita lain? Apa semudah itu membagi cinta pada dua hati?"
"Tunggu, dari mana kamu tau aku punya teman online?" tanya Dewa.
Akhtia menangis sesenggukan. Menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Bagaimana kakak bisa melupakan dandelion begitu saja?" ucapnya lirih. Akhtia masih menangis, kali ini dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Da-dari mana kamu tau ... Dan-dandelion?"
Akhtia hanya bisa menangis tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Emang Kaka dewa punya temen online juga? Eh sama dong kayak Kak Tia. Dia juga punya temen online yang katanya suka sama kak Tia padahal belum pernah bertemu. Namanya kalau gak salah itu ... emmm, Dealova."
__ADS_1
Mata Dewa membulat sempurna.
"Makanya ... semua barang Kak Tia ada inisial DD nya, itu tuh Dealova dan Dandelion. Eh, tunggu sebentar. Kaka Dewa kok kayak yang kenal sama Dandelion?" Puput memicingkan matanya, seolah sedang menelaah sesuatu.
"Oh, jangan-jangan ...."
"Ya, aku Dealova."
Prok!
Puput menepukkan tangan.
"Omooo, kalian itu daebakk sekali. Saling jatuh cinta di dunia maya dan menikah di dunia nyata. Takdir yang sungguh unik. Wah, wah ...." Puput heboh sendiri sementara Hasan, Raden dan Airlangga hanya diam tanpa mengerti apapun.
"Kalian sedang bahas apa, sih? Bunda gak ngerti."
"Jadi gini, Bun --"
"Tapi percuma, Dealova sudah mencintai wanita lain di dunia nyata, dan itu bukan aku, tapi kamu." Akhtia menatap Puput.
"Aku? Kok aku? Kenapa ih?" tanya Puput heran.
"Aku sering liat kalian pergi bareng, aku juga liat kak Dewa diam-diam ke kamar kamu sambil membawa paper bag merek mahal. Dia juga sangat perhatian sama kamu, kak Dewa suka sama kamu, Put."
"Apa karena itu kakak marah sama aku selama ini? Kakak cemburu?"
"Iya, kenapa? Aku salah? Oke, aku dan kak Dewa menikah tanpa cinta, tapi siapa yang bisa mengendalikan hati dan perasaan kita? Setiap saat bersama. Dari mulai memejamkan mata hingga kembali membuka mata dia yang aku lihat. Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta pada suamiku, Put?" nada suara Akhtia kembali meninggi.
"Harusnya kakak nanya sama aku, bukan malah langsung menuduh aku begitu. Apa salahnya bertanya, apa karena Kakak malu? Asal kakak tau ya, aku sedih dijauhi oleh kakak. Selama ini aku selalu sendiri sebelum bertemu dengan kakak, aku diabaikan seperti aku dibuang. Makanya waktu itu aku pergi dari rumah dan menginap di rumah temen."
"Apa?" Raden terkejut.
"Iya, Pa. Aku pernah kabur dari rumah karena Abang dan kakak mengabaikan aku saat kalian tidak ada."
"Kalian ini!" Raden marah.
"Masalah sebesar apa sampai kalian bertengkar dan membuat salah satunya tidak nyaman berada di rumah ini? Kalian sudah dewasa, apa tidak bisa bicara baik-baik untuk menyelesaikan masalah? Kenapa harus mendiamkan salah satunya?"
Mereka semua terdiam.
"Sungguh kekanak-kanakan!" Raden pun pergi meninggalkan mereka. Hasna menyusul suaminya.
"Paper bag itu isinya baju kakak kalau kakak mau tau. Kak Dewa memberikan barang-barang untuk kakak, dia ingin memberi kejutan pas ultah kakak nanti, dia minta bantuan aku. Kenapa kami selalu pergi bersama? Itu karena kami sedang menyiapkan kejutan untuk kak Tia, kak Dewa ingin melamar kakak dalam artian yang sebenarnya karena gadis rumah ini yang dia cintai bukan aku, tapi istrinya sendiri." Puput menjelaskan dengan wajah datar.
Dia menahan rasa kecewanya pada Akhtia. Berusaha menahan kesedihan dan amarah.
"Permisi," ucapannya sambil mengusap airmata yang akhirnya menetes.
"Put, tunggu." Airlangga mengejarnya.
Dewa dan Akhtia sama-sama diam, mereka masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Suasana keduanya menjadi sangat canggung hingga Akhtia memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
__ADS_1